MUSUH RAKYAT BUKANLAH GUS DUR, MELAINKAN SISA-SISA ORDE BARU ! ! !
A. Umar Said*)
Dengan diterimanya laporan Pansus Buloggate dan Bruneigate oleh sidang pleno
DPR, maka makin nyatalah bahwa bahaya sedang mengancam rakyat Indonesia.
Ketika kita semua sedang terus dibanjiri berbagai berita, kupasan, atau
analisa tentang kritik-kritik terhadap kesalahan dan kelemahan Gus Dur, maka
ada satu hal yang perlu jelas di fikiran kita semua, yaitu bahwa bahaya
bukan hanya mengancam Gus Dur saja, melainkan juga mengancam rakyat kita.
Untuk lebih jelasnya, marilah sama-sama kita renungkan dan kita telaah
dalam-dalam hal-hal sebagai berikut :
Setelah mengalami masa-masa gelap Orde Baru selama kurun waktu yang
panjang (lebih dari 30 tahun), maka di bawah kepemimpinan Presiden
Abdurahman Wahid rakyat Indonesia bisa menaruh harapan untuk bisa hidup
dalam sistem politik yang baru. Yaitu, sistem politik yang lebih demokratis,
lebih menghargai Hak Asasi Manusia, lebih bersih dari KKN, lebih
mementingkan kepentingan rakyat yang luas, lebih toleran terhadap perbedaan
suku, ras, agama dan adat, lebih memperkuat persatuan bangsa dan kesatuan
negara, lebih merakyat. Dan lebih beradab!
Dengan segala kekurangannya atau kesalahannya - yang selama ini sudah
sama-sama kita dengar atau kita baca - kita lihat pada sosok Gus Dur
seseorang yang bisa diharapkan untuk melaksanakan reformasi. Artinya,
me-reformasi begitu banyak aspek buruk dan destruktif yang sudah diwariskan
oleh Orde Baru. Sebab, pada dirinya tercermin sikap seorang pemimpin bangsa
yang demokratis, humanis, terbuka, toleran terhadap perbedaan agama atau
ideologi. Satu hal yang amat penting pada sosok Gus Dur adalah bahwa ia
telah membuktikan selama ini sebagai pemimpin Islam yang
pandangan-pandangannya memberikan kesejukan di hati banyak golongan dan
kalangan, baik secara nasional mau pun internasional. Dan sifat-sifat inilah
yang, pada dewasa ini, sulit didapatkan pada “pemimpin-pemimpin” lainnya.
(Mohon jawab sendiri, apakah seorang seperti Amien Rais, Akbar Tanjung,
Hamzah Haz, Fuad Bawazir, Yusril Mahendra, dll dsb itu mempunyai
sifat-sifat yang seperti itu!)
Sekarang ini, dengan adanya memorandum “DPR” (harap diingat bahwa sekitar
60 sampai 70 % komposisi DPR hasil pemilu yang lalu masih didominasi oleh
orang-orang yang masih berfikiran dengan pola Orde Baru) tentang Bulogggate
dan Bruneigate, kedudukan Gus Dur sebagai presiden sedang menghadapi
ancaman. Bahkan Ketua MPR, Amien Rais, sudah terang-terangan menyatakan akan
merencanakan diselenggarakannya secepat mungkin SI MPR, dengan tujuan untuk
mencopot (melengserkan) Gus Dur dari kedudukannya sebagai presiden.
BENCANA BESAR SEDANG MENGANCAM
Akhir-akhir ini, masalah apakah Gus Dur akan tetap menjadi presiden, ataukah
tidak, bukan saja telah menjadi persoalan yang ramai dibicarakan oleh
banyak orang di Indonesia, melainkan juga menjadi perhatian pers luarnegeri.
