PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 19 TAHUN 2001
TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
TAHUN ANGGARAN 2002

 

UMUM

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2002 merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan Rencana Pembangunan Tahunan (REPETA) Tahun 2002, di samping mengacu pada arah kebijakan yang digariskan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1999-2004, dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) Tahun 2000-2004, juga merupakan kelanjutan dari kebijakan fiskal Tahun Anggaran sebelumnya. Berkaitan dengan hal tersebut, APBN Tahun Anggaran 2002 di samping diselaraskan dengan kebijakan program pembangunan ekonomi yang akan dilaksanakan dalam Tahun Anggaran 2002, juga mempertimbangkan kinerja perekonomian dalam Tahun Anggaran 2001.

Berbagai perkembangan di bidang ekonomi dan nonekonomi memberikan dampak yang kurang menguntungkan terhadap proses pemulihan ekonomi dalam Tahun Anggaran 2001. Di sisi ekonomi, depresiasi nilai tukar rupiah dan meningkatnya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang cukup jauh dari asumsi dasar yang digunakan, memberikan tekanan dan hambatan yang cukup berat terhadap pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2001. Sementara itu, terhambatnya beberapa kebijakan fiskal, seperti tertundanya beberapa pelaksanaan kebijakan di bidang perpajakan, dan tidak dapat diberlakukannya secara penuh rencana kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal April 2001, serta adanya pembatalan sebagian pencairan pinjaman program untuk mendukung pembiayaan pembangunan, juga turut memperberat pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2001. Selain itu, kondisi politik, sosial, dan keamanan di dalam negeri yang kurang kondusif, yang ditandai dengan ketidakstabilan situasi politik dan terjadinya gejolak sosial di beberapa daerah, juga merupakan salah satu faktor penghambat upaya percepatan proses pemulihan ekonomi.

Membaiknya beberapa indikator ekonomi dan semakin kondusifnya situasi politik, sosial dan keamanan di dalam negeri dalam semester II Tahun Anggaran 2001, serta berbagai langkah kebijakan yang telah dan akan ditempuh, diharapkan akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan ekonomi Indonesia dalam tahun 2002, meskipun pertumbuhan ekonomi dunia dalam tahun 2002 diperkirakan akan menurun. Penurunan pertumbuhan ekonomi dunia tersebut antara lain berkaitan dengan perkiraan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju, terutama Amerika Serikat dan Jepang, berkaitan dengan memburuknya situasi global dalam beberapa waktu terakhir.

Dengan mempertimbangkan beberapa hal di atas, kebijakan APBN Tahun Anggaran 2002 diarahkan pada beberapa sasaran pokok, terutama upaya untuk mewujudkan ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability), menciptakan stabilisasi ekonomi makro, memberikan stimulus terhadap kegiatan perekonomian dalam batas-batas kemampuan keuangan negara, serta mendukung proses pemulihan ekonomi. Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memantapkan proses desentralisasi, dengan tetap mengupayakan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah yang sepadan dengan penyerahan beberapa wewenang kepada Pemerintah Daerah, dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejalan dengan kebijakan tersebut, dana perimbangan diupayakan dapat mencerminkan asas keadilan dan pemerataan, termasuk dalam rangka mengurangi kesenjangan fiskal antardaerah. Berbagai hal tersebut, sejauh mungkin diupayakan agar dapat berjalan seiring dengan kebijakan di bidang moneter, perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran, nilai tukar dan lalu lintas devisa, serta kebijakan di sektor riil.

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan belanja negara dan sekaligus untuk menjaga kemantapan dan kestabilan pendapatan negara, pengerahan dan penggalian sumber-sumber penerimaan dalam negeri, terutama dari penerimaan perpajakan akan terus ditingkatkan. Hal tersebut dilaksanakan melalui berbagai langkah, antara lain penyisiran (canvassing) terhadap kegiatan usaha di sentra-sentra ekonomi tertentu, penyisiran terhadap berbagai objek pajak atau transaksi tertentu yang dapat dijadikan petunjuk tingkat kemampuan masyarakat dalam membayar pajak, pengembangan sistem informasi dan monitoring perpajakan yang terintegrasi, serta peningkatan kualitas aparatur, pengawasan administratif, pemeriksaan, penyidikan, penagihan secara aktif, dan penegakan hukum.

