PERINGATAN HUT KE-100 SOEKARNO
UNTUK MEMPERSATUKAN BANGSA
A. Umar Said*)
Tersiarnya berita bahwa sejak Februari sampai 6 Juni yang akan datang akan
diadakan berbagai kegiatan secara besar-besaran untuk memperingati HUT ke
100 tokoh besar bangsa Indonesia, Soekarno, merupakan angin segar yang
menyejukkan hati bagi banyak orang. Terutama bagi mereka yang melihat pada
sosok Soekarno sebagai pejuang anti-penjajahan Belanda yang gigih dan
pelopor kemerdekaan, pendiri Republik Indonesia, pemersatu bangsa, penggali
Panca Sila, pemupuk patriotisme dan nasionalisme kerakyatan, pendorong
semangat kegotong-royongan dalam menangani berbagai masalah besar bangsa dan
negara.
Ketika bangsa kita dewasa ini sedang bertekad untuk melaksanakan reformasi
di segala bidang terhadap segala aspek buruk dan akibat negatif yang
ditinggalkan oleh Orde Baru, segala macam kegiatan untuk merayakan HUT
ke-100 Bung Karno ini akan merupakan peristiwa penting. Arti pentingnya bisa
dilihat dari berbagai segi, antara lain :
a) melalui berbagai bentuk kegiatan itu dimungkinkan untuk menelaah kembali
beraneka-ragam persoalan yang berkaitan dengan perjuangan tokoh Soekarno,
baik kebesaran jasa-jasanya bagi bangsa dan negara maupun kelemahan atau
kesalahannya
b) menjadikan HUT ke-100 Soekarno ini sebagai langkah penting untuk
me-restorasi kebenaran sejarah tentang dirinya, yang sejak tahun 1965 telah
banyak diplintir atau dirusak oleh para pendukung Orde Barunya Suharto dkk
c) mengangkat kembali atau menyebar-luaskan fikiran-fikirannya yang positif
tentang persatuan bangsa, toleransi antar-agama dan antar-suku, pengabdian
kepada kepentingan rakyat, patriotisme dan nasionalisme
d) menjadikan HUT ke-100 Soekarno sebagai bagian yang tak terpisahkan dari
gerakan reformasi yang sedang bersama-sama kita lancarkan secara nasional
dewasa ini.
TUGAS MULIA BAGI SELURUH KEKUATAN DEMOKRATIS
Menurut keterangan Panitia Peringatan 100 Tahun Bung Karno, kegiatan untuk
merayakan peringatan ini akan dimulai dalam bulan Februari dan akan
dipuncaki dengan satu pesta rakyat yang akan digelar di Stadion Utama
Senayan (yang sudah diusulkan untuk diganti namanya dengan Gelora Bung
Karno). Selain itu, malam-malam kesenian dan kebudayaan untuk mengenang Bung
Karno akan diselenggarakan di Balai Sidang Jakarta.
Rangkaian kegiatan 100 Tahun Bung Karno akan diawali dengan serangkaian
seminar yang akan digelar di 12 universitas di seluruh Indonesia. Selain
itu, juga akan digelar pameran karya dan koleksi Bung Karno yang akan
dilangsungkan selama 15 hari dengan mengambil tempat di Balai Sidang Jakarta
mulai 1 Juni 2001. Di samping itu juga direncanakan untuk dimulainya
penggalangan dana untuk mendirikan “Soekarno Center”, yang akan merupakan
institusi studi politik, museum serta memorial house.
Untuk peringatan ini, akan diusahakan terbitnya berbagai buku mengenai Bung
Karno, dan di antaranya sebuah buku yang berisi berbagai komentar dari
berbagai tokoh dunia tentang presiden pertama RI tersebut. Berbagai pameran,
diskusi dan perlombaan juga akan diselenggarakan.
Rencana rangkaian acara itu sudah disampaikan Guntur Sukarnoputra, putra
pertama Bung Karno, kepada Presiden Wahid di Istana Merdeka tanggal 18
Januari 2001, yang datang menghadap bersama-sama dengan Panitia Peringatan.
Kedatangan panitia ini juga dimaksudkan untuk meneguhkan kesediaan Presiden
Wahid menjadi pelindung dalam struktur kepanitiaan itu.
Agaknya, dalam situasi politik negeri kita dewasa ini, yang penuh dengan
persoalan-persoalan ruwet dan eksplosif -- yang sebagian terbesar adalah
bersumber pada warisan yang ditinggalkan rezim militer Orde Baru --
peringatan HUT ke-100 Bung Karno akan menimbulkan dampak positif di berbagai
bidang. Oleh karena itu, seluruh kekuatan demokratis yang anti-Orde Baru dan
pro-reformasi perlu memberikan sumbangan dalam berbagai bentuk dan cara,
sehingga peringatan HUT akan berjalan sebaik-baiknya. Mensukseskan
peringatan HUT ke-100 Soekarno adalah tugas mulia bagi seluruh kekuatan
demokratis.
