NAWAKSARA dan PELENGKAPNYA
Pidato Presiden Soekarno pada SU MPRS ke IV/1966


Halaman 1
Halaman 2
Halaman 3
Halaman 4
Halaman 5
Halaman 6
Halaman 7
Lampiran 01
Halaman 8
Halaman 9
Lampiran 02
Halaman 10
Lampiran 03
Halaman 11
Lampiran 04
Halaman 12
Lampiran 05
Halaman 13
Halaman 14
Halaman 15
Halaman 16
NAWAKSARA
Halaman 17
Halaman 18
Halaman 19
Halaman 20
Halaman 21
Halaman 22
Halaman 23
Pelengkap
Halaman 24
Halaman 25
Halaman 26





(Halaman 23)

LAMPIRAN 06


Nah, saya berjumpa dengan orang-orang besar ini, tegasnya, jelasnya, dari baca buku-buku. Salah satu pemimpin besar dari salah satu bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan, mengucapkan kalimat sebagai berikut : 'the cause of freedom is a deathless cause'. 'The cause of freedom is a deathless cause', perjuangan untuk kemerdekaan adalah satu perjuangan yang tidak mengenal mati, 'the cause of freedom is a deathless cause'. Sesudah saya baca kalimat itu dan renungkan kalimat itu, bukan saja saya tertarik kepada 'cause of freedom' dari pada bangsa saya sendiri dan bukan saja saya tertarik pada 'cause of freedom' daripada seluruh umat manusia di dunia ini, tetapi karena saya tertarik kepada 'cause of freedom' ini, saya ingin menyumbang- kan diriku kepada 'deathless cause' ini, 'deathless cause of my own people, deathless cause of all people on eartj'. Dan lantas saya mendapat keyakinan, bukan saja 'the cause of freedom is a deathless cause', pengabdian kepada perjuangan kemerdekaan, pengabdian kepada kemerdekaan, itupn tidak mengenal maut, tidak mengenal habis pengabdian yang sungguh-sungguh pengabdian. Bukan 'service' yang hanya 'lip-service', tetapi 'service' yang betul-betul masuk ke dalam jiwa, 'service' yang betul-betul pengabdian, 'service' yang demikian itu adalah satu 'deathless service.

Dan saya tertarik oleh saya punya pendapat sendiri itu. Pendapat pemimpin besar daripada bangasa yang saya sitir tadi berkata, 'the cause of freedom' is a deathless cause'. Saya berkata, 'not only the cause of freedom is a deathless cause, but also the service of freedom is a deathless service'.

Dan saya, Saudara-saudara, telah memberikan, menyumbangkan atau menawarkan diri saya sendiri dengan segala apa yang ada pada saya ini kepada 'service of freedom' itu. Dan saya sadar sampai sekaran ini, 'the service of freedom is a deathless service', yang tidka mengenal habis, tidak mengenal akhir, tidak mengenal maut, Itu adalah urusan isi hati. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan ke dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan ke dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh daripada tempat kelahirannya, tapi ia punya 'service of freedom' tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang ke tempat pengasingan, tidak bisa ditembang mati.

Dan saya beri tahu kepada Saudara-saudara, menurut perasaankau sendiri, saya telah lebih daripada 35 tahun, hampir 40 tahun, 'dedicate myself to this service of freedom' dan saya menghendaki agar supaya seluruh, seluruh, seluruh Rakyat Indonesia, masing-masing juga 'dedicate' jiwa raganya kepada 'service of freedom' ini, oleh karena memang 'service of freedom' ini 'is a deathless service'. Tetapi akhirnya segala sesuatu adalah di dalam tangan-Nya Tuhan. Apakah Tuhan memberi saya 'dedicate myself, my all to this service of freedom', itu adalah Tuhan punya urusan. Karena itu, maka saya terus, terus, terus, selalu memohon kepada Allah SWT agar saya diberi kesempatan untuk membuktikan, menjalankan aku punya 'service of freedom' ini. Tuhan yang menentukan, de mens wikt, God beslist ; manusia bisa berkehendak macam- macam, Tuhan yang menentukan. Demikianpun saya, bersandaran kepada keputusan Tuhan itu, Saudara- saudara. Tjuma saya juga dihadapan Tuhan berkata, ya Allah, ya Rabbi, berilah saya kesempatan, kekuatan, taufik, hidayat, untuk 'dedicate myself to this great cause of freedom and to this great service of freedom'.

Inilah, Saudara-saudara, yang hendak saya katakan kepadamu di waktu saya pada hari sekarang ini memberi laporan kepadamu sekalian. Moga-moga Tuhan selalu memimpin saya, moga-moga Tuhan selalu mempimpin Saudara-saudara sekalian.

Sekian, Saudara Ketua.



Back

Forward


(c) 2001 edited by Wayan KT, PNSABK and compiled by dr.willy@wirantaprawira.de