Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI

( Pikiran Apa ini? )

Fri, 10 Nov 2000 15:25:23 +0100

Ada beberapa pikiran orang lain tentang dirikita sendiri, yang bila dipikirkan baik-baik, tenang-tenang, maka kita akan selalu ingat akannya. Karena tepat, jitu dan kena jantungnya. Mungkin semula kita tidak mau mengakuinya, karena takut kehilangan gengsi , karena malu pada diri sendiri, atau "merasa kalah". Tetapi lama-lama pikiran atau kritik orang lain itu kita terima dan kita ya kan, yang walaupun pada mula-mulanya betapa segannya kita mengakui kebenaran pikiran itu.

Ada dua catatan, ada dua pikiran orang lain yang ditujukan kepadaku. Ini baru dua saja yang kutuliskan, masih sangat banyak yang lainnya. Pertama dari Lia,- yang pernah kubilang padanya, Lia, kau itu terlalu cantik untuk jadi wartawan-, Kami banyak diskusi dan ngobrol dengannya. Kadang via tilpun, kadang ketika dia di Paris. Dia berkedudukan di London. Dia sudah beberapa kali ke Paris dan pernah menginap di rumahku, dan begitu dia pernah ngomong, "Lha kek, kapan kakek ke London-nya, kok hanya Lia doang yang ke Paris. Kakek sendiri belum pernah ke rumah Lia?", katanya. Dan aku diam, habis mau apa?! Memang benar sih. Belum ada kemauan, belum punya niat mau ke sana. Dari banyak percakapan dan obrolan, satu yang sangat kucatat dan membekas pada diriku sampai kini, dan terus kupegang erat-erat.

"Kek, jadi orang itu, janganlah suka menyimpan pikiran-pikiran yang buruk, atau pikiran-pikiran yang keliru dan prasangka. Sebab dari pikiran itulah biasanya akan langsung dilaksanakan, dikerjakan. Nah, kalau semulanya memang sudah ada pikiran-pikiran yan g buruk, keliru dan salah itu, lalu dilaksanakan, bukankah berakibat buruk dan berbahaya? Tetapi kalau pikiran itu memang baik, dan benar, kalau langsung dilaksanakan, bukankah hasilnya akan baik pula, menguntungkan bagi beberapa atau banyak orang?",- katanya. Untuk menerima pikiran Lia ini bagiku makan waktu yang tidak sebentar. Tetapi pikirannya ini memang benar dan baik. Dan lama-lama kuakui, pikiran dia ini jitu dan aku mengakui dan mengikutinya.

Banyak sekali nasehat orang-orang atau teman kita, keluarga kita, yang tepat dan jitu. Tetapi kurang mendapat perhatian atau samasekali kita tidak mau memperdulikannya. Karena kita malu pada diri sendiri, sebab mengena pada jantung kita, terasa tidak enak , lama terasa tersindir dan tersinggungnya,- pernya lama bergetar.

Kedua dari Nunung,- ini kisah Nunung, sangat menarik. Aku dan Nunung berkenalan pada 1954 ketika Pekan Buku yang diadakan oleh Gunung Agung, Mas Tjio Wie-thay dulu itu, yang mengubah nama menjadi Mas Agung, yang punya yayasan Idaya, mengambil nama Ibunya Bung Karno. Semula kami memang berkenalan sangat dekat, akrab dan lalu cinta. Tapi karena dia sebenarnya ketika itu sudah bertunangan, dan lagi aku belum bakalan menjadi orang, maka dengan "satria model Don Kisot", kukatakan padanya, sebaiknyalah perkenalan kita sampai di sini saja, dan akan lebih baik kalau kau meneruskan pertalian dan perjanjian pernikahanmu. Ini kukatakan padanya karena memang antara keluarganya sudah okey buat menikahkan Nunung dengan pilihan keluarganya. Dan sejak tahun l954 itu kami samasekali tak berhubungan lagi.

Tapi ketika aku anjangsono ke rumah kakaknya, Mimi, isterinya Pram, pada tahun 1994, Mimi mengatakan bahwa Nunung sudah janda, apakah mau kalau diantarkannya bertamu ke rumah Nunung? Kujawab, akh nantilah kapan-kapan. Dan bagaimana ceritanya maka tahun 2000 ini aku kembali ketemu Nunung, yang artinya sudah beberapa tahun lagi akan genap setengah abad tidak bertemu dengannya. Sebagaimana biasa dalam pergaulan umum, kita akan selalu saling bersentuhan perasaan, pendapat dan pikiran antara satu sama lain. Dalam persentuhan, perbedaan pendapat itu akan timbul pikiran yang tepat, walaupun ketika itu diri kita tidak mau mengakuinya.

