Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI

( Pulang Kampung - Bagian Dua )

Thu, 2 Nov 2000 09:44:36 +0100

Selama di Belitung saya selalu jalan pagi. Begitulah selama menginap di rumah Bang Lebab-Tante Maryam, jam setengah enam pagi saya sudah berangkat dari rumah buat jalan pagi. Jalanan masih agak sepi, belum banyak kendaraan lalu-lalang. Jalan pagi begini biasanya saya lakukan antara satu jam sampai satu setengah jam. Dan dalam pada itu saya sudah ditunggu di rumah buat sarapan pagi bersama keluarga Tante Maryam-Bang Lebab.

Jalan pagi begini ternyata buat saya agak tegang. Saya selalu kuatir kalau-kalau diserempet mobil. Karena jalannya mobil, truk, motor, sangat cepat dan tak tanggung-tanggung, seenaknya melewati kendaraan lain, saling mendahului. Dan jarak antara diri kita dengan mobil yang lewat, hanya beberapa puluh sentimeter. Ketika itulah saya berpikir dengan nalar yang agak tenang dan jernih. Dulu-dulunya saya kan juga tinggal dan hidup di Belitung ini. Dan saya kan dulu itu sudah terbiasa jalan kaki seperti orang-orang itu, seperti anak-anak sekolah itu. Lalu kini kenapa begitu tegang dan kuatir? Saya cari jawabannya dengan keras berpikir, mengapa begitu, darimana sumbernya?

Ya, selama puluhan tahun ini, kami dan saya selalu hidup di negeri yang serba teratur dan rapi. Di tempat kami selalu ada jalan yang khusus buat orang-orang berjalan kaki, khusus buat bersepeda, khusus buat motor dan kendaraan beroda empat, dan khusus buat kendaraan bis. Karena kami atau saya terlalu lama "dimanjakan" serba keteraturan negeri industri ini, maka sudah lama tidak terlatih lagi buat sekedar jalan kaki di tengah masarakat saya sendiri, di kampung saya sendiri. Dan mungkin hal ini keterlaluan juga buat saya yang selalu "manja" dengan sistim keteraturan atau "kapitalis" begini.

Menjelang jam 06.00 sudah mulai banyak orang-orang yang lalu-lalang dengan berbagai keperluan. Jalanan sudah mulai ramai. Anak-anak sekolah sudah saling kejar-mengejar dan bermain sepanjang jalan yang penuh mobil itu. Ketika itu saya berpikir, mereka itu sedikitpun tak ada rasa takut dan kuatir akan begitu banyaknya mobil, kendaraan yang lalu-lalang begitu ramainya, lha kok saya sendiri punya rasa takut dan cemas! Oh, begitu lama saya terpisah dari kampung halaman saya, begitu jauh jaraknya saya dengan kehidupan yang dulu-dulu di masa kecil saya yang sama juga dengan anak-anak yang ketika itu saya lihat dan temui.

Saya jalan terus mendaki. Tapi kemana arah tujuan jalan itu, saya sudah lupa. Ada sedikit bayangan, tetapi tidak pasti, ada keraguan pada diri saya. Ketika jarak saya dengan rumah Tante Maryam-Bang Lebab sudah begitu jauh, ada seorang yang sudah agak tua , kira-kira setua saya. Dia bertongkat dan jalannya tidak cepat, juga persis saya. Ketika berpapasan karena begitu dekatnya, maka orang itu saya sapa.

"Pak, ke mana arah jalan yang mendaki itu?"

'Oh, itu menuju pos Pertamina, pompa bensin, dekat simpang empat kalau terus sedikit. Dan sebelah kirinya jalan menuju Rumahsakit", katanya ramah. Dia agak lama memperhatikan saya. Mungkin dilihatnya seperti orang asing tetapi menggunakan bahasa daerah Belitung.

"Darimana ikam ini?", katanya. Ikam adalah kamu tetapi hormat, biasanya buat orang yang dituakan, atau memang sudah lebih tua dari kita. Dan kuceritakan siapa saya, alakadarnya, belum menyentuh hakekatnya. Dan ketika kuceritakan bahwa dulu tahun l952,1953 , kami mengadakan kegiatan di Belitung ini, karena ada organisasai IPB, Ikatan Pelajar Belitung, yang lalu menjadi IKPB, Ikatan Keluarga Pelajar Belitung. Ternyata orang itu tahu dan kenal semua yang kuceritakan.

"Jadi kalau begitu ikam ini adalah anak Pak Long Idit, ya barangkali kan?!", katanya tak ragu-ragu.

"Persis, sayalah ini". Dan kami bersalaman erat. Dan kutanyakan apakah kini sudah pensiun?

"Pensiun? Apa pula pensiun!? Tidak mati disiksa saja sudah untung. Aku ini orang yang terlibat, kena siksa dan penjara".

"Jadi, siapa ikam ini?", kata saya.

