Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI

( Pulang Kampung - Bagian Tiga )

Mon, 6 Nov 2000 08:31:12 +0100

Memang banyak perubahan yang saya lihat dan saya rasakan selama lebih 30 tahun ini. Baik perubahan yang memang baik, maju, maupun perubahan yang sifatnya terbelakang, mundur, mandeg. Perubahan baik dan ada kemajuan tertentu itu terutama dalam bidang ekonomi, fisik, peningkatan kehidupan. Kini kehidupan rakyat dan penduduk Belitung jauh lebih maju bila dibandingkan dengan ketika kami masih remaja dulu itu, tahun-tahun 50-an. Dulu setiap rumah paling-paling hanya ada sepeda. Kini hampir setiap rumah selalu ada sepeda motor. Jalanan penuh dengan sepeda motor dan mobil. Dulu di tengah pasar itu, kita lewat dan berjalan-jalan biasa saja, jangan kuatir akan ditubruk mobil, sebab sangat jarangnya ada mobil. Kini sibuk lampu pengatur lalu-lintas dan polisi lalu-lintas mengawasi jalanan yang terkadang ada juga kemacetan tertentu.

Rumah-rumah orang, penduduk biasa, cukup banyak terdapat antene parabola, menandakan mereka punya pesawat televisi yang besar, mewah dan canggih. Ketika kami mengelilingi Belitung, dari Tanjungpandan, ke Tanjungkelumpang, Dendang dan Kelapa Kampit, saya hitung ada tujuh keluarga yang sedang mengadakan pesta pernikahan, lengkap dengan grup musik-baratnya dan grup-rebana tradisional Islamnya. Dan orang-orang yang pada berdatangan itu, semuanya tampak gembira, berpakaian cukup bagus. Ketika itu hari Minggu, ramai dengan pesta perkawinan, sunatan dan selamatan lainnya. Penduduk cukup banyak yang sudah naik-haji, menandakan cukup punya uang. Hasil panenan merica-sahang tanaman penduduk, terkadang menjadikan pundi-pundi penuh uang. Pernah satu kilo sahang-merica sampai 100.000 rupiah ketika puncak harga sahang-merica sangat baiknya. Kini menurun, dan ketika menurun bisa sampai 40.000 bahkan 35.000 rupiah per kilo. Penduduk Belitung bermatapencaharian bertani sahang-merica, lalu berkebun kelapa-sawit, sebagai nelayan, dan buruh pertambangan timah.

Beberapa tahun ini PPTB, Perusahaan Pertambangan Timah Belitung, mengalami kebangkrutan, sehingga kantor besarnya tutup, dan belasan ribu pegawainya menganggur. Akibat semua ini, banyak pegawai yang menganggur itu beralih pekerjaan. Menjadi petani sahang-merica, menjadi nelayan, dan terpaksa meninggalkan Belitung mencari pekerjaan di tempat lain. Saya kira ketika dulu PPTB ini masih berjaya, tentulah keadaan kehidupan penduduk Belitung jauh lebih baik daripada sekarang ini. Sehingga kinipun masih terlihat bekas-bekas kejayaannya itu.

Bidang yang tidak maju-maju, terbelakang dan mandek yalah dan terutama di bidang pembangunan moral, semangat jiwa dan sangat kurang rasa kebersamaan. Sangat kurang rasa memiliki bersama, atau demi kepentingan umum. Dan saya rasa, hal itupun bisa dimengerti, karena masing-masing orang hanya terpaku pada dirinya sendiri. Perumahan yang dulu bagus-bagus, dengan perawatannya yang baik dan cermat, lapangan, pemandangan, tempat-tempat rekreasi yang dulu indah, bersih, kini terbengkalai. Penuh dengan semak-semak belukar, kotor, tidak terawat. Wajah Belitung yang dulu kami lihat, saksikan dan nikmati karena indah, bersihnya, kini bagaikan membisu, mati dan tak menarik.

Pantainya sudah banyak buangan sampah secara sembarangan, segala botol-botol plastik, dan sudah menghitam karena keruh dan tidak diperdulikan. Tanjungkelayang dan Tanjungtinggi, tempat yang sangat terkenal indah dan bagusnya, kini bercerancangan bekas-bekas tulang beton, dengan tiang-tiang semen menjulang ke atas, yang sudah terlihat coklat-hitam karena karatan! Tempat ini adalah bekas-bekas proyek yang dulunya dikerjakan oleh grup Tommy Suharto, yang kini terbengkalai. Sebab sebenarnya dan persisnya sudah tentu hanya pihak-pihak berkuasa dan penguasa yang tahu. Yang diketahui secara umum katanya karena kurang modal, kurang dana dan karena korupsi. Alasan ini sangat klasik dan menjemukan.

