Surat
Ben Anderson dan Ruth McVey
APA
YANG TERJADI DI INDONESIA?
«
Oktober 1965 »
Bahan
ini adalah judul surat Prof.Dr. Benedict
Anderson dan Prof. Dr. Ruth McVey, tertuju kepada Editor Penerbit
New
York Review of Books. Surat
tsb ditulis pada tanggal 9 Februari 1978. Seperti karya-karya analitis dan studi politik Ben
Anderson mengenai Indonesia yang banyak
ditulis dan diwawan-carainya, meskipun itu ditulis atau dikatakan di
beberapa waktu yang lalu, namun, sebagian besar masih
relevan. Ben melakukan
studi dan analisanya mengenai politik Indonesia, secara luas dan
mendalam, independen dan obyektif. Tulisannya kali ini yang saya
publikasikan kembali secara berseri, ditulis bersama cendekiawan
Barat lainnya, Ruth McVey, sebagai respons terhadap tulisan
cendekiawan Francis Galbraith [1913-1986], berjudul "APA YANG
TERJADI di INDONESIA? Suatu Pertukarfikiran."
Studi analitis Ben dan
Ruth mengkonfrontasikan tuduhan Galbraith bahwa kaum Komunis, PKI,
beralih ke penggunaan cara kekerasan dalam suatu kup,-- dengan
kenyataan sebagaimana yang dikemukakan oleh studi dan analisis CIA.
Ben dan Ruth juga mengemukakan bahwa hasil studi CIA menunjukkan
bahwa fakta dan data ketika itu PKI justru menjauhkan diri dari
tindakan kekerasan, dan tak pernah menantang tentara. Dikemukakan
juga oleh Ben dan Ruth bahwa tuduhan tindakan kekerasan yang
dilakukan orang-orang Komunis/PKI sekitar aksi-aksi di pedesaan, --
sesungguhnya itu adalah suatu gerakan untuk melaksanakan suatu
program land-reform yang sudah lima tahun sebelumya diundangkan.
Selanjutnya tulisan Ben
dan Ruth menggugat klaim pimpinan tentara yang menuduh PKI melakukan
kup, karena kenyataannya ialah, apa yang dinamakan kup itu, bukanlah
suatu gerakan untuk menggulingkan Sukarno atau pemerintahan
Indonesia, tetapi suatu pembersihan terhadap dalam pimpinan Angkatan
Darat dengan tujuan untuk membawa perubahan tertentu dalam komposisi
kabinet.
Baiklah
dimulai saja dengan menterjemahkan tulisan Ben Anderson dan Ruth
McVery, sbb:
"
Surat Ben Anderson dan Ruth
McVey
(1)
APA YANG TERJADI di INDONESIA?"
Oleh
Benedict R. Anderson, Ruth McVey.
Sebagai
respons terhadap APA YANG TERJADI DI INDONESIA?
Suatu
Pertukarfikiran
(9 Februari
1978).
Kepada
Redaksi:
Selaku "Cendekiawan
Cornell" terhadap studi yag mereka lakukan mengenai kup 1 Oktober,
1965 di Indonesia, Francis Galbraith - (1913-1986)- menyinggung
dalam serangannya terhadap kritik Amnesty International mengenai
pelanggaran HAM yang menyeluruh di negeri itu (lihat suratnya di
Timbangan Buku The New York, 9 Februari, 1978) , kami menganggap
bahwa catatan dia itu patut sedikit
dikomentari.
Pandangan tuan Galbraith
mengenai hal ihwal sederhana: "kup" tahun 1965, di mana 6 jendral
dibunuh, adalah suatu percobaan perebutan kekuasaan komunis yang
ceroboh. Ia beranggapan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) telah
melakukan "berkali-kali percobaan berdarah" untuk menggulingkan
pemerintahan di Indonesia, yaitu, dalam tahun 1926, 1948 dan 1965-
tetapi mengabai-kan menyebut bahwa yang pertama itu tadi adalah
suatu pemberontakan terhadap kekuasaan kolonial Belanda! Kegemaran
Partai pada kekerasan, dikatakannya, didemonstrasi-kan sebelum
terjadinya kup oleh kenyataan bahwa "ia menstimulir konflik di
pedesaan Djawa Timur dengan suatu program penyitaan tanah yang
dilakukan secara paksa oleh para pengikut PKI". Pembaca yang tak
waspada sebaiknya dinasihatkan bahwa "program" ini, yang
dilaksanakan dalam tahun 1964 adalah suatu perocbaan untuk
memperoleh kerelaan (compliance) dengan ketentuan-ketentuan
land-reform dan bagi-hasil, yang sudah diundangkan lima tahun
sebelumnya. Banyak dari kekerasan sesungguh-nya dalam tahun 1964
adalah resultat dari ulahnya tuantanah untuk secara (ilegal) menarik
sewa tanah yang biasa tinggi waktu itu dalam menghadapi perlawanan
kaum tani yang meningkat.
