Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI ( 225 )

( Sedikit Meluruskan )

Sun, 25 Feb 2001 11:24:07 -0800

Rupanya dan inilah kebiasaan dunia, kalau kita tidak sedia dan tidak siap berterusterang kepada seseorang, maka orang itupun akan berlaku juga seperti kita. Kalau kita mau agar orang itu membukakan hatinya kepada kita, kita-pun terlebih dulu melakukan sep erti apa yang kita maukan. Selalu timbalbalik, selalu menuruti jalannya yang adil dan setara. Tanpa itu tidaklah akan bertemu keinginan kita kalau hanya sebelah pihak. Sebelum seseorang berlaku seperti kehendak kita, maka kitalah terlebih dulu melakukan a pa yang ada dalam hati kita. Bagaimana kita mau agar seseorang membukakan hatinya kepada kita, kalau hati kita sendiri kita tutup rapat-rapat!

Perjalanan kami menyusuri kota-kota kecil di Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika itu ( 1994 ), banyak singgah dan mampir bermalam di beberapa kota kecil. Dan temanku si O dan D, punya beberapa teman lamanya yang dulunya pernah akrab. Dan kami samasekali tid ak punya kesukaran buat menumpang menginap di kota-kota kecil apalagi di pinggir pedesaan. Orang-orang desa masih cukup baik dan cukup tebal rasa keramahtamahan dan kebaikannya. Masarakatnya terbuka. Satu hal kalau kita sendiri-pun juga terbuka dan bentan gkan, paparkan, apa dan mau apa kita sebenarnya. Jangan ada yang tersembunyi yang kira-kira bisa membuat orang curiga dan berwaspada berlebihan.

Ketika sampai di sebuah kota B, kami punya teman yang mau dan sangat ingin ikut dengan kami. Orang tua teman ini adalah sahabat karib dari teman kami si O dan juga si D yang mengemudikan jip ini. Teman baru ini bernama Mas Dim. Masih muda. Dan pernah kuli ah di Gama. Dan sampai kini menjadi aktivis sebuah LSM yang banyak meneliti masalah sejarah. Dan katanya Mas Dim juga turut menjadi anggota peneliti yang dapat dikatakan tentang pelurusan sejarah. Mas Dim tampaknya ingin banyak menyerap berbagai pengetahu an yang sifatnya ada sejarahnya. Mau banyak bertanya dan mau banyak tahu. Tetapi juga secara adil saling tukar pengalaman. Mau berbagi ilmu pengetahuan apa saja, ilmu sosial masarakat yang bagaimanapun sifatnya. Dan Mas Dim betul-betul sudah menyatu denga n kami selama lebih satu minggu itu. Ke mana saja kami berkeliling selalu ikut dan mau membantu apa saja yang kami minta bantu. Dalam percakapan sehari-hari Mas Dim selalu merendah dan selalu berhati-hati dan korek. Tetapi samasekali bukan dengan rasa cur iga dan berwaspada. Barangkali ya itulah sifat orang Solo, halus lembut, sopan, tapi jangan main-main kita terhadapnya. Dia bisa nyelekit dan kita bisa sakit hati dibuatnya. Ini kalau kita sengaja berbuat tidak baik dan tidak jujur kepadanya.

Ketika akan sampai pada ujung perjalanan kami, Mas Dim dengan sangat minta agar kami mampir dan menginap barangkan satu dua malam di rumahnya di Solo. Kami menyetujuinya. Dan Solo bagiku, bukanlah asing. Pada tahun 1948 - 1949, aku berada di Solo. Ketika itu masih ingat benar, ada parade militer yang dipimpin oleh kolonel Gatot Subroto yang berjenggot lebat itu. Sangat gagah dia di atas kuda yang juga gagah. Mereka para militer itu berparade di depan rumah kami, di Jalan Purwosari yang akhirnya berubah na ma menjadi Jalan Slamet Riyadi. Aku ketika itu berumur 15 tahun, dan sudah mulai punya teman-teman seniman di Solo dan Yogyakarta.

