KOLOM IBRAHIM ISA



"KOMUNIST0-PHOBI"
dan 'KAMPANYE ANTI-GUS DUR"



Date: Mon, 16 Apr 2001 21:37:13 +0200

Sudah lebih dari 30 tahun PKI dilarang, pemimpin-pemimpinnya seperti Aidit, Lukman, Nyoto, Ir Sakirman, dll, kecuali Sudisman barangkali, tanpa proses telah dieksekusi. Sedangkan ratusan ribu warganegara Indonesia yang tak bersalah anggota PKI, simpatis an maupun yang diduga ada hubungan ini atau itu dengan PKI, dibantai atau di penjarakan, dibuang ke Buru dll tempat pembuangan. Dan jangan dilewatkan kenyataan bahwa diantara yang dibunuh dan dipersekusi Suharto, tidak sedikit adalah warganegara Indonesia anggota PNI ataupun Partindo, anggota PSII ataupun partai Islam Perti, demikian juga yang nonpartai yang sangat mencintai Bung Karno, yang mati-matian membela Bung Karno dari tindakan kup merangkak Jendral Suharto dan klik militernya, terhadap ketika itu.

Kemudian Jendral Suharto cepat-cepat menggerakkan MPRS yang sudah direkayasanya lebih dulu, untuk mengeluarkan TAP MPRS No.XXV,1966 yang melarang PKI dan ajaran Marxisme-Leninisme dsb. Selanjutnya para tapol yang masih beruntung tidak dibantai dan sempat bisa secara formal keluar dari penjara karena adanya reaksi masyarakat dan dunia internasional yang memberi tekanan kuat kepada rezim Orba untuk segera membebaskan para tahan tsb, karena telah bertahun-tahun lamanya dipenjarakan tanpa proses pengadilan apapun, di dalam masyarakat dibikin menjadi warganegara kelas dua yang oleh aparat dan masyarakat sekitarnya harus melapor, diawasi, dicurigai, didiskriminasi, dikucilkan secara mental dan politik, tidak boleh ini dan tidak boleh itu, dengan mengguna kan Instruksi Mendagri Jendral Amir Mahmud, No 32/tahun 1981.

Dengan berlangsungnya kekejaman dan kebijaksanaan tirani Orba untuk membikin' perhitungan terakhir' dengan PKI dan simpatisannya, banyak orang menganggap sudah habislah riwayat PKI sebagai parpol di Indonesia, sudah tamatlah peranan Komunisme di Indone sia. Apalagi di dunia internasional bisa disaksikan bahwa komunisme mengalami kemerosotan dan tokoh-tokohnya banyak yang sudah pada berubah, bahkan sudah berubah samasekali. Mulai dari Sekjen PKUS dan Presiden Sovyet Gorbachov, mantan presiden Federasi Rusia Yeltsin sampai penerusnya, Putin, dulunya adalah orang-orang komunis kawakan yang sudah berubah samasekali. Kalau tokh dunia Barat, khususnya AS takut pada Putin, bukanlah karena Putin itu Komunis, tetapi karena Rusianya Putin berangsur berusaha kembali untuk menjadi saingan Barat dan AS di dunia ini. Karena banyak sekali yang dulunya Komunis udah bukan komunis seperti dulu lagi, maka orang pikir apa lagi yang mesti ditakuti tentang Komunisme di dunia internasional, apalagi di Indonesia.

Suara seperti itu sudah banyak diutarakan oleh para pakar, sampai-sampai pakar yang filosof dan religius seperti Romo Fransis Magnis Suseno menganggap orang-orang yang ribut-ribut mengenai 'bahaya komunis' itu adalah absurd, seperti melihat hantu di siang hari bolong. Ada yang bilang seperti orang yang di bulan purnama ketakutan akan bayangannya sendiri.