Sementara itu, optimalisasi sumber-sumber Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tetap akan dilaksanakan. Hal tersebut ditempuh melalui berbagai langkah, seperti peningkatan pencegahan dan penanggulangan pencurian/penebangan kayu secara tidak sah (illegal logging), pemberantasan pencurian ikan di wilayah perairan Indonesia, peninjauan kembali bagian Pemerintah atas laba BUMN (pay out ratio), dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan kelangsungan investasi BUMN yang bersangkutan. Khusus untuk PNBP yang berasal dari bagian Pemerintah atas laba Pertamina, pada tahun 2002 juga direncanakan mengalami perubahan yang cukup berarti, yaitu dari 10% (sepuluh persen) menjadi 50% (lima puluh persen) dari keuntungan bersih Pertamina.

Di bidang belanja negara, kebijakan alokasi anggaran belanja negara diarahkan untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi fiskal, percepatan restrukturisasi perbankan, penyediaan subsidi yang tepat sasaran dan berkaitan langsung dengan masyarakat luas, serta pelaksanaan program-program sosial lainnya yang diprioritaskan bagi pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin.

Di sisi pengeluaran rutin, efisiensi dalam pengalokasian anggaran belanja tersebut terus ditingkatkan, tanpa mengabaikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan upaya peningkatan kualitas pelayanan aparatur pemerintah kepada masyarakat. Selain itu, dalam rangka mengurangi beban subsidi BBM dalam Tahun Anggaran 2002 harga BBM dalam negeri akan dinaikkan, yang diiringi dengan peningkatan efisiensi Pertamina serta langkah-langkah yang tegas dalam pemberantasan penyelundupan BBM.

Di sisi pengeluaran pembangunan, dalam Tahun Anggaran 2002 pengeluaran pembangunan hanya terdiri dari pengeluaran pembangunan yang dikelola Pemerintah Pusat, yang meliputi anggaran pembangunan Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen dan lain-lain pengeluaran pembangunan. Dalam situasi terbatasnya kemampuan penyediaan anggaran belanja pembangunan, pemanfaatan pengeluaran pembangunan dalam Tahun Anggaran 2002 diarahkan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek yang bersifat cepat menghasilkan (quick yielding) dan menyentuh kepentingan masyarakat luas.

Selaras dengan arah kebijakan yang digariskan dalam Rencana Pembangunan Tahunan (REPETA) Tahun 2002, prioritas anggaran belanja pembangunan dalam Tahun Anggaran 2002 akan dititikberatkan pada :

  1. Pembangunan sektor pendidikan, yang lebih difokuskan pada peningkatan angka partisipasi pendidikan dasar melalui penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar 9 (sembilan) tahun dan peningkatan mutu pendidikan.

  2. Pembangunan sektor kesehatan dan kesejahteraan sosial, yang akan diarahkan untuk peningkatan mutu dan jangkauan pelaksanaan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan seluruh penduduk, terutama bagi penduduk miskin, serta peningkatan dan perluasan pelayanan kesejahteraan sosial terutama bagi penduduk miskin, anak terlantar, lanjut usia, penyandang cacat, tuna sosial, korban bencana alam dan para pengungsi korban kerusuhan sosial di berbagai wilayah termasuk pemukimannya kembali, serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil, Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Republik Indonesia dan pensiunan.

  3. Pembangunan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan melalui kegiatan yang mendukung peningkatan ketahanan pangan dan perbaikan gizi, peningkatan kesejahteraan petani dan perbaikan kehidupan perdesaan, pengembangan peternakan dalam rangka peningkatan gizi, pengembangan perkebunan rakyat yang berorientasi ekspor, serta pembangunan perikanan dan kelautan dalam rangka meningkatkan potensi ekonomi didalamnya, dan pemanfaatan sumber daya wilayah pesisir, kelautan, pulau-pulau kecil, dan perikanan secara optimal dan berkelanjutan.

