Oh NASIB .. SUPERSEMAR ..
SEMINAR SUPERSEMAR, Jakarta 8 Maret 2001


Halaman 1
Halaman 2
Halaman 3
Halaman 4
Halaman 5
Halaman 6
Halaman 7
Lampiran 01
Halaman 8
Halaman 9
Lampiran 02
Halaman 10
Lampiran 03
Halaman 11
Lampiran 04
Halaman 12
Lampiran 05
Halaman 13
Halaman 14
Halaman 15
Halaman 16
NAWAKSARA
Halaman 17
Halaman 18
Halaman 19
Halaman 20
Halaman 21
Halaman 22
Halaman 23
Pelengkap
Halaman 24
Halaman 25
Halaman 26





(Halaman 2)


5. Demonstrasi KAMI, KAPI, KASI, KABI dan lain sebagainya untuk menuntut perbaikan keadaan terus berkembang dan puncaknya adalah pada tanggal 11 Maret 1966 sewaktu ada sidang Kabinet lengkap di Istana Negara.

Sidang Kabinet yang dipimpin sendiri oleh Presiden Soekarno ini dikepung oleh sejumlah pasukan yang menanggalkan pakaian tentaranya dan memakai pakaian seperti mahasiswa ataupun rakyat kebanyakan, yang dalam pers release dikatakan 'ada pasukan yang tidak dikenal mengepung istana yang agaknya bermaksud untuk menangkap Presdiden dan semua Menteri Kabinet', kecuali Menteri Panglima AD, yaitu Letjen Soeharto, yang memang tidak hadir dalam sidang kabinet tersebut.

6. Oleh karena adanya 'pasukan liar' yang mengepung istana tersebut di atas, maka setelah Presiden Soekarno mendapatkan pemberitahuan dari Ajudan beliau, Brigjen Sabur, sidang yang sedang berlangsung diserahkan untuk dilanjutkan oleh Waperdam II Dr. Leimena dan Presiden Soekarno diikuti oleh Waperdam I Dr. Soebandrio dan Waperdam III Dr. Chaerul Saleh 'menyingkir' terbang dengan helikopter ke Istana Bogor.

7. Siang harinya, tiga Jenderal, yaitu Mayjen Basoeki Rachmat, Mayjen Andi Jusuf dan Brigjen Amir Machmud, yang adalah 'utusan-utusan' dari Letjen Soeharto (yang kabarnya 'sakit', sehingga karenanya tidak dapat menghadiri Sidang Kabinet pagi harinya), menyusul Presiden Soekarno ke Istana Bogor, dengan maksud untuk 'menentramkan hati' Presiden Soekarno dan sekaligus 'minta maaf' tentang kejadian pagi hari tanggal 11 Maret 1966 itu.

8. Sebagaimana kita semua mengetahui hasil dari mission tiga Jenderal itu adalah diberikannya Surat Perintah Sebelas Maret 1966 oleh Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto, yang kemudian terkenal dengan singkatan 'Supersemar". Adapun isinya Surat Perintah tersebut adalah sebagai berikut:


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Surat Perintah

I. Mengingat:

  • 1.1. Tingkatan Revolusi sekarang ini, serta keadaan politik baik Nasional maupun Internasional.
  • 1.2. Perintah Harian Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata/Presiden/Pemimpin Besar Revolusi pada tanggal 8 Maret 1966.

II. Menimbang:

  • 2.1. Perlu adanya ketenangan dan kestabilan Pemerintah dan jalannya Revolusi.
  • 2.2. Perlu adanya jaminan keutuhan Pemimpin Besar Revolusi, ABRI dan Rakyat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi serta segala ajaran-ajarannya.

______________




 

Back

Forward


(c) 2001 edited by Wayan KT, PNSABK and compiled by dr.willy@wirantaprawira.de