Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI

( Selingan di Udara )

Wed, 8 Nov 2000 03:13:27 +0100

Penerbangan dari Paris ke Amsterdam memang agak tegang, karena waktunya singkat dan cepat sampai. Begitu pramugari menyajikan hidangan makanan kecil, tak beberapa lama sudah siap buat membenahinya lagi, karena segera sampai pelabuhan udara Schipol - Amsterdam. Tak sampai satu jam. Tampak para pramugarinya mau lekas-lekas selesai dengan pekerjaannya. Tak sempat senyum, tak ada waktu buat ramah-tamahan. Antara manusia hanya hubungan kerja semata. Mata tak sempat menilai apakah dia cantik, anggun atau apakah tadi itu dia penuh senyum? Sudah masakbodo, sebentar lagi mendarat, hanya itulah di masing-masing pikiran. Baik pekerjanya maupun penumpangnya. Kami para penumpang yang akan langsung ke Jakarta, hanya disinggahkan dan transit satu jam lebih di Schipol, lalu dengan MAS ke Kualalumpur dan Jakarta.

Saya tidak secara khusus memilih kenapa naik MAS, tapi hanya mengingat harga tiket agak murah dan mengejar waktu, agar bisa bersama bertemu di Belitung. Kami tiga beradik dan satu ponakan memang berjanji akan bersama berlibur di Belitung sambil ziarah ke kuburan orangtua. Saya sudah beberapa kali naik MAS, sedikit mengenal tatacara anak-buah pesawat bekerja, dengan mekanismenya sekalian. Dan ada lagi yang saya sukai, komunikasinya langsung melalui bahasa Malaysia. Entah bagaimana asal-usulnya, pada tahun l964 saya pernah memberikan kuliah dalam Bahasa Malaysia kepada para siswa jurusan Bahasa Melayu di Beijing, sebagai dosen pengganti. Jadi agak sikit bolehlah.

Bukan main bosannya naik pesawat ini. Duabelas jam duduk tak banyak beringsut, mau mengerjakan pekertjaan apa? Mau baca? Manapula tahan lama! Maka mata dan pikiranpun menerawang. Dan terkadang tercantol pada nama-nama pramugari dan pramugara yang lalulalang di koridor sempit itu. Ada yang namanya Sandra, ada yang namanya Budiah, dan nah ini, ada nama Azalia, yang suka senyum, ramah dan cantiknya mak, setengah minta ampun! Lalu di barisan para lelakinya, ya, dong, harus juag dilihat siapa-siapa nama mereka . Ada yang namanya Richard, Razak, dan ada yang tak pakai emblim nama di dadanya, entah sebagai apa tugasnya.

Aku suka betul kalau ketika Azalia melintas kedekatku. Dia senyum, dan tentu saja akupun senyum dan membagus-baguskan dirilah sedapat-dapatnya. Ketika hendak makan malam, dia bertanya, semula bahasa Inggris, tetapi aku menjawab dan bertanyakan apa saja selalu dalam bahasa Melayu.

"Ade makanan ape saja Nchik?".

"Oo adelah beberapa macam. Nasi lemak dengan ayam, atau kentang goreng dengan sosis atau telor-dadarlah, atau makanan ala barat lainnya. Bapak boleh pilihlah".

"Dulu saye pernah makan nasi lemak, benar-benar enak. Sekarang sayepun masih mencobenya".

"Oo bolehlah" dan Azalea menghidangkannya padaku. Apakah mataku dan hatiku nakal dan genit? Mungkin tidak dan mungkin juga ya, tapi beginilah. Azalia, yang setelah kami berkenalan berkelakar, selalu kupanggil Lia saja, mengingatkanku akan nama Lia yang tinggal di London yang juga cantiknya tigaperempat minta ampun!

