UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
Nomor 1 Tahun 1974
tentang
P E R K A W I N A N


DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

 

Menimbang :

    bahwa sesuai dengan falsafah Pancasila serta cita-cita untuk pembinaan hukum nasional, perlu adanya Undang-undang tentang Perkawinan yang berlaku bagi semua warga negara.

Mengingat:

    1. Pasal 5 ayat (1), pasal 20 ayat (1) dan pasal 29 Undang-undang Dasar 1945.

    2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor IV/MPR/1973.



Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

M E M U T U S K A N :

Menetapkan :

UNDANG-UNDANG TENTANG PERKAWINAN.



BAB I

DASAR PERKAWINAN

 

Pasal 1

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pasal 2

(1) Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama      dan kepercayaannya itu.

(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 3

(1) Pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki seorang isteri.

     Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami.

(2) Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari      seorang apabila dikendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Pasal 4

(1) Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut      dalam pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan      ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

(2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberi izin kepada suami      yang akan beristri lebih dari seorang apabila:

    a. istri tidak dapat memnjalankan kewajibannya sebagai isteri;

    b. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

    c. istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Pasal 5

(1) Untuk dapat mengajukan permohonan ke Pengadilan sebagaimana dimaksud      dalam pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini harus memenuhi syarat-syarat berikut:

    a. adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;

    b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup      isteri-isteri dan anak-anak mereka.

    c. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan      anak-anak mereka.

(2) Persetujuan yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi      seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya      dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian;

     atau apabila tidak ada kabar dari istrinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua)      tahun atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim      Pengadilan.