KEJAHATAN BESAR ORDE BARU TERHADAP BUNG KARNO
Adalah wajar bahwa dengan diadakannya berbagai kegiatan dalam rangka
peringatan secara besar-besaran HUT ke-100 Bung Karno itu akan muncul pula
beraneka-ragam pendapat di kalangan masyarakat tentang berbagai soal yang
berkaitan dengan tokoh yang bersejarah ini. Pastilah, dari fihak para
pendukung setia Orde Baru akan terdengar suara-suara sumbang atau komentar
yang serba negatif, dengan mengemukakan alasan-alasan yang “masuk akal” mau
pun yang tidak. Dan tidak mustahil juga, bahwa akan terdengar adanya
pendapat-pendapat yang mencerminkan kedangkalan fikiran, kepicikan
pandangan, atau keterbatasan pengetahuan.
Kalaupun akan terjadi hal yang demikian, maka perlulah kiranya kita hadapi
dengan sikap realis dan lapang dada. Sebab, selama lebih dari 30 tahun,
sosok Soekarno telah dicemarkan oleh para dedengkot Orde Baru, baik yang
dari kalangan TNI-AD, mau pun yang dari berbagai kalangan lainnya (antara
lain : sebagian kalangan Islam, sebagian kaum intelektual). Karena kampanye
anti-Sukarno itu dilakukan lama sekali, dan juga dalam berbagai bentuk dan
cara, maka dampaknya juga besar sekali di fikiran banyak orang. Dampak
itulah yang masih kelihatan secara nyata sampai sekarang.
Sudah sama-sama kita saksikan bahwa Orde Baru telah melakukan banyak sekali
kejahatan besar -- dan kesalahan serius -- di bidang politik, ekonomi,
sosial, kebudayaan, dan moral. Dan, apa yang telah dilakukan terhadap Bung
Karno adalah salah satu di antara berbagai kejahatan besar Orde Baru-nya
Suharto dkk. Kejahatan ini perlu dicatat oleh generasi sekarang dan
generasi yang akan datang sebagai pelajaran bangsa. Untuk itulah kejahatan
besar ini perlu sekali dibongkar. Sebab, membongkar kejahatan Orde Baru
terhadap Bung Karno merupakan sumbangan penting untuk tercapainya
rekonsiliasi nasional. Dengan kalimat lain, rehabilitasi nama Soekarno
adalah bagian dari tugas reformasi yang harus dituntaskan oleh bangsa kita.
Pengalaman kita selama puluhan tahun telah menunjukkan bahwa Orde Baru
telah menggunakan masalah Soekarno sebagai alat untuk mematikan kehidupan
demokratik, untuk melakukan persekusi politik, untuk menimbulkan
perpecahan – bahkan permusuhan -- di antara berbagai komponen bangsa.
NAMA BUNG KARNO TERLALU LAMA DIRUSAK ORDE BARU
Mengingat itu semuanya, maka perlulah kiranya peringatan HUT ke-100 Bung
Karno itu dijadikan langkah permulaan yang penting bagi bangsa kita untuk
menempatkan kembali Soekarno pada tempat yang selayaknya dalam sejarah
bangsa Indonesia. Sebab, dalam waktu yang terlalu lama (lebih dari 35
tahun!) nama Soekarno telah dijadikan “momok” . Karena propaganda Orde Baru
yang menyesatkan, maka dalam jangka waktu yang lama sekali banyak orang
tidak berani bicara tentang “Bung Karno” lagi. Di banyak rumah penduduk
negeri kita fotonya diturunkan dari pajangan di dinding, atau disembunyikan
dalam laci. Buku-bukunya juga dihilangkan dari lemari-lemari buku, atau
bahkan dibuang atau dibakar.
Sungguh, sangatlah menyedihkan bahwa anak-anak sekolah (dari yang paling
rendah sampai sekolah lanjutan) tidak diberi pelajaran yang benar tentang
sejarah Soekarno. Sebagai akibatnya, maka kalangan muda yang mendapat
pendidikan selama Orde Baru banyak yang mempunyai pandangan yang keliru
(atau tidak lengkap) mengenai tokoh nasional dan pendiri Republik Indonesia
ini. Selama puluhan tahun, media massa juga sedikit sekali memuat
tulisan-tulisan yang “netral” atau objektif tentang dirinya. Justru
kebalikannya, yang sering muncul selama puluhan tahun adalah tulisan-tulisan
yang serba negatif terhadapnya. Itu semua adalah akibat dari indoktrinasi
dan terror politik yang dijalankan secara intensif oleh rezim militer
Suharto dkk, dengan dukungan dari pengikut-pengikutnya, termasuk di kalangan
pers dan kalangan intelektuil.