Sesudah
kup, tulis Tuan Galbraith, "PKI memimpin percobaan tinkgat-dua untuk
menguasai Indone-sia. Mereka membunuh siapa
saja yang menentang mereka; kaum non-Komunis memukul
balik".
Yang terjadi
sesungguhnya bukanlah itu, bila seandainya kita percaya pada versi
sejarah kup menurut CIA, yang oleh Tuan Galbraith direkomendasikan
sebagai sesuatu yang "memberikan penjelasan yang baik sekali
mengenai apa yang terjadi dan mengapa". (Catatan
Ben dan Ruth: CIA, Directorate of Intelligence, Indonesia - 1965:
The Coup That Backfired, <1968> cukup aneh, satu-satunya studi
CIA mengenai politik Indonesia yang pernah dipublikasikan atas
inisiatif badan itu (CIA) sendiri). Karena meskipun adanya pandangan
tinggi Tuan Galbraith terhadap usaha historiografi CIA, tampak-nya
aneh, ia seperti tidak mengetahui pendapat-pendapat (CIA)
itu.
Kenyataannya,
studi CIA itu sangat spesifik mengenai ketiadaan kekerasan yang
dipicu oleh kaum Komunis. Dalam komentarnya mengenai kegiatan PKI
ketua Aidit di Jawa Tengah segera setelah terjadi kup, CIA mencatat
bahwa ia (Aidit) memperingatkan orang-orang bawahannya:
Apapun
yan terjadi tidak mengizinkan PKI diprovokasi melakukan tindakan
kekerasan demikian dinyatakannya kepada orang-orang yang berkumpul
mendengarkannya bahwa tidak boleh ada demonstrasi mendukung kup.
Suatu kehe-ningan yang tegang dan siaga terasa dimana-mana, tetapi
tidak ada tanda-tanda kegiatan PKI dimanapun (Halaman
77-79)
Di
Sumatra, demikian laporan CIA menyatakan, kaum komunis "tidak pernah
menantang tentara dalam kekerasan besenjata apapun yang ternyata
adalah penuturan tentang PKI menyerah pada tentara di seluruh
Indonesia sesudah kup".
(halaman 63).
Kenyataannya,
berlawanan dengan klaim Tuan Galbraith, studi CIA itu berulang-kali,
secara tidak berhati-hati mengungkap tentang ketidak-mungkinan (the
implausibilities) terjadinya hal itu dalam versi resmi tentang kup
dalam versi pemerintah Suharto. Satu hal, terdapat problim mengenai
sumber-sumber. Penguasa militer Indonesia telah
menyebarkan ribuan halaman "bahan-bahan" mengenai kup, sedikit
sekali yang bisa dipercaya dan tidak ada yang tanpa purbasangka.
Studi CIA itu semua-nya menggunakan dan menambahkan bahan koleksi
yang dubius ini.
Umpamanya,
bahan itu mengutip "statement-statement" oleh para pemimpin tinggi
komunis Nyono dan Sakirman sebgai bukti bahwa rapat-rapat Politbiro
PKI yang dikatakan memutuskan untuk melancarkan kup itu (halaman
225-227). Bahwa 'pernyataan' Nyono itu bertentangan sekali dengan
kenyataan yang jelas-jelas tentang gerak-gerik Aidit, dan bahwa
"pernyataan" -nya itu bersumber dari suatu "pengakuan", begitu tidak
masuk akalnya sehingga itu harus digantikan dalam jangka waktu
beberapa jam saja, oleh suatu versi yang sudah "disempurnakan"
dibiarkan saja berlalu tanpa disebut-sebut lagi. (Catatan Ben dan
Ruth: Mengenai hal ini, lihat A Preliminary Analysis of the October
1, 1965 Coup in Indoneisia Ithaca, Cornel Modern
Indonesia Project, 1971, halaman 157-162).
Studi
itu mengemukakan bahwa "statement" Sakirman dinyatakan di
pengadilan; bila betul begitu, maka itu dilakukan secara posthumus,
karena penguasa militer Indonesia menyatakan bahwa ia (Sakirman)
sudah ditembak mati "ketika mencoba untuk melarikan diri" segera
sesudah ia ditangkap.
Seperti
halnya rezim Suhartro, studi CIA itu gagal untuk menghasilkan suatu
penjelasan yang mungkin terjadi mengenai tujuan-tujuan para pencetus
kup yang dimaksudkan itu; penjelasannya memang secara tak disadari
meruntuhkan kasus anti-komunis yang menurut imajinasinya sedang
disusunnya itu.
