GP ANSOR DAN BANSER
MINTA MAAF KEPADA KELUARGA KORBAN TRAGEDI 1965

Umar Said *)

Sekitar pernyataan GP Ansor Yogya

Ada satu berita atau perkembangan yang patut mendapat perhatian dan juga disambut dengan rasa gembira atau kelegaan hati, dengan harapan bahwa dampaknya akan merupakan angin segar yang membawa kesejukan dan kecerahan dalam fikiran banyak orang. Berita itu disiarkan oleh BERNAS (Jogya) tanggal 22 November 2000. Sebagai bahan renungan kita bersama, berikut adalah kutipan sebagian berita tersebut.

“Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor DIY telah membentuk tim investigasi untuk meluruskan sejarah tragedi 1965. Peristiwa saling-bunuh yang juga melibatkan warga NU pada saat itu, telah dimanipulasi seolah-olah terjadi pembunuhan terhadap orang- orang PKI oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Padahal saat itu, warga NU khususnya Banser, hanya dimanfaatkan dan dijadikan alat oleh militer untuk kepentingan militer.

Demikian dikatakan Ketua PW GP Ansor DIY, Drs H Nuruddin Amin didampingi sejumlah pengurus PW GP Ansor DIY lainnya, saat bersilahturahmi ke Kantor Redaksi Bernas, Selasa (21/11). Sebelum ke Bernas, rombongan juga melakukan silaturahmi dengan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DIY Hartoyo Soemaryo SH. Menurut Nuruddin, akibat manipulasi sejarah tersebut, sampai saat ini warisan citra buruk tragedi tersebut masih menempel di tubuh GP Ansor maupun Banser. Karenanya, PW Ansor DIY bertekad dan berkepentingan untuk meluruskan sejarah mengenai tragedi tersebut, terutama yang menyinggung posisi Banser.

"Kami juga menyampaikan permintaan maaf kepada para keluarga korban tragedi 1965 itu. Di mana pun posisi Banser saat itu, pembunuhan adalah pelanggaran HAM dan itu dosa. Dan, kami selaku keluarga besar GP Ansor dan Banser menyatakan permintaan maaf setulus-tulusnya," kata Nuruddin. Mengenai tim investigasi dan pelurusan sejarah yang dibentuk, Nuruddin mengemukakan, saat ini telah dikerahkan bagian Litbang PW Ansor untuk melakukan kajian pustaka mengenai tragedi 1965. Bahkan, PW Ansor DIY telah melakukan mapping (pemetaan) sementara daerah- daerah yang akan diteliti. "Hasil kajian pustaka sementara ini yang telah dilakukan, kita akan melakukan penelitian di tiga wilayah, yaitu Gunungkidul, Klaten dan Wonogiri. Tentunya kami juga berharap, dukungan dari masyarakat luas termasuk kalangan akademisi, untuk melakukan pelurusan sejarah ini," ucapnya.

Nuruddin menambahkan, program meluruskan sejarah tragedi 1965 yang sedang dilaksanakan GP Ansor DIY, merupakan program jangka panjang. Artinya, PW GP Ansor tidak memberikan batas waktu harus selesai kapan. "Pekerjaan ini bukan pekerjaan yang mudah. Selain membutuhkan akurasi data, juga dana yang tidak sedikit," tutur- nya (kutipan dari berita BERNAS tanggal 22 November selesai)

Kalau kita renungkan secara dalam-dalam makna berbagai kalimat yang tercantum di atas, maka akan jelaslah kiranya bahwa berita tersebut mempunyai arti yang besar atau mengandung pesan yang penting. Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau jiwa yang terkandung didalamnya itu bisa bersama-sama disebar-luaskan sejauh mungkin, sehingga kumandangnya dapat menyentuh hati-nurani serta menggugah fikiran masyarakat luas di negeri kita. Sebab, suara seperti yang dilantunkan oleh satu bagian penting dari masyarakat Islam di negeri kita ini patut disambut gembira oleh siapa pun, dari golongan yang mana pun, dari suku dan agama apa pun, dan dari aliran politik yang mana pun, yang secara sungguh-sungguh dan tulus mendambakan adanya kerukunan atau persatuan bangsa.

