Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI ( 220 )

(Sedikit Tentang Bang Amat dan si Simon)

Bagian Dua

Thu, 22 Feb 2001 09:03:27 -0800

Aku belum pernah tinggal bersama bang Amat. Tetapi di manapun dia berdiam, aku selalu tahu di mana rumahnya. Tampaknya tidak semua orang tahu di mana rumahnya ketika itu. Termasuk keluarganya sendiri. Rasanya dia memang benar-benar mempercayaiku. Dan keti ka masa-masa krisis dulu itu, antara 1950 - 1952, di mana ketika itu diadakan razzia besar-besaran, Razzia Agustus, bang Amat termasuk dicari dan mau ditangkap. Bang Amat menghilang entah ke mana, dan suratkabar serta berita juga memberitakan bahwa bang Amat hilang. Lalu belakangan dikatakan, bahwa bang Amat baru kembali dari Tiongkok dan Vietnam. Pengumuman ini maksudnya agar pemerintah ketika itu tahu bahwa dalam pada itu memang benar bang Amat "melarikan diri". Pemerintah ketika itu adalah Pemerintah Sukiman, dari Masyumi.

Sebenarnya ketika masa-masa krisis dan razzia tersebut, bang Amat ada di Jakarta. Tetapi selalu berpindah dan menyamarkan diri. Beberapa malam sekali dia selalu mengetok pintu kamarku di Matraman Raya nomor sekian. Akhirnya rumah itu diambil dan ditempati oleh Damri. Cara masuk dan mengetok pintu kamarku, memang sudah saling ada pengertian antara kami berdua. Aku tahu kode ketokan bang Amat atas kamarku. Dan kami tak pernah salah cara. Kalau salah cara, alamat akan habislah ceritanya. Dalam buku cerita RA ZZIA AGUSTUS sudah kuceritakan pengalaman kami berdua ini. Ada kekhususan rumah bang Amat. Dia dengan keluarganya yang baru punya anak satu-dua ketika itu, selalu mencari atau bertempattinggal dekat mesjid atau surau ( langgar ). Kenapa kira-kira aku dipe rcayakannya buat mengetahui rumahnya di manapun? Yang pertama dia memang punya kepercayaan padaku, dan yang kedua dan seterusnya, banyak sekali surat-menyurat yang di alamatkan ke rumahku, yang ketika itu masih di Oud Gondangdia Binnen, atau Gondangdia La ma Dalam nomor sekian. Aku punya kamar sendiri di Gondangdia jauh sebelum razzia Agustus. Dan surat-menyurat ini harus kuantarkan dan kubawa ke rumahnya, jauh diujung Jakarta, melalui semak-semak dan kali Sunter! Rumah itu dikelilingi hutan kecil dan pepohonan, termasuk pohon bambu.

Ada juga beberapa surat yang dimintanya agar aku membukanya, dan kalau sangat penting, ketika itu juga harus kuantarkan ke rumahnya yang jauhnya minta ampun. Surat-surat itu dari siapa-siapa sudah dipesankannya padaku. Dan nama-nama siapa juga sudah ada t anda boleh dibuka dan kalau sangat penting ketika itu juga segera diantarkan kepadanya. Masih ingat aku, ada surat dari Aarons, Sekjen Partai Komunis Australia. Surat ini tidak boleh dibuka, tetapi adalah surat yang sangat penting. Karenanya aku segera me ngantarkannya. Lalu surat dari Chairul Saleh dari Jerman. Sebab Chairul Saleh ketika itu "dalam pembuangan dan pengasingan di Jerman". Lalu surat dari Wikana. Dan ada lagi nama-nama penting lainnya. Semua harus kujaga baik-baik, dan harus segera diantarka n kepadanya. Dia sendiri dalam pengejaran pemerintah buat ditangkap dan dipenjara, bahkan bukannya tidak mungkin mau dihabisi.

Sekali-sekali ada juga terlihat padaku, dia sedang berjalan dan menyeberang atau bahkan naik trem. Dia mendelikkan matanya agar aku jangan sampai menegur dia di tengah umum begitu. Dia sedang dalam penyamaran. Karena badannya ini lebih kecil dari kami sem ua adik-adiknya, walaupun gempal dan tegap, penyamarannya sangat bagus. Sebab menurutku badannya adalah badan rakyat biasa, rakyat kebanyakan. Sedangkan aku ini misalnya punya perawakan badan si kapitalis! Jadi cukup sulit untuk memastikan orang yang tadi itu adalah bang Amat. Aku tahu benar penyamarannya, karena memang mengenalnya dengan baik. Lagipula ketika dia masuk kamarku malam-malam dan ditengah malam, dia dalam berpakaian penyamaran, Dengan kacamata tuanya, agak jenggotan, lalu berjalan dengan ton gkat seperti Arab mendering, tukang tagih hutang.

Jauh sesudah itu aku pernah berpikir. Aku tahu di mana rumahnya. Aku tahu di mana gerak-gerik penyamarannya, dan di mana saja ketika dia perlu bertemu denganku atau ketika menginap di rumahku. Ketika itu aku tidak begitu merasa takut dan kuatir. Tetapi se telah kupikirkan sekarang ini, betapa bahayanya hidupku, hidup kami. Sebab seandainya penguasa menangkapku lalu menekan dengan menyiksaku, atau menculik buat membunuhku agar aku berterusterang di mana si Amat yang DN itu, dapatkah kujamin bahwa aku akan k uat menahan penyiksaan? Dapatkah, tahankah? Seperti akhirnya terjadi dengan banyak penculikan dan penyiksaan yang dilakukan zaman penguasa Orba dengan kopassus-nya terhadap beberapa aktivis pada tahun-tahun yang lalu. Mengingat semua ini, malah sekarangla h timbul rasa agak gentar dan takutnya. Ketika dulu itu, pada umurku 17 dan 18 tahun, aku rasanya tak punya rasa takut ini takut itu. Dan aku tahu betul bagaimana bahaya dan fatalnya seandainya penguasa militer menyiksaku demi agar aku mengatakan di mana rumah bang Amat, dan di mana kalau mau ketemu lalu menangkapnya. Tetapi ketika sekitar kejadian itu, memang banyak bang Amat "mempersenjataiku" secara ideologis. Bahwa gerakan yang dilakukannya adalah demi kebaikan dan kemenangan rakyat jelata. Dan kalau sekiranya aku "berkhianat" itu artinya tidak hanya berkhianat kepada keluarga sendiri, tetapi juga mengkhianati perjuangan rakyat jelata, rakyat yang luas. Semua kata-kata dan pesan bang Amat kucamkan benar. Dan kami biasanya ada waktu dan jam-jam tertent u yang bicara dari hati ke hati sebagai orang abang-adik yang senasib sepenanggungan. Kukira jauh sesudah itu aku menyedarinya dengan sangat, bahwa aku sendiri harus kuat, harus tahan dan harus teguh. Ini masalah jiwa bang Amat, jiwaku, jiwa kami rakyat y ang sangat luas dan banyak.

Faktor-faktor inilah yang kukira mengapa bang Amat begitu mempercayaiku. Ada rasa tanggungjawab yang dilihat dan didalaminya pada diriku. Kalau bang Amat ngomong, bercakap denganku berdekatan, berhadapan, matanya begitu cemerlang, begitu tajam dan dalam, tetapi penuh rasa mempercayai dan menaruhkan beban yang walaupun berat, seakan berkata " kau pikullah sekuat dan sedapatnya. Belajarlah bertanggungjawab dan mencintai pekerjaan dan perjuangan. Setia kepada cita-cita luhur kemanusiaan sejati",- Mata bang Amat sangat terang dan menghunjam bila melihat dan berhadapan dengan kita. Tetapi samasekali bukan dalam pengertian menakutkan. Ketajaman dan hunjaman itu menandakan dia sangat serius berhadapan dengan kita. Sehingga kita sendiri akan membalasnya yang jug a harus serius, harus sungguh-sungguh. Sering antara kami berdua, tanpa dialog, tetapi antara mata memesankan suatu titipan pesan kehidupan. Aku sangat mengetahui bahwa sebenarnya dia sangat sayang kepadaku. Tetapi yang dia tuntut padaku, terlalu berat bu at kupikul. Dan aku sendiri tidak punya kesanggupan buat memikul kewajiban dan pesan-pesannya yang begitu berat dan mulia. Dan nanti pada akhirnya, dia akan tahu, dan kamipun saling tahu, bahwa pesan kehidupan yang mau dia titipkan itu, tidak mungkin menu ruti apa rencana dalam hati dan jiwanya. Semua itu ada bagian-bagian dalam pembagian pekerjaan tugasnya, dan yang sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan dirinya masing-masing. Juga haruslah memperhatikan kesesuaian dan kesenangan pribadi orang perorang. Bang Amat begitu keras, begitu kukuh, begitu setia dengan paham yang dianutnya. Dan yang begini ini, kami adik-adiknya menurut pengamatanku adalah murid-muridnya yang takkan lulus, kalaupun lulus hanyalah dengan angka sangat minimum,-

-----------------------22 Febr 2001---------------------------

----- End of forwarded message from Simon Sobron -----

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2001 Webmaster
Last Update on 01.03.2001