Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI

( Pulang Kampung- Bagian empat )

Thu, 9 Nov 2000 08:55:30 +0100

Kota kecil Kelapa-Kampit, terletak di pedalaman dan bagian tengah pulau Belitung. Nama-nama kota di pulau kami, memang agak lain dan sedikit mengherankan. Ibukota kabupatennya, bernama Tanjungpandan, yang sebelah di ujung baratnya bernama Manggar, dan di selatannya bernama Gantung. Ini menjadi pelesetan bagi kami, hanya di Belitung orang digantung tetapi tidak mati-mati! Sebab nama gantung adalah nama kota, jadi di Belitung orang yang digantung atau di kota Gantung sana memang tidak mati-mati.

Saya lahir di Kelapa-Kampit. Ada keinginan keras saya mau melihat kampunghalaman dan rumah yang dulu di mana saya dilahirkan. Di Kelapa-Kampit saya bermalan di rumah saudara sepupu saya, Hamimah, yang kami panggil Mim. Ayah saya hanya dua bersaudara, Siti Zahara, yaitu ibunya Mim dan ayah saya. Mim adik saya, dan dia satu-satunya dari keluarganya yang pernah tinggal dengan bang Amat ketika masih di Galur dulu itu. Rumah itu tadinya rumah Pak Sakir, Ir Sakirman. Karena Mim tinggal di Galur Tanah Tinggi den gan bang Amat, maka Mim mempunyai dan mengalami pergaulan yang relative luas, misalnya sering diajak bang Amat sekeluarganya ke istana, atau resepsi atau ketika perayaan-perayaan tertentu.

Saya tidak bertemu Mim lebih dari 35 tahun. Dan ketika kami pulang berdua dengan cucu saya Laura-Loulou, saya tidak bertemu Mim sekeluarga. Tapi saya tahu betul dia dari jauh melihat dan mencari wajah saya. Dia mengikuti kegiatan saya selama di Belitung, tetapi dia tidak berani bertemu saya. Dan ketika kali ini saya bermalam di rumahnya, barulah jelas semua. Mim bersama suaminya Bujang, dari jauh mencari buat melihat saya. Dan berceritalah mereka, bahwa sesudah satu minggu kami pulang, mereka dipanggil koramil dan kodim, menanyakan apakah kenal dengan orang-orang ini, dan apakah bertemu dengan mereka berdua kakek-cucu itu. Mim menjawab bahwa mereka kenal karena memang keluarganya, tetapi mereka tidak bertemu, dan tidak tahu ada di mana dan kapan serta menginap di mana, semua mereka katakan tidak tahu. Untunglah antara kami tidak saling mencari buat bertemu muka dan berbicara. Kalau seandainya dulu itu aku berusaha mencari adik saya, Mim sekeluarga, alamat akan sangat membahayakan Mim sekeluarga. Karena memang tidak bertemu dan tidak tahu menahu keberadaan kami yang juga tidak bisa dibuktikan, maka sekeluarga adik saya itu selamat-selamat saja. Betapa sulitnya antara keluarga buat bertemu muka saja ketika zaman pandita ratu sedang berkuasa-kuasanya itu.

Kepada keluarga Mim saya katakan saya mau melihat dan datang ke rumah yang dulu saya dilahirkan. Saya belum pernah melihat rumah yang dulu saya dilahirkan, sebab ketika umur beberapa bulan, kami sudah harus pindah ke ibukota kabupaten. Keluarga Mim tahu di mana rumah itu. Dan kami bermotor dengan dua motor berempat, dua orang anak Mim dan saya dengan abang saya, Murad. Murad juga mau melihat rumah itu, karena dekat rumah itu dulunya ada sebuah klinik dan di situlah dia bersunat ketika umurnya baru tujuh tahun, dan saya baru beberapa bulan. Ketika itu tahun 1934,-