Okh di negeri kita yang tercinta, ribut-ribu kaum yang 'komunisto-phobi', yang dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya seratus persen serta secara prinsipil, fundamentil, religius, politis dan etis adalah anti-komunis, belakangan ini kedengaran dan terbaca tampaknya diperhebat lagi. Mereka membikin rencana kampanye anti-komunis yang spektakuler, kelihatannya. Saya memerlukan menanyakan pendapat salah seorang penggiat salah satu LSM HAM, sampai dimana dampak kampanye anti-komunis itu di kalangan rak yat. Bagaimana masyarakat mengertikan inisiatif kampanya 'anti-komunis' itu. Dengan santai penggiat tsb menjawab bahwa rakyat sudah tidak percaya dan muak terhadap kampanye seperti yang dilakukan oleh Orba selama puluhan tahun berkuasanya Suharto. Seperti halnya film Orba tentang G30S yang menjadi pertunjukkan film wajib pada setiap tanggal 30 September, akhirnya menjemukan, tidak ada yang percaya lagi, lalu ditarik sendiri dari peredaran oleh penguasa. Mereka menjadi malu sendiri. Barangkali.

Masyrakat akhirnya mengetahui dan menyadari bahwa ribut-ribut anti-komunis dan anti-PKI itu, seperti orang yang kebakaran jenggot, adalah tirai asap politik belaka yang ditiupkan oleh kekuatan politik Orba yang kini terdesak karena ulah politiknya sendiri gagal untuk menjatuhkan Presiden Gus Dur. Lalu mereka segera tukar taktik, yaitu mengalihkan perhatian dan sasaran masyrakat yang ditujukan terhadap diri mereka, seperti tuntutan untuk dibubarkannya Golkar serta diambilnya tindakan hukum terhadap koruptor-koruptor kakap seperti Ginanjar dsb. Masyrakat sudah melihat manuver mereka yang dengan gampang-gampangan mencari 'kambing hitam' agar lepas dari tudingan dan tuntutan masyarakat yang hendak membuat perhitungan dengan dosa-dosa yang mereka buat terhadap rakyat selama puluhan tahun berkuasa di era Orba, bahkan juga sampai dengan detik ini.

Kaum anti-komunis ini di waktu yang lalu, tanpa sedikitpun mengejapkan matanya telah memenggal kepala atau menembak mati orang-orang yang tidak bersalah, membuang mayatnya di sungai-sungai atau di tengah laut, atau dipendam dalam kuburan masal tanpa batu nisan atau tanda apapun bahwa ada orang-orang di kubur disitu, dengan menggunakan dalih bahwa para korban itu terlibat dalam peristiwa G30S, (yang belakangan menurut sementara pakar dalam dan luarnegeri, termasuk apa yang dinyatakan oleh mantan Menlu RI Subandrio, misalnya, adalah operasi intel Jendral Suharto dan kawan-kawannya, CIA dan dinas rahasia Inggris, untuk menempatkan diri dan golonganny di puncak kekuasaan negara). Sampai detik ini kejahatan berupa 'political cleansing' terbesar dalam sejarah Indonesia, yang tidak kalah dengan 'ethnic cleanisng' di Ruanda/Burundi atau di Bosnia, suatu kejahatan terhadap umat manusia, suatu 'crime against humanity', seperti yang dilakukan oleh Orba terhadap warganegara yang tidak bersalah, masih belum digugat. Padahal dewasa ini, di dalam kehidupan peradilan secara internasional, "Pengadilan Yugoslavia"yang dibentuk atas wewenang PBB, di Den Haag sedang dalam proses mengadili para kriminal yang melakukan kejahatan terhadap umat manusia, yang terjadi di Yugsolavia beberapa tahun yang lalu.

Ada yang merasa bahwa adalah tabu untuk menggugat kembali apa yang terjadi pada tahun-tahun 65 dan 66 yang telah menimbulkan begitu banyak korban orang yang tidak bersalah, dengan dalih 'trauma'. Entah siapa yang 'trauma', apakah korbannya atau si pembantai. Juga ada yang tidak mau tahu tentang kasus 65 itu, karena dirinya atau golongannya sendiri, memang terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ketika itu. Sebagian orang juga bersikap acuh tak acuh demikian itu, karena bagaimanapun adalah berkat Orba, yang kayak apapun kejahatannya ketika itu, tokh telah memberikannya kesempatan dan peluang, sehingga mereka menjadi pejabat penting ataupun orang kaya sekarang ini. Jadi mereka-merka itu bagaimanapun merasa telah 'berhutang budi' pada Suharto, pada rezim Orba. Dan ada pepatah kita mengatakan "hutang budi dibawa mati".