Ambillah
misalnya soal mengapa PKI ujung-ujungnya kok menempuh kekerasan.
Dalam situasi dimana Indonesia sedang meluncur
lancar kearah kiri, dengan Sukarno dan PKI dalam posisi memim-pin,
saatnya tampak dekat sekali dimana kaum Komunis akan mengambil alih
negeri - bisa terjadi dengan meninggalnya Sukarno, atau bahkan
sebelum itu. Kebanyakak peninjau di Barat mengakui ini. Orang-orang
Indonesia tampaknya
pasrah. Tentu saja, PKI punya alasan kuat
mempercayainya.
Pada
tanggal 12 Oktober 1964 [Aidit]menjawab
serentetam pertanyaan mengenai PKI dan revolusi Indonesia dengan
suatu klaim yang tak pernah terjadi sebelumnya bahwa "Diantara
partai-partai Komunis di dunia PKI adalah satu-satunya partai yang
paling punya otoritas untuk bicara mengenai 'peralihan secara damai'
ke sosialisme, karena PKI ambil bagian dalam pemerintahan baik di
pusat maupun lokal dan punya potensi nyata untuk melaksanakan
politiknya." [Halaman 168-170].
Ataukah
suatu faktor yang tak terduga - seperti keadaan sakitnya presiden
karisma-tik Indonesia, Sukarno,
penyokong PKI - mendorong para pemimpin Komunis untuk melakukan
komplot kup? Laporan CIA mengedepankan kemung-kinan ini kemudian
meninggalkannya mengingat keadaan segar-bugar Sukarno dan kenyataan
bahwa "tidaklah mungkin bahwa partai(PKI)
akan bergerak karena asumsi bahwa Sukarno bagaimanapun akan mati".
(halaman 260)
Suatu
alasan kedua yang mungkin bagi PKI untuk beralih ke kekerasan ialah,
bahwa partai khawatir suatu perebutan kekuasaan oleh pimpinan
tentara, oponen utama PKI. Para
perwira muda yang akutil membunuh para jendral, bukankah,
mengumumkan bahwa mereka "melindungi" Sukarno dari suatu kup yang
akan segera dilancarkan oleh Dewan Jendral yang diukung oleh CIA.
Tetapi bila suatu kup tentara akan segera terjadi, mengapa Aidit -
yang secara politik dekat dengan Sukarno, dan selalu berhubungan
dekat dengannya (halaman 234-5) tidak memberikan sinyal-bahaya
kepada Presiden mengenai bahaya yang mengancam mereka berdua,
terbanding mengambil tindakan sendiri? Dan bila Sukarno tidak
melibatkan dirinya dalam kup (studi CIA berspekulasi bahwa mungkin
ia terlibat), mengapa ia bertindak demikian, dalam suatu cara yang
tidak menggunakan apapaun dari otoritasnya yang legitim dalam
jabatannya, atau dukungan popula-ritasnya yang begitu besar dan yang
tak bisa tidak mempersatukan opini dalam tentara
menentangnya?
Meskipun
adanya teka-teki (enigma) ini, studi CIA memastikan bahwa dalam
bulan November 1964 PKI mendirikan suatu organisasi rahasia untuk
menyusup dan melakukan subversi terhadap kekuatan bersenjata
Indonesia. Namanya Biro
Khusus, katanya dikepalai oleh seseorang bernama Sjam. Biro Khusus
ini memang amat rahasia: Tampaknya, hanya sejumlah kecil orang saja
di Politbiro yang tahu tentang adanya Biro Khusus ini; samasekali
tidak jelas apakah ada orang lain kecuali Aidit yang tahu tentang
identitas orang yang mengepalai organisasi tsb. [Halaman 265-266,
dan cf halaman 101].
Karena
Aidit sudah mati, otoritas CIA mengenai adanya Biro ini hanyalah
Sjam sendiri - yang namanya barangkali tidak tepat mengucapkannya,
Sham. Untung, dia ternyata adalah "saksi yang paling koperatif".