Dulu ketika keluarga penguasa-utama ini sedang di puncaknya, memang pernah merencanakan akan membangun suatu tempat peristirahatan yang sangat spektakuler, mewah dan yang serba nomor wahid. Pemodal dan para orang kaya dari Singapura, Malaysia dn Hongkong, bisa bermain golf dan istirahat-cepat maupun istirahat-santai di Belitung. Belitung adalah ibarat suatu tempat yang sangat strategis, terletak di pertengahan kota-kota yang kaya raya tadi itu, dari Asia Tenggara yang penuh bergelimang uang. Tetapi kenyataan yang ada dan terjadi, impian itu hanyalah menghasilkan bekas-bekas tulang-besi-baja-semen-beton yang karatan, jelek, dan sangat merusak keindahan alam yang tadinya begitu bersih, bagus dan indah. Dan semua ini penduduk Belitung yang melihat, merasakan akibat mandeg dan bangkrutnya proyek itu.

Bekas rumah kami yang dulu begitu bersih, luas dan penuh dengan tanaman keras seperti kelapa, durian, manggis, dan tanaman-sela, seperi papaya, sayuran seperti kacangpanjang, singkong, kini tak dapat lagi dilihat bekas kejayaannya. Sebab sudah sangat kotor, semak belukar dan penuh ampas sampah. Kabarnya si pemilik barunya, tak berani membangun sesuatu dan apa saja di atasa tanah yang memang sudah hak-miliknya. Kabarnya karena takut dan sangat kuatir akan adanya gugutana dari pemilik-lama, yaitu kami-kami ini. Dan ada pula kabar, sebenarnya pemilik baru itu lebih takut karena dituduh bersekongkol dengan pemilik lama yng adalah sangat tak bersih lingkungan, dan yang merupakan sumber ketakutan dari segala tuduhan komunis.

Pagi itu saya punya keinginan untuk melihat dan mendatangi di mana sekolah saya dulu yang pertama. Ketika itu tahun 1940, di mana Bang Amat yang mengantarkan saya buat bersekolah di HIS,- Hollands Inlands School, sama dengan SD atau SR ketik itu. Sampai tamat SD saya di Belitung, lalu ke Jakarta pada tahun 1948, di mana kami satu rumah dengan Chairil Anwar yang menumpang di rumah kami. Yang saya ingat sekolah itu dekat sebuah mesjid besar. Dan tak jauh dari SD berbahasa Melayu, yang namanya ketika itu Vervolgschool. Saya mencari lokasi itu. Ternyata gedungnya masih ada tetapi sudah ada gedung atau bangunan tambahan.

Ketika itu hari masih pagi, belum lagi jam 06.00. Saya masuk ke ruangan halaman sekolahnya. Dan saya telusuri kelas demi kelas di mana saya dulu pernah duduk di ruangan kelas itu. Anak-anak sekolah semakin banyak berdatangan. Rupanya dalam pada itu ada penjaga sekolah yang dengan diam-diam dan keheranan memperhatikan saya. Mungkin dalam hatinya, siapa orang ini, yang dengan anehnya ke luar-masuk ruangan tak menentu.

"Pak, bapak mencari apa, pak?".

"Saya hanya mau melihat sekolah yang dulu saya pernah bersekolah di sini selama bertahun-tahun", kataku. Dan dia, orang muda yang ternyata penjaga sekolah itu, tidak menunjukkan kemarahannya atau kegusaran apalagi kecurigaannya. Bahkan terlihat mau tahu, apa dan siapa orang ini, kok pagi-pagi sudah memeriksa ruangan sekolah. Maka berceritalah saya, bahwa saya ini orang Belitung asli, dan sudah meninggalkan Belitung lebih dari setengah abad kalah dihitung dari 1948 dulu itu. Ketika saya bercerita itu, tampak orang muda ini bertambah tertarik, Dan ketika dia bertambah tertarik akan cerita saya, yang bagaikan rentangan riwayat hidup yang panjang, di mana sayapun terus terang bercerita apa adanya, maka diapun terdiam lama mengenak masa yang begitu lama, begitu rumit akan nasib kehidupan kami.

Dan tibalah giliran saya menanyakan segala sesuatunya kepadanya. Siman dan isterinya serta dua anaknya tinggal di sekolah ini, sebagai penjaga sekolah. Dan Siman bukan orang Belitung asli, tetapi isterinya berasal dari Belitung asli, seperti saya ini. Maka menjawablah dia ketika saya tanyakan.

" Jadi Bung Siman ini berasal dari Jawa mana?".

"Saya berasal dari Boyolali, pak".

"Nah, secara kebetulan di situlah abang saya ditembak, dibunuh oleh serdadu penguasa", kata saya. Tampak Siman agak kaget dan menarik nafas panjang.

"Kapan itu, pak?"

"Pada tahun-tahun gelap yang mulai awal mengganasnya pembunuhan, antara tahun 1965 - 1966", kata saya. Dan saya lihat Siman jauh merenung. Dalam hati saya, biarlah dia tahu, dan biarlah banyak orang tahu. Sejarah begini bukan untuk dikeloni sendiri, semak in banyak orang tahu akan kekejaman dan kelaliman rezim penguasa dulu itu, menurut saya akan semakin baik. Agar bangsa kita tidak dan sekali-kali jangan mengulanginya lagi, harus jauh-jauh berpisah dengan sejarah yang begitu ganas, kejamnya bagi sejarah keutuhan bangsa,-

-----------------------000------------------------
Almere - Holland,- 6 November 2000,-

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2000 Webmaster
Last Update on 10.11.2000