Yang menjadi penyebab dari ketakutan mereka itu kali ini, ialah, a.l. karena para keluarga orang-orang yang dulu mereka bantai itu, telah menemukan sebagian dari kuburan keluarga mereka yang dibantai dalam tahun-tahun 65/66, dan adanya kehendak mereka untuk dengan wajar dan khidmat menggali kembali dan memindahkan kerangka-tulang belulang orang-orang yang mereka kasihi dan cintai, ke kuburan yang layak. Ketakutan mereka ini dengan sekejap mata berubah menjadi suatu rekayasa baru, yaitu dengan secara histeris meneriakkan lagi 'bla-bla-bla' tentang timbunyal dengan akut 'bahaya komunis'. Atas dasar asumsi rekayasa itu, dengan ancaman kekerasan mereka melakukan obstruksi terhadap penggalian kembali dan pemindahan kuburan para korban yang diusahakan oleh keluarga dan pelbagai lapisan masyarakat, termasuk LSM YPKP dan bahkan dengan ikut sertanya sementara pemuda dari Ansor. Kemudian histeri mereka itu ditindak lanjuti dengan rencana melakukan kampanye anti-komunis besa-besaran untuk kesekian kalinya.

IRONI DALAM SEJARAH

Diantara sekian banyak ironi kita dalam membangun nasion Indonesia, adalah ironi sejarah berikut ini: Peristiwa Madiun yang oleh golongan anti komunis dan 'komnisto-phobi' dinyatakan sebagai suatu pemberontakan terhadap negara, namun yang tidak pernah di proses lewat pengadilan yang adil dan transparan, pemimpin-pemimpin PKI dan golongan Kiri lainnya, seperti Amir Syarifuddin c.s. ditangkap dan dieksuksi tanpa proses hukum yang wajar, dibawah wewenang Kolonel Gatot Subroto ketika itu. Meskipun tokoh-tokoh yang dieksekusi itu dituduh sebagai pemberontak, tokh kuburannya tidak disembunykan oleh aparat. Oleh para keluarga dan sahabat-sahabat yang bersangkutan kuburan mereka digali kembali dan jenazahnya yang sudah menjadi tulang-belulang dikuburkan kembali dengan baik-baik, di sebuah desa bernama Ngalihan. Oleh aparat apa yang dilakukan oleh para keluarga korban dan sahabat-sahabatnya tidak dilarang oleh aparat.

Ini dia ironi yang saya maksud tadi itu bila dibandingkan keadaan sekarang dengan dulu : Di era reformasi dewasa ini kuburan dari warganegara yang terang, jelas jemelas tidak bersalah, bahkan tidak mengetahui mengapa mereka ditangkap pada permulaan era Orba, kemudian dieksekusi secara kejam tanpa proses peradalin apapun, kok para korban ketidak-adilan Orba itu, kuburannya tidak boleh dipindahkan untuk dikubur kembali dengan khidmat menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Tindakan kaum 'komunisto-phobi' tsb betul-betul sudah diluar batas perikemanusiaan di zaman apapun. Selanjutnya kok bisa-bisanya malah teriak-teriak lagi tentang munculnya 'bahaya komunis'. Entah kepercayaan, keyakinan politik ataupun agama mana yang mereka anut, sehingga bisa berti ndak seperti itu?

Patut juga dipertanyakan rasa kemanusiaan mereka, masih adakah hati nurani mereka? Sampai bisa ramai-ramai meneriakkan tentang munculnya 'bahaya komunis', bersamaan dengan itu, masing-masing menyembunyikan jauh-jauh ke sudut gelap benak mereka, mengenai pembantaian yang mereka atau golongan mereka lakukan dulu terhadap orang-orang yang tidak bersalah dalam tahun-tahun 65/66, pada permulaan era Orba.

Yah, itu semua bisa terjadi karena hendak mempertahankan yang tidak bisa dipertahankan, karena hendak membela yang tidak bisa dibela, hendak melakukan sesuatu atas dasar yang tak sehat, yang bertolak dari kepentingan diri dan golongan sendiri semata-mata tanpa memperhatikan kepentingan bangsa dan negeri secara keseluruhan.

TIDAK KEBETULAN

Tidaklah kebetulan bahwa manuver-manuver mereka baik di lembaga eksekutif maupun eksekutif untuk menggusur presiden Wahid, bersamaan waktunya dengan kampanye anti-komunis yang mereka lakukan. Senjata politik 'anti-komunis' yang mereka ayunkan terhadap set iap kekuatan politik yang menuntut Golkar dibubarkan, misalnya terhadap PRD, telah dan akan mereka gunakan lagi terhadap Gus Dur, sasaran utama mereka dewasa in.

Adalah kegagalan mereka hingga kini untuk menggusur presiden, yang menyebabkan mereka cepat-cepat memamah biak 'bla-bla-bla' tentang bahaya komunis.

GUS DUR BERSAMA KEKUATAN KIRI ADALAH BAIK

Melihat situasi sekarang dari latar belakang usaha utama mereka untuk menjatuhkan Gus Dur, maka bisa dimengerti kiranya mengapa mereka teriak-teriak tentang anti-komunisme. Karena sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu kekuatan moral dan politik yang ada di masyarakat yang dengan kuat mendukung Gus Dur, adalah kekuatan moral dan politik Kiri. Termasuk di situ kekuatan LSM, serikat buruh, mahasiswa, serikat tani dan berbagai organisasi sosial dan politik di dalam masyarakat yang berhaluan Kiri. Yang je las dari segi parpol adalah PRD. Sedangkan dari segi yang tidak berparpol adalah kekuatan Kiri lama, termasuk simpatisan PKI.

Dengan memukul kekuatan Kiri yang termasuk mendukung Gus Dur, mereka hendak mengimplilkasikan bahwa Gus Dur bersahabat dan menyatu dengan golongan Kiri. Dan malah Gus Dur itu sendiri dikatakan Kiri. Hal ini sesungguhnya juga tidak ada jeleknya. Malah banyak baiknya. Ia lebih lanjut menerobos fikiran yang tabu terhadap segala sesuatu yang Kiri. Karena di dunia ini baik dulu, maupun dewasa ini yang Kiri itu secara pokok dan umum adalah yang pro rakyat, yang anti kolonial, yang anti politik imperialis, yang menentang globalisasi menurut maunya kaum modal monopoli, yang menentang bersimaharelanya nafsu mengejar keuntungan semata dari segelintir orang atas nama untuk menggalakkan pertumbuhan ekonomi.

Beradanya kekuatan Kiri dengan Gus Dur pada satu barisan, ini membikin bukan alang kepalang marahnya kekuatan politik Statusquo. Tetapi, selain menghidupkan kembali 'hantu bahaya komunis' untuk menakut-nakuti orang, mereka tidak bisa berbuat lain lagi. Pasti mereka sedang mencari akal baru. Mereka tidak akan berhenti sampai di sini saja.

Apalagi dengan adanya pernyataan Gus Dur beberapa hari yang lalu dalam suatu interview dengan CNN, dimana Gus Dur membikin jelas sikapnya untuk mempertahankan kebinetnya sampai 2004. Gus Dur tanpa bisa diintepretasi lain menyatakan bahwa beliau tetap aka n berpegang pada UUD dan jalan konstitusionil dalam menjalankan pemerintahan. Gus Dur juga menyatakan tekad kuat beliau untuk mempertahankan kesatuan dan keutuhan negara kita.

Perlu betul-betul disadari bahwa yang kewalahan sekarang ini bukanlah kekuatan pro demokrasi, bukanlah kekuatan reformasi, bukanlah Gus Dur dan kekuatan moral dan politik yang mendukungnuya. Yang kepepet dan kalap sekarang ini adalah mereka-mereka yang m entang Gus Dur, mereka-mereka yang 'komunisto-phobi' dan golongannya.

Maka mengertilah orang mengapa muncul lagi ribut-ribut 'anti-komunis' belakangan ini.

Ibrahim Isa

* * * *

----- End of forwarded message from Ibrahim Isa -----



____________________________________________________

[ KEMBALI KE ATAS ]
[ BERITA SEBELUMNYA ] - [ H O M E ] - [ BERITA SELANJUTNYA ]

____________________________________________________
HAK CIPTA 1996 - 2001 -
Compiled by : Dr. Willy R. Wirantaprawira, LL.M., Ph.D.