KOLOM UMAR SAID

TEROR BOM TELAH MEMBANGKITKAN SOLIDARITAS

A. Umar Said *)

Peledakan bom hampir serentak yang terjadi pada malam Natal 24 Desember 2000 di lebih dari 10 kota Indonesia telah menggugah fikiran banyak orang yang selama ini menganggap enteng atau tidak acuh tak acuh saja terhadap bahaya yang merongrong kehidupan bangsa kita. Kenyataan bahwa begitu banyak bom sudah diledakkan – dan diusahakan diledakkan – di begitu banyak tempat menunjukkan dengan jelas bahwa ada satu kekuatan gelap yang mengkoordinasi atau mengorganisasi aksi-aksi teror, yang telah memakan jiwa 14 orang.

Menurut Asisten Kepala Kepolisian RI Irjen (Pol) Ansyaat Mbai, rekapitulasi kejadian yang dikumpulkan polisi menunjukkan bahwa ada 33 kejadian di seluruh Indonesia. Di Jawa Barat ada 3 kejadian (yaitu di Bandung dan Sukabumi), di Riau ada 6 kejadian (yaitu di Pekanbaru dan Batam), di Nusa Tenggara Barat ada 2 kejadian, di Jakarta ada 6 kejadian, di Sumatra Utara 12 kejadian (11 tidak meledak dan 1 meledak di Pematang Siantar), di Jawa Timur 4 kejadian (di Mojokerto).

Seperti yang sudah sama-sama kita baca di berbagai media pers Indonesia, banyak komentar atau beraneka-ragam analisa telah dikemukakan oleh tokoh-tokoh dari berbagai kalangan. Di samping itu, langkah-langkah juga telah diambil oleh berbagai fihak. Pemerintah RI (lewat pernyataan Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono) mengutuk “aksi-aksi pengeboman yang keji dan di luar batas perkemanusiaan” itu. Sedangkan Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa aksi pemboman tersebut bertujuan membuat pemerintah tidak stabil dan mengadu-domba antar-umat beragama di Indonesia. (Kompas 26 Desember)

“SHOCK” BAGI HATI-NURANI BANYAK ORANG

Adalah wajar sekali kalau peristiwa pemboman pada malam Natal, yang dilakukan di begitu banyak propinsi itu, telah menimbulkan “shock” bagi hati-nurani banyak orang, baik di dalamnegeri mau pun di luarnegeri. Sebab, aksi-aksi itu dilancarkan pada saat ketika kaum Kristiani sedang merayakan hari suci mereka, dan menjadikan gereja atau tempat ibadah sebagai sasaran. Dan karena aksi-aksi pemboman itu dilakukan hampir serentak, dan bahan-bahan yang dipakai serta cara-caranya pun hampir sama, maka secara otomatis banyak orang menyimpulkan bahwa kejadian-kejadian itu memang diorganisasi atau dikoordinasi. Artinya, ada jaring-jaringan kekuatan gelap yang merencanakan atau mempersiapkannya dengan cermat.

Bagi mereka yang tinggal di Indonesia, barangkali baik jugalah kiranya diketahui bahwa sejak terjadinya peledakan bom pada malam Natal 24 Desember 2000, pers cetak, radio dan televisi di banyak negeri di dunia menyiarkan berbagai berita atau komentar tentang Indonesia. Setidak-tidaknya, lebih sering dari pada biasanya. Bukan saja di negeri-negeri Asia yang berdekatan dengan negeri kita, melainkan juga di benua-benua lain, seperti Europa, Amerika dll. (Umpamanya, di berbagai televisi Prancis selama beberapa hari berturut-turut telah muncul gambar-gambar tentang pemboman di Jakarta). Bahkan, karena Paus Jean Paul II juga mengecam aksi-aksi pemboman itu dalam pesannya di malam Natal, maka gema masalah teror di Indonesia ini menjadi meluas secara internasional (mohon dicatat bahwa jumlah pemirsa siaran televisi tentang upacara Natalan di Vatikan yang lalu ditaksir sekitar 1 milyar orang di seluruh dunia).

Dari banyaknya reaksi opini umum di Indonesia - dan di luarnegeri - maka nyatalah bahwa aksi teror yang meliputi 8 propinsi dan memakan korban jiwa 17 orang dan melukai 120 orang itu adalah masalah yang amat serius. Juga, masalah yang menggugah fikiran banyak orang dari berbagai kalangan. Mungkin, berkat aksi-aksi teror yang berskala luas inilah akan terjadi seleksi dan kristalisasi dalam pandangan atau fikiran banyak orang dari berbagai kalangan atau golongan, baik yang berkaitan dengan kekuatan sisa-sisa Orde Baru mau pun yang berkaitan dengan masalah perjuangan antara kekuatan reformasi melawan kekuatan status quo. Dengan kalimat lain, bisalah kiranya dikatakan bahwa aksi-aksi teror itu merupakan pendidikan politik dan moral bagi banyak kalangan, termasuk bagi mereka yang selama ini masih menggembol ilusi bahwa sisa-sisa kekuatan sistem politik Orde Baru masih bisa mendatangkan kebaikan bagi kepentingan rakyat dan negara kita.