Kami datang ke rumah itu. Dan kami memasuki pekarangannya. Pekarangannya agak luas. Tetapi rumahnya lalu menjadi kecil dan sangat sederhana. Orang yang menempati rumah itu, pada heran. Ada apa itu, kok ada empat orang pakai dua motor. Mau memeriksa apa gerangannya. Apakah dari Jawatan Pajak, dari kepolisian bergaya preman, atau mau berbuat jahat. Setelah saya mengucapkan assalamualaikum, saya menyatakan bahwa kami mau melihat dan mengenangkan bahwa saya dulu dilahirkan di rumah ini 66 tahun yang lalu, dan saya ceritakan juga bahwa abang saya ini ketika kecilnya juga bersunat di sebuah klinik itu, tak jauh dari rumah tersebut. Tetapi kliniknya tinggal puing-puing. Dan rumah saya dulunya itu sudah tak ada lagi. Rumah yang kini ada, merupakan bangunan baru yang jauh lebih kecil. Yang ada hanyalah tangga dari tembok-batu yang sangat kukuh. Itupun terletak agak jauh dari bangunan rumah yang sekarang. Di tangga tembok-batu itulah saya berfoto dengan abang saya, di mana kami punya kenangan masing-masing, yang lahir dan yang disunat.

Kami ceritakan dan nyatakan pada tuanrumah yang tinggal di situ, seorang ibu yang berumur 25 tahun, punya anak tiga, tetapi bagaikan sudah berumur 40 tahun, terimakasih kami yang sedalamnya dan maaf kami yang setulusnya. Karena kedatangan kami mungkin mencemaskan dan menakutkan mereka. Karena pernyataan ini berceritalah ibu itu.

"Memang ada kami dengar, bahwa dulu, dulu sekali lebih setengah abad yang lalu, ada keluarga mantri kehutanan yang tinggal di sini. Orang menyebutnya mantri Idit", katanya. Dan langsung saya sambung.

"Betul, dialah ayah saya, dan sayalah anaknya yang lahir di rumah ini, yang kini tinggal tangga beton-batunya itu", kata saya sambil menunjukkan tangga tersebut.

Saya puas berkunjung ke rumah yang dulu saya dilahirkan dan lebih puas lagi setelah ibu itu merasa aman-aman saja dan bukan sebagaimana anggapannya kepada kami, yang mungkin dianggapnya akan membahayakan dirinya.

Tadinya sebelum saya tahu dari mana pendapatan dan ongkos kehidupan keluarga Mim, sebab yang saya tahu suaminya Bujang, tidak dapat pensiun, karena aktivis sobsi, gerakan terlarang dianggap pemerintah. Saya sudah sempat berpikir, bagaimana caranya meringankan beban kehidupan keluarga adik saya ini. Tetapi setelah Mim dan suaminya mengatakan dan menceritakan kepada saya, bahwa ada beberapa pohon salak dan pohon bagu, buah meninjau buat emping dan beberapa pohon kelapa. Dari penenan pepohonan itu, terkadang dapat 5 juta rupiah. Hampir saja saya terkejut sangat. Uang sebegitu bukannya sedikit walaupun juga tidak akan bisa menjadi kaya amat. Dan sayapun seolah-olah memeriksa pekarangan rumahtangga adik saya itu. Benarlah adanya. Dan kami sempat makan buah salak hasil tanamannya, manis, samasekali tak kalah dengan salak-pondoh yang di tanah Jawa, dan juga salak-bali. Lagipula dari segi kehidupan sekeluarga Mim, baik diri mereka sendiri, maupun anak-cucunya, cukup terpenuhi dari hasil usahanya dan hasil kerjanya. Anak-anaknya ada yang menjadi guru SMP, dan yang membuka toko, sebuah warung yang lumayan lakunya. Dan saya merasa puas, kehidupan sekeluarga adik saya dengan lima cucunya itu, tinggal menunggu giliran buat naik haji ke Mekkah,-

