Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI ( 159 )

( Menggoyang Pohon )

Date: Sun, 12 Nov 2000 12:14:27 +0100

Pada sutu hari tertentu seluruh penduduk diminta berkumpul di pendopo di Balai Kepala Nagari di Kota Jatibenang. Pada hari itu adalah Selamatan Panen Tahunan, di mana seluruh penduduk diundang hadir dan selamatan makan bersama, sebagai perayaan Selamatan Panenan Tahunan yang diadakan tiga tahun sekali sebagai perayaan besarnya. Sebagai perayaan kecilnya cukup di sekitar kelurahan saja yang diadakan setiap tahun. Pada perayaan ini biasanya setiap penduduk menyumbang makanan-jadi dari rumahnya masing-masin g.

Orang-orang dewasa dan orang-orang tua, bahkan anak-anak sangat bergembira pada hari itu. Berkumpul, saling kangenan, melepas rindu, bahkan tak jarang pada pertemuan itu saling dapat jodoh. Hari Selamatan Panenan Tahun itu hampir-hampir seperti suasana Hari Lebaran, sangat dimuliakan, sangat ditunggu-tunggu, dan saling menyatakan kegembiraan. Biasanya sesudah berdoa, memanjatkan harapan-harapan buat hasil panenan tahunan selanjutnya, lalu barulah makan-makan, yang memang sudah lama ditunggu-tunggu. Makana n yang begitu banyak jenisnya, dan semua lezat-lezat. Sebab setiap orang, setiap rumahtangga, ingin menunjukkan antaran hasil masakannya ingin mendapat pujian, ingin agar orang-orang dengan lahap menikmatinya. Seakan-akan berlomba masakan mana yang paling enak dan sangat disukai orang. Pada biasanya semua masakan terasa enak dan lezat, hanya selera seseorang akan berlainan menerimanya, sesuai dengan kebiasaan sehari-harinya.

Tetapi pada hari itu, ada beberapa hal yang menjadikan suasana sangat tidak biasa, dan orang-orang kampung memendam bermacam pendapat. Ada yang sedih, tetapi juga ada yang gembira dan merasa puas sangat, ada yang berpikir mengapa harus begitu. Kepala Nagari yang ditunggu orang banyak itu, lama tidak datang. Mungkin terlambat, maklumlah banyak urusan. Dan semua penduduk juga mengetahuinya, Kepala Nagari yang satu ini hubungannya sangat luas, jauh, bahkan banyak yang mengetahuinya sampai ke pusat kekuasaan. Tapi pada akhirnya Kepala Nagari memang tidak datang, dan pembukaan Selamatan Panen Tahunan itu dibuka oleh wakilnya dan disaksikan para pejabat lainnya. Suasana bertambah muram dan wajah-wajah sudah berubah dari gembira menjadi cemas, dan banyak mengandung pertanyaan yang tak seorangpun bisa menjelaskan. Pada hari itu Kepala Nagari tidak hadir buat bersama merayakan Hari Selamatan Panenan Tahunan,- ini yang pertama. Pada hari itu juga terdengar ada kabar-kabar terjadi kebakaran pada beberapa rumah tertentu. Dan yang lebih mengherankan dan menjadi pertanyaan orang-orang, justru yang kebakaran itu adalah rumah Kepala Nagari sendiri yang bagaikan sebuah istana, besar, bagus dan mewah. Dan lebih mengherankan lagi, rumah lainnya yang kebakaran itu, adalah rumah pejabat Nagari yang boleh dikatakan bawahan, tangan-kanan, orang-orang Kepala Nagari itu.

Setelah orang-orang pada pulang dari selamatan itu, hari menjelang malamnya, sudah tersebar kabar, sudah setiap orang pada tahu. Kepala Nagari mati terbakar di rumahnya sendiri, dan beberapa orang bawahan kakitangannya juga ada yang turut terbakar, antaranya ada yang tentara dan polisi. Kejadian ini bukan main-main! Apakah ini suatu pemberontakan atau kejahatan kriminal biasa? Tidak mungkin kriminal biasa! Demikianlah orang-orang pada bertanya dalam hatinya sendiri, yang tak seorangpun tahu secara jelasnya. Satu hal yang orang tahu. Sebenarnya bukan satu hal, tapi banyak hal, hanya jenisnya sama. Tapi pada pokoknya semua orang tahu dan mengerti, tapi tak berani ngomong secara terang-terangan. Bahwa Kepala Nagari itu sangat berkuasa, sangat kejam dalam menggunakan kekuasaannya. Pada pembebasan tanah buat suatu proyek yang akan dijadikan usaha pabrik dan perkebunan kelapa sawit, banyak tanah penduduk yang digusur begitu saja. Tidak dibayar, yang tadinya dijanjikan akan dibayar, tetapi setelah berbulan-bulan yang akhirnya bertahun-tahun, lalu hilang begitu saja.