INISIATIF MASYARAKAT ADALAH AMAT PENTING

Adalah hal yang menarik untuk kita perhatikan bahwa di tengah-tengah gelombang kemarahan dari berbagai fihak untuk mengutuk aksi-aksi teror pada malam Natal itu, muncul juga gejala-gejala positif yang menggembirakan. Sejumlah tokoh-tokoh terkemuka telah mengambil inisiatif untuk membentuk Forum Indonesia Damai (FID). Forum ini terdiri dari tiga tim, yaitu tim agama, tim aparatur negara dan tim investigasi. Tim Agama bertugas untuk mengkonsolidasikan rasa persaudaraan antar umat beragama melalui tokoh agama masing-masing, agar tidak terjadi salah pengertian yang bisa menimbulkan konflik-konflik. Tim Agama ini diketuai oleh Nurcholis Madjid, dan anggotanya terdiri dari Said Agil Siradj, Hidayat Nur Wahid, Mudji Sutrisno, dan Frans Magnis Suseno.

Tim Aparatur Negara dipimpin oleh Bara Hasibuan, dengan anggota-anggota Eros Jarot dan Emil Salim. Tim Investigasi terdiri dari Asmara Nababan sebagai ketua, Todung Mulya Lubis sebagai Wakil Ketua, Munir sebagai sekretaris, dan Saparina Sadeli dan Lies Marantika sebagai anggota. Steering Committee FID terdiri dari Nurcholis Madjid, Frans Magnis Suseno, Emil Salim, Mar’ie Muhammad, Saparina Sadeli dan pendeta Nababan.

Lahirnya Forum Indonesia Damai (FID) adalah suatu perkembangan yang penting, dalam konstelasi politik dan konteks situasi tanah-air dewasa ini. Sebab, aksi-aksi pemboman yang begitu luas dan sudah makan korban yang begitu banyak itu memang memerlukan penanganan yang cepat, serius, dan jujur. Ketika sudah tidak dapat diharapkan lagi peran DPR/MPR (dan juga dari aparat negara) untuk menangani secara serius masalah-masalah besar yang berkaitan dengan kepentingan rakyat, maka segala inisiatif positif yang lahir dari masyarakat adalah sangat mutlak. Lahirnya banyak inisiatif masyarakat, seperti halnya FID, akan merupakan sumbangan besar kepada pemberdayaan potensi masyarakat untuk : mengokohkan kehidupan demokratis, mengkontrol pemerintah dan dewan-dewan perwakilan rakyat, menyalurkan aspirasi rakyat, menggalakkan reformasi, menegakkan hukum dan keadilan.

Oleh karena itu, kalau gagasan atau semangat yang melahirkan Forum Indonesia Damai ini dapat ditiru dan diperbanyak di seluruh Indonesia, maka bisa merupakan kekuatan yang ampuh di tangan rakyat. Lahirnya “wadah” aksi-bersama dalam berbagai bentuk (“forum”, “komite”, “front” dll) di tingkat propinsi, kabupaten, dan bahkan kecamatan, akan membawakan angin segar dalam suasana kepengapan yang menghinggapi masyarakat dewasa ini. Berbagai “wadah” aksi-bersama ini - yang dibentuk di daerah-daerah - juga akan bisa memainkan peran untuk mencegah adanya aksi-aksi yang bersifat anarki atau permusuhan horizontal di tingkat bawah.

SISA-SISA ORDE BARU MASIH KUAT

Aksi-aksi teror malam Natal yang lalu telah membuka tabir, sehingga banyak orang bisa melihat, dan merenungkan berbagai realitas yang pahit - dan menyedihkan - tentang situasi yang sedang dihadapi bangsa dan negara kita dewasa ini. Dari banyak komentar dan analisa yang sudah dilontarkan oleh banyak tokoh berbagai kalangan ada satu yang menonjol, yaitu : bahwa sisa-sisa kekuatan Orde Baru masih kuat. Kekuatan gelap ini mempunyai dana yang besar sekali, dan jaringan yang luas dan terorganisasi rapi.