"Begitu Tentara bisa membikin Sjam bicara, tampaknya ia juga ingin
sekali menceriterakan segala sesuatu yang ia ketahui tentang kup itu
- hampir-hampir dari perasaan bangga, tampaknya" [halaman 76 dan
76a, note]. Barangkali sikapnya yang suka ngomong itu ditimbulkan
oleh pengalaman 10 tahun sebagai informan profesional untuk intel
militer tentara, yang melaporkan tindak-tanduk PKI dan parpol-parpol
lainnya (halaman 107). CIA mengambil fakta-fakta ini untuk
menunjukkan begitu meng-gemparkan-nya penetetrasi PKI ke dalam
aparat militer -- tetapi dengan sendirinya itu bukan satu-satunya
cara hal itu bisa diartikan. Apa tujuan manipulasi subversif Biro
Khusus terhadap perwira-perwira militer? Mengejutkan sekali,
tampaknya, bukan untuk merebut kekuasaan: Karena sekarang jelas
bahwa kup Indonesia itu bukanlah suatu tindakan
untuk menggulingkan Sukarno dan/atau mendirikan pemerintah
Indonesia [sic!]. Hakikatnya , tindakan itu adalah suatu
pembersihan terhadap pimpinan Angkatan Darat, yang dimaksudkan untuk
terjadinya suatu perubahan tertentu dalam komposisi kabinet. Dalam
pengertian ini, adalah lebih tepat untuk menyatakannya sebagai suatu
pembersihan, dan bukan suatu kup. [N.p.; dari kata pengantar oleh
John Kerry King, Kepala DDI Special. Research Staff; dan cf. halaman
29-30].
(2)
APA YANG TERJADI DI INDONESIA?
Oleh:
Prof.Dr. Benedict Anderson dan Prof. Dr. Ruth McVey
Sabtu
ini saya publikasikan bagian-2 bahan berjudul "Apa yang terjadi di
Indonesia". Bagian
pertama telah disiarkan pada tanggal 25 Agustus
y.l.
Bahan
tsb adalah sepucuk surat yang dikirimkan oleh Prof.Dr.
Benedict Anderson dan Prof. Dr. Ruth McVey, tertuju kepada Editor
Penerbit New York Review of Books. Surat tsb ditulis pada tanggal 9
Februari 1978. Seperti karya-karya analitis dan studi politik Ben
Anderson lainnya mengenai Indonesia yang banyak
ditulis dan diwawancarainya, meskipun itu ditulis atau dikatakan
beberapa waktu yang lalu, namun, sebagian besar isinya masih
relevan. Bahkan amat relevan ketika saat ini sedang dalam suasana
mengingat kembali Peristiwa Tragedi Nasional dalam tahun 1965.
Luas
diketahui di kalangan dunia penelitian politik internasional maupun
Indonesia, studi dan analisa Ben Anderson mengenai politik
Indonesi,dilakukannya secara luas dan mendalam, independen dan
obyektif. Maka, meskipun tulisan tsb dibuat 27 tahun y.l., namun, isinya tetap
relevan.
Di bagian (2) ini
menarik dan patut diperhatikan apa yang disimpulkan oleh Ben dan
Ruth McVey dari studinya sekitar APA YANG TERJADI DI INDONESIA pada
bulan Oktober 1965, sbb: (Saya kutip lengkap bagian ini,
I.Isa):
Hakikatnya, problim
utama bagi Suharto pada tanggal 1 Oktober bukanlah grup kup itu,
tetapi Presiden Sukarno, yang menentang klaim Suharto untuk memimpin
tentara dan mengedepankan Pranoto yang lebih dipercayainya --
saingan lama Suharto.
Tidak sekali Ben
Anderson mengemukakan bahwa apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober
1965, akhirnya adalah suatu tindakan "pembersihan" di kalangan
tentara Indonesia, yang berakhir pada penumbangan Presiden Sukarno
dan penghancur-kan samasekali PKI dan kekuatan Kiri lainnya yang
mendukung Presiden Sukarno.
Tulisannya kali ini yang
saya publikasikan kembali secara berseri, ditulis bersama
cendekiawan Barat lainnya, Ruth McVey, sebagai respons terhadap
tulisan cende-kiawan Francis Galbraith [1913-1986], berjudul "APA
YANG TERJADI di INDONESIA? Suatu
Pertukarfikiran."Berikut ini adalah sambungan surat Ben
Anderson daRuth McVey, kepada Editor NY Book
Review:
"Pembersihan"
ini -- pembunuhan terhadap enam jendral tingkat atas -- terlaksana
pada lewat tengah malam oleh Letkol Untung yang tak terkenal dan
satu batalyon pasukan (halaman 64). Suatu cara drastis aneh yang
dimaksudkan untuk menjamin suatu perombakan kabinet; aneh sedikit
orang untuk menjamin imunitas terhadap retribusi oleh sesame
perwira. Komentar Studi CIA tidak kurang
meng-herankan:
Ia
memperlihatkan, baik sukses program Biro Khusus melakukan subversi
di dalam AD sehingga PKI bisa berbuat seperti melakukan penculikan
seluruh komando tertinggi Tentara, maupun terjadinya suatu keadaan
dimana terlihat situasi umum ketidak-siapan [sic] PKI pada saat
menhadapi tantangan-menyeluruh dari fihak militer. (halaman 180).