Lalu kalau ada pengaduan tentang kejahatannya atau mengenai bawahannya, orang-orangnya, dan dapat pula dibuktikan kesalahan dan kejahatannya, si pengadu tiba-tiba hilang begitu saja. Mau diusut? Pernah terjadi, yang mau mengusut itupun lalu hilang juga secara misterius, kata orang. Dan berkali-kali orang-orang mencobamengadukan kejahatan, dan yang kata orang korupsinya yang begitu besar, tetapi tidak pernah berhasil. Hubungan Kepala Nagari luarbiasa besar dan luasnya, tak tertembus, tak tergoyang, demikia n kata orang.

Setelah berhari-hari dan berminggu-minggu, orang-orang dan penduduk sedikit tahu dan mendengar. Bahwa Kepala Nagari dan orang-orang bawahan kakitangannya itu memang dibunuh, memang dibabat, Rumah yang berjenis istana kecilnya itu dan rumah-rumah mewah para pejabat teman-temannya, memang dibakar. Kata orang-orang, ini bukan perbuatan kriminal biasa, tetapi terencana baik dan rapi. Lalu adakah orang-orang yang tertangkap dan siapa biangkeladinya? Kata orang, yang tertangkap saja kini sudah 127 orang, dan ketika dikasari dan digebuki siapa kepalanya, siapa biangkeladinya, semua menjawab dirinyalah yang merencanakan semuanya! Ini aneh! Ini tidak biasa. Ada pula kata orang, ketika kepala pemeriksa menyiksa sesorang, orang itu dengan mata melotot berani berkata , "kalau kamu terus begini memperlakukan rakyat, besok lusa kamu-pun akan kena juga seperti Kepala Nagari-mu itu! Rakyat kalau sudah mempertaruhkan jiwanya, tak ada rasa takut lagi, ketahuilah itu", katanya. Dan kata orang-orang pula, kepala penyiksa itu mendengar kata-kata yang tak terduga itu, lalu menghentikan penyiksaannya.

Pemeriksaan berjalan alot dan tak selesai-selesai. Bahkan antara pemeriksa dan kepala resersi serta informan, dan sebagian tentara dan polisi, pada punya pendapat masing-masing, samasekali tidak satu lagi. Bahkan sudah mulai ada yang berpendapat, kalau keterlaluan kejamnya kepada rakyat, keterlaluan dahsyatnya korupsi, menipu rakyat, ya begitu itulah jadinya. Lalu ada pula yang berpendapat, pohon besar sangat sulit digoyang, sebelum besar sangat lebih baiklah ditebang! Lalu ada pula kelanjutan cerita tentang itu, kalau-pun sulit juga ditebang, tumbangkanlah sampai akar-akarnya, agar bersih ladang kita, agar kita leluasa bertanam.

Katanya pula orang-orang yang tertangkap itu banyak juga yang sebelumnya punya persoalan dengan Kepala Nagari mengenai pembebasan tanahnya yang tak pernah dibayar-bayar itu. Dan samapi kini mereka yang ratusan orang itu berkelayaban kemana-mana karena tak punya rumah dan tak punya tanah, bahkan ada yang hidupnya sudah bagaikan pengemis, hanya mengharapkan belaskasihan orang. Mengingat ini semua, tidak sedikit orang-orang yang merasa agak puas, sebab katanya, sumber kejahatan tingkat Nagari, sudah ditebang . Tetapi tidak sedikit orang berpikir, lalu apa lagi sesudah itu? Tetapi ada juga yang hanya dari segi terjadinya pembunuhan terhadapKepala Nagari itu. Hebat juga ya, kata sebagian orang. Kepala Nagari itu mati dibakar di rumahnya, di dalam harta kekayaannya sendiri yang selama bertahun-tahun dikumpulkannya sebagai hasil pemerasan terhadap rakyat. Ada pula yang mengatakan, akh, perbuatan begini belum terpuji! Tetapi ada pula yang menjawab, memangnya perbuatan yang bagaimana kalau mau dapat pujian?!

Ada banyak orang yang merasa puas, seakan-akan dendam dan kebenciannya sudah terwakili terhadap Kepala Nagari yang sangat terkenal kejahatannya itu, Ada yang menentang, bukan begitu caranya kalau mau memperjuangkan keadilan! Ada pula yang berkata, hah, menunggu - menunggu, kapan datangnya?! Pokoknya penduduk dan rakyat kota kecil yang dikepalai Kepala Nagari yang dibunuh penduduknya itu, saling mengemukakan pendapat yang belum satu. Tetapi yang baru satu adalah Kepala Nagari yang dulu sangat kejam, jahat dan sangat menindas rakyat itu, sudah tergoyang dan sudah ditebang,-

-----------------------000------------------------

Almere - Holland 12 November 2000,-

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2000 Webmaster
Last Update on 12.11.2000