"Menyingkap Kabut Halim 1965"

X-URL:

Selasa, 30 Januari 2001, 20:37 WIB

Setelah Dibungkam 29 Tahun, Omar Dani Luncurkan Buku

Laporan: Heru Margianto

Jakarta, KCM

Tujuh setengah bulan sebelum dihadapkan ke depan sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), mantan Menteri/Panglima AU Laksamana Madya Udara Omar Dani (77) sudah tahu bahwa hukuman mati akan diterima. Semua yang dituduhkan kepadanya dalam sidang Mahmilub hanya untuk mendukung tuduhan yang sudah ada sebelumnya.

Demikian terungkap dalam buku "Tuhan Pergunakanlah Hati, Tangan, dan Pikiranku: Pledoi Omar Dani". Buku yang disusun oleh Benedicta A Soerojo dan GMV Supartono itu diluncurkan Selasa (30/1) sore ini di Balai Sudirman, Jakarta.

Peluncuran buku ini terasa istimewa karena dihadiri oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, duta besar dan perwakilan negara tetangga, dan sesepuh TNI AU. Tampak pula hadir Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hanafie Asnan, mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, Kemal Idris, Benjamin Mangkudilaga, Hendardi, Romo Sandyawan, dan Luhut MP Pangaribuan.

Peluncuran buku ini juga dimeriahkan dengan diskusi bedah buku, dengan pembicara George Aditjondro, dan Roeslan Abdulgani.

Saat memberikan bukunya kepada Megawati, Omar Dani mengatakan, "Saya menyerahkan buku ini kepada mbak Mega karena Mbak Mega telah berjasa dalam berjuang melawan kezaliman dan teror. Sifatnya yang pendiam, keibuan, sabar, ramah dan anggun, menimbulkan rasa iri manusia yang berambisi pada kedudukan," ujarnya.

Omar juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Megawati atas perjuangan Megawati yang selalu digoyang kiri kanan, namun akhirnya berhasil menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sementara penulis buku Benedicta A Soerojo, menyatakan bahwa buku setebal 372 halaman ini mengisahkan tentang apa yang dialami, dan diketahui Omar Dani, berkaitan deangan tuduhan terhadap dirinya terlibat dalam peristiwa G30S/PKI.

"Banyak hal baru yang diungkapkan dalam buku ini, misalnya banyak orang tak tahu, bahwa Omar Dani pergi ke Phnom Penh atas perintah Presiden Soekarno. Kemudian juga peristiwa semasa Omar Dani berada di dalam Komando Mandala Siaga (Kolaga), dimana pak Harto juga ada disana. Perubahan atau pergantian pimpinan di kolaga itu adalah hal yang paling baru, dan ada bukti-bukti otentik, kita berikan dalam attachment," ujar Soerojo yang mengenal Omar Dani sejak usia 12 tahun ketika bersama ayahnya pak Soerojo mengunjungi Omar Dani di penjara Nirbaya pada tahun 1966.

Judul Buku "Tuhan, Pergunakanlah Hati, Tangan, dan Pikiranku" adalah cuplikan doa Omar Dani dalam kesendiriannya di kamar tahanan mempersiapkan pledoi beberapa saat menjelang sidang Mahmilub.

Dalam buku yang rencananya akan diterbitkan dalam bahasa Inggris itu, diungkapkan keterpojokan Omar Dani berhadapan dengan kekuatan propaganda media massa. Omar Dani akhirnya dinyatakan bersalah dan divonis hukuman mati.

Ia bebas pada tahun 1995, setelah menjalani hukuman selama 29 tahun 4 bulan. Pada kesempatan itu direktur penerbit ISAI yang menerbitkan buku ini, Bimo Nugroho, mengungkapkan betapa pada tahun 1965-1966, adalah tahun-tahun yang gelap bagi generasi yang lahir sesudah itu. Fakta sejarah yang didapatkan di bangku sekolah adalah sejarah versi penguasa.

"Buku ini tidak sekedar pledoi, tapi secercah jawaban, tentang masa yang tidak jelas itu," ujarnya.(zrp)


X-URL:

Selasa, 30 Januari 2001, 21:08 WIB

Buku Omar Dhani Merupakan Pemutihan Nama TNI AU

(Laporan: Heru Margianto)

Jakarta, KCM

KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan mengungkap bahwa buku Omar Dhani,"Tuhan, Pergunakan Hati, Pikiran dan Tanganku" dapat disebut sebagai salah satu pemutihan TNI Angkatan Udara.

Ia juga meyakini fakta-fakta yang ditulis dalam buku tersbeut adalah benar adanya. "Sebagai generasi penerus dan pimpinan TNI AU saya merasa bangga dan bahagia karena beliau sudah memberikan pertanggungjawabnnya kepada generasi penerus," katanya di sela peluncuran buku tersebut di Balai Sudirman, Selasa malam.

Hanafie juga mengungkapkan bahwa saat ini TNI AU sudah membentuk tim advokasi untuk menindaklanjuti personel AU yang dirugikan berkaitan dengan peristiwa G30S pada 1965 yang lalu.

Ia juga menyatakan bahwa fakta-fakta baru yang diungkapkan tidka akan menimbulkan konflik di TNI karena menurutnya generasi sekarang sudah lebih terbuka untuk menilai benar dan salah. (Cay)


____________________________________________________

[ KEMBALI KE ATAS ]
[ BERITA SEBELUMNYA ] - [ H O M E ] - [ BERITA SELANJUTNYA ]

____________________________________________________
HAK CIPTA 1996 - 2001 -
Compiled by : Dr. Willy R. Wirantaprawira, LL.M., Ph.D.