Agaknya, bukanlah sekedar tudingan yang sembarangan saja, dan bukan pula tuduhan yang murahan saja, kalau dikatakan bahwa aksi-aksi teror itu dilakukan oleh elemen-elemen pro Orde Baru yang tidak senang kepada pemerintahan yang sekarang. Mereka ini terdiri dari golongan atau orang-orang yang kecewa karena tergeser dari kekuasaan, atau dirugikan oleh politik reformasi dan demokratisasi. Mereka ini juga orang-orang yang terancam oleh sanksi-sanksi hukum akibat kejahatan-kejahatan yang pernah mereka lakukan semasa Orde Baru : kejahatan kemanusiaan, kejahatan politik, kejahatan ekonomi, kejahatan moral.

Mereka ini, secara terbuka mau pun tertutup - terutama tertutup – melakukan beraneka-ragam aksi untuk menjatuhkan pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid. Untuk itu, lebih dulu mereka melakukan aksi-aksi destabilisasi politik (antara lain : Buloggate, Brunaigate, kasus Kapolri Rusdihardjo, dll dll). Melalui destabilisasi di bidang politik dan ekonomi, mereka berharap bahwa pemerintahan baru bisa segera menggantikan pemerintahan yang sekarang. Sebab, hanya dengan pemerintahan barulah maka kasus-kasus mereka bisa diselamatkan dari penuntutan pengadilan.

Bagi sejumlah oknum-oknum Orde Baru yang tersangkut dalam berbagai pelanggaran atau kejahatan - atau yang merasa “dirugikan” kepentingan mereka - penggantian pemerintahan adalah satu-satunya “jalan keselamatan” . Dan, karenanya, logislah bahwa penggantian pemerintahan yang mereka inginkan adalah pemerintahan yang menguntungkan kekuatan-kekuatan pro status quo, atau jelasnya: pemerintahan neo-Orde Baru.

Untuk mencapai tujuan itu, sisa-sisa kekuatan Orde Baru tidak segan-segan menggunakan segala cara, tidak peduli apakah cara-cara itu halal atau tidak, berperikemanusiaan atau biadab, merugikan rakyat dan bangsa atau tidak. Sejarah berdirinya Orde Baru, sejak terjadinya pembunuhan massal 1965/1966 yang dilanjutkan dengan sederetan panjang kejahatan-kejahatan kemanusiaan lainnya, telah memberikan bukti-bukti yang nyata tentang itu semuanya. Dari sudut pandang ini pulalah kita perlu melihat persoalan aksi-aksi pemboman malam Natal.

PEMBOMAN MALAM NATAL BUKAN MASALAH AGAMA

Sekarang makin jelaslah kiranya bagi banyak orang, bahwa aksi-aksi teror dengan pemboman berangkai dan serentak malam Natal yang lalu bukanlah persoalan yang bersumber pada permusuhan agama. Sumber utamanya adalah masalah politik dan moral, yaitu: perbenturan antara kekuatan pro-reformasi dan demokrasi dengan kekuatan pro status quo Orde Baru. Elite kekuatan pro status quo Orde Baru memang menggunakan (tepatnya: menyalahgunakan) faktor agama dalam perbenturan politik (dan moral) untuk mengendalikan kekuasaan negara. Mereka merangkul, membeli, dan bersekongkol dengan aliran-aliran atau golongan tertentu di kalangan Islam. Mereka membeayai, memberikan fasilitas, bekerjasama, dan menghasut kalangan-kalangan tertentu Islam, demi melaksanakan agenda mereka sendiri.

Seperti kita sama-sama saksikan, berbagai kejahatan elite Orde Baru yang sudah dilakukan selama 32 tahun masih terus dilanjutkan juga dewasa ini. Bukan saja para elitenya ingin mempertahankan status quo – artinya: tidak mau perobahan – tetapi lebih lagi, yaitu: mereka ingin berkuasa lagi seperti dulu. Untuk itulah mereka berusaha menciptakan suasana yang kacau dan penuh dengan problem-problem di berbagai bidang, dengan tujuan untuk menunjukkan kepada umum bahwa pemerintahan sekarang adalah tidak becus sama sekali dan karenanya perlu diganti. Mereka tidak segan-segan untuk mengompori permusuhan antar-agama, dan pemboman malam Natal adalah hanya salah satu di antara begitu banyak aksi-aksi gelap mereka.

Adalah sangat menggembirakan bahwa aksi teror kekuatan gelap Orde Baru dengan pemboman malam Natal itu tidak berhasil mengobarkan permusuhan antar-agama, bahkan sebaliknya. Berseberangan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh para konseptor aksi-aksi ganas itu, sebaliknya malahan timbul solidaritas, saling pengertian, atau bahkan kerukunan antara berbagai golongan agama. Rekayasa kasar golongan pro status quo Orde Baru ini sudah sedemikian buruknya, sehingga tidak mungkin lagi ditoleransi oleh banyak kalangan, termasuk sebagian dari golongan yang tadinya pro status quo sendiri.

Pernyataan mengutuk aksi teror itu telah disuarakan oleh banyak kalangan dari berbagai komponen bangsa (antara lain : Gerakan Sarjana Jakarta, PMKRI, Muhammadiyah, NU, PRD, PII, KNPI, Satgas PDI-P, Banser, MUI, Persatuan Injil Indonesia, PGI, Konferensi Waligereja Indonesia, Gerakan Rakyat Indonesia, Gerakan Pemuda Kerakyatan dll) Bahkan, sudah dicetuskan gagasan untuk membentuk Sekretariat Bersama antara pimpinan golongan Islam, Katolik, Protestan, Budha, Konghucu dll. untuk mempermudah komunikasi antar-golongan agama dan mencegah timbulnya tindakan-tindakan yang bersifat permusuhan.

Dipandang dari sudut ini, bisalah kiranya dikatakan bahwa pemboman malam Natal itu ada hikmahnya juga, walau pun sangat disesalkan bahwa telah makan korban jiwa begitu banyak.

PERAN GERAKAN EXTRA-PARLEMENTER MAKIN PENTING

Apa yang sudah dilakukan oleh berbagai kalangan dalam menghadapi teror pemboman yang lalu memberikan pelajaran penting bagi kita semua, bahwa masyarakat luas bisa berbuat banyak dan positif bagi kepentingan bersama. Juga menyajikan contoh pengalaman bahwa tidak semua soal harus digantungkan kepada pemerintah. Apalagi, sekarang makin jelas adanya tanda-tanda bahwa berbagai lembaga negara atau aparat birokrasi masih dipenuhi oleh oknum-oknum yang menentang reformasi. Karena itulah reformasi berjalan secara tersendat-sendat, atau, bahkan, macet sama sekali. Sisa-sisa kekuatan Orde Barulah yang merupakan perintang utama atau penghalang besar reformasi.

Pengalaman selama pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid telah menunjukkan dengan gamblang bahwa masih bercokolnya pola-berfikir Orde Baru di DPR/MPR dan lembaga-lembaga atau aparat-aparat pemerintahan adalah sumber berbagai problem besar yang sekarang masih terus dihadapi oleh rakyat dan negara. Karenanya, seluruh kekuatan pro-reformasi tidak perlu – dan tidak boleh !!! – terlalu mengharapkan bahwa masalah-masalah besar rakyat dan negara bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah saja. Juga tidak hanya oleh DPR/MPR saja. Bahkan, sejarah Orde Baru sudah menyajikan bukti-bukti yang cukup banyak bahwa baik pemerintah, mau pun DPR/MPR, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, BPK, ABRI, lembaga-lembaga negara lainnya, telah bisa mengkhianati kepentingan-kepentingan fundamental rakyat dan bangsa.

Mengingat pengalaman selama pemerintahan Orde Baru, dan juga selama pemerintahan Abdurrahman Wahid-Megawati, maka jelaslah bahwa kekuatan ekstra-parlementer perlu memainkan peran yang lebih besar dari pada yang sudah-sudah. Di samping mendukung politik yang positif pemerintahan yang sekarang, kekuatan ekstra-parlementer ini perlu mengembangkan gerakan-gerakannya di berbagai bidang dan dalam berbagai bentuk, untuk menyuarakan aspirasi rakyat yang sebenarnya. Kekuatan ekstra-parlementer yang besar akan bisa menjadi sandaran rakyat ketika pemerintah beserta lembaga-lembaganya mulai menyeleweng dari tugas-tugasnya. Hanya dengan kekuatan ekstra-parlementer yang kuatlah maka reformasi akan bisa diselamatkan.

Dibentuknya Forum Indonesia Damai, Sekretariat Bersama kalangan agama, dan kerjasama antara berbagai golongan sesudah terjadinya teror pemboman malam Natal adalah perkembangan yang patut disambut dengan gembira. Karena, itu semua adalah isyarat bahwa berbagai golongan dalam masyarakat menyadari akan adanya hal-hal yang bisa mereka lakukan bersama-sama, ketika pemerintah belum mampu (atau tidak mampu) melaksanakannya. Oleh karena itu, makin banyak inisiatif yang serupa bisa dilahirkan di mana-mana, maka akan makin besarlah sumbangan yang diberikan oleh masyarakat kepada kehidupan demokratis, demi kepentingan rakyat umumnya.

Paris, 2 Januari 2001

*********************

*) (Penulis adalah, sampai September 1965, pemimpin redaksi suratkabar Harian EKONOMI NASIONAL (Jakarta), anggota pengurus PWI Pusat periode kongres 1963, dan anggota Sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Sekarang tinggal di Paris).

Untuk kontak dengan E-mail : kontak@club-internet.fr

============================================

Previous Articles

Related Article




(c) 2000 Umar Said . Paris