Lalu apakah pendapat dan butir mutiara yang kudapatkan dari Nunung. "Pi", katanya padaku, yang antara kami berdua saling menyebut papi dan mami sejak mau penghujung tahun 2000 ini. "Janganlah selalu menyebut atau menganggap diri kita miskin, atau menyebut orang miskin. Biasa-biasa sajalah. Syukurilah pemberian Tuhan itu, terimalah apa adanya, walaupun kita tetap bekerja dan berusaha. Tapi tidak usahlah selalu menyebut diri kita orang miskin atau miskin. Tuhan tidak suka kalau kita selalu saja menyebut diri kita miskin yang padahal sebenarnya tidaklah begitu. Itu namanya menyangkal rahmat Tuhan, menyangkal apa adanya diri kita",- katanya padaku.

Dan kupikit-pikir benarlah apa yang dikatakannya. Lalu aku mengamalkannya untuk tidak lagi menyebut diri ini dengan sebutan miskin dan segala rupa yang rendah-rendah. Tetapi dalam pada itu aku selalu saja bertemu dengan lingkungan yang sebaliknya atau tidak menuruti apa yang dikatakan Nunung. Lagi-lagi berperang dalam pikiran,- ini kan orang lain, uruslah dirimu sendiri saja dulu,- biarlah orang lain ya urusan orang lain! Begitu pikirku. Lalu mengapa ada pikiran begini? Karena materinya ada, kulihat, kutemui dan di depanku sendiri.

Pernah aku kedatangan tamu yang menginap di rumahku selama satu minggu, Dia ini datang dari AS, mau ke Jerman ada pertemuan entah apa. Dia ini juga baru datang dari Indonesia, antaranya Timor Timur, lalu keliling daerah Indonesia lainnya. Lalu ada lagi urusan lainnya akan ke Portugal dan Eropa lainnya. Bukan main kan, sibuk dan banyaknya negara yang akan dikunjunginya. Tetapi setiap hari, saban hari, selalu ceritanya tentang kekurangan uang, tak ada uang, kehabisan uang. Selalu mengeluh karena tak ada uang, selalu menyebutkan dirinya dalam keadaan kurang belanja dan sangat sulit keuangan. Karena begitu lama dan begitu sering bercerita tentang kekurangan uang, kurang belanja, dan di depanku pula, maka aku jadi berpikir. Orang ini karena pelit, karena takut harus memberi orang lain uang, atau jangan-jangan mengharapkan agar orang lain memberikan uang kepadanya, atau apa. Aku tidak tahu dan tidak jelas. Tetapi bercerita selalu kekurangan uang padaku, yang padahal dia menumpang menginap di rumahku, lama-lama tidak enak juga perasaanku. Maunya orang ini apa sih! Padahal tidak pernah aku minta atau mengharapkan uang dari para tamuku. Atau ada juga terpikir padaku, siapa tahu dia minta dipinjami atau minta kontan begitu saja. Tapi dia kan tahu, aku ini orang pensiunan, apa yang bisa didapatkan dariku?

Dia cerita setiap hari tentang tak ada uang. Okey-lah, tetapi dengan keadaan nyata kehidupannya sangat tidak cocok. Orang keliling dunia, minggu ini di Eropa, minggu depan di AS, lalu terus ke Timor Timur, lalu ke Kanada, lha, kok ceritanya tidak punya uang! Aneh kan! Lalu maunya apa sih!

Ada temanku, teman baru tahun 2000 ini. Keluarga ini selalu mengaku sederhana, apa adanya, hidup sebagaimana adanya saja. Bagaimana dapat dikatakan sederhana dan mengaku bersahaja, kalau di rumahnya saja ada empat mobil yang bagus-bagus dan mahal-mahal. Dan katanya lagi ada beberapa rumah sewaannya, lalu beberapa buah tokonya di daerah Mall Pondok Indah dan PS - Plaza Senayan! Barangkali orang yang mengaku begini, sangat takut dianggap orang kaya atau konglomerat. Dan tampaknya yang paling tidak takut apa-apa, hanyalah orang miskin yang betul-betul miskin, miskin-nyata bukan seperti aku sebelumnya ini. Orang miskin sejati, tak ada gunanya mengaku dan menyebut dirinya miskin, karena memang begitulah kehidupannya. Hanya orang kaya-raya yang sangat takut akan adanya perubahan, atau pergolakan, sebab dia dan mereka pasti akan terkena perubahan dan pergolakan itu sendiri.

-----------------------000------------------------

Almere - Holland 10 November 2000,-

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2000 Webmaster
Last Update on 10.11.2000