Boleh dikatakan bahwa Orde Baru telah berusaha dengan segala daya dan cara
untuk menyisihkan, atau mengecilkan, atau merusak nama dan peran Soekarno
dalam sejarah Indonesia. Dalam hal ini, dosa pimpinan TNI-AD (waktu itu)
adalah amat besar, terutama pada masa sebelum dan sesudah terjadinya G30S.
Karena itu, pengkajian, pendiskusian, penulisan dan penelitian kembali
tentang sikap pimpinan TNI-AD waktu itu (setidak-tidaknya, sebagian dari
mereka) terhadap Bung Karno sangat diperlukan. Sebab, justru masalah
pertentangan antara sebagian pimpinan TNI-AD dan Bung Karno adalah salah
satu di antara banyak faktor yang menyebabkan terjadinya G30S, yang kemudian
dilanjutkan dengan didirikannya regime Orde Baru.
Sedangkan faktor-faktor lainnya -- yang juga saling berkaitan waktu itu --
adalah, antara lain : faktor perang dingin sesudah berakhirnya Perang Dunia
ke-II, dibubarkannya negara RIS, diselenggarakannya konferensi Bandung dalam
tahun 1955, pemilihan umum 1955, pembrontakan PRRI-Permesta, perjuangan
pembebasan Irian Barat, kampanye “ganyang Malaysia”, kerjasama antara
intelijen Barat (AS dan Inggris, terutama) dengan kelompok-kelompok
anti-Sukarno (terutama lewat sebagian pimpinan TNI-AD), makin membesarnya
kekuatan PKI, diboikotnya ekonomi Indonesia oleh dunia Barat.
Terlalu banyak soal-soal yang bersangkutan dengan Bung Karno telah
didiamkan, atau disembunyikan, atau dipalsukan selama puluhan tahun, demi
kepentingan stabilitas politik kekuasaan Orde Baru. Dan, selama itu, tidak
banyak kalangan yang berani menyuarakan hal-hal yang positif tentang Bung
Karno. Karena beratnya tekanan opini publik (yang sudah diracuni oleh
propaganda Orde Baru), maka banyak kalangan dalam masyarakat yang takut
untuk membantah versi “resmi” tentang tokoh nasional kita ini.
KEMBALIKAN NAMA BUNG KARNO PADA TEMPATNYA
Kalau sama-sama kita lihat dari segi sejarah, maka jelaslah agaknya bahwa
setelah disrobotnya kekuasaan politik Bung Karno oleh pimpinan TNI-AD
(Suharto dkk) dan didirikannya Orde Baru selama lebih dari 30 tahun, bangsa
Indonesia telah kehilangan simbul persatuan bangsa, pemupuk patriotisme dan
nasionalisme, inspirator kerakyatan, penggembleng semangat anti-penjajahan.
Dengan segala kekurangan atau kesalahan-kesalahannya, sosok Bung Karno
mencerminkan itu semuanya.
Dan inilah yang justru tidak dimiliki oleh Suharto, atau orang-orang yang
mendukungnya. Yang dimiliki Suharto dkk adalah justru apa yang berseberangan
atau bertentangan dengan apa yang dimiliki Bung Karno. Seperti halnya
Mahatma Gandi, Jawaharlal Nehru, Abdul Gamal Nasser, Kwame Nkrumah, Patrice
Lumumba, Julius Nyerere, Salvador Allende, J. Bros Tito atau Nelson Mandela,
Bung Karno telah memainkan peran penting bagi perjuangan bangsanya
masing-masing, sesuai dengan kebutuhan situasi nasional dan internasional
waktu itu.
Adalah penting bagi kita semua, terutama bagi generasi muda dewasa ini (dan
generasi yang akan datang), untuk mengenal secara baik sejarah perjuangan
Bung Karno. Sejarah perjuangan Bung Karno adalah sesuatu yang bisa
dibanggakan dan dihormati oleh rakyat. Sedangkan sejarah Suharto dkk beserta
Orde Barunya adalah kebalikannya. Sejarah Suharto dkk bersama Orde Barunya
adalah sesuatu yang perlu dikutuk habis-habisan, dan dicegah supaya jangan
terulang kembali, dalam bentuk barunya yang bagaimanapun juga.