Sebagai
kompensasi terhadap ketiadaan kekuatan militer yang menyedihkan itu,
orang mestinya menantikan para pelaku kup itu akan menggunakan
semaksimal mungkin nama dan otoritas Sukarno. Namun, anehnya, mereka
tidak berbuat demikian, bahkan tidak dalam siaran mereka pada saat
kemenangan pertama. Analisis CIA itu bingung oleh kenyataan ini:
Hampir tidak dapat dibayangkan bahwa siapapun yang melakukan kup di
Indonesia dalam tahun
1965, tidak akan mencoba untuk menggunakan otoritas Sukarno untuk
merebut dukungan umum di belakang gerakan itu
Kenyataan
bahwa Sukarno disebut hanya sebagai seseorang "yang dilindungi"
(oleh grup pelaku kup) menciptakan suatu kesan yang samar-samar
bahwa kup tsb mungkin anti-Sukarno. (halaman 22).Suatu
kesalahan aneh yang dibuat kaum komunis yang dilindungi Sukarno.
Lebih aneh lagi, sebagaimana halnya dibikin jelas oleh studi CIA
itu, para pelaku-kup tidak memobilisasi dukungan massa sesuatu yang
dapat dilakukan oleh kaum Komunis:
Bila PKI yang melakukan
kup itu. mengapa ia gagal untuk melancarkan propaganda menyeluruh
untuk mendukungnya. PKI mampu sekali untuk itu, untuk memobilisasi
opini umum di Indonesia
(halaman 128).
SAatu-satunya
pengecualian terhadap kepasifan yang menimbulkan tanda tanya
ini,ialah munculnya editorial dalam suratkabar PKI pada tanggal 2
Oktober, yang, dengan membenarkan tindakan para pemimpin kup telah
"memberikan tentara dokumen justifikasi bagi kemusnahan PKI sendiri"
(halaman 67). Adalah meng-herankan bahwa tajuk rencana tanggal 2
Oktober itu, munculnya sesudah kup itu gagal, begitu tergesa-gesa,
sedangkan pada hari sebelumnya koran-koran Komunis jelas
behati-hati. Laporan CIA itu berasumsi bahwa para redaktur berfikir
kup masih berjalan lancar ketika suratkabar itu diletakkan di atas
percetakan pada sore tanggal 1 Oktober (Halaman 68), namun di tempat
lain diberitakan bahwa pada petang hari telah jelas bahwa kup itu
telah gagal. Lebih aneh lagi ialah, munculnya surat kabar itu tidak
distop oleh Jendral Suharto, yang pada malam hari tanggal 1 Oktober
telah menguasai ibukota dan telah menempatkan semua media di bawah
kontrol militer yang ketat. Bagaimana bisa editorial yang
memberatkan /melibatkan itu muncul di kiosk-kiosk penjualan koran
pada keesokan harinya? Laporan CIA tsb mengarahkan bahwa editorial
itu dibuat sebelumnya (halaman 68). Barangkali itu yang terjadi,
tetapi tidak mesti hal itu dilakukan oleh pimpinan
Partai.
Bila, seperti
bukti-bukti itu menyarankannya, kup itu dimaksudkan bukan untuk
memperluas, tetapi sebaliknya untuk menghancurkan kekuatan kaum
Komunis, maka tidak masuk akal bahwa manuver seperti itu diluncurkan
oleh pimpinan tentara, hal mana berakhir dengan kematian-berdarah
yang bersangkutan. Tetapi eselon yang lebih tinggi tentara Indonesia
keadaannya jauh dari bersatu. Salah seorang dari jendral senior yang
tidak dimasukkan dalam klik-klik sekitar dua jendral tertinggi
Nasution dan Yani -- adalah orang yang oleh kup dinaikkan ke
singgasana kekuasaan, yaitu Jendral Suharto. Suharto ketika itu
komandan KOS-TRAD, tentara cadangan strategis pilihan, dan sesudah
Yani, adalah jendral yang paling senior yang sedang dinas aktif. Ia
hanya memelihara hubungan yang sangat dingin dengan Nasution dan
Yani. (Catatan Ben dan McVey: Bertindak atas dasar informasi yang
diperoleh oleh Pranoto, kepala staf Suharto, Nasution telah memecat
Suharto dari jabatannya sebagai komandan divisi Jawa Tengah
(maksud-nya Divisi Diponegoro -- I.Isa) dalam tahun 1959 karena ia
(Suharto) terlibat penyelundupan. Lihat
Harold Crouch, "Tentara Indonesia dalam Politik: 1960-1971
(tesis PH.D, Monash University, 1975), halaman
164,207 dan 228.