Ada lagi beberapa kalimat yang mau kutuliskan. Lia ini bila melewat diasmpingku, baunya wangi, tetapi wanginya sopan, soft, tidak merangsang. Dan kalau aku ngomong dekatnya, berani-beraninya dia mendekatkan mukanya yang penuh dan bersih serta kuning duku itu. Dan nah ini yang aku tak tahannya, bibirnya itu selalu basah-basah kering. Tidak basah betul, tetapi bagaikan mau terhapus tetapi membekas sangat. Seakan memancing buatku berkata, Lia cobalah basahi lagi bibirmu barangkan sedikit lagi agar lebih menarik. Tapi kata-kata itu tentu saja takkan sampai hati aku mengucapkannya.

Ada-ada saja akal bulus, maksuku akal bulusku, buat berbicara agak banyak dengan Lia. Minta air putihlah karena mau makan obat, minta selimutlah, dan apa saja bisa jadi alasan. Dan Lia dengan cekatan, dan dengan senyum di antara bibir setengah basah itu, mengunjukkan yang kuminta, dan kami bercakap-cakap lagi barang sebentar.

Dan ketika lampu sudah dipadamkan karena sudah waktunya buat istirahat dan tidur, kulihat di mana Lia. Ketika aku menoleh ke belakang, Lia bersama Budiah sedang ngobrol. Aku meberanikan diri buat turut bersama mereka. Ketika itu kecepatan pesawat 998 km perjam, tingginya hampir 11 km, 10900 meter, udara di luar 48 C di bawah nol, dan kami berada di atas Timurtengah belum sampai Asia. Kami duduk berdekatan bertiga dan ngobrol. Orang Asia kalau ngobrol tentulah banyak bersoal jawab yang sifatnya lebih mengenai selukbeluk kehidupan. Seperti misalnya apakah aku sudah lama tinggal di Paris. Dan apa saja pekerjaanku selama ini. Apakah aku orangnya ambassade. Semua kujawab apa adanya, asal tidak sangat rahasia, dan lagi sekarang ini kan bukannya lagi zamannya rahasia-rahasiaan.

Dan ketika aku menyebutkan aku sebagai pengusaha restoran, Budiah kulihat matanya berkaca=kaca seakan-akan ada yang mau dikatakan.

"Pak, saya mau pindah kereje di resto bapak kalau bapak rele dan sedie nerima saya", katanya tak terduga.

"Lah ade ape rupenye Bud, bukankah Budiah sudah tetap di MAS ini. Bukan main sulitnya dapat pekerjaan di MAS, tahu-tahu Budiah mau pindah kereje".

"Yah, pak saye tak diizinkan berlame-lame kereje begini. Bapak dan Mak saye selalu kuatir akan pekerjaan di atas awang=awang begini. Mereke selalu kuatir kalau saya mendapet kecelakaan pesawat udare. misalnya jatuhlah, korbanlah". Kata-kata Budiah ini tadinya sangat sulit kupercayai. Tetapi Lia menambahkan banyak cerita tentang ketakutan orangtua Budiah ini.

"Yah, pak setiap orang punya persoalan masing-masing, dan tak pule same sebingkai. Itu persoalan Budiah, orangtuanya selalu kautair dan mengharapkan agar Budiah mencari pekerjaan lain bukannya di atas udare begini. Misalnya saye-pun lain lagi persoalannye yang mungkin orang lain sulitlah buat percaye", kata Lia.

Dan ketika kutanyakan berapa umur mereka, Budiah 27 tahun, Lia 25 tahun, dan mereka sudah bekerja di MAS, Malaysia Airways System, masing-masing lebih 6 tahun. Sudah punya masa dinas-kerja yang cukup baik. Dan aku benar-benar heran dan merasa aneh dengan pendapat orangtua Budiah, yang mencemaskan anaknya bekerja di udara. Dan ketika kutanyakan pada Lia, persoalan apa yang ada di kehidupannya.

"Mak saye dan bapak saye selalu mengatekan dan mengharapkan agar saye dengan tegas memilih salah seorang calon yang akan jadi suami saye. Memang ade beberape calon yang bagi saye merase belum cukup waktu buat memutuskan secare tetap dan mantap. Tapi orang tue saye maunya lekas punya menantu, dan akhirnya punya cucu", kata Lia sambil senyum-senyum malu. Sedangkan Budiah kulihat matanya merebak, tampak kesedihan dengan kegusaran dan kecemasan orangtuanya. Kataku dalam hati : ada juga orang Malaysia yang masih punya pikiran yang mungkin terbelakang dan agak kuno. Sedangkan dua pramugari yang begitu cantiknya dan baiknya, membawa beban ke mana-mana dengan perasaan hatinya.