Ketika saya mau berjalan-jalan pagi, seorang wanita yang sudah tampak agak tua, bersorak dan berteriak kepadaku : "Beron, Beron, oh Beron, kudengar kau ada di Belitung. Aku mau ketemu kau, mau ngomong penting. Sangat penting. Sekarang ini aku mau ngomong tentang yang itu",- katanya masih juga berteriak dan dengan suara keras, lalu dengan suara serak dan lalu menangis . Dan saya tidak tahu siapa dia, sudah sangat lupa. Setelah saya ajak masuk ke rumah bang Lebab-Busu Mariam, dan setelah saya amati sungguh-sungguh, tergambar bahwa saya rasanya masih mengenal dia. Dan benarlah setelah saya tanyakan kepadanya. Namanya adalah Ketitek, nama gelaran di kampungnya, nama sebenarnya saya tidak tahu. Dia berumur 68 tahun. Dia punya adik namanya di kalangan kami adalah Kantil, nama sebenarnya adalah Yunus. Kantil ini orang pertama partai ketika tahun 1965 itu menggantikan abang saya yang ketika itu bersekolah di Lumumba Moskow. Saya hanya tahu bahwa Kantil ini turut menjadi korban keganasan rezim Suharto, tewas ditembak.

"Beron, tolonglah Ron, ceritakan keadaan sebenarnya, bagaimana maka Kantil itu ditembak mati oleh militer di Belitung ini! Tentu kau tahu daripada kami rakyat biasa ini. Aku, kami mau tahu bagaimana cerita sebenarnya, yang padahal Kantil itu bukanlah orang jahat. Kawan-kawannya aku tahu, semua baik-baik, selalu dekat dan sama-sama orang miskin", katanya. Dan Ketitek terus menerus menangis dan minta agar aku menjelaskannya. Saya menarik nafas panjang dulu, berusaha menenangkannya, dan yang paling pokok menenangkan diriku sendiri dulu. Bagaimana maka Ketitek mempunyai pikiran bahwa pastilah aku tahu masalah sebenarnya. Padahal selama puluhan tahun aku ada di perantauan dan tanah pengasingan. Bagaimana korban abang saya sendiri, dimana kuburannya, tak ada keluarga kami yang tahu. Semua gelap, dan memang dibikin gelap oleh orba-serdadu yang dikepalai Suharto ini.

Kukatakan kepada Ketitek, persoalan ini kita pusatkan kepada Murad buat meneruskannya ke Jakarta kepada Pakorba, yang memang mengurusi soal-soal itu. Ketitek kenal baik akan Murad, sebab Murad adalah sahabat baiknya Yunus, Kantil adiknya yang ditembak itu. Dan pula Ketitek tahu, bahwa Murad-pun kena juga masuk Pulau Buru selama belasan tahun. Ketitek menjadi agak tenang, dan sayapun berlipatganda merasa puasnya, sebab dapat sedikit menjawab persoalan berat selama ini dalam pikiran Ketitek. Dan Murad ketika itu ada di Belitung, dan Ketitek berusaha keras mencari Murad buat menumpahkan semua perasaannya kepada Murad. Dan menurut saya, memang Murad-lah yang jauh lebih pantas dan masuk akal buat meneruskan semua persoalan ini, daripada saya sendiri yang sangat asing tentangnya.

Semoga urusan Ketitek dapat diteruskan dan ditelusuri. Urusan seperti Ketitek ini, adalah urusan berjuta orang, termasuk urusan keluarga kami sendiri. Sama, sebangun dan sebingkai, bagaimana maka bang Amat dulu itu ditembak begitu saja tanpa diadili, tanpa diproses. Padahal beliau adalah dengan resmi adalah Wakil Ketua MPR yang sah dan menteri koordinator. Seperti Ketitek, orang kampung saya yang sangat awam itu, kami ratusan ribu orang bahkan jutaan keluarga, memerlukan keterangan dan kejelasan jalannya sejarah bangsa ini, terutama selama rezim orba-militer ini berkuasa semau-maunya dulu itu,-

-----------------------000------------------------
Almere - Holland 9 November 2000,-

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2000 Webmaster
Last Update on 10.11.2000