Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI ( 222 )

(Sedikit Tentang Bang Amat dan si Simon)

Bagian Empat
(habis)

Thu, 22 Feb 2001 14:21:29 -0800

Bang Amat selalu bisa membawakan diri bagaimana dalam memperlakukan orang per orang. Seseorang selalu akan tidak sama tabiat, perilaku dan perwatakannya. Misalnya saja, kepada seluruh adik-adiknya hanya kepadakulah yang dia tampaknya agak kasar, terusterang dan keras sekali. Tuntutannya kepadaku sangat tinggi, sangat berat dan dalam, sedangkan aku belum tentu bisa mengembannya. Tetapi satu hal yang dia perhatikan, bahwa kepadaku dia bisa berlaku agak keras dan agak kasar. Tetapi kepada misalnya adikku, di a tidak akan mungkin memperlakukannya seperti dia memperlakukan kepadaku. Sebab adikku saudara kami yang paling bungsu itu perangainya sifatnya jauh lebih halus, lebih sopan, lebih beradab daripadaku! Jadi perlakuannya juga harus seimbang, tidak boleh kas ar-kasar dan keras seperti kepada diriku. Dan adikku itu adalah seorang violis, seorang seniman, juga penyair dan novelis. Nah, abangku bang Amat ini sangat suka lagu-lagu klasik. Dan adikku selalu memainkan lagu-lagu klasik. Pernah mereka berempat secara kuartet di Gedung Kesenian dengan Mochtar Embut, Syafei Embut, Tio Djin Hui dan Asahan.

Bang Amat bukan main merasa bangganya punya adik yang akan mengadakan pertunjukan di Gedung Kesenian, dan lagu-lagu klasik kesenangannya pula. Maka keluarlah mobil menteri yang bernomor B 13 itu buat ke Gedung Kesenian bersama adik dan anak-anaknya. Sedan gkan aku mengayuh sebuah sepeda tuaku yang berbunyi kreok - kreok karena usangnya! Suatu waktu aku datang ke rumah bang Amat ketika pagi-pagi sebelum dia ngantor di Kramat. Dan kami biasa omong-omong, dan dia banyak bertanya segala macam kegiatanku. Aku s ecara iseng-iseng mengatakan bahwa rambutku banyak yang rontok. Maksudnya siapa tahu ada obatnya, bukankah isterinya seorang dokter Dr Tanti. Langsung saja dia berkata : "kalau otak tidak kuat memang begitulah jadinya, kepala botak licin"!, katanya. Aku s elalu bereaksi yang berlebihan bila orang lain terlebih dulu menyinggung dan menyakiti hatiku. Kataku :

"Ya, mungkin benar. Sebab kami bersama Lenin juga sama-sama botak! Apa Lenin tidak kuat otaknya?!", kataku nyelekit. Tampak dia marah dan aku segera ambil langkah seribu, takut dibentaknya dan siapa tahu kalau marah betul, lalu aku ditaboknya! Apa yang ku ucapkan pastilah menjadikan dia sangat marah. Sebab Lenin itu kan "nabinya". Tahu-tahu dikatakan begitu oleh adiknya, ini betul-betul keterlaluan. Dalam hatiku, rasain lho!

Ketika dia ke rumahku, dia melihat aku sedang asyik dengan buku-buku yang dia tidak suka. Ketika itu aku membaca karangan Drs Mohamad Hatta, namanya ALAM PIKIRAN YUNANI. Buku ini sangat menarik buatku. Dan aku mengenal serta belajar filsafat adalah dari b uku Hatta ini. Dan sangat suka akan uraiannya, sangat menarik. Lalu lagi-lagi ketidaksukaannya bertambah setelah melihat di mejaku ada karangan Dale Carnegie yang berjudul How to make friends Bagaimana Mendapatkan Banyak Teman.

"Akh kau ini, semua yang kau baca itu adalah produk burjuasi! Kuharap jangan sampai kau terkena racun ideologi burjuasi yang lapuk dan sekarat itu", katanya.

"Okh tidak. Aku harus mengenal mereka, pikiran dan ide mereka agar aku nanti tahu bagaimana cara membabat mereka", kataku. Kata-kataku ini sebenarnya samasekali bukan dari hati yang jujur, sebab aku hanya mengeluarkan reaksiku karena merasa tersinggung. S ebenarnya aku memang hanya mau tahu, mau belajar. Bukan dengan maksud mau membabat atau menghantamnya. Tampak dia tidak suka dengan jawabanku.