Pers Asia, juga Amerika, Australia dan Eropa sering muat berita atau artikel
tentang perkembangan situasi di negeri kita. Ini adalah wajar. Sebab,
sesudah jatuhnya rezim militer Suharto dkk, yang dikenal oleh opini dunia
sebagai diktatur militer yang penuh dosa-dosa dan kejahatan terhadap
kemanusiaan, maka muncul harapan bahwa rakyat Indonesia bisa mulai menikmati
kehidupan yang demokratis di bawah pemerintahan yang bersih. Bisalah kiranya
dikatakan bahwa pada umumnya, opini internasional menaruh harapannya kepada
kepemimpinan Gus Dur.
Sekarang ini, seperti yang juga dicemaskan oleh banyak orang di Indonesia,
harapan ini makin menipis dengan adanya tanda-tanda bahwa Gus Dur akan
digulingkan oleh kombinasi atau aliansi berbagai kekuatan anti-Gus Dur yang
bersekutu dengan sisa-sisa kekuatan Orde Baru. Dari perkembangan situasi
politik negeri kita sejak Gus Dur menjabat sebagai presiden sampai
diputuskannya “memorandum” oleh DPR tanggal 1 Februari yl, maka makin
jelaslah bahwa berbagai politik mendasar Gus Dur adalah bertentangan secara
fundamental dengan kepentingan aliansi anti-Gus Dur itu. Partai-partai yang
tergabung dalam poros-tengah, yang tadinya berusaha dengan segala cara untuk
menjadikan Gus Dur sebagai presiden, sekarang menjadi musuhnya. Pada
awalnya, Gus Dur telah mereka jadikan presiden untuk mencegah naiknya
Megawati. Tetapi, karena Gus Dur ternyata mengambil langkah-langkah politik
yang tidak menguntungkan mereka, maka sekarang mereka berusaha
sekuat-kuatnya (dan dengan berbagai cara) untuk menggusurnya dan melikwidasi
perannya dari dunia politik negeri kita.
Kalau (sekali lagi: kalau!) rencana aliansi kekuatan anti-Gus Dur yang
bersekutu dengan dengan sisa-sisa Orde Baru ini terlaksana, maka ini
merupakan bencana baru bagi bangsa dan negara kita. Di antara berbagai
persoalan yang bisa sama-sama kita coba menelaahnya adalah yang sebagai
berikut.
MENGAPA HANYA BULOGGATE DAN BRUNEIGATE ?
Sekarang ini, kekuatan anti-Gus Dur ( reformis gadungan, partai-partai
“poros tengah”) bersama-sama kekuatan sisa-sisa Orde Baru (GOLKAR, sebagian
TNI-AD, sebagian kalangan Islam) sedang menggerakkan dan membeayai demo-demo
dan berbagai aksi-aksi anti-Gus Dur. Karena sisa-sisa kekuatan Orde Baru ini
mempunyai dana yang luarbiasa besarnya dan juga jaring-jaringan yang amat
luas, maka mereka berhasil menciptakan opini umum tentang “kebusukan”
politik dan kesalahan-kesalahan Gus Dur. “Keberhasilan” mereka ini dapat
dilihat dari banyaknya massa atau golongan-golongan yang bisa dipengaruhi
(atau “dibeli”), dan dikuasainya media massa (pers dan televisi).
Dengan menggunakan (lebih tepatnya : menyalahgunakan) peristiwa Buloggate
dan Bruneigate sebagai senjata, mereka berusaha menyingkirkan Gus Dur dari
tampuk pimpinan negara, dengan tujuan untuk merebut kekuasaan politik.
Menyingkirkan Gus Dur dari percaturan politik adalah penting bagi sebagian
dari mereka (terutama pejabat-pejabat tinggi Orde Baru yang bergelimang
dengan berbagai lumpur kejahatan) untuk mencegah pengusutan dan pemeriksaan
di depan pengadilan. Bagi sebagian lainnya (para reformis gadungan, termasuk
kalangan-kalangan Islam tertentu) tersingkirnya Gus Dur dari percaturan
politik akan memudahkan mereka untuk naik di panggung kekuasaan.