ARTI PENTING SUARA ANGKATAN MUDA ISLAM

Sebab, ketika kita sedang menyaksikan kemacetan dalam jalannya reformasi di berbagai bidang, dan masih terbengkalainya banyak pekerjaan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan besar yang ditimbulkan oleh sistem politik Orde Baru, maka terasa sekalilah bahwa berbagai bagian pernyataan pimpinan GP Ansor dan Banser Yogja itu mempunyai arti yang penting. Pernyataan itu, antara lain, mengingatkan kepada opini umum bahwa usaha bersama untuk mencari kebenaran sejarah yang berkaitan dengan tragedi 65 perlulah dilakukan. Sebab, banyak bukti yang menunjukkan bahwa sejarah telah dimanipulasi oleh rezim Orde Baru demi kepentingan politiknya waktu itu. Di samping itu, dilibatkannya unsur-unsur NU atau Banser oleh militer perlu juga diungkap. (Pada saat itu, warga NU khususnya Banser, hanya dimanfaatkan dan dijadikan alat oleh militer demi kepentingan militer).

Mengingat konteks situasi politik di negeri kita dewasa ini, apa yang diutarakan oleh pimpinan GP Ansor (dan Banser) Yogya merupakan sumbangan bagi berbagai golongan atau masyarakat Islam lainnya untuk melakukan penelaahan kembali berbagai aspek yang berkaitan dengan tragedi 65. Bahwa sikap yang demikian itu diambil oleh GP Ansor, sebagai salah satu di antara kekuatan angkatan muda Islam, adalah perkembangan yang positif bagi kehidupan bangsa kita dewasa ini, dan juga di kemudian hari. Sebab, angkatan muda yang sekarang inilah yang nantinya akan ikut berperan dalam masyarakat. Mereka ini, sedikit banyaknya, tidak terlibat secara langsung dengan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan tragedi 65, dan karenanya juga tidak mempunyai “beban sejarah” seperti halnya angkatan-angkatan yang terdahulu. Mereka juga tidak mau menjadi “tawanan sejarah” masa lalu yang gelap itu.

Apalagi kalau diingat bahwa, dewasa ini, masih cukup banyak dari kalangan Islam yang termakan oleh racun sistem politik Orde Baru, dan karenanya juga mempunyai pandangan yang keliru tentang tragedi 65, maka makin terasalah betapa pentingnya sumbangan pemikiran GP Ansor (dan Banser) Yogya ini.

MELURUSKAN SEJARAH LEWAT PENELITIAN

Aspek penting lainnya dari sikap yang telah diambil oleh GP Ansor Yogya adalah dibentuknya tim investigasi dan pelurusan sejarah, dengan mengerahkan bagian Litbang Pimpinan Wilayah GP Ansor untuk melakukan kajian pustaka mengenai tragedi 1965 dan pemetaan (mapping) sementara daerah-daerah yang akan diteliti (antara lain : Gunungkidul, Klaten dan Wonogiri). Dalam kegiatan untuk meluruskan sejarah ini diharapkan oleh GP Ansor adanya dukungan masyarakat luas, termasuk kalangan akademisi.

Dukungan masyarakat luas yang dihimbaukan oleh GP Ansor ini patut mendapat sambutan hangat serta kerjasama yang positif dari semua fihak yang ingin bersama-sama mencari kebenaran sejarah tentang tragedi bangsa, yang telah menelan begitu banyak jiwa orang yang tidak bersalah itu. Pelanggaran terhadap kemanusiaan yang besar-besaran dan telah menimbulkan ,kesengsaraan bagi begitu banyak orang itu perlu dibongkar, untuk dijadikan pelajaran bagi semuanya supaya jangan sampai terulang lagi. Kegiatan yang mulia ini adalah untuk kepentingan kita semuanya, dan bukan hanya untuk kepentingan satu atau beberapa golongan tertentu dalam masyarakat saja. Ini adalah adalah usaha kemanusiaan, demi tegaknya hak asasi manusia, demi ditemukannya rasa keadilan, dan demi kerukunan berbangsa dan bermasyarakat. Artinya, demi kita semua.