Ketika kami sudah di rumah Mas Dim, terkadang tampak wajah Mas Dim seakan kusut dan terkadang gelap. Seakan ada yang menjadi beban berat yang ditanggungnya. Aku selalu mendekatinya dan selalu bercakap dari hati ke hati dengan Mas Dim. Dan aku menyatukan d iri dengan kebiasaan dan adat di rumah Mas Dim. Artinya aku juga sedikit berbuat seperti di rumahku sendiri. Seperti mencuci piring-mangkuk, lalu sedikit mengelap meja, membantu menyajikan makanan, dan sekali-kali mengangkat jemuran dan menyapu. Orang tua nya sudah tua dan sorry ya, sudah agak pikun dan tidak perduli orang lain. Tetapi kami para tamu yang dari Yogya dan Jakarta ini, tetap berlaku biasa, sebagai orang yang menumpang dan sebagai tamu yang sopan.

"Mas Dim", kataku pada suatu hari.

"Saya dan kami sangat berterimakasih kepada Mas Dim beserta ibu bapak, yang sudah menyediakan tempat menumpang menginap. Dan juga atas kebaikan Mas Dim yang mau ikut kami selama perjalanan ini, bersusah payah bersama selama hampir satu minggu ini ", kataku.

"Akh itu sih tidak mengapa mas. Bukankah saya sendiri yang mau ikut dan saya sendiri yang minta agar sampeyan dan mas O dan D mau dan rela menginap di rumah kami. Jadi sebenarnya sayalah yang seharusnya berterimakasih", kata Mas Dim. Lalu Mas Dim dengan a gak lancar dan bersenang hati bercakap-cakap dengan kami. Dan pada akhirnya sampailah pada yang sudah dapat kuperkirakan. Mau apa sebenarnya Mas Dim ini. Dan apa sebenarnya yang menjadi beban berat Mas Dim ini yang kulihat dua hari belakangan ini.

"Mas, saya ingin cerita kepada sampeyan dan mas O dan D. Tetapi saya harap sampeyan bertigalah yang menyimpan cerita saya ini. Saya sesungguhnya berat buat mengatakannya, tetapi saya harus mengatakannya. Apalagi pekerjaan saya di LSM itu ada hubungan deng an pelurusan sejarah. Sedangkan sampeyan bertiga, bukanlah asing akan pekerjaan saya dan cerita saya ini", kata Mas Dim. Lalu dengan agak tersendat, dia meneruskan :

"Maafkan bapak saya kalau dia tidak memperdulikan sampeyan bertiga. Siapapun orang yang datang ke rumah ini, dia tidak mau tahu, tidak perduli. Dan bapak lebih banyak berdiam diri saja, merenung saja, dan terpaku berat. Saya kira bebannya sangat berat Mas . Tetapi sejak dulu, tahun mula-mula itu sudah saya katakan dan nasehatkan, jangan ikut-ikut keberingasan orang-orang lain itu. Mas, bapak saya itu ketika tahun-tahun mula pembantaian pki dan orang-orang kiri, sangat banyak ikut menyembelih orang. Sangat banyak menyiksa orang, menghilangkan nyawa orang", demikian cerita Mas Dim. Dan aku masih sempat dengan mata menyapu mencari bapak Mas Dim yang duduk saja terpaku bagaikan patung di dekat dapur. Dia betulbetul sudah pikun dan tidak bisa apa-apa lagi, bahk an tidak bisa menjalankan pikiran dan otaknya lagi secara benar.