Ketika ramai-ramai para aktivis dikirim keluarnegeri buat menghadiri berbagai upacara dan pesta, misalnya Pesta Pemuda SeDunia, atau konferensi pemuda pelajar atau yang sifatnya ada undangan buat ke luarnegeri, atau yang lainnya, aku belum pernah mendapat giliran. Sedangkan teman-temanku yang sebaya dan setingkat denganku, semua sudah "pada merasai" luarnegeri. Bang Amat punya pendapat, bikin prestasi dulu, baru dapat giliran! Maksudnya buatku yalah keluar dulu buku karangannya, ada yang bisa diterbitkan dulu barulah bisa ke luarnegeri.Tetapi yang kulihat pada banyak teman-temanku itu, mereka juga tak ada apa yang dinamakan prestasi itu. Biasa-biasa saja, tak ada hasil lain apapun, kecuali memang aktif diorganisasi saja. Sehingga buat hal yang satu ini, B ung Nyoto pernah bertanya kepada bang Amat, bagaimana si simon, kapan dapat giliran keluarnegeri. Bang Amat katanya kembali bertanya kepada Bung Nyot, kalau dia kita kirim ke luar dengan siapa temannya. Bung Nyoto menjawab, semua teman-teman seangkatannya sudah semua dapat giliran. Dan kalaupun si simon keluarnegeri adalah sebagai delegasi tunggal, sebab semua orang sudah dapat giliran! Dan bang Amat barulah setuju, apalagi "prestasiku" waktu itu sudah mengeluarkan novellette dan kumpulan puisi bernama DE RAP REVOLUSI dan PULANG BERTEMPUR. Jadi sudah adalah walaupun hanya secuil. Barulah bang Amat setuju. Dan akupun berangkat sendirian ke Bulgaria! Sendirian, delegasi tunggal, karena semua teman lain sudah dapat giliran lebih awal dan lebih dulu.

Bang Amat sangat keras padaku. Menuntut tinggi. Tetapi aku tahu benar, dipihak lain dia menyanyangi diriku. banyak mengerti tentang diriku, dan antara kami tidak pernah menyimpan kemarahan dan dendam walaupun pernah saling marah dan saling membentak. Tida k hanya pada keluarga dan adik-adiknya, kepada musuh politiknyapun dia bisa bertegur sapa biasa, teman biasa, saling berteguran dan bersalaman. Apa sih kurangnya seorang Haji Kiai Insya Anshari atau Amelz misalnya. Sangat anti komunis, sangat keras dan ta jam perbedaan keduanya. Yang satu pihak adalah Musyumi karatan, sedangkan bang Amat adalah dedengkot PKI-nya! Tetapi antara bang Amat dengan Kiai Haji Insya Anshari dan Amelz, cukup bisa saling bertegur sapa, saling memberi salam. Mereka bisa membedakan a ntara politik ideologi dengan perorangan secara kemanusiaan biasa.

Dulu ketika mereka orang-orang muda itu masih tergabung di Menteng 31, guru bang Amat yang ketika itu tetap menyayangi bang Amat justru Mohamad Hatta, yang kemudian mereka itu sangat keras permusuhannya. Tetapi dalam soal tegur sapa dan saling salaman, te tap biasa. Pertengkaran bang Amat dengan Chairul Saleh hampir saja berhantam secara fisik, dua-duanya keras, dua-duanya kalau kepala-batu sedang hinggap pada kepala mereka, niscaya mereka betul-betul berantam kayak koboi! Tetapi sehabis itu ya habis, bert egur sapa lagi dan bisa saling ramah,-

Belakangan ini di kampungku ada obrolan, pulau Belitung walaupun kecil dan penduduknya sedikit, tetapi pernah orang Belitung itu menduduki kedudukan menteri sejumlah dua orang. Yang satu bang Amat, seorang menteri pada kabinet Sukarno dulu walaupun jadi menteri tanpa kantor kementerian, dan satu lagi Yusril Ihza Mahendra. Tapi dua-duanya punya nasib yang tidak enak. Yang satu dibunuh diteror oleh rezim Suharto-Orba, yang sampai kini tak ketahuan di mana kuburannya, sedangkan yang satunya lagi kena pecat dari Gus Dur, karena tidak setia dan menelikung dari belakang. Sekarang dan baru-baru ini kutulis sebuah puisi :

di mana kuburan abangku, tuan?!
dulu ketika angin keberuntungan bertiup sejuk
semua mengaku
dirinyalah pembunuh abangku
karena ada hajat
buat mengejar pangkat
ketika angin sakal sampai mengamuk
tak seorang mengaku.

Itu perkara kamu, perkara kalian, tuan!
tetapi yang aku mau tahu
di mana kuburan abangku, tuan?!

Bertahun-tahun kami mencari
tetapi sementara ini
takkan mungkin bertemu
karena hanya tuanlah yang tahu.

Bukan bagaimana dan dengan apa
dia tuan perlakukan
dengan tebasan pedang
dengan tembakan
dengan tusukan atau cekikan?
Orang jahat dan kejam tak perduli dengan senjata apa.

Bagi kami kini
tunjukkan, tuan, di mana kuburan abangku
kami adik-adiknya ingin memperlakukannya
sebagai orang, sebagai manusia dan keluarga
ingin menyekar, menaburinya dengan puspita bunga
ingin menyiram air sejuk di atas pusaranya,-

-----------------------22 Febr 2001---------------------------

----- End of forwarded message from Simon Sobron -----

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2001 Webmaster
Last Update on 01.03.2001