Seperti
yang dicatat oleh CIA, ia (Suharto) bukan orang yang disasar oleh
grup yang melakukan kup -- "pasti merupakan kesalahan besar para
perancang kup". Ini teristimewa menarik karena tiga yang diatas dari
perancang kup itu punya alasan khusus untuk mengetahui Suharto itu
orang yang seperti apa dan mengapa KOSTRAD itu begitu penting:
Letkol Untung, Brigjen Supardjo dan Kolonel Latief pernah atau masih
berada langsung di bawah Suharto. Beberapa saat sebelum kup, Latif
memimpin latihan-latihan gabungan untuk menguji pertahanan ibukota
-- maka tidaklah mungkin bahwa ia tidak tahu instalasi-instalasi apa
yang vital bagi penguasaan militer atas kota.
Namun
Suharto tidak diganggu. Benar sekali, tidak ada percobaan apa-apa
untuk menduduki atau mengepung Markas Besar KOSTRAD, dimana Suharto
menegak-kan komando kontra-kupnya. Dan meskipun pasukan-pasukan kup
merebut instalasi-instalasi sipil pusat, mereka tidak mencoba untuk
menguasai komunikasi KOSTRAD yang amat canggih, suatu sistim darurat
militer utama, dengan mana Suharto langsung mengumpulkan kendali
kekuasaan di tangannya sendiri.
Hakikatnya,
problim utama bagi Suharto pada tanggal 1 Oktober bukanlah grup kup
itu, tetapi Presiden Sukarno, yang menentang klaim Suharto untuk
memimpin tentara dan mengedepankan Pranoto yang lebih dipercayainya
-- saingan lama Suharto.***
Marilah
kita ikuti bagian terakhir dari surat Ben dan Ruth
tsb:
(3)
*APA YANG TERJADI DI INDONESIA, Oktober 1965 ?
Surat
Prof Dr Ben Anderson dan Prof. Dr. Ruth McVey* <9 Februari
1978>
Ini
adalah bagian terakhir surat Ben Anderson dan Ruth McVey,
pakar Indonesianis berbangsa Amerika yang ditujukan kepada New York
Times Book Review. Isinya mengkritisi tanggapan pakar lainnya
bernama Francis Galbraith yang secara sederhana menarik kesimpulan
gampang-gampangan mengenai apa yang terjadi di Indonesia, pada tanggal 1
Oktober 1965. Ben dan Ruth malah menunjukkan fakta-fakta bahwa
analisis CIA lebih patut diperhatikan, karena mengandung fakta-fakta
yang banyak orang kurang memperhatikannya.
Dalam
bagian terakhir dari surat Ben dan Ruth, mereka minta perhatian pada
kenyataan, bahwa apa yang terjadi di Indonesia sesudah 1 Oktober
1965, setelah dibunuhnya 6 jendral dan seorang perwira menengah, --
adalah p e m b a n t a i a n m a s a l, pembunuhan besar-besaran
yang tidak ada taranya dalam sejarah Indonesia. Tetapi yang oleh
pemerintah Indonesia sampai saat ini
seperti terlupakan saja. Tak ada yang dimintai
pertanggungan-jawabnya mengapa ratusan ribu, bahkan lebih satu juga
manusia Indonesia yang tak
bersalah, telah dibunuh, tanpa proses pengadilan
apapun.
Sungguh
sulit dimengerti, bahwa begitu lama dunia politik, kalangan ilmuwan,
khususnya ilmu sejarah di Indonesia bisa bungkam
begitu lama mengenai masalah tsb. Kalau ada sesuatu yang teramat
serius yang merupakan problim besar dalam hati nurani dan
bawah-sadar bangsa ini setelah 60 tahun hidup sebagai bangsa
merdeka, ialah k e b u n g k a m a n n y a terhadap pelanggaran HAM
terbesar yang terjadi pada dirinya sendiri.
Surat
Ben dan Ruth itu ditulis 27 tahun yang lalu. Problim-problim dan
analisis yang mereka ajukan masih tetap relevan. Masih tetap saja
belum terjawab. Ada berita gembira
bahwa baru-baru ini dinyatakan oleh kalangan yang bersangkutan
mengenai arsip negara, bahwa mereka akan mengadakan penelitian dan
pelaca-kan, dimana surat asli yang terkenal dengan
nama SUPERSEMAR itu ? Namun, yang lebih
penting lagi ialah berusaha mencari kebenaran, mengadakan penelitian
dan studi yang mendalam oleh yang bertanggung-jawab, oleh
pemerintah, mengenai masalah ini: APA YANG TERJADI DI INDONESIA pada
1 OKTOBER 1965. Demi penulisan sejarah bangsa ini, untuk menjadi
pelajaran di masa depan, khususnya bagi generasi baru kita: Adalah
tanggung jawaba seluruh masyarakat, terutama penguasa, pemerintah
dalam usaha mencari jawaban terhadap masalah tsb; sampai dimana
penguasa, aparat, terlibat dan bertanggungjawab atas pelanggaran HAM
demikian kolosalnya pada tahun-tahun 1965, 1966 dan
1967?