"Mas tahu, ketika itu tidak hanya bapak saya saja yang menyembelih dan menyiksa mati orang-orang pki dan orang kiri. Tetapi hampir sebagian besar kaum santri di daerah kami ini. Dan tidak hanya di bagian Jawa Tengah ini saja. Di Blitar Selatan dan Blora serta sampai Banyuwangi, ratusan bahkan mungkin ribuan kepala orang-orang pki dan kiri pada ditanam dekat jalan an. Kulit manusia dibeset lalu ditebeng dan dipakukan di banyak pohon yang orang bisa melihat dan menyaksikannya. Dan memang buat dipertontonkan. Agar dengan maksud begitulah kita harus memperlakukan kaum dajjal, kapir, orang-orang komunis dan orang-orang kiri. Dan yang memperlakukan orang-orang pki dan orang-orang kiri ini termasuk bapak saya. Tetapi mas ada yang mau saya jelaskan. Ini menurut pendapat dan apa yang selama ini saya selidiki dan pelajari. Mereka itu, katakanlah kami ini ketika itu banyak s ekali yang diperalat oleh tentara. Tentara sangat banyak dan mudah mempengaruhi kami agar kami membunuhi para orang-orang kapir, dajjal dan para calon masuk neraka itu. Semua peralatan dan perlengkapan disediakan oleh tentara. Baik dari segi kemudahan men cari orang-orang yang akan dibunuh itu, maupun dari segi akomodasi dan persenjataan, misalnya truk-truk, senjata pembunuh, dan bahkan lobang tempat penguburannya.

Mereka para tentara itu menghasut orang-orang kami dengan keras dan menanamkan rasa kebencian dan dendam yang sangat dalam, agar kami dengan aktif dan gila-gilaan berpesta membunuhi orang-orang pki itu. Dan mas, yang saya sangat sedih dan sangat menyesali nya, bapak saya yang sedang di dapur itu turut aktif dan banyak membunuh orang", demikian kata Mas Dim.

"Tetapi, mas, setelah lebih tigapuluh tahun ini, secara sedikit demi sedikit, dan pelan, barulah ada yang menyedari bahwa kami ini lebih banyak diperalat. Ketika itu sebenarnya bukanlah permusuhan ideologis, keagamaan antara si kapir dajjal dengan orang I slam kami ini, begitulah istilahnya ketika itu. Saya kira permusuhan dan pembunuhan besar-besaran itu lebih banyak karena secara struktural buat menegakkan Orde Baru - Suharto dengan ABRI dan secara khusus adalah Angkatan Daratnya. Jadi permusuhan dan pem bunuhan secara raksasa itu, adalah demi kekuasaan dan samasekali tak ada hubungan keagamaan. Dan ini menurut saya, mungkin saja saya salah. Tetapi sejak dulu saya sudah tidak setuju bapak ikut-ikutan membunuh, dengan kejam pula, terhadap orang-orang pki y ang samasekali tidak melawan, tidak bersenjata. Tetapi inilah kejadian sejarah yang sama-sama kita alami. Dan dampaknya turut kita semua merasakannya, hingga kini termasuk sampeyan secara kongkritnya", kata Mas Dim sambil melihat wajahku.

Dalam hatiku, dalam beberapa hari ini aku sudah bersama-sama dengan anaknya pembunuh kejam orang-orang pki. Dan aku rupanya selama ini ada dalam sarang harimau, kalau dengan permisalan dulunya.Dan aku dan kami bertiga sudah menginap dan makan minum di rum ah salah seorang algojo pembunuhan terhadap pki. Tidak ada hubungan apa-apa. Tetapi alangkah baik dan manusiawinya antara kami, tanpa dari sebelumnya menyedari bahwa antara kami pada sejarah dulunya, pernah dialgojoi bapak yang di rumah ini. Tetapi bapak yang algojo entah berapa puluh sudah membunuh pki itu, sudah termasuk dapat hukuman. Pikun - tua dan gila, tak punya daya kekuatan apapun, berpikir-pun sudah tidak dapat. Dan anaknya, secara sedar tanpa berkata minta maaf, sebenarnya sudah lebih dari perm intaan maaf itu. Sebab dia sudah mengungkap, sudah membukakan. Sudah menyesali kehidupan dulunya. Dalam hatiku pula, mengapa orang-orang terus tenggelam pada pembongkaran KKN segala macam-macam korupsi, tetapi kenapa masalah pembunuhan dan kekejaman ini t idak banyak diungkap. Bukankah pembunuhan secara begitu luas, begitu massal, begitu kejam, lebih serius daripada KKN. Ini kejahatan kemanusiaan, bukan kejahatan ekonomi-, demikian dalam hatiku,-

-----------------------25 Feb 2001---------------------------

----- End of forwarded message from Simon Sobron -----

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2001 Webmaster
Last Update on 01.03.2001