Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI ( 219 )

(Sedikit Tentang Bang Amat dan si Simon)

Bagian Satu

Thu, 22 Feb 2001 05:02:33 -0800

Kami adik-adiknya semua memanggil Bang Amat. Ada asal mulanya. Nama sebenarnya adalah Achmad, lalu digandengkan dengan nama ayah, menjadi Achmad Aidit. Nama ayah adalah Abdullah Aidit. Ingat pakai t bukan d. Yang pakai d, adalah peranakan Arab, saudagar b atik dari Solo, berasal dari Partai Masyumi. Yang lucunya lagi, dua-dua Aidit yang pakai t dan yang pakai d ini, menginap di satu kamar, di Hotel Centraal, yang kini menjadi Sriwijaya di Jalan Citadel yang kini menjadi Jalan Nusantara. Kebetulan pula dua- duanya anggota Parlemen ( RIS ketika itu, yang nantinya menjadi DPR-gotongroyong ), Yang satu yang berhuruf d ujungnya adalah dari Partai Masyumi, sedangkan ayah saya non-partai, mewakili daerah Belitung dan juga sebagai golongan Angkatan 45,- Ini kucerit akan tentang kejadian di tahun 1950.

Karena di Belitung ketika zaman kami dulu itu belum ada sekolah lanjutan, SMP atau yang setingkatnya, maka bila kami sudah tamat SD atau HIS ( Hollands Inlands School ) harus ke Batavia buat melanjutkan sekolah. Begitulah Bang Amat harus ke Batavia pada t ahun 1936, diantarkan oleh ayah dan pamannya. Satu-satu kami secara bergilir harus meninggalkan kampung kami Belitung bila sudah menamatkan SD atau HIS-nya. Ketika menjelang umur dewasanya, Bang Amat mengirim surat permohonan kepada ayah, agar dia diizink an mengubah namanya, dari Achmad Aidit menjadi DN Aidit. DN artinya Dipo Nusantara, menjadi Dipo Nusantara Aidit, disingkat DN Aidit. Dan ayah samasekali tidak berkeberatan dan mengizinkan anak sulungnya itu menggunakan nama yang dipilihnya sendiri. Dalam surat menyurat serta surat tanda keizinan ayah, kami semua pernah membacanya. Tetapi tak seorangpun diantara kami yang menyebut dan memanggil dia dengan nama baru ini. Karena terlalu panjang, terlalu sulit menyebutkannya. Bayangkan kalau kami panggil, Ba ng Dipo Nusantara, kan nggak enak rasanya. Mendingan tetap saja panggil Bang Amat, praktis dan merakyat. Dan Bang Amat, memang menggunakan nama barunya itu hanya dalam surat-surat resmi saja. Dalam surat-menyurat keorganisasian dan kepartaian. Sepanjang h idupnya dan sepanjang hidup kami, selalu kami menyebut dan memanggilnya Bang Amat.

Antara Bang Amat dan aku terpaut 11 tahun. Dia lahir Juli 1923 dan aku lahir Juni 1934. Antara dia dan aku ada lagi tiga orang adiknya atau abangku yang lain. Tetapi seorang meninggal ketika masih kecilnya. Ketika aku mula-mula masuk sekolah HIS, bang Ama tlah yang mengurusku, memasukkan sekolahnya dan membawanya ke sekolah. Ketika itu tahun 1940, kepada Meneer Rasid, guruku yang pertama. Bang Amat setiap tahun pulang ke Belitung bila waktu libur - vacantie sekolahan. Ketika bang Amat pulang berlibur, dia sangat jarang di rumah. Selalu saja mencari teman-temannya atau pergi ke pabrik-pabrik pengerukan timah, yang kami namakan EB, Emmer Bagger. Apa yang dikerjakannya? Banyak berbicara dan omong-omong serta menanyakan banyak hal kepada para buruh pertambanga n timah itu. Atau selalu saja dia pergi kepedesaan atau ke pasar-ikan, dan banyak bertemu dan bertanya banyak soal tentang kehidupan para buruh dan pedagang kecil serta nelayan dan petani kecil. Suatu kali bang Amat mengorganisasi sunatan massal di perkam pungan jauh dari kota. Belakangan kami dengar dan kami ketahui, kenduri secara massal ketika sunatan buat anak-anak seumur yang banyaknya 20 orang, sangat banyak menghemat biaya dan murah ongkosnya. Rakyat dan penduduk sekitar situ sangat berterimakasih k epada bang Amat.

Dan berbulan-bulan sesudah itu, banyak sekali anak-anak muda yang mengantarkan hasil bumi kepada kami. Berjenis pisang, singkong, bahkan banyak telur ayam dan ayamnya sekaligus. Ayah dan ibu menolaknya karena terlalu banyak, lebih baik dijual saja di luar . Kami menerimanya hanya sekedar buat dimakan sekeluarga saja. Yang lainnya lebih baik dijual saja. Ketika mereka pulang ke desanya, mereka disangui, dibekali dengan gula - kopi dan minyak kelapa dan juga setiap orang diberi songkok - kupiah, buat mengaji dan sembahyang. Mereka ini anak-anak muda yang ingin menyatakan rasa terimakasihnya kepada bang Amat. Tentu saja ketika itu bang Amat sudah lama kembali ke Batavia lagi. Sebab dia bersekolah, harus kembali pada waktunya. Di Belitung paling lama hanya dua - tiga minggu saja, itupun sudah dianggapnya terlalu lama.

Ketika bang Amat pulang berlibur, ibu dan ayah terkadang sulit sekali mau bertemu dengan bang Amat. Sebab dia sibuk dengan urusannya sendiri. Ke pabrik-lah, ke pantai mendatangi dan bercakap-cakap dengan para nelayan-lah, dan ke pasar ikan, banyak bertany a segala macam urusannya. Belakangan bertahun-tahun kemudian barulah kami agak tahu. Rupanya dan kira-kira bang Amat banyak menyelidiki perihal kehidupan penduduk dan rakyat dengan segala jenis pekerjaannya. Nah, dalam hal ini sangat tidak samanya dengan kami, para adik-adiknya yang lain! Sebab kalau kami pulang berlibur, ya, pulang ya berlibur, main dan hanya main saja! Tetapi bang Amat tampaknya mempunyai penugasan terhadap dirinya sendiri. Orang kampung selalu akan bertanya, kapan lagi si Amat pulang b erliburnya, kapan lagi datang ke rumah kami, ngobrol dan makan di rumah kami. Kalau bukannya si Amat yang membuatkan kandang ayam dan mengeduk tali-air di belakang rumah kami itu, entah bagaimanalah gerangannya sekarang. Belasan ekor ayam selalu tidur di atas pohon. Dan tali-air itu karena butek, cetek, kalau hujan deras akan selalu banjir. Dan si Amat yang mengajak kami ramai-ramai buat mengerjakannya. Betapa baiknya dan pandainya si Amat itu. Ada-ada saja yang dia kerjakan yang meringankan kehidupan kam i,- demikian kata-kata orang kampung kami memuji bang Amat. Sedangkan kami ini, adik-adiknya tak satupun mendapat pujian seperti bang Amat. Sebab yang kami kerjakan hanya main dan main, dan bersenang-senang saja sepanjang liburan itu.

Bang Amat selalu mengerjakan suatu pekerjaan yang sifatnya umum, digunakan oleh orang ramai. Dan berguna bagi penduduk dan rakyat setempat. Pikiran dan kehidupan sehari-harinya selalu yang sifatnya buat kepentingan orang ramai. Sehingga orang ramai itu me rasakan kedatangan bang Amat selalu berguna bagi mereka. Sedangkan kedatangan kami tak ada apa-apanya bagi mereka, ya, seperti halnya orang-orang biasa saja. Inilah lainnya dan berbedanya antara kami dan bang Amat. Padahal ketika itu umurnya sama dengan k ami ketika kami juga hanya bermain dan bersenang-senang saja, sama-sama berumur menjelang 17 sampai 18 tahun. Belakangan barulah kami tahu, rupanya bang Amat belajar dan membuat catatan-catatan tertentu tentang nilai-lebih misalnya, tentang adanya penghis apan, dan sangat pincangnya antara gaji penduduk biasa dan orang Belanda, padahal sama-sama punya diploma yang sama pula. Dua orang pegawai bekerja di suatu perusahaan, GMB - Gemeenshapee Maatschapij Billiton, sama-sama lulusan HIS. Yang satu orang Beland a dan yang satu orang Indonesia, dan dua orang ini adalah teman baik dalam sekolahnya. Tetapi gaji orang Belanda itu berkali lipat lebih tinggi dari gaji orang Indonesia. Masalah ini dipersoalkan bang Amat kepada teman-teman buruh pertambangan timah di si tu. Dan para buruh lainnya dengan agak heran dan terngaga menyedari adanya perbedan dan penghisapan.

Semua ini diungkap oleh banga Amat dan menjadi catatan buat selanjutnya, ternyata banyak gunanya dalam pelajaran yang didalaminya. Pada akhirnya juga menjadi bahan penting buat pekerjaan di dalam kepartaian yang dijabatnya. Dengan demikian sudah ada mulai nya kontradiksi yang menonjol. Majikan di kantor itu sangat tidak suka kalau bang Amat datang dan banyak tanya ini itu kepada para buruh. Sedangkan para buruh sangat menyenangi dan menyanyangi bang Amat. Mereka merasa diperhatikan, merasa terangkat harkat nya. Semua ini kami ketahui jauh sesudah itu. Karena perilaku kami sendiri juga jauh dari perbuatan dan perilaku bang Amat. Dan jauh juga sesudah itu, aku sendiri meneropong diriku. Tidaklah aku akan dapat sama dengannya! Dan lagi bang Amat itu sejak muda dan kecilnya sangat lain dari kami orang-orang biasa ini. Pikirannya maju jauh ke depan, selalu buat kepentingan orang banyak. Sedangkan kami rasanya hanyalah orang-orang biasa saja. Kalau sekarang dapat dikatakan, dia itu betul-betul orang politik dan b erpahamkan politik tertentu yang sangat setia dianutnya. Sedangkan aku dan kami adik-adiknya, barangkali kalau mau dikatakan murid-muridnya, adalah murid-murid yang takkan pernah lulus!

-----------------------22 Febr 2001---------------------------

----- End of forwarded message from Simon Sobron -----

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2001 Webmaster
Last Update on 01.03.2001