Dalam
kenyataannya, problim utama Suharto pada tanggal 1 Oktober bukanlah
grup yang melakukan kup itu, tetapi Presiden Sukarno., yang menolak
klaim Suharto untuk menjadi pemimpin tentara dan sebaliknya
mengajukan Pranoto yang lebih dipersacaya - seorang saingan lama
Suharto.
Namun
akhirnya, -- setelah mengepung pangkalan udara dimana Sukarno
berlindung, dan setelah ia memberikan hakikatnya suatu ultimatum
kepada Presiden Sukarno - Suharto memperoleh apa yang
dikehendakinya. Apakah perha-tian CIA terhadap semua ini? Barangkali
hanya menyerupai suatu keprihatinan historiographis yang
keilmiah-ilmiahan. Atau barangkali Lembaga itu (CIA), memiliki
koneksi yang lebih erat terbanding pada apa yang disimpulkan oleh
analisisnya sebagai yang dikatakan "mungkin terbukti merupakan salah
satu peristiwa terpenting pada periode pasca [Perang Dunia II].
Dampak (repercusions) politik dari kup tsb tidak hanya telah
mengubah seluruh arah sejarah Indonesia tetapi ia
merupakan efek mendalam terhadap cakrawala(scene) politik dunia, khsususnya yang
menyangkut Asia Tenggara" (halaman 70).
Memang,
bagi CIA, tampaknya hal itu punya nilai tanpa suatu risiko kecil
untuk mengakhiri "menggelundungnya dengan lancar ke Kiri" satu
bangsa yang kelima besarnya didunia, khususnya pada saat dimana
Amerika Serikat sedang sibuk melakukan perlawanan terhadap kemajuan
menyeluruh kaum Komunis di Vietnam.
Bila
memang begitu, Lembaga itu (CIA) rendah hati sekali mengenai apa
yang dicapainya. Tetapi hal itu mungkin bisa dimengerti, karena move
itu tidak hanya melibatkan enam orang jendral, tetapi, melibatkan
suatu pogrom (pengejaran) yang menyertainya, yang merupaikan salah
satu dari pembantaian terbesar dalam zaman
kita.
Sebagaimana
disimpulkan oleh analisa CIA: Dalm hal jumlah yang telah dibunuh,
pembantaian anti-PKI di Indonesia merupakan salah satu dari
pembunuhan masal yang paling buruk pada abad keduapuluh, sama
seperti pembersihan yang dilakukan Sovyet dalam tahun 1930-an,
pembunuhan masal Nazi selama Perang Dunia II, dan pertumpahan darah
Maois pada permulaan tahun 1950-an.
Pada
tanggapan kedua, kup Indonesia itu pasti
merupakan salah satu dari peristiwa yang paling penting di abad
keduapuluh, jauh lebih penting terbanding peristiwa-peristiwa
lainnya yang telah memperoleh banyak publisitas. [halaman 71, nota].
Benedict
Anderson
Profesor
of Government
Cornel
University, Ithaca, New York
Ruth
McVey - Reader in Politics, School of Oriental and African Studies, London, England.
******************************
Sumber:
TEMPO Edisi 1-7 Maret 2004
REVISI
KUHP: JAUH DARI SEMANGAT REKONSILIASI
Oleh: Bambang K.
Prihandono*
“Nichts ist so
erschuetternd wie Schweigen“. Tak ada yang menggetirkan seperti
kebungkaman, ungkap Leo Baeck, presiden Reichsvertretung-Jerman
Yahudi. Ia, yang menjabat presiden di era kepahitan sejarah bangsa
Yahudi 1933-1943, mesti mendokumentasikan dan mengungkapkan
kepedihan sejarah holocaust (Zygmunt Bauman, Dialektik der Ordnung,
2002). Mungkin, ia tak pernah membayangkan bahwa sejarah peradaban
umat manusia di berbagai belahan bumi, atas nama ideologi dan
kepentingan ekonomi-politik, selalu menunjukkan konflik berdarah.
Politik barbar. Jutaan manusia mesti lenyap dari muka bumi karena
menjadi „yang lain“ atau the other. Ia tak juga membayangkan bahwa
di tahun 60-an, di negeri yang demikian jauh dari ladang pembantaian
Auschwitz tercipta ladang-ladang baru pembantaian. Di sungai, di
jalanan, di depan rumah, bahkan di kantor-kantor resmi penguasa
keamanan telah berubah menjadi ruang jagal. Itulah, Jawa dan Bali
pada masa pancaroba politik 1965-1966.