Digunakannya Buloggate dan Bruneigate sebagai senjata untuk menjatuhkan Gus
Dur menunjukkan bahwa mereka betul-betul memang sudah bertekad “all out”
(sekuat tenaga) untuk menyingkirkan Gus Dur dari percaturan politik, bukan
demi dituntaskannya reformasi, dan bukan pula demi pemberantasan KKN,
apalagi, bukan juga demi penegakan hukum, seperti yang sering mereka
uar-uarkan dengan lantang. Sebab, kalau betul-betul mereka berjuang untuk
reformasi, pembrantasan KKN dan penegakan hukum, mengapa mereka justru “diam
seribu bahasa” atau tidak “galak” terhadap kasus-kasus KKN dan pelanggaran
hukum lainnya, yang notabene jauh lebih besar yang dilakukan oleh
penjahat-penjahat kakap besar selama Orde Baru.? (antara lain : kasus
Pertamina, kasus dana reboisasi yang dipakai untuk IPTN, kasus skandal Bank
Bali, kasus skandal BLBI, kasus dana Taperum yang menyangkut Akbar Tanjung,
kasus kroni-kroni Suharto seperti Texmaco dan Fuad Bawazir dll).
Gus Dur diungkit-ungkit dan digugat karena ada masalah penggunaan dana Bulog
sebesar RP 35 milyard (sekitar 4 juta US$) yang digunakan oleh orang dekat
Gus Dur, dan sumbangan dari Sultan Brunei sebesar 2 juta US$. Tetapi,
kasus-kasus korupsi besar lainnya tidak dipersoalkan (harap diingat bahwa
BPK telah mencanangkan penemuan korupsi sebesar Rp 138,5 triyun!!!), padahal
kasus-kasus itu telah membikin terpuruknya perekonomian negara secara parah
sekali.
PENGGANTI GUS DUR TIDAK AKAN LEBIH MAMPU
Karena hebatnya kampanye anti-Gus Dur yang dijalankan oleh kekuatan
sisa-sisa Orde Baru dan para reformis gadungan, maka cukup banyak orang
(termasuk kalangan mahasiswa) yang termakan olehnya. Mereka yang terpengaruh
ini berilusi bahwa dengan digantikannya Gus Dur oleh orang lain (termasuk
oleh Megawati) maka berbagai masalah ruwet akan bisa diatasi, atau situasi
ekonomi dan politik akan bisa lebih baik. Mereka yang berfikiran demikian
itu tidak mengerti atau tidak melihat bahwa siapa pun yang menggantikan Gus
Dur akan tetap menghadapi berbagai kesulitan-kesulitan besar yang diwariskan
oleh Orde Baru.
Ditambah lagi, kalau yang menggantikan Gus Dur itu adalah orang yang masih
belum “talak tiga” dengan Orde Baru, maka besarlah kemungkinan bahwa segala
kebusukan Orde Baru tidak akan mungkin diberantas olehnya, melainkan
melestarikannya, dan, bahkan, membikinnya lebih parah lagi!
Dengan perkataan lain, reformasi yang menjadi dambaan kita semua akan
menjadi impian belaka. Sekali lagi, perlu sama-sama kita ingat satu hal yang
fundamental, yaitu bahwa reformasi (yang sungguh-sungguh, yang total) tidak
mungkin dilaksanakan oleh orang (atau orang-orang) yang masih ada kaitannya
yang kuat dengan Orde Baru. Reformasi (yang sungguh-sungguh) hanyalah bisa
dilakukan dengan membersihkan segala cara berfikir, segala praktek, segala
konsep politik, yang bersifat Orde Baru. Oleh karena itu, reformasi tidak
bisa dilakukan dengan tuntas dan secara total oleh GOLKAR beserta
pendukung-pendukung setianya.