  4. Pengembangan usaha skala mikro, kecil, menengah, dan koperasi (PKMK), melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif, peningkatan akses kepada sumber daya produktif, serta pengembangan kewirausahaan dan PKMK memiliki keunggulan kompetitif.

  5. Pembangunan sektor perhubungan, dengan arah kegiatan pemeliharaan, pembangunan dan pengembangan aksesibilitas, serta pelayanan jaringan perhubungan dalam rangka untuk meningkatkan mobilitas barang dan orang.

  6. Pembangunan penegakan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat yang akan diarahkan untuk menanggulangi gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat melalui peningkatan kekuatan, serta kemampuan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan aparat penegak hukum lainnya dengan melaksanakan beberapa kegiatan seperti penyelenggaraan operasi penegakan hukum dan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat.

  7. Peningkatan pertahanan, melalui kegiatan meningkatkan profesionalisme Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan kemampuan operasi, dalam upaya mencegah disintegrasi nasional dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan membantu Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dalam menciptakan stabilitas dalam negeri.

  8. Penguatan politik luar negeri dan diplomasi, yang ditujukan untuk memulihkan citra Republik Indonesia di dunia internasional, dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Sesuai dengan yang digariskan dalam Pasal 7 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, besarnya Dana Alokasi Umum (DAU) ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari penerimaan dalam negeri bersih. Selanjutnya, sebagai perwujudan asas keadilan dan pemerataan, dilakukan kaji ulang terhadap DAU Tahun Anggaran 2001 dan sekaligus mereformulasi DAU yang akan digunakan dalam perhitungan alokasi DAU Tahun Anggaran 2002, sehingga dapat mengurangi kesenjangan fiskal antardaerah.

Lebih rendahnya perkiraan pendapatan negara dan hibah dibanding dengan perkiraan kebutuhan belanja negara, mengakibatkan terjadinya defisit anggaran dalam APBN Tahun Anggaran 2002. Untuk itu, diperlukan pembiayaan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun, sejalan dengan upaya menciptakan kebijakan fiskal yang sehat, rasio pembiayaan defisit anggaran terhadap PDB direncanakan lebih rendah dibanding dengan rasio defisit anggaran terhadap PDB dalam tahun anggaran sebelumnya. Di sisi pembiayaan dalam negeri, kebijakan yang akan ditempuh dalam Tahun Anggaran 2002 meliputi antara lain pelaksanaan privatisasi BUMN secara selektif, dihindarinya penggunaan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) yang dapat mengganggu kestabilan makro ekonomi, dan penerbitan obligasi negara. Sedangkan di sisi pembiayaan luar negeri kebijakan diutamakan pada pemanfaatan secara optimal pinjaman luar negeri yang telah disepakati dengan pemberi pinjaman, melalui percepatan pencairan komitmen-komitmen pinjaman yang telah disepakati dengan lembaga/negara-negara pemberi pinjaman. Sesuai dengan arah kebijakan yang digariskan dalam GBHN Tahun 1999-2004, penggunaan pinjaman luar negeri dilaksanakan secara optimal guna membiayai kegiatan ekonomi yang produktif, yaitu untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang memiliki prioritas tinggi dan mendukung upaya pemulihan ekonomi, yang dilaksanakan secara transparan, efektif dan efisien.

Sejalan dengan upaya meningkatkan ketertiban dalam pengelolaan anggaran negara, pengawasan terhadap pengelolaan anggaran negara terus ditingkatkan, melalui peningkatan transparansi dan disiplin anggaran.

Selanjutnya, dalam rangka kesinambungan kegiatan pembangunan, sisa kredit anggaran proyek-proyek yang masih diperlukan untuk penyelesaian proyek dalam Tahun Anggaran 2002 dipindahkan menjadi kredit anggaran Tahun Anggaran 2003.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2002 disusun berdasarkan asumsi sebagai berikut :

  1. bahwa keadaan ekonomi global diperkirakan mengalami pertumbuhan yang melambat;

  2. bahwa situasi politik, sosial, dan keamanan yang semakin kondusif dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia dalam Tahun Anggaran 2002 diperkirakan dapat mengalami pertumbuhan yang positif;

  3. bahwa harga minyak bumi di pasar internasional menunjukkan perkembangan yang cukup baik;