Oleh karena itu, patutlah kiranya bahwa usaha GP Ansor ini mendapat dukungan dari pemerintah, dari partai-partai, dari lembaga-lembaga resmi maupun swasta, dari LSM dan organisasi-organisasi. Kerjasama yang erat dengan berbagai LSM atau organisasi seperti (antara lain!) : Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65/66 (YPKP), Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba), Komite Advokasi Pembebasan Tapol/Napol (KAPTN), Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Pegawai Negeri, Perhimpunan Purnawirawan AURI, Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Yayasan Hidup Baru, LBH dll akan membantu kelancaran kegiatan GP Ansor yang berkaitan dengan penelitian tragedi 65. (mohon ma’af kepada organisasi-organisasi yang tidak tercantum). Kerjasama yang erat antara berbagai golongan masyarakat dengan GP Ansor juga akan merupakan dorongan semangat untuk menuntaskan tugasnya di bidang ini, walaupun mengalami berbagai kesulitan.

(Dalam kaitan ini patutlah dicatat bahwa ketika YPKP pada tanggal 16 sampai 18 November 2000 melakukan penggalian kuburan massal di dekat Wonosobo, 12 anggota Banser - bersama dengan 12 Satgas PDI-P - telah bertugas untuk ikut menjaga keamanan di sekitar lokasi. Ini adalah manifestasi yang indah yang mencerminkan perpaduan nalar yang sehat).

PEMBUNUHAN ADALAH PELANGGARAN HAM DAN DOSA

Bagian lain yang menarik, dan juga penting, dari pernyataan GP Ansor Yogya itu adalah yang menyatakan “Kami juga menyampaikan permintaan maaf kepada para keluarga korban tragedi 1965 itu. Di mana pun posisi Banser saat itu, pembunuhan adalah pelanggaran HAM dan itu dosa. Dan, kami selaku keluarga besar GP Ansor dan Banser menyatakan permintaan maaf setulus-tulusnya," kata Nuruddin.

Kalimat ini mencerminkan kedalaman berfikir yang menyejukkan hati banyak orang, terutama bagi puluhan juta orang, baik sanak-saudara (jauh dan dekat) para korban, maupun masyarakat luas yang selama ini masih merasakan adanya luka-luka lama yang belum sembuh. Ungkapan pimpinan GP Ansor itu memperkuat apa yang pernah diucapkan oleh Gus Dur yang juga minta ma’af kepada para anggota keluarga para korban pembunuhan 1965.

Jelaslah kiranya bahwa anggota keluarga para korban pembunuhan 65, yang jumlahnya amat besar dan tersebar di seluruh negeri itu, menyambut pernyataan semacam itu dengan perasaan lega. Pastilah banyak di antara mereka itu yang merasakannya sebagai obat pelipur lara, sesudah puluhan tahun menanggung duka berkepanjangan. Apalagi dengan adanya penegasan bahwa “ di mana pun posisi Banser saat itu, pembunuhan adalah pelanggaran HAM dan itu dosa”. Kalimat yang tegas dan jelas seperti ini berhak untuk mendapat penghargaan dari semua orang yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan juga prinsip-prinsip keagamaan.

Bahwa kalimat semacam itu datang dari kalangan angkatan muda Islam juga merupakan harapan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya dapatlah, kiranya, untuk selanjutnya akan menyebar secara luas dalam masyarakat. Dengan makin tersebar-luasnya dasar pemikiran yang semacam itu, maka hilanglah (atau, setidak-tidaknya, berkurang) kekuatiran akan terjadinya konflik horizontal yang berdasarkan atas kepicikan nalar. Tersebarnya pemikiran semacam itu akan memberikan sumbangan besar untuk meletakkan dasar-dasar bagi tercapainya rekonsiliasi nasional, yang didambakan oleh sebagian terbesar rakyat kita, dan yang sangat diperlukan untuk perbaikan kehidupan bangsa kita.

KEBENARAN SEJARAH ADALAH URUSAN KITA SEMUA

Adalah juga satu hal yang penting untuk dicatat bersama bahwa “program meluruskan sejarah tragedi 1965 yang sedang dilaksanakan GP Ansor DIY (Yogya) merupakan program jangka panjang. Artinya, Pimpinan Wilayah GP Ansor tidak memberikan batas waktu harus selesai kapan. Pekerjaan ini bukan pekerjaan yang mudah. Selain membutuhkan akurasi data, juga dana yang tidak sedikit “ tutur Nuruddin (pimpinan GP Ansor). Ini menunjukkan keseriusan sikap organisasinya dalam menangani masalah yang penting ini bagi sejarah bangsa kita.

Sebab, setelah pembiusan fikiran yang dilakukan oleh Orde Baru selama puluhan tahun, dan setelah pemanipulasian sejarah tentang peristiwa 1965 dengan berbagai cara, maka pekerjaan untuk mencari kebenaran sejarah tidaklah mudah. Kebenaran sejarah ini hanya bisa ditegakkan melalui kerjasama yang tulus dari banyak fihak. Dan karena skala persoalannya adalah demikian besar; maka diperlukan waktu yang panjang dan beaya yang besar pula.

Dan, oleh karena masalah pembunuhan besar-besaran tahun 65 ini menyangkut nasib atau kehidupan puluhan juta orang, dan berkaitan dengan usaha untuk menuntaskan reformasi, maka inisiatif GP Ansor untuk pelurusan sejarah tragedi 65 ini perlulah didukung secara luas. Menegakkan kebenaran sejarah tidaklah dapat dipikulkan kepada satu atau dua golongan saja. Dan untuk mencapai hasil yang sebaik mungkin, perlulah kiranya sebanyak mungkin orang ikut memberikan sumbangan, dalam berbagai bentuk dan cara. Untuk itu perlulah diciptakan suasana dan syarat-syarat sehingga para korban, para aktor, para saksi, para nara sumber, dapat bersuara secara sebebas-bebasnya, tanpa rasa takut atau kuatir apa pun

Dengan mempraktekkan semangat seperti yang sudah diungkap oleh pimpinan GP Ansor Yogya itu, maka dapatlah diharapkan bahwa, pada akhirnya, penelitian terhadap tragedi 65 itu akan menyembuhkan luka-luka lama, menghilangkan rasa permusuhan atau dendam, dan menjembatani kerukunan serta kerujukan antara berbagai golongan bangsa. Penegakan kebenaran sejarah adalah untuk menumbuhkan rasa keadilan. Dan rasa keadilan inilah yang selama puluhan tahun sudah diinjak-injak oleh sistem politik Orde Baru.

Singkatnya, dan padatnya, dengan semangat atau “jiwa” yang terkandung dalam sikap GP Ansor Yogya itu, maka trauma karena peristiwa 65/66, yang selama ini menjadi penyakit laten dalam kehidupan masyarakat, akan bisa disembuhkan secara gotong-royong dalam semangat persaudaraan yang menyegarkan hati semua fihak. Dan, kalau sudah begitu, maka akan bisalah kita bersama-sama bersorak-sorai untuk merayakan kemenangan perikemanusiaan di bumi Indonesia.

Paris, musim dingin, 29 November 2000

*) Penulis adalah, sampai September 1965, pemimpin redaksi suratkabar Harian EKONOMI NASIONAL (Jakarta), anggota pengurus PWI Pusat periode kongres 1963, dan anggota Sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Sekarang tinggal di Paris).

Untuk kontak dengan E-mail : kontak@club-internet.fr


____________________________________________________
[ KEMBALI KE ATAS ]
[ BERITA SEBELUMNYA ] - [ H O M E ] - [ BERITA SELANJUTNYA ]

____________________________________________________
HAK CIPTA © 1996 - 2000 -
Pengelola : Dr. Willy R. Wirantaprawira, LL.M., Ph.D.