Kami agak lama ngobrol, dan pesawat tak terasa sudah sampai perbatasan Asia, jauh sudah meninggalkan udara Turki. Tinggi dan kecepatan serta cuaca tak banyak berubah. Penumpang lainnya sudah banyak yang mendengkur. Untunglah diri ini masih ada kesadaran, buat minta diri, agar juga mereka bisa istirahat. Tapi dua persoalan dari dua manusia yang baik-baik dan ramah-tamah serta masing-masing berserah pada cerita kehidupannya. Pikirku tak banyak waktu lagi, begitu menyeberangi daratan Asia, maka kamipun akan sampai di Malaysia Kualalumpur, dan Budiah serta Lia akan turun dan pulang ke rumahnya buat istirahat. Terasa aku mencari-cari alasan, apalagi bahan obrolan yang bisa lama menjadi bahan percakapan. Dalam hatiku, kau lah yang salah Lia, mengapa kau ladeni saja aku yang...........untungya tak pernah dia menanyakan soal umurku, yang kalau ditanyakanpun pasti akan kujawab apa adanya.

Ketika sudah sampai di Kualalumpur, sampai-sampai aku lupa menuliskan bahwa dalam pesawat itu ada lagi dua orang temanku yang akrab, yang naiknya di Amsterdam, dua orang bujang-lapok seperti aku juga, akan turun di Kualalumpur ini buat meneruskan perjalan an ke Medan. Ketika dalam pesawat itu aku tidak tahu di mana dua temanku itu duduknya, orang sebegitu banyak, mana sempat saling memperhatikan, walaupn buat seorang Lia selalu saja ada sempat. Dan ketika aku berjalan menuju ke luar, kulihat dari jauh Lia sedang berdiri tak jauh dari mulut pintu buat mengucapkan selamat jalan dan selamat berpisah kepada para penumpang. Entah setan alas mana yang ada dalam kepalaku, tetapi begitu aku mendekati Lia, kubisikkan kepada Lia. "Lia, maafkan saya ya, saya ingin menciumu, di pipi saja, boleh kan?".

Lia tersenyum dan kulihat dia diam tetapi menganggukkan kepala. Dan aku menciumnya dan memeluknya beberapa detik. Dan dia masih sempat melambaikan tangannya sampai kami sudah tak dapat lagi saling melihat.

Kukira atau jangan-jangan baru sekali inilah atau mungkin juga ada kejadian yang seperti aku ini, Seorang penumpang mencium pramugarinya, tapi kan ciuman persahabatan. Lalu teringatlah aku pada tahun 1994, di mana aku juga ketika itu minta izin mencium se orang pramugari MAS di Beijing, dan dia - Sharon - kami berkenalan sangat erat dan lengket, sehingga dia datang ke Paris dan mengikuti kami sampai ke Holland. Ketika dia sudah memutuskan buat benar-benar sebenarnya, aku lalu jadi mundur, tidak mungkin berbeda lebih dari 30 tahun!! Kuanjurkan agar dia kawin berumahtangga secara baik-baik dan menjangkau jauh. Dan pada tahun 1998, dia berumahtangga dengan pemuda pilihannya yang aku turut memberiakn nasehat kepadanya agar kami sebaiknya berpsah secara baik-baik.

Lalu aku ingat seorang sastrawan Perancis Balzac, terlalu banyak terkena skandal dengan wanita karena memang suka wanita, doyan cewek kata orang-orang. Tentu saja aku samasekali bukannya Balzac, dan tak mau jadi Balzac, semoga begitulah hendaknya,-

-----------------------000------------------------
Almere - Holland 8 November 2000,-

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2000 Webmaster
Last Update on 10.11.2000