Kepentingan politik,
ekonomi dan ideologi adalah pemicu konflik, yang berujung pada
pembantaian jutaan manusia (tertuduh) komunis. Sebuah ketetapan, Tap
MPRS XXV 1966, pun menjadi landasan „moral“ pembungkaman nurani
kemanusiaan. Bertahun-tahun kemudian, sejarah pahit itu terpendam,
dengan segala kegetirannya. Pasca kejatuhan rejim Orde Baru,
tuntutan akan keadilan bagi korban mulai bermunculan secara terbuka.
Tema rekonsiliasi menjadi agenda yang diupayakan berbagai kalangan.
Anehnya, ditengah kecenderungan arus gerakan rekonsiliasi, justru
ada „perlawanan“ dari pemerintah dengan adanya rencana Revisi KUHP.
Salah satu tema pokok „revisi“ adalah tetap mencantumkan ideologi
Komunisme dan Leninisme sebagai paham terlarang. Maka,
pertanyaannya, nalar apakah yang bersembunyi dibalik gagasan
tersebut? Dan apa pula
implikasinya?
Pelarangan Ideologi.
Secara sederhana, ada
dua hal yang selalu menjadi perdebatan tentang pelarangan ideologi
Komunisme/ Leninisme. Pertama, ideologi bisa atau tidak dipidanakan;
kedua, landasan „trauma sejarah“ di masa lalu. Kita perlu menelisik
lebih jauh, untuk menemukan sesuatu yang berada di seberang (beyond)
pelarangan ideologi. Maka, penelusuran akan definisi „ideologi“ pun
penting untuk dikerjakan, demi memperoleh keluasan
perspektif.
Mengacu pada
Philosophisches Wörterbuch (1997), ideologi adalah imagi dan
kesadaran dari individu atau kelompok yang berkembang sesuai dengan
konteks historis masyarakat. Ideologi juga memerankan sebuah fungsi
sosial di masyarakat, yaitu sebagai pemicu motivasi. Maka,
Komunisme, Kapitalisme dan bahkan Agama bisa dikategorisasikan
sebagai ideologi. Seiring dengan perkemba-ngan historis masyarakat,
maka ideologi pun mengalami kerumitan dan keragaman tafsir. Semula,
ideologi dianggap netral, namun sejak Marx memblejeti wataknya,
terbukti bahwa ideologi juga menyimpan kepalsuan. Marx membongkar
ideologi sebagai moda kekuasaan, yang sering digunakan oleh kelas
penguasa politik dan kapital untuk menyembunyikan
kepentingan-kepentingan kelasnya. Ideologi tak lebih sebagai
“kesadaran palsu“, di mana selalu menyembunyikan kebenaran demi
kepentingan politik-ekonomi. Ideologi lalu menjadi pembenar dari
ambisi kekuasaan. Dalam konteks ini, agama yang sering dianggap
berada dalam “langit suci“, bisa pula terjebak menjadi ideologi yang
menipu penganutnya sendiri. Penyebabnya adalah elite agama dan
politik, yang selalu mengeks-ploitasi agama demi keuntungan kelasnya
sendiri. Sejarah Eropa abad pertengahan dengan peran gereja dan
negara yang bercampur menunjukkan kasus
tersebut.
Tafsir ideologi
tersebut, tentu berbeda dengan ideologi kapitalisme, yang
mengajar-kan bahwa persaingan bebas perlu untuk kemajuan umat
manusia. Implikasinya, sistem kepemilikan, alat-alat produksi, dan
hak-hak kebebasan pribadi perlu dijamin. Ideologi, dengan demikian,
berwajah multi-tafsir dan abstrak (lihat Kurt Lenk, Ideologiekritik
und Wissenssoziologie, 1972).
Jika ideologi bermain
dalam wilayah kesadaran dan multi-tafsir, maka menjadi ganjil dan
demikian sulitnya hal itu dipidanakan. Meski demikian, bagi kalangan
“pro-revisi”, ideologi (Komunisme dan Leninisme) bisa dipidanakan
dan dikriminalkan. Landasan argumennya pun bukan terletak pada
konsepsi ideologi, namun mencari pada basis “trauma-sejarah”, bahwa
masa lalu Partai Komunis menciptakan teror dan konflik sosial.
Benarkah?
Trauma sejarah akan
kekerasan adalah hal yang tak terelakkan, jika sebuah bangsa
mengalami peristiwa getir, kejam, dan pelecehan hak-hak azasi
manusia di masa lalu. Hanya, bila yang diingat hanya “kekejaman”
satu pihak dan melupakan kekejaman pihak lain, hal itu adalah
manipulasi sejarah. Itulah yang dikerjakan terus-menerus oleh rezim
Orde Baru: mereproduksi terus menerus wacana “anti-komunis”. Rezim
simulacra. Hasilnya, rezim ORