Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru



KOLOM SOBRON AIDIT


KISAH SERBA-SERBI ( 221 )

(Sedikit Tentang Bang Amat dan si Simon)

Bagian Tiga

Thu, 22 Feb 2001 12:09:02 -0800

Ada hari-harinya yang begitu kritis dan nyaris. Ketika aku sudah bersiap-siap buat keberangkatan besok menuju haven drie, pelabuhan tiga di Tanjungpriok, mencari kapal yang bernama TAHU LANDANG, sebuah perusahaan SMN. SMN adalah Stoomvaart Maatschappij Ne derland. Sore itu aku diminta menemui seseorang yang katanya dari Belitung, ada pesan dan titipan buatku. Tentu saja asal apa saja dari Belitung, tentulah akan segera kuurus. Tetapi kata orang yang menjemputku itu, malam itu aku harus menginap dekat kampu ng Sunter yang jauhnya minta ampun. Dekat hutan semak-semak diujung Kemayoran. Aku mengadakn perjanjian dengan orang itu agar malam nanti aku dikembalikan ke rumah, sebab keesokan paginya aku akan berangkat ke Amerika Serikat ikut dan bekerja di kapal yan g lijnnya ke Afrika dan Amerika Serikat. Tetapi orang itu mengatakan bawalah semua perlengkapan agar seandainya terlalu kemalaman, keesokan paginya bisa langsung berangkat ke Tanjungpriok lewat Stasiun Kemayoran. Setelah kupikir-pikir baik juga, siapa tah u tak sempat lagi pulang, lalu bisa segera berangkat ke haven drie dan berlayar ke Amerika Serikat.

Aku sudah diterima bekerja sebagai cabin-boy di kapal Tahulandang itu, dengan sedikit berbohong bahwa aku sudah berumur 17 tahun. Untunglah perawakan badanku agak tinggi dan besar, sehingga dipercayai kalau umurku sudah 17 tahun. Padahal umurku ketika itu baru saja 15 tahun. Ketika itu bukan main gembiranya akan bekerja sebagai cabin-boy di sebuah kapal Belanda yang akan menuju Amerika Serikat. Dalam perasaanku karena akan bekerja di sebuah kapal dengan pangkat cabin-boy, bukan main kerennya, hebatnya. Te tapi belakangan barulah aku tahu, bahwa cabin-boy itu tidak lebih dari seorang jongos, pesuruh dan pembersih, tukangsapu! Sebelum itu bukan main bangganya dengan pangkat cabin-boy.

Dan sesampainya di sebuah rumah di ujung Sunter lebih jauh lagi dari Kemayoran, yang setengah hutan itu, ternyata aku ini sebenarnya diculik. Orang yang menculiknya itu adalah bang Amat, melalui iparnya Mas Gandi. Gandi sama-sama tinggal denganku di Gonda ngia Lama Dalam. Semua gerak-gerikku rupanya dia laporkan kepada bang Amat. Ketika itu aku belum tahu bahwa bang Amat ada di Jakarta, dan berhubungan pula dengan Mas Gandi. Selama ini bang Amat ada di Solo dalam penjara dan akan segera ditembak. Tetapi da pat melarikan diri ke Jakarta. Dengan demikian bang Amat tahu benar bahwa aku akan berangkat dengan kapal Tahulandang ke Amerika Serikat keesokan harinya. Rupanya segera mereka bertindak buat menculikku sebelum terlambat, jangan sampai aku berangkat ke AS .

Dan ketika di Sunter itulah bang Amat memelukku erat-erat, karena kami tidak pernah bertemu selama 9 tahun. Dan dia memperhatikan wajahku dalam-dalam, membelai rambutku, memeluk sayang diriku. Tetapi angin sepoi basa dan kemesraan yang menyejukkan itu ter nyata tidak lama. Setelah dia menanyaiku dan lalu memeriksa perlengkapanku buat keberangkatan keesokan harinya, di mana semua surat-surat sudah beres dan aku sudah diterima secara sah dan resmi buat bekerja di sebuah kapal yang akan ke AS itu, kulihat mat anya agak merah. Dan tampak wajahnya menahan kemarahan. Angin sakal apa ini. Ternyata maksud dan niatku buat "merantau" ke AS sangat ditentangnya. Bercita-cita ke AS pula, musuh bebuyutannya sebagai kepala dan mbahnya imperialis. Dan matilah aku! Diperiksanya semua bawaanku. Di dalam itu ada benda dan barang yang sangat rahasia. Ada kemenyan dan kertas-kertas jampi dan obat pelet! Buat memelet wanita! Dan rokok klembak menyan buat "menundukkan orang" termasuk wanita yang kita sukai. Padahal semua "peralat an barang rahasia" ini kami dapatkan di Cirebon dekat perumahan dan pemakaman Sultan Gunung Jati! Untuk semua itu, ada janjinya, kami tidak boleh lewat di sebuah jalan persis di tengah kota Cirebon. Jalan itu namanya Karang Getas!

Melihat dan mendengarkan ceritaku semuanya, dia menggelengkan kepala, dan airmukanya merengut dan sangat tidak gembira. Tampaknya kesal dan sedih, mengapa sampai adiknya ini begini ini.

"Kau ini betul-betul kuno! Kau ini betul-betul terperosok jatuh ke lembah yang dalam kubangan segala takhyul. Percaya mistik yang tidak keruan!', katanya dengan suara keras agak membentak. Dan aku menangis, hanya bisa menangis. Tangisku semakin keras sete lah semua surat-surat resmi yang menyatakan aku diterima bekerja di kapal Tahulandang itu, dirobeknya halus-halus, lumat. Dan aku segera dibawanya keluar rumah, dan beberapa meter dari rumah yang suasananya sangat gelap, menakutkan. Dia sambil memegang be berapa botol dan bungkusan pelet, menyan dan klembak, dijadikan satu. Lalu melemparkannya keras-keras dan jauh-jauh ke arah sungai Sunter. Masih kudengar suara "nyemplung" plung, plung bunyi botol berjatuhan di sungai Sunter. Dalam hatiku, maka habislah r iwayat petualanganku yang bercita-cita mau ke AS.

Malam itu aku menangis sejadi-jadinya. Tetapi dia tidur didekatku, terkadang membujuk dan merayuku agar jangan nangis lagi. Sudahilah petualangan bodohmu itu, demikian katanya. Dan besok, katanya pula, kau harus mulai dari nol buat menjadi manusia baru. Bersekolah, teruskan sekolahmu. Kalau kau jadi ke AS, alamat kau bisa jadi bajingan tengik,- demikian katanya. Dan aku hanya menganggukkan kepala saja secara terpaksa. Dan benarlah keesokan harinya aku dibawa oleh Pak Iskandar Subekti ke Taman Siswa di ja lan Garuda 25 yang tak sangat jauh letaknya dengan rumah bang Amat. Iskandar Subekti turut mendirikan Taman Madya Taman Siswa bersama Pak Said. Pada peristiwa gelap sejarah bangsa, Pak Iskandar dijatuhi hukuman mati. Kalau tak salah, dia meninggal di pen jara. Pak Iskandar adalah salah seorang pimpinan biro luarnegeri CC PKI. Dan aku bersekolah dengan baik, dan menamatkan Taman Madya Taman Siswa selama 6 tahun di Taman Siswa.

Kulihat dan kurasakan bang Amat turut gembira ketika tahu dan mendengar bahwa aku tampaknya memang mau menjadi orang! Dalam hatiku, seandainya dulu itu jadi bekerja di kapal Tahulandang SMN yang ke AS, tak tahulah bagaimana akhirnya hidupku. Sekolah tidak belajar tidak, hanya sebagai jongos di sebuah kapal yang akan ke AS pula dan dia tahu pula bahwa aku tergila-gila dengan apa saja yang berbau Amerika! Maka komplitlah kebencian dan kekecewaannya padaku. Aku tahu benar dan merasakan benar bahwa dia pada a khirnya bergembira mengetahui dan mendengar adiknya cukup lumayan dalam belajar. Dan lagi dia tanyakan langsung kepada Pak Iskandar dan Pak Said bagaimana si simon itu. Merekapun tampaknya juga bergembira, karena kami beberapa anak muda sangat aktif berge rak dalam organisasi PPTS, Persatuan Pelajar Taman Siswa.

Rumah bang Amat ketika itu sudah pindah ke Galur dekat Senen. Rumah ini dulunya adalah rumah Pak Sakir, Ir Sakirman, anggota parlemen. Dan setelah aku meningkat menjadi mahasiswa di Fakuktas Sastra jurusan Tionghoa, Sinologie, hubunganku dengan bang Amat juga meningkat. Tidak lagi dia menganggapku anak kecil, adiknya yang belum tahu apa-apa. Dan beberapa tahun sebelum itu sudah mulai banyak namaku disebut-sebut diberbagai majalah dan harian kebudayaan. Karena ada tulisan dan karanganku. Semua ini dilihatn ya dan dibacanya. Tetapi bang Amat tidak pernah memperlihatkan rasa gembira dan bangga yang melonjak-lonjak. Tidak pernah memuji yang sifatnya sangat tinggi, atau berlebihan. Sebab menurut filsafatnya, ya, sudah seharusnya begitu! Harus mencipta, harus me nulis, harus berbuat bagi kemajuan dan kepentingan orang banyak. Apa anehnya dan apa kelebihannya. Semua ini buat membebaskan rakyat luas, dan kini belum bebas. Perjuangan dan pekerjaan kita masih begitu banyak dan berjibun. Kita semua ini masih berhutang kepada revolusi, dan itu harus dibayar! Bagaimana membayarnya? Harus bekerja baik-baik, jujur dan sepenuh hati buat kepentingan rakyat yang luas.

Jadi bagi bang Amat prestasi apapun sebenarnya harus dianggap sudah seharusnya begitu. Kita ini pengabdi rakyat, dan rakyat masih begitu banyak yang miskin, hidup selalu dalam kekurangan. Selalu ditimpa ketidakadilan, selalu mengalami penindasan. Maka ras a bangga apa yang harus kita peluk-peluk dan kunyah-kunyah, kalau sampai kini belum bisa membebaskan rakyat yang luas ini. Demikian kira-kira pandangan bang Amat yang bisa kutangkap selama berjam-jam kami bicara berdua selama ini,-

-----------------------22 Febr 2001---------------------------

----- End of forwarded message from Simon Sobron -----

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2001 Webmaster
Last Update on 01.03.2001