Pulau Buru, inilah tempat di mana seorang
Pramoedya Ananta Toer berupaya untuk tetap bertahan hidup selama 11 tahun lamanya sebagai
tahanan politik. Tak hanya untuk hidup secara fisik namun juga tetap hidup dalam mempertahankan
kebugaran mental dan pemikiran.
Dalam sejarah panjang sastra Indonesia, tercatat bahwa di pulau inilah Pram - panggilan akrab
Pramoedya -, berhasil melahirkan karya sastra yang kemudian dinilai luar biasa oleh para kritikus,
tidak hanya di lingkup tanah air tetapi juga dunia.
Adalah 'Tetralogi Buru' - terdiri dari Bumi Manusia (novel ini pernah dinilai Gus Dur
sebagai salah satu dari dua novel terbaik di Indonesia), Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah
dan Rumah Kaca -, yang telah membuat nama Pram menggema. Hingga Komite Utama Fukuoka
Asian Culture Prizes (FACP) ke-11 kemudian menasbihkannya sebagai karya terbaik yang berhak
mendapatkan Penghargaan Utama.
Organisasi yang didirikan di Fukuoka, Jepang ini menilai Pram lewat Tetralogi
Buru-nya, telah memberikan kontribusi sangat berarti bagi pemeliharaan dan penciptaan budaya yang
beraneka ragam dan unik di Asia.
"Sebagai penulis Asia terkemuka, Pramoedya pantas mendapatkan Penghargaan Utama lewat empat
novelnya yang saling berhubungan itu," ungkap seorang wakil pemda kota Fukuoka ketika membacakan
dasar penilaian Komite FACP, Minggu (23/7).
Dengan demikian, Pram yang berhasil menyisihkan 291 calon lain dari 29 negara di dunia, berhak
atas uang tunai sebesar 5 juta yen dan mengunjungi kota Fukuoka September mendatang untuk hadir
dalam upacara penyerahan penghargaan itu.
Dengan prestasinya, penulis novel Hoakiau di Indonesia (1998) dan Arok Dedes (2000)
ini sekaligus mengikuti jejak Taufik Abdullah yang mendapatkan penghargaan Akademis Internasional
(1991) dari komite yang sama, lalu ahli antropologi, Koentjaraningrat yang memperoleh Penghargaan
Utama (1995) serta penari/pengamat budaya, RM. Soedarsono, yang meraih Penghargaan Seni dan Budaya
(1998).
Boleh dibilang, Pram adalah salah seorang dari sedikit sastrawan Indonesia yang bergelimang
penghargaan internasional. Sebelum FACP, pada 31 Mei lalu pemerintah Prancis telah lebih dulu
menghargai Pram lewat Chevaller des Arts et des letres. Lalu, mengapa sejarah kerap menjadi
sumber inspirasi bagi Pram dalam menorehkan karya-karyanya?
"Karena saya ingin dapat jawaban, mengapa bangsa saya jadi begini. Jawabannya ternyata ada pada
masa lalu dan ternyata garis sejarah yang benar adalah melawan ketidakadilan. Maka sebaiknya
setiap orang bangkit melawan ketidakadilan," jawab Pram, yang mengaku secara intuitif dirinya
suka akan sejarah. Selamat Pram! (Antara/deny secaatmaja)
Dilarang mengutip tanpa izin Antara