Seandainya (sekali lagi : seandainya!) Gus Dur terpaksa digantikan oleh
Megawati pun, tidak berarti bahwa krisis yang multi-dimensional dewasa ini
akan mudah diselesaikan. Bahkan, bisa sebaliknya. Makin menjadi-jadi dan
bertambah ruwet. Sebab, mereka yang sekarang ini memusuhi Gus Dur, bukanlah
berarti secara otomatis akan tetap mendukung Megawati. Mereka memusuhi Gus
Dur dan menjatuhkannya, dengan menggembol agenda mereka sendiri, atau dengan
tujuan mereka yang lain. Sebab, dulu mereka juga menentang Megawati karena
pertimbangan politik atau karena ideologi, atau karena
pertimbangan-pertimbangan lainnya (masalah perempuan dll). Seandainya
Megawati juga berkeras untuk sungguh-sungguh menjalankan reformasi,
membrantas KKN, pastilah mereka akan melakukan juga perlawanan, penggoyangan
atau sabotase. Bahkan, juga menggulingkannya.
Jadi, seandainya (!!!) Gus Dur digantikan oleh Megawati, kesulitan yang akan
dihadapi oleh putri Bung Karno ini juga akan cukup banyak dan juga cukup
besar. Sebab, seperti halnya kesulitan yang dihadapi oleh Gus Dur, aparat
pemerintahannya masih akan tetap dikangkangi oleh sisa-sisa kekuatan Orde
Baru, di mana GOLKAR masih punya jaring-jaringannya yang luas, baik di
tingkat Pusat sampai ke daerah-daerah, bahkan sampai ke tingkat desa. (harap
dicatat bahwa lebih dari 70 % bupati atau walikota di seluruh Indonesia
masih ada sangkut-pautnya dengan Golkar). Karenanya, seperti halnya
kesulitan Gus Dur, politik Megawati akan tetap menghadapi sabotase,
rongrongan, atau penjegalan dari orang-orang atau kalangan yang tidak
menghendaki adanya reformasi total.
Jadi, adalah ilusi besar yang menyesatkan, kalau ada anggapan bahwa - dalam
konteksi situasi seperti yang kita hadapi dewasa ini - dengan menggantikan
Gus Dur dengan orang lain, berbagai krisis yang sedang melanda negeri kita
akan bisa diselesaikan dalam tempo yang singkat. Bahkan, sebaliknya,
berbagai bencana politik, sosial dan ekonomi yang lebih serius bisa makin
berkecamuk.
HANCURKAN SISA-SISA KEKUATAN ORDE BARU
Dari pengamatan kita bersama di bidang politik, ekonomi, sosial dan
kebudayaan (termasuk moral), maka makin jelaslah bahwa walaupun resminya
Orde Baru sudah tumbang sejak lengsernya Suharto, tetapi sisa-sisa
kekuatannya masih sangat besar di berbagai bidang. Kekuatan ini tercermin,
antara lain, dalam hasil pemilu yang lalu, yang walaupun secara relatif bisa
dikatakan lebih demokratis dari selama 30 tahun Orde Baru, tetapi masih juga
mencerminkan hebatnya kerusakan-kerusakan moral yang diwariskan oleh rezim
militer. Pemilu yang demikian itulah yang menghasilkan DPR (dan MPR) yang
kualitasnya sedang dipersoalkan oleh banyak orang dewasa ini.
Karena itulah maka banyak orang mengatakan bahwa sekarang ini reformasi
sudah macet sama sekali, tanpa mengerti secara jernih bahwa kemacetan itu
justru disebabkan oleh masih banyaknya tokoh-tokoh penting Orde Baru yang
bercokol di berbagai bidang, baik di kalangan eksekutif, legislatif maupun
judikatif. Mereka ini pernah menikmati berbagai fasililitas yang “terbuka”
atau “tertutup”, kesempatan yang sah atau tidak, pemupukan kekayaan secara
halal atau haram, dan berbagai penyalahgunaan kekuasaan atau kedudukan, di
atas penderitaan rakyat banyak dan atas kerugian negara yang tidak sedikit.
Orang-orang inilah yan sebenarnya masih merindukan datangnya kembali Orde
Baru, walaupun dalam bentuknya yang baru. Orang-orang ini pulalah yang pada
hakekatnya menentang reformasi, walaupun mereka berteriak-teriak lantang
menyuarakan lagu palsu “reformasi”.
Dari kacamata yang ini pulalah kita bisa melihat dengn jelas mengapa begitu
banyak koruptor kelas kakap masih belum juga ditindak, walaupun sudah
jelas-jelas merampok kekayaan negara secara besar-besaran. Juga mengapa
reformasi hukum tidak berjalan semestinya, dan mengapa pelurusan sejarah
belum dilakukan (umpamanya, antara lain : peristiwa 65), atau mengapa
sebagian kalangan Islam masih leluasa menyebarkan permusuhan yang bersifat
SARA.
Singkat-padatnya adalah berikut : reformasi tidak akan mungkin dilaksanakan
dengan baik, tanpa menghancurkan sisa-sisa kekuatan Orde Baru. Inti-dasar
reformasi adalah berarti menentang atau menolak sistem politik Orde Baru.
Dan, tiang penyangga utama Orde Baru adalah Golkar dan TNI-AD. Bahkan, untuk
lebih jelasnya : Orde Baru adalah Golkar. Oleh karena itu, demi reformasi,
GOLKAR perlu dihancurkan secara politik. Perlulah kiranya kita cengkam
bersama-sama (termasuk kalangan mahasiswa) bahwa reformasi tidak akan jalan,
tanpa menhancurkan GOLKAR (secara politik!!!) Tanda seru di sini dicantumkan
untuk menegaskan bahwa yang dimaksudkan bukanlah penghancuran secara fisik
terhadap orang-orangnya atau tokoh-tokohnya. (Jadi, ini berlainan sama
sekali dengan praktek pendiri-pendiri Orde Baru, yang telah menghancurkan
PKI dengan jalan membunuh jutaan manusia tidak bersalah dan memenjarakan
ratusan ribu orang dalam jangka lama tanpa proses pengadilan).
GALANG KEKUATAN ANTI ORDE BARU !
Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka makin jelaslah kiranya bahwa demi
bisa dilancarkannya reformasi (yang sungguh-sungguh!) maka seluruh kekuatan
pro-demokrasi dan pro-reformasi perlu menggalang bersama-sama front rakyat
untuk melawan bahaya lahir-kembalinya Orde Baru. Untuk mencegah “come
back”-nya Orde Baru, perlu sekali melawan dan menggembosi GOLKAR, yang
merupakan pengejawantahan Orde Baru dengan topeng dan baju baru (Mohon
diperhatikan bahwa Golkar dewasa ini suka menampilkan diri dengan topeng
“paradigma baru” atau bahkan berani bicara juga tentang “reformasi” .
Keterlaluan, bukan?).
Adalah menggembirakan bahwa dalam sebagian terbesar demo-demo yang dilakukan
oleh berbagai kalangan mahasiswa di banyak tempat, masalah reformasi,
penegakan hukum dan pembrantasan KKN menjadi salah satu tuntutan utama
mereka. Agaknya, perlulah jelas bagi kita semua bahwa pembrantasan KKN hanya
bisa dilakukan secara tuntas, kalau reformasi bisa jalan dengan baik. Selama
aparat pengadilan dan kejaksaan (atau kepolisian dan Mahkmah Agung) masih
dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang bersimpati kepada Orde Baru, maka hukum atau
“keadilan” masih akan bisa terus saja “dibeli” oleh para penjahat elite
yang berdasi (dan berpeci!).
Memang, sampai sekarang masih sulit diramalkan apa yang akan terjadi dalam
waktu dekat ini selanjutnya. Tetapi, apa pun yang akan terjadi, satu hal
adalah sudah jelas, yaitu bahwa Gus Dur bukanlah musuh rakyat Indonesia.
Musuh rakyat Indonesia adalah Orde Baru, yang telah membantai jutaan orang
tidak bersalah dalam tahun 65, dalam peristiwa Aceh, peristiwa Lampung dan
Tg Priok, dan yang telah membunuh demokrasi selama lebih dari 30 tahun serta
melecehkan Panca Sila atau melikwidasi penciptanya (Bung Karno). Musuh
rakyat Indonesia adalah Orde Baru, yang para pendukung setianya telah
membikin kerusakan-kerusakan besar di bidang eksekutif, legislatif dan
judikatif. Musuh rakyat Indonesia adalah Orde Baru, yang telah membikin
rusaknya moral begitu banyak pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat (kalangan
swasta), termasuk para elite ekonomi.
Oleh karena itu, dalam kaitan itu semua, seruan bersama yang dikeluarkan
oleh 51 LSM di Jakarta tanggal 2 Februari 2001 mempunyai arti amat penting.
Dalam seruan bersama itu dinyatakan antara lain:” Perkembangan politik saat
ini amat mungkin merugikan gerakan reformasi dan kepentingan rakyat.
Pertarungan intraelite sudah mengarah pada situasi gawat yang cenderung
mengadu domba kelompok masyarakat. Hal tersebut makin membuka peluang bagi
kekuatan Orde Baru (Orba) yang sangat agresif untuk kembali mengambil posisi
strategis dalam kelembagaan negara”
Seruan bersama terseebut dibacakan oleh Ketua PBHI Hendardi didampingi
antara lain oleh Romo Sandyawan Sumardi (Sanggar Ciliwung), Emmy Hafidz
(Walhi), Zoemrotin (YLKI), Tri Agus Siswomihardjo (Solidamor), Binny Buchori
(Infid), Ifdhal Kasim (Elsam), dan Sekjen Komnas HAM Asmara Nababan.
Ke-51 LSM tersebut mengajak masyarakat untuk merapatkan barisan dan
menyelamatkan reformasi total, yakni dengan mengadili penjahat politik Orde
Baru, menghapus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), membubarkan Dwifungsi
TNI dan sistem teritorialnya, serta mengadili Soeharto dan
kroninya.
Selain LSM di atas, lainnya adalah AJI, Bina Desa, Fakta, LBH Jakarta,
YLBHI, Kontras, ISJ, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial, Tim Relawan
untuk Kemanusiaan, Yayasan Nadi, Urban Poor Consortium, Forsola, Yayasan
Komunikasi PGI, Pijar, LPIST, LSAF, Pasticide Action Network, Komnas
Perempuan, Lentera, Kalyanamitra, Mitra Perempuan, Front Aksi Perempuan
Indonesia, Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan, Kelompok Perempuan
Salsabila, Koalisi Perempuan Indonesia, dan Lapmi.
Selain itu ada pula TAH Irja, Tapak Ambon, Yasanti Yogyakarta, Yayasan
Bimbingan Kesejahteraan Sosial Solo, Yayasan Alfa Omega Kupang, Yappika,
YPMD Papua, Yayasan Geni Nastiti, Yayasan Swagiri Bogor, Yayasan
Pengembangan Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup Papua, Flower Aceh, dan
Forum LSM Aceh.
Paris, musim dingin, tanggal 3 Februari 2001
* * *
*********************
*) (Penulis adalah, sampai September 1965, pemimpin redaksi suratkabar Harian
EKONOMI NASIONAL (Jakarta), anggota pengurus PWI Pusat periode kongres
1963, dan anggota Sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Sekarang
tinggal di Paris).
Untuk kontak dengan E-mail : kontak@club-internet.fr
============================================
Previous Articles
Related Article