|
KISAH SERBA-SERBI
( Pulang Kampung - Bagian Satu )
Wed, 1 Nov 2000 14:52:06 +0100
Pulang Kampung sekali ini samasekali bukan suatu ekspedisi. Tapi dari
komposisi perorangan kami, cukup banyak hal-hal yang dapat diherankan.
Coba, kebetulan seperti begini siapa dapat menduga bahwa hal ini
benar-benar suatu kebetulan yang murni, tak dibuat-buat tak dicari-cari,
asli. Memang tadinya ada saling janji, tetapi samasekali tidak mengikat.
Adik saya yang hidup di Holland itu menilpun saya bahwa dia mau berlibur
ke Belitung, dan katanya lagi ponakannya yang hidup di Bali itu juga mau
ikut sama-sama ke Belitung, artinya ya ponakan saya jugalah! Lalu kata
saya spontan, wah, ini sangat menarik setelah adik saya itu juga
menyatakan abang saya yang lepasan Pulau Buru belasan tahun itu juga mau
turut bersama. Kontan saya katakan bahwa saya juga mau ikut sama-sama. Dan
kami masing-masing berbenah di masing-masing negeri asal buat bersama-sama
berlibur ke kampung halaman yang sudah lebih 35 tahun tak dilihat, tak
dijenguk. Liburan secara begini, kebetulan plus kebetulan, sangat terasa
aneh dan nikmat. Ada tiga negara dan asal negara, dari satu keluarga. Adik
saya yang berpaspor Belanda, saya yang berpaspor Perancis serta abang
saya yang berpaspor Indonesia serta keponakan kami itu yang berdiam di Bali
itu, menyatu buat sama-sama bertemu di Belitung. Tiga negara dari satu
rumpun keluarga mau bertemu, mau saling anjangsono, setelah lebih 35 tahun
tidak bertemu. Mengapa menjadi tiga negara yang padahal berasal dari satu
keluarga terdekat? Kalau bukan karena kekuasaan pandita ratu yang sudah
lengser itu, tidak mungkin kami akan begini ini, tidak mungkin ratusan
ribu orang bahkan jutaan kesatuan keluarga yang terceraiberai, menderita
seperti sekarang ini.
Walaupun kami berempat tiga beradik dan satu ponakan, sangat tidak sulit
untuk mencari penginapan, tumpangan buat bermalam. Kaum keluarga "pada
rebutan" buat mengajak menginap, bahkan bergiliran dari satu rumah ke
rumah lain, dan bahkan cukup banyak keluarga yang "belum dapat giliran"
karena kami harus pulang ke asal masing-masing, Bali, Depok, Paris dan
Hoofddorp-Holland. Sangat lain halnya dengan yang kami alami ketika mula
pertama datang ke Belitung, saya dan cucu saya Loulou pada tahun 1996.
Ketika itu tak seorangpun yang menawari menginap dan bermalam di
rumahnya. Mereka hanya datang ke Hotel kami, ke penginapan kami, sudah itu
bercakap-cakap sebentar, lalu pada pulang. Mereka masih takut, kuatir dan
penuh kecemasan. Dan kami semua mengerti mengapa terjadi hal-hal yang
demikian. Dan ketika pulang bersama inilah baru terbuka semua hal-ihwal
yang menjadi pertanyaan dalam hati masing-masing. Mereka takut akan
ancaman pihak serdadu penguasa. Bahkan saya mendengar, ada keluarga saya
yang dipanggil ke koramil, banyak ditanya ini itu. Kenalkah orang yang
baru-baru ini berlibur di Tanjungpandan, seorang kakek dan cucunya?
Keluarga saya menyatakan, kenal sih kenal, karena memang juga adalah
keluarganya. Tetapi tidak pernah bertemu, tak pernah berhubungan. Semua ini
dicek ketat. Dan "beruntunglah" keluarga saya itu karena memang mereka tak
pernah bertemu dan berhubungan dengan kami ketika kami berlibur tahun 1996
itu! Dan beruntunglah mereka, karena kamipun tidak berusaha buat menemui
dan mencarinya. Seandainya dulu itu kami dapat mencari dan menemuinya,
alamat mereka akan ditangkap, disiksa dan diperas.
Dulu itu kami masih tetap diikuti, dikuntit. Sebagai bahan banding, sudah
diterbitkan buku yang berjudul INTEL dan KISAH SEBUAH WARUNG. Semua isinya
menceritakan keadaan sebenarnya tentang yang kami alami. Tetapi setelah
kami kembali datang pada tahun 2000 ini, di mana si penguasa-utama sudah
lengser keprabon pandita ratu, kedaan begitu berubah.Dulu kami diikuti dan
dikuntit, tetapi kini kami dikawal, dan diam-diam saya amati, ternyata
kami itu selalu disediakan sebuah mobil jip-kijang yang di kacanya ditempeli
Keluarga Besar Polisi Militer. Dan saya tahu serta terasa bahwa hal
ini bukannya dikuntit seperti dulu lagi, tapi memang terasa dikawal atau
katakanlah ditemani oleh seorang petugas yang berpakaian dinas militer
yang sedia membawakan map, tas atau bawaan apa saja. Maafkan saya, belum
berani saya katakan dari kesatuan mana "teman kami" ini. Tapi satu hal,
kami mendapatkan suatu hal perubahan yang luarbiasa. Luarbiasa baik dan
hangatnya. Luarbiasa perhatian bersahabatnya. Keluarbiasaan ini kami
bandingkan dengan "sambutan" tahun l996 dulu itu, yang jauh berbeda dan
sangat bertentangan.
Kami mengunjungi banyak keluarga dan menginap secara terbagi-bagi agar
bisa merata antara keluarga. Saya tadinya ingin pulang bersama abang saya
dan ponakan saya.Tetapi mereka mengatakan, karena saya datangnya lebih
lambat dari mereka, maka sudah seharusn ya pulangnyapun boleh agak lamat
juga, dan lagi belum begitu banyak saya menemui keluarga yang seperti
mereka temui. Dan saya setuju dengan pendapat ini. Abang saya dan adik
saya serta keponakan saya semua sudah pulang ke Depok, Bali dan Holland,
tinggal saya sendirian dari yang tadinya berempat.
Dan saya menginap di rumah sepasang keluarga yang semuanya keluarga saya.
Bagaimana pula keterangannya maka begini? Suaminya bernama Lebab, adalah
keluarga dari pihak ayah saya dan isterinya bernama Maryam, adalah keluarga
dari pihak ibu saya. Saya memanggil suaminya adalah abang, tetapi
memanggil isterinya adalah tante. Tante Maryam ketika masih kecilnya
adalah teman saya sepermainan, dia lebih tua dua tahun dari saya. Sampai
kini masih sehat, dan suaminya Bang Lebab juga sangat sehat. Umur Bang
Lebab dibawah Bang Amat, abang saya yang tertua, yang ditembak itu.
Keluarga Bang Lebab-Tante Maryam, punya anak "pancasila" artinya lima
orang, dua wanita dan tiga pria. Kalau semuanya pria, maka kami panggil,
anaknya itu .......akh, lupa saya istilahnya. Nah, ingat saya sekarang
setelah jedah duapuluh menit : adalah pandawa lima!
Di rumah Bang Lebab, setiap malam selalu berdatangan tamu-tamu yang
terdiri dari keluarga saya, keluarga kami. Beberapa malam selalu saja
datang antara sepuluh sampai belasan orang. Mereka berdatangan mau
melihat, bertanyakan ini itu tentang keluarga. Mau tahu bagaimana
sebenarnya peristiwa meningglanya Bang Amat itu dan keadaan keluarga
lainnya. Tentu saja saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya karena
saya sendiri, bahkan abang saya yang di Depok itupun tidak tahu secara
jelasnya. Mereka bercerita tentang keluarganya selama puluhan tahun ini.
Dan sayapun banyak menanyakan siapa yang duduk di kursi itu, lalu yang
dipojok itu dan siapa namanya yang pakai kopiah putih itu. Semua berjawab.
Lalu "berapa anakmu, Sudin?".
"Anak saya sembilan Long", jawabnya. Long dari Pak Long, artinya sulung, Pak De.
'Dan kau Saadiah".
'Anak saya sebelas".
"Wah, wah, seperti tim kesebelasan sepakbola ya", kata saya menimpali.
Dan mereka tertawa ramai dan senang.
"Lalu berapa cucumu, Man, dengan anak sepuluh orang itu?"
"Cucu saya.........", terlihat dia agak lama menghitungnya.
"Cucu saya ada duapuluh tiga. Tidak hapal saya berapa lelakinya dan berapa
perempuannya".
"Yah, tak apa. Lain kali saja ada baiknya kalau kamu tahu smua berapa pria
dan wanitanya", kataku lagi.
"Lalu kalian Latifa dan Bakir, dengan anak sebelas orang itu, berapa sudah
cucunya?"
Pasangan Bakir dan Latifa yang sudah termasuk berumur 60-an, agak lama
menjawab, tetapi senyum-senyum sangat senang dan mungkin bangganya.
"Yah, Pak Long, mungkin kami ini yang diberkahi begitu banyak anak dan
cucu. Terasa memang kami kaya akan anak dan cucu walaupun hidup kami
sederhana begini. Kami punya cucu enampuluh orang, dan cicit limabelas
orang".
"Ya Allah, sangat kaya kalian akan harta jiwa manusia, bukan main kalian
berdua, Latifa dan Bakir. Sehat-sehat pula dan apakah sudah naik haji?"
"Alhamdullillah, dua tahun yang lalu kami berdua sudah menunaikan rukun
Islam yang kelima itu, Pak Long", katanya. Dan kami para tamu dan
tuanrumah kami pada tertawa senang, kaget, heran, dan bercampur dengan
perasaan entah apa lagi. Bayangkan dengan anak sebelas orang dan cucu
sebanyak enampuluh orang serta cicit limabelas orang itu, apakah tak
terasa melanggar KB yang dikatakan sangat berhasil itu?
Malam itu kami saling bercerita, saling tertawa, senang, bahagia dan
gembira. Selama lebih 35 tahun itu sudah begitu banyak berubah yang
terjadi selama ini. Banyak orang-orang yang tinggal namanya saja, karena
sudah lama meninggal. Banyak yang sakitan, banyak pula yang masih tetap
miskin-papa. Tapi kulihat dan kurasakan selama beberapa hari di Belitung
itu, sebagaimana dulu-dulu, Belitung tidak terkena dampak kemiskinan yang
sangat, sedang-sedang saja. Tapi juga bukanlah sebuah pulau yang kaya raya
menghasilkan uang seperti halnya Bali. Pulau yang dulu penuh kerukunan,
aman, damai, kini tidak lagi seperti tahun-tahun 40-an sampai awal
pertengahan 50-an,-
-----------------------000------------------------
Almere Holland,- 1 November 2000,-
Back to Top
*********************************
Related Message
|