Silahkan Logo Pakorba di-klik

Duka Para Korban Orde Baru





Dikutip dari : Oposisi

Keliling Dunia Sebagai Seorang Gerwani

Sorot matanya masih tajam. Terkesan, seorang perempuan yang gigih dan tegar. Siapa lagi kalau bukan, Hartati Rubani. Sosok yang lahir di Purworejo, pada 17 Desember 1972 silam. Di balik performance-nya yang bergitu mandiri, dia menyimpan banyak file gelap tentang pengalaman hidup di bawah bayang-bayang G30S/PKI. Berikut penuturannya kepada wartawan OPOSiSI, Widi Antoro di Klampok, Purwokerto, Jawa Tengah.

DIA pernah dibutu aparat. Karena dugaan terlibat pemberontakan sadis PKI. Kala itu, sekitar tahun `60-an, dia memang menjadi humas Gerwani. Organisasi perempuan yang disebut-sebut pilar utama PKI. "Saat itu, 'kiamatlah' sudah semuanya. Siksaan dan penjara menjadi bagiannya," keluhnya mengenang peristiwa tragis yang menimpa dirinya.

Tatik alias Har ---begitulah ia dipanggil-- mungkin satu-satunya perempuan ndeso dari kampungnya yang berminat besar menjadi seorang organisator ulung. Kebiasaan para perempuan cepat kawin, melayani suami dan beranak, dipelitirnya jauh-jauh. Prinsip hidupnya mandiri. Gelora hatinya kian berkobar-kobar dan makin terpupuk subur ketika berhasil menamatkan pendidikan dasar di Holland Indishe School (HIS) selama 7 tahun. Dan kemudian melanjutkan ke SMP Putri di Solo.

Akibat kekerasan sikapnya inilah, membuat para lelaki hanya berani mendekatinya dari kejauhan saja. Sebab mereka tahu, Har muda nan cantik dan menarik ini tak mudah terpikat dengan segala macam rayuan lelaki yang bisa melunturkan obsesinya. Tentu, ini bukan merupakan implementasi total terhadap gerakan emansipasi, alias persamaan hak. Antara laki-laki dan perempuan. Rupanya, dia juga merasa tidak kalah secara intelektual dengan laki-laki.

Bergerilya adalah aktivitas utamanya. Karena saat itu zaman perjuangan, ia pun ikut berjuang bergerilya dengan masuk Mobile Pelajar dan Pergerakan Pemudi Indonesia (PPI) pada tahun 1947. Bagian logistik adalah tanggung jawabnya. Dia juga aktif di Mobile Pelajar hingga usai perang gerilya yaitu tahun 1950. Atas kebaikan hati pemerintah, ia mendapat beasiswa sebagai bekas pelajar pejuang.

Fisipol

Dia tidak puas dengan SMA Nasional. Ambisinya untuk terus melenggang ke Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tercapai juga. Betapa bahagianya saat-saat sedang menempuh studi itu. Sangat langka kesempatan emas seperti ini. Apalagi ia hanya seorang perempuan. Terlebih waktu itu, diskriminasi terhadap kaum perempuan luar biasa merajalelanya.

Tapi ia berusaha meneguhkan hati bahwa ia akan mampu bersaing dengan kaum laki-laki. Apalagi waktu itu, hanya segelintir orang saja dari kaumnya yang suka dan memilih jurusan Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol). Kalau bukan orang nekat, berarti orang kesasar yang memilih jurusan itu. Lantaran dunia politik sangat identik dengan kaum laki-laki. Tapi Har punya prinsip, maju terus pantang mundur.

Minat yang besar untuk menjadi seorang organisator seolah memang sudah menemui salurannya. Karena di Fisipol sebenarnya adalah gudangnya para aktivis. Har sendiri mengistilahkannya seperti tumbu oleh tutup. Yang artinya, pas dan cocok! Selama menjadi mahasiswa, ia aktif di Gerakan Wanita Indonesia Sedar (GERWIS). Tak ada orang yang tidak mengenal Har dalam organisasi itu. Malahan di kampusnya ia mendapat julukan Bu Lurah. Sebab, ia pandai mengorganisir kawan-kawannya dan menggalang dukungan untuk bergabung dengan organisasinya. GERWIS kian bertambah besar, dan pada tahun 1954 organisasi ini berubah nama menjadi Gerwani yang beranggotakan 60.000-an orang.

Gerwani

Namun sayang, mulusnya minat berorganisasi tidak semulus studinya. Meski ia berusaha berjuang keras untuk bisa menjalani keduanya secara bersama, tak bisa dirinya menolak takdir kalau kuliahnya terpaksa harus berhenti di tengah jalan. Kagol alias kukut dasaran. Karena beasiswa pemerintah yang selama ini menjadi andalannya mendadak macet. Tiba-tiba pemerintah mengumumkan bahwa negara sedang kesulitan dana. Bukan dirinya saja yang terkena imbasnya, tetapi banyak orang juga mengalami nasib serupa. Seperti yang lain, ia pun kelimpungan juga. Kepalang basah, dan kuliah macet di tengah jalan, Har kian total terjun di Gerwani. Malahan pada tahun 1955, karena dedikasinya yang besar ia mendapat tugas untuk kirim sebagai delegasi pemuda pada Festival Pemuda Internasional (International Youth Festival) di Praha Cekoslovakia. Dari situlah ia semakin sadar bahwa minatnya selama ini bukan hanya sekadar angan-angan. Tapi mungkin sudah digariskan bahwa ia memang harus menjalani hidup seperti ini. Kuliah macet tetapi bisa berkeliling dunia. Begitu ia berusaha menghibur diri.

Selepas dari Praha Cekoslovakia, ia mendapat kesempatan melanglang buana ke negara-negara Eropa, seperti Jerman, Perancis, Denmark, Italia, Austria, Finlandia, Swedia, Uni Sovyet dan termasuk China dan Amerika. Har benar-benar merasa menjadi duta bangsa khususnya bagi Gerwani. Gerwani sendiri merasa tidak salah telah memilih Har, karena memang ia sebelumnya pintar bergaul, pandai melihat peluang.

Freelance

Dan satu hal yang membuat dirinya amat menonjol dibandingkan dengan anggota Gerwani yang lain, yaitu kepiawaiannya menggunakan bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang sama baiknya. Tahun 1957, sekembalinya dari 'tour' panjangnya itu, Gerwani kian besar saja. Saat itu, organisasi yang diikutinya ini sudah berkembang sedemikian pesat. Tak tanggung-tangung anggotanya pun kian membengkak menjadi 100.000-an orang lebih. Dan tahun 1965 sudah mencapai lebih kurang 2 jutaan orang.

Rentang waktu yang cukup panjang ini, selain aktif di organisasi, ia juga berusaha menjadi wartawan freelance. Dan tulisannya dikirim ke berbagai media massa dalam dan luar negeri. Berkat kemahirannya menggunakan beberapa bahasa asing --yang sama baiknya dengan bahasa ibunya dan pergaulannya yang luas hingga mancanegara-- membuat beberapa media massa mempunyai halaman khusus untuknya.

Penghasilannya dari menulis ternyata lumayan untuk menyambung hidup. Sebab selain pekerjaan ini, tidak ada pekerjaan lain yang ia merasa bisa saat itu. Malahan sedikit-sedikit dengan bakat alamiahnya ini ia bisa menabung dan membiayai beberapa pengeluaran untuk kepentingan Gerwani. Nasib berubah menjelang tahun ‘50-an usai dan menginjak tahun baru di era ‘60-an hingga 1965, situasi politik tanah air memanas. Suhunya meninggi dan rasanya sulit untuk diturunkan. Terlebih di tahun 1965 situasi politik seperti api dalam sekam. Setiap saat bisa meledak dan baranya tumpah ruah di mana-mana. Diperburuk lagi tanda-tanda kudeta berdarah kian transparan tampak di depan mata.

Gestapu

Sementara gesekan politik dan pertikaian politik antar-Parpol semakin menyeret jauh Gerwani ke dalam pusaran gelap yang membuat seluruh anggotannya diburu oleh massa rakyat yang marah dan pemerintah sendiri. Maka terjadilah, Gerakan 30 September 1965 meletus yang disponsori PKI. Jenderal-jenderal terbunuh. Alhasil rakyat murka. Seolah satu komando antara rakyat dan orang pemerintah yang masih tersisa melakukan pembersihan-pembersihan secara membabi-buta.

Dunia berubah, begitu juga dengan nasib Har. Keselamatannya di ujung tanduk. Sementara banyak sudah kawannya yang menjadi korban. Terbunuh. Ketika peristiwa ini meletus, ia saat itu menjabat dan bertugas sebagai salah seorang humas dan penerjemah di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerwani. Waktu itu Gerwani dipimpin Umi Sarjono.

"Pas tanggal 1 Oktober 1965 saya sedang berada di kantor. Ketika mendengarkan radio, ternyata keadaan Jakarta sudah sedemian gawat akibat terbunuhnya para jenderal. Teriakan ganyang PKI, tumpas Gerwani membahana di mana-mana. Akhirnya, saya beserta Sulami yang waktu itu sebagai Sekretaris II, dan beberapa kawan pengurus lain yang masih belum diketahui massa, cepat lari menyingkir", tuturnya menerawang, karena di situlah ia mengawali segala penderitaanya.

Dan benar, tak berapa lama kemudian kantor DPP Gerwani dihancurkan oleh massa. Begitu pula dengan tempat sewaannya yang tak jauh dari kantor DPP. Bangunan yang cukup megah itu luluh lantak tak berbentuk lagi. Hangus di sana-sini. Sebagian isi gedung dan arsip-arsip penting lainnya dikeluarkan paksa dan akhirnya dibakar. Teriakan bakar Gerwani antek PKI, bakar habis jangan diampuni, membuat Har dan kawan-kawan pelarianya sangat takut. Dengan susah payah mereka meghindari massa yang murka untuk menyelamatkan selembar nyawanya yang belum tentu bersalah.

Har yakin mereka tak akan peduli jika tertangkap, dibakar atau disembelih di tempat itu juga meski mereka adalah perempuan. Dan ketika kabar bahwa markasnya sudah menjadi abu sampai kepadanya, serta mayat kawan-kawannya bergelimpangan berserakan di mana-mana, membuat Har terpekur dan menangis dalam takut. Itulah kali pertama dalam hidupnya ia mengenal tangis dan takut.

*(bersambung)

Back to Top ********************************* Related Message

************ Back to the Welcome Site ************


© 1996 - 2002Webmaster
Last Update on 10.28.2002