Mengembalikan nama Bung Karno pada tempat yang selayaknya adalah tugas semua
kekuatan demokratis di Indonesia, semua golongan yang betul-betul
mendambakan reformasi, semua kalangan yang sungguh-sungguh anti sistem
politik Orde Baru. Sekarang ini, sudah tibalah waktunya, bagi semua orang
untuk lebih berani bersuara tentang Bung Karno. Buku-buku yang memuat
karya-karanya atau pidato-pidatonya perlu dicetak sebanyak mungkin dan
diedarkan, baik yang mencakup sejak zaman mudanya mau pun sesudah ia menjadi
Presiden/Kepala Negara Republik Indonesia. Hanya dengan membaca, kemudian
berusaha mengkajinya dalam-dalam, maka kita bisa mengerti dengan lebih jelas
tentang jalan fikirannya dan cita-citanya mengenai negara dan rakyat,
mengenai persatuan bangsa dll.
KARYA-KARYA BUNG KARNO UNTUK PERSATUKAN BANGSA
Adalah menyedihkan sekali bagi bangsa Indonesia, bahwa dalam jangka waktu
yang begitu lama, karya-karya raksasa Bung Karno telah “disembunyikan” oleh
Orde Baru, sehingga banyak orang tidak mengerti dengan baik tentang
fikiran-fikirannya, tentang perjuangannya bagi bangsa, dan tentang perannya
dalam membangun Republik Indonesia.
Contohnya, berapakah di antara anggota MPR/DPR kita dewasa ini, atau para
“elit” di berbagai kalangan atau golongan lainnya, yang pernah membaca Di
bawah Bendera Revolusi, atau “Indonesia Menggugat”, atau pidato-pidato Bung
Karno, yang antara lain : Menyelamatkan Republik Indonesia,
Revolusi-Sosialisme Indonesia Pimpinan Nasional (Resopim), Manifesto Politik
Republik Indonesia (Maipol), Capailah Bintang-bintang di Langit (Tahun
Berdikari) ? Dan apakah banyak di antara kalangan “elit” kita sekarang ini
yang betul-betul bisa menghayati arti pidato “Lahirnya Pancasila” oleh Bung
Karno 1 Juni 1945?
Banyak karya-karya Bung Karno yang telah dijadikan “tabu” (atau “bahan
terlarang”) selama Orde Baru. Bahkan, pidatonya yang berkaitan dengan
“Lahirnya Pancasila” juga tidak banyak dikenal oleh publik. Padahal,
resminya, Orde Baru selalu melandaskan segala politiknya atas dasar-dasar
Pancasila. Tetapi, seperti yang sudah sama-sama kita saksikan selama itu,
prakteknya adalah kebalikannya. Orde Baru bukan saja telah menyalahgunakan
Pancasila, bahkan merusak sama sekali arti Pancasila !!! (mohon catat, tanda
seru tiga kali). Begitu busuknya Orde Baru merusak Pancasila, sehingga
akhirnya menjadi cemooh atau cibiran banyak orang. Akibatnya, dewasa ini
Pancasila makin jarang disebut-sebut dalam berbagai kesempatan resmi atau
tidak resmi. Dalam hal ini, dosa Orde Baru adalah berat dan besar sekali.
Mengingat itu semua, maka peringatan HUT ke-100 Soekarno adalah kesempatan
baik untuk menjadikannya sebagai bagian dari gerakan reformasi. Reformasi
(yang sungguh-sungguh!) adalah me-reformasi sistem politik, cara berfikir,
kebiasaan, praktek-praktek Orde Baru, yang masih banyak diwariskan sampai
sekarang ini. Dalam kaitan ini, perlulah jelas bagi kita semua, bahwa pada
hakekatnya Orde Baru telah menjadikan Bung Karno sebagai musuhnya. Bukan
saja Bung Karno telah disingkirkan secara fisik, melainkan juga segala
ajaran-ajarannya, fikirannya, perjuangannya, dan jasa-jasanya bagi bangsa
dan negara. Lebih-lebih lagi, Orde Baru telah menjadikan Bung Karno sebagai
faktor perpecahan atau permusuhan antara berbagai komponen bangsa. Dan ini
pulalah yang menyakitan hati banyak orang.
Oleh karena itu, menempatkan kembali Bung Karno pada tempat yang selayaknya
berarti juga ikut merajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa, dan
merupakan salah satu jembatan untuk menuju rekonsiliasi nasional.
Paris, Tue, 23 Jan 2001 14:23:42 +0100
*********************
*) (Penulis adalah, sampai September 1965, pemimpin redaksi suratkabar Harian
EKONOMI NASIONAL (Jakarta), anggota pengurus PWI Pusat periode kongres
1963, dan anggota Sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Sekarang
tinggal di Paris).
Untuk kontak dengan E-mail : kontak@club-internet.fr
============================================
Previous Articles
Related Article