"Tentu saja saya kena beberapa tahun. Aku ini ketua Sobsi ketika tahun-tahun gelap kelam itu", katanya lagi. Dan saya mengerti apa maksudnya dan bagaimana cerita lanjutannya. Lalu karena pertemuan yang tak disangka ini, kami berdua menjadi lebih akrab. Ngobrol-ngobrol, dan dia minta wanti-wanti agar saya mampir dan sudi bertandang ke rumahnya. Saya menyanggupinya. Lalu ditunjukinya, sebuah rumah yang di atas pendakian itu, adalah rumah Pak Kasim, yang sudaranya adalah Mahay yang bersama ke Jakarta tahun l948 dulu itu.

Saya merasa benar-benar berada di kampunghalaman sendiri. Saya menuju rumah Pak Kasim yang ketika dia berumur 3 tahun saya kenal dengan keluarganya. Ketika saya mengetuk pintu rumahnya, baru saja jam 06,20 dan dia belum ada di rumah. Anaknya gadis remaja mengatakan bapaknya sedang jogging. Ketika saya mau membelokkan badan menuju pulang, Pak Kasim datang. Oleh anaknya dikatakan bahwa orang ini adalah tamu bapak. Dan saya menyebutkan bahwa saya adalah orang Belitung sedang berlibur dan mengenal keluarganya dengan baik. Lalu Pak Kasim dengan hangat menyalami saya, dan mengajak masuk ke dalam. Kami ngobrol pagi dengan cangkir yang beraroma kopi panas dengan beberapa potong goreng pisang dan ubi. Hari menjelang jam 07.00. Pak Kasim menyilahkan saya mandi dulu sambil mengambil handuk. Tetapi saya berkeras mau pulang, karena tuanrumah saya sedang menunggu saya di rumah.

Keadaan begini hampir setiap pagi saya lakukan. Sering sekali berkenalan secara tiba-tiba dan di luar rencana, tetapi akhirnya menjadi sangat baik. Dan sering sekali petemuan itu samasekali tidak asing, bahkan sedikit saja bercerita sudah saling tahu. Sedikit saja diungkapkan, maka terkuaklah tabir lama yang tadinya gelap dan reman-remang, lalu menjadi terang dan bersinar. Ketika itu suasana di Belitung sedang ramai orang membicarakan kehendak rakyat Belitung agar dua pulau berdekatan, Bangka dan Belitung menjadi satu provinsi. Istilahnya ketika itu provinsi Babel, yaitu Bangka Belitung. Lalu ada pelesetan, kalau sampai Babel ini tidak jadi atau gagal, maka diganti saja babel itu menjadi bebal, alias bodoh!

Sejak kami berorganisasi antara tahun 1952 sampai dengan 1955 dulu, pada kami sudah ada pemikiran buat menyatukan Bangka Belitung ini menjadi sebuah provinsi, tidak lagi menjadi bagian dari provinsi Sumatra Selatan yang beribukota Palembang. Kami melihatnya sangat tidak praktis, dan banyak sekali kerugian penduduk Belitung akibat dipusatkan di Sumatra Selatan dan Palembang ini. Bahkan kami lihat juga samar-samar perebutan antara Palembang dan Jakarta. Sedangkan penduduk Belitung hanya dapat laporan dari kertas laporan itu saja, sedangkan keuangan dan pemasukan berbagai dana keuntungan hasil pertambangan, pertanian dan kelautan Belitung mengalir ke kas Palembang ataupun langsung ke Jakarta! Jadi sejak dulu kami sudah setuju dua pulau penghasil timah ini di provinsikan tersendiri. Dan ini menambah simpati penduduk Belitung kepada organisasi dan aktivitas kami, juga kepada perorangan kami.

Beberapa hari di Belitung sudah semakin terasa, yang dulu hilang, kini pada datang. Dan kedatangannya terasa hangat dan semakin akrab. Apalagi setelah banyak terkuak tabir yang tadinya samar-samar kini tergelar-buka. Dan dari percakapan yang akrab itulah, kami pada tahu, ketika penyiksaan, pembunuhan, pembantaian, tercatat ada puluhan penduduk Belitung dijagal di Gunung Tikus dan Pegarun, ditembak, disembelih, dan yang mati karena penyiksaan dan pembataian itu baru tercatat sejumlah 32 orang. Tetapi inipun hanya catatan sementara, mungkin belum terkumpul semua. Dulu itu untuk menyebutkan jumlahnya saja tidak ada yang berani. Tak ada yang tahu, atau sebenarnya sudah pada tahu, tetapi tidak berani buka-mulut. Dua tempat pejagalan, pembantaian, Gunung Tikus dan Pegarun, jauh di luar kota Tanjungpandan. Kini dua tempat itu pelan-pelan menyeruak mengabarkan keadaan sebenarnya yang dulu sangat ditakuti untuk sekedar menyebutkannya saja. Kampunghalamanku yang dulu terkenal damai, aman dan sentosa, ternyata dinodai juga oleh sang kaisar yang kini masih hidup dan tak juga mau mati-mati,-

-----------------------000------------------------
Almere - Holland,- 2 November 2000,-

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2000 Webmaster
Last Update on 10.11.2000