  4. bahwa untuk menciptakan kebijakan fiskal yang sehat dan berkesinambungan, sekaligus menjaga kemantapan dan kestabilan pendapatan negara, pengerahan dan penggalian sumber-sumber penerimaan perpajakan, perlu terus ditingkatkan;

  5. bahwa untuk memelihara kestabilan moneter, perlu didukung tersedianya barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari yang cukup dan tersebar secara merata, serta dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh rakyat banyak;

  6. bahwa dalam rangka pemantapan kebijakan desentralisasi fiskal, perlu didukung oleh adanya kepastian sistem pembiayaan daerah yang adil, proporsional, rasional, transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab (accountable).

PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

    Cukup jelas

Pasal 2

    Cukup jelas

Pasal 3

    Ayat (1)

Cukup jelas

    Ayat (2)

Cukup jelas

    Ayat (3)

Cukup jelas

    Ayat (4)

Mengingat perencanaan penerimaan hibah belum dapat dipastikan besaran jumlahnya, dalam APBN Tahun Anggaran 2002 perencanaan hibah ditetapkan sebesar Rp 0,00 (nihil).

    Ayat (5)

Cukup jelas

Pasal 4

    Ayat (1)

Cukup jelas

    Ayat (2)

Cukup jelas

    Ayat (3)

Cukup jelas

    Ayat (4)

Penerimaan perpajakan sebesar Rp 219.627.480.000.000,00 yang terdiri atas :

(dalam rupiah)

 

a. Pajak dalam negeri

207.028.880.000.000,00

0110

Pajak penghasilan (PPh) Nonmigas

88.815.340.000.000,00

0111

PPh Pasal 21

19.451.700.000.000,00

0112

PPh Pasal 22 Nonimpor

1.995.100.000.000,00

0113

PPh Pasal 22 Impor

5.967.400.000.000,00

0114

PPh Pasal 23

14.981.800.000.000,00

0115

PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi

903.400.000.000,00

0116

PPh Pasal 25/29 Badan

29.667.100.000.000,00

0117

PPh Pasal 26

2.128.100.000.000,00

0118

PPh Final dan Fiskal Luar Negeri

13.720.740.000.000,00

0120

PPh Minyak Bumi dan Gas Alam

15.681.900.000.000,00

0121

PPh minyak bumi

4.967.100.000.000,00

0122

PPh gas alam

10.714.800.000.000,00

0130

Pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM)

70.099.820.000.000,00

0140

Pajak bumi dan bangunan (PBB)

5.924.200.000.000,00

0150

Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB)

2.205.000.000.000,00

0160

Pendapatan cukai

22.352.880.000.000,00

0170

Pendapatan atas pajak lainnya

1.949.740.000.000,00

b. Pajak perdagangan internasional

12.598.600.000.000,00

0210

Pendapatan bea masuk

12.249.000.000.000,00

0220

Pendapatan pajak/pungutan ekspor

349.600.000.000,00

Pasal 5

    Ayat (1)

Cukup jelas

    Ayat (2)

Cukup jelas

    Ayat (3)

Bagian Pemerintah atas laba badan usaha milik negara (BUMN) dihitung berdasarkan 50 persen dari keuntungan bersih BUMN setelah dikenakan pajak, termasuk Pertamina.

    Ayat (4)

Cukup jelas

    Ayat (5)

Penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp 82.246.842.000.000,00 terdiri atas :

(dalam rupiah)

 

a. Penerimaan sumber daya alam

63.195.450.000.000,00

0310

Pendapatan minyak bumi

44.013.330.000.000,00

0311

Pendapatan minyak bumi

44.013.330.000.000,00

0320

Pendapatan gas alam

14.524.320.000.000,00

0321

Pendapatan gas alam

14.524.320.000.000,00

0330

Pendapatan pertambangan umum

1.340.000.000.000,00

0331

Pendapatan iuran tetap

46.700.000.000,00

0332

Pendapatan royalti

1.293.300.000.000,00

0340

Pendapatan kehutanan

3.026.000.000.000,00

0341

Pendapatan dana reboisasi

2.043.200.000.000,00

0342

Pendapatan provisi sumber daya hutan

922.500.000.000,00

0343

Pendapatan iuran hak pengusahaan hutan

60.300.000.000,00

0350

Pendapatan perikanan

291.800.000.000,00

0351

Pendapatan perikanan

291.800.000.000,00

 

b. Bagian pemerintah atas laba badan usaha milik negara

10.351.392.000.000,00

0410

Bagian pemerintah atas laba BUMN

10.351.392.000.000,00

c. Penerimaan negara bukan pajak lainnya

8.700.000.000.000,00

0510

Penjualan hasil produksi, sitaan

853.549.000.000,00

0511

Penjualan hasil pertanian, kehutanan dan perkebunan

1.396.300.000,00

0512

Penjualan hasil peternakan dan perikanan

9.113.300.000,00

0513

Penjualan hasil tambang

827.459.375.000,00

0514

Penjualan hasil sitaan/ rampasan dan harta peninggalan

4.010.000.000,00

0515

Penjualan obat-obatan dan hasil farmasi lainnya

370.175.000,00

0516

Penjualan informasi, penerbitan, film, dan hasil cetakan lainnya

1.672.400.000,00

0517

Penjualan dokumen-dokumen pelelangan

1.399.350.000,00

0519

Penjualan lainnya

8.128.100.000,00

0520

Penjualan aset

24.346.611.000,00

0521

Penjualan rumah, gedung, bangunan, dan tanah

110.500.000,00

0522

Penjualan kendaraan bermotor

1.264.789.000,00

0523

Penjualan sewa beli

22.000.000.000,00

0529

Penjualan aset lainnya yang berlebih/rusak/dihapuskan

971.322.000,00

0530

Pendapatan sewa

10.640.664.000,00

0531

Sewa rumah dinas, rumah negeri

2.756.586.000,00

0532

Sewa gedung, bangunan, gudang

5.510.178.000,00

0533

Sewa benda-benda bergerak

428.000.000,00

0539

Sewa benda-benda tak bergerak lainnya

1.945.900.000,00

 

0540

Pendapatan jasa I

1.468.622.725.000,00

0541

Pendapatan rumah sakit dan instansi kesehatan lainnya

54.034.766.000,00

0542

Pendapatan tempat hiburan/ taman/museum

1.553.785.000,00

0543

Pendapatan surat keterangan, visa/paspor dan SIM/STNK/BPKB

367.974.500.000,00

0545

Pendapatan hak dan perijinan

583.117.900.000,00

0546

Pendapatan sensor/karantina/ pengawasan/pemeriksaan

6.702.692.000,00

0547

Pendapatan jasa tenaga, jasa pekerjaan, jasa informasi, jasa pelatihan dan jasa teknologi

331.681.782.000,00

0548

Pendapatan jasa Kantor Urusan Agama

65.000.000.000,00

0549

Pendapatan jasa bandar udara, kepelabuhanan, dan kenavigasian

58.557.300.000,00

0550

Pendapatan jasa II

492.049.000.000,00

0551

Pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro)

27.920.288.000,00

0552

Pendapatan jasa penyelenggaraan telekomunikasi

140.000.000.000,00

0553

Pendapatan iuran lelang untuk fakir miskin

3.500.000.000,00

0555

Pendapatan biaya penagihan pajak-pajak negara dengan surat paksa

2.505.000.000,00

0556

Pendapatan uang pewarga- negaraan

2.022.912.000,00

0557

Pendapatan bea lelang

100.000.000.000,00

0558

Pendapatan biaya pengurusan piutang negara dan lelang negara

80.000.000.000,00

0559

Pendapatan jasa lainnya

136.100.800.000,00

 

0570

Pendapatan rutin dari luar negeri

173.392.345.000,00

0571

Pendapatan dari pemberian surat perjalanan Republik Indonesia

23.792.345.000,00

0572

Pendapatan dari jasa pengurusan dokumen konsuler

149.600.000.000,00

0610

Pendapatan kejaksaan dan peradilan

20.033.000.000,00

0611

Legalisasi tanda tangan

100.000.000,00

0612

Pengesahan surat di bawah tangan

50.000.000,00

0613

Uang meja (leges) dan upah pada  panitera badan pengadilan

1.068.000.000,00

0614

Hasil denda/denda tilang dan sebagainya

10.000.000.000,00

0615

Ongkos perkara

8.030.000.000,00

0619

Penerimaan kejaksaan dan peradilan lainnya

785.000.000,00

0710

Pendapatan pendidikan

1.505.187.344.000,00

0711

Uang pendidikan

1.241.561.969.000,00

0712

Uang ujian masuk, kenaikan tingkat, dan akhir pendidikan

4.427.575.000,00

0713

Uang ujian untuk menjalankan praktik

2.477.450.000,00

0719

Pendapatan pendidikan lainnya

256.720.350.000,00

0840

Pendapatan pelunasan piutang

4.100.200.000.000,00

Penerimaan lain-lain

51.979.311.000,00

0810

Pendapatan dari penerimaan kembali belanja Tahun Anggaran berjalan

1.365.300.000,00

0811

Penerimaan kembali belanja pegawai pusat

1.051.200.000,00

0814

Penerimaan kembali belanja rutin lainnya

27.500.000,00

0815

Penerimaan kembali belanja pembangunan rupiah lainnya

286.600.000,00

 

0820

Pendapatan dari penerimaan kembali belanja Tahun Anggaran yang lalu

925.700.000,00

0821

Penerimaan kembali belanja pegawai pusat

711.500.000,00

0823

Penerimaan kembali belanja pensiun

7.600.000,00

0824

Penerimaan kembali belanja rutin lainnya

51.500.000,00

0825

Penerimaan kembali belanja pembangunan
rupiah lainnya

155.100.000,00

0890

Pendapatan lain-lain

49.688.311.000,00

0891

Penerimaan kembali persekot/ uang muka gaji

755.000.000,00

0892

Penerimaan denda keterlambat-an penyelesaian pekerjaan

3.917.000.000,00

0893

Penerimaan kembali/ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara

2.284.801.000,00

0899

Pendapatan anggaran lainnya

42.731.510.000,00

Pasal 6 

    Cukup jelas

Pasal 7 

    Cukup jelas

Pasal 8

    Cukup jelas

Pasal 9

    Cukup jelas

Pasal 10

    Ayat (1)

Cukup jelas

    Ayat (2)

Cukup jelas

    Ayat (3)

Pembiayaan dalam negeri sebesar Rp 23.500.779.000.000,00 terdiri atas :

(dalam rupiah)

 

a. Privatisasi

3.952.179.000.000,00

b. Penjualan aset program restrukturisasi perbankan

19.548.600.000.000,00

c. Obligasi negara (neto)

0,00

   - Penerbitan obligasi negara

3.930.500.000.000,00

     Dikurangi dengan :

 

   - Pelunasan obligasi negara

3.930.500.000.000,00

 

Pembiayaan luar negeri bersih sebesar Rp 18.633.700.000.000,00 terdiri atas :

 

(dalam rupiah)

a. Penarikan pinjaman luar negeri bruto

62.600.500.000.000,00

   - Penarikan pinjaman proyek

25.830.000.000.000,00

   - Penarikan pinjaman program dan penundaan cicilan utang luar negeri

36.770.500.000.000,00

     Dikurangi dengan :

 

b. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri

43.966.800.000.000,00

Pasal 11

    Cukup jelas

Pasal 12

    Cukup jelas

Pasal 13

    Cukup jelas

Pasal 14

    Cukup jelas

Pasal 15

    Cukup jelas

Pasal 16

Pasal-pasal Indische Comptabiliteitswet yang dinyatakan tidak berlaku adalah :

  1. Pasal 2 ayat (1) tentang susunan anggaran yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal;

  2. Pasal 2 ayat (3) tentang kewenangan Gubernur Jenderal menetapkan perincian lebih lanjut pos; dan

  3. Pasal 72 yang mengatur bahwa pengajuan Perhitungan Anggaran Negara (PAN) kepada Dewan Perwakilan Rakyat paling lambat 15 (lima belas) bulan setelah Tahun Anggaran yang bersangkutan berakhir.

Pasal 17

    Cukup jelas

 

 

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4149