Pakorba
Silahkan Logo Pakorba di-klik

Serba - Serbi sekitar TAP MPR No. XXV/1966

Related Articles : Tempo Interaktiv






Hersri Setiawan: Sekitar G30S (2/2)
(Sebuah Renungan Pribadi) - 2.

Dipersona-non-grata pemerintah Ceylon (sekarang Sri Langka) dalam tempo dua kali 24 jam, saya tinggalkan Sélong pulau pembuangan pemberontak Jawa itu, dan tiba kembali di Jakarta pada 24 Agustus 1965. Belum lima tahun Tanahair saya tinggalkan. Saya kembali dan pangling. Melihat kebesaran PKI, dan merasai keperlentean Lekra. Tetapi belum sepuluh hari sesudah 1 Oktober 1965, gedung SPP Lekra di Jalan Cidurian 19 Jakarta, sudah berubah menjadi tempat berbahaya. Sejak ketika itu saya sadar. Teman-teman sudah ditangkapi. Malah ada yang sudah diberitakan hilang atau dibunuh. Maka giliran saya pun tinggal soal waktu. Setiap saat saya pasti akan ditangkap penguasa. Siap ditangkap berarti juga siap menghadapi segala macam tindakan ikutannya. Karena saya juga sadar, bahwa setiap kekuasaan negara mempunyai berbagai macam alat pemaksa. Di antara alat-alat pemaksa itu antara lain berupa alat penyetrum, cambuk ekor ikan pari, kerjapaksa, penjara, pembuangan dan bahkan peluru. Dengan kesadaran demikianlah, maka semua konsekuensi akan (dan sekarang sudah) saya hadapi dengan jiwa sumèlèh. Bukan fatal atau pasrah nasib, tetapi sadar dan tenteram. Karena itulah kenyataan tentang konsekuensi "orang kalah". Hidup dalam isolasi lalu saya hayati seperti memasuki masa tirakat atau retret. Justru itulah saat-saat yang paling leluasa buat - istilah kami para tapol - "muter film". Maksudnya, katakanlah, mawas diri. Merenungi kembali segala jejak langkah masa lalu, mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi bukan terhadap pendirian dan sikap politik. Karena masalah pendirian dan sikap politik adalah masalah keyakinan seseorang pada kebenaran ideologi dan politik yang dianutnya.

Dengan penghayatan demikian hati menjadi sumèlèh, bisa mengerti dan menerima, bahwa dirinya dijebloskan di penjara atau dibuang sebagai tapol. Tetapi pemenjaraan atau pembuangan itu sama sekali terlepas dari soal moral dan etika, atau benar dan salah, melainkan soal kalah dan menang. Dengan kesadaran demikianlah, maka menjadi tapol atau e-t yang dipariakan pergaulan umum, tidak usah menjadi beban mental dan fisik yang bisa menghancurkan diri sendiri. Tetapi juga tidak usah dipakai sebagai modal mohon-mohon belas kasihan orang!

Peristiwa G30S adalah sebuah tragedi yang tragis. Tetapi tragedi yang lebih tragis lagi ialah rangkaian dampak kejadian-kejadian yang menyusul peristiwa itu an sich. Orde Baru, yang dibangun dan dibela dengan menghalalkan segala cara oleh Suharto cum suis, adalah orde jahiliah. Orde jahiliah membuahkan apa lagi jika bukan kejahiliahan. Buah apel tidak akan jatuh jauh dari batangnya, kata pepatah. Maka bagi saya kejahatan Suharto dan kliknya bukan hanya ulah KKN-nya, pencolengan uang rakyat yang berjumlah milyardan, pembunuhan orang-orang yang tak terbilang banyaknya - terbatas kurban epilog G30S saja, menurut Sarwo Edhi tak kurang dari tiga setengah juta (sekali lagi: tiga setengah juta), bandingkan dengan satu ekor tikus di tangan saya! Tetapi barangkali di situlah perbedaan antara tentara dan sipil. Bagi tentara nyawa orang itu di ujung senapang, sedang bagi sipil nyawa ada di ujung nafas. Dan kita semua tahu dan mengerti, bagaimana senapang dibikin dan diperoleh; sementara itu kita pun tahu dan mengerti, bagaimana nafas kehidupan dibikin dan diperoleh. Selain semua kejahatannya itu, masih ada satu lagi kejahatan Suharto dkk yang lebih dari jahat.Yaitu bahwa mereka telah membikin bangsa Indonesia menjadi satu bangsa yang (meminjam ungkapan Bung Karno) berjiwa kintel. Kintel ialah jenis kodok kecil, berwarna abu-abu, jika sedikit tersentuh segera menggelembungkan diri sebagai kamuflase. Bangsa kintel ialah bangsa yang bodoh dan tidak punya nyali.

Pulang dari kunjungan lima minggu ke Indonesia Ken Setiawan menulis sebuah artikel5. Kecil artikel itu, tetapi mengguncang pikiran saya dengan "skala Richter" yang besar. Mula bukanya ia mendapat sehelai selebaran dari mahasiswa Muhammadiyah Jakarta. Kecil format kertas selebaran itu. Tapi rupanya juga besar guncangan skala Richternya bagi rasa tanggungjawab sejarah dan rasa keadilan dalam sanubari Ken. Isinya tentang deretan dosa-dosa Suharto. Tetapi, anehnya, tidak ada kata sepatah tentang Buru. Para mahasiswa pengedar selebaran itu, jika tidak lebih tua pastilah paling sedikit berumur sama dengan Ken. Artinya, ketika peristiwa maha tragis G30S terjadi, mereka jauh belum lahir. Tetapi jawaban bahwa mereka tidak tahu atau sudah lupa tentang peristiwa itu, sama bodohnya dengan ketidak-tahuan dan kelupaan mereka itu sendiri. Inilah contoh terang tentang gejala pengkintelan bangsa, yang berhasil dibangun Orde Baru di atas danau darah dan airmata peradaban.

Ada seorang teman baik saya di satu kota di Jawa. Ia pemimpin LSM dan pengarang (dari "angkatan 80-an", kalau boleh saya katakan) yang sudah menerbitkan banyak buku karangannya. Sesudah membaca artikel saya tentang lagu Genjer-Genjer" dan "Hidup di Bui" ia berkomentar. Bukan tentang pokok soalnya, yaitu dua lagu tersebut, tetapi tentang latar belakang sosio-historis ketika lagu-lagu itu lahir. Katanya: Aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi ketika itu. Yang kuingat sampai sekarang hanya cerita tentang kekejaman-kekejaman yang mengerikan ...

Tidak tahu atau lupa! Kalau tidak tahu berarti ada satu proses ketika, pada satu pihak, fakta sebagai pesan digelapkan; dan, pada lain pihak, satu proses ketika fakta sebagai wacana dipalsukan. Kalau lupa berarti ada satu proses, ketika ingatan masyarakat secara terorganisasi telah dikorup. Untuk itu tentu saja harus ada satu proses yang mendahului, yaitu ketika situasi kehidupan lahir batin masyarakat direkayasa sebegitu rupa, sehingga menjadi sama sekali bergantung pada kekuasaan, dan memungkinkan semuanya terjadi seperti dengan sendirinya. Suharto lalu seperti membawa tongkat sihir, bimsalabim: Karena Orde Baru dengan sendirinya Golkar. Karena Golkar dengan sendirinya ABRI. Karena ABRI dengan sendiri di atas hukum dst. Karena Pancasila dengan sendirinya anti-oposisi. Karena oposisi dengan sendirinya Komunis. Karena Komunis dengan sendirinya tumpas habis ... dst.

Tetapi bukan hanya para mahasiswa Muhammadiyah yang dijumpai Ken, atau pengarang muda dan pemimpin LSM sahabat saya itu saja, yang tidak tahu. Memang tidak tahu, tidak mau tahu, pura-pura tidak tahu, atau - inilah yang tragis: takut untuk tahu. Juga banyak kalangan ilmuwan, tragisnya juga ilmuwan sejarah; kalangan penggiat yang gembar-gembor dengan HAM, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Akhir-akhir ini saja, sesudah Suharto dan Habibi jatuh, orang mulai berebut mencari nyali dan angkat bicara.

Mengapa selama ini tutup mulut? Apakah karena yang dibunuh dan ditindas orang-orang "komunis"? Saya lalu teringat cerita alm. Romo YB Mangunwijaya ketika diinterogasi Kodam V Diponegoro perkara Kedungombo. Romo almarhum diperingatkan, bahwa di belakang para pembangkang Kedungombo itu ini-itu ini-itu, pendeknya orang-orang yang tidak bersih lingkungan. Romo menjawab dengan sepatah pertanyaan oratoris, katanya: "Kalau di tengah jalan anda melihat orang tergeletak, karena ditabrak mobil, apakah sebelum tangan pertolongan anda ulurkan, anda perlu tanya lebih dulu: 'kamu bersih lingkungan tidak?"

Bersih lingkungan! Inilah salah satu bangunan atas bikinan Orde Baru berupa moral dan etika atau akhlak sosial dan politik semu, yang didirikan di atas fondasi Azas Tunggal Pancasila yang juga semu dan, notabene, Pancasila menurut tafsir tunggal ala BP-7 yang berharga mati.

Peristiwa G30S adalah peristiwa politik. Ia berdampak hebat pada seluruh segi kehidupan bangsa. Tetapi yang paling tragis, lebih tragis dari peristiwanya itu sendiri, ialah dampaknya di bidang kebudayaan. Proklamasi kemerdekaan 1945 bukan sekedar seruan pemerdekaan politik. Tetapi juga seruan pemerdekaan kebudayaan. Pemerdekaan dari kebodohan.

Pemerdekaan dari rasa takut. Adalah panjang dan sulit jalan reformasi politik. Tetapi lebih panjang dan sulit lagi jalan reformasi kebudayaan. Namun sejarah tidak berulang, apalagi berjalan mundur. Maka tidak perlu kita bertanya: Quo Vadis?***


_______________________________

1. Ruth Havelaar, 1995:129.
2. Cindy Adams 1966:312
3. Misalnya melalui ajarannya psikoanalisis, yang berdasar pada penemuannya tentang pengaruh ketidaksadaran pada kesadaran.
4. Misalnya melalui teorinya tentang tiga sistem kepribadian yang saling berkaitan, yaitu kesadaran, ketidak-sadaran pribadi, dan ketidak-sadaran kolektif.
5 Ken Setiawan, Vergeten geschiedenis; versi Indonesia, Di Mana Buru? Agustus 2000.

Back to Top ********************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2002 Webmaster
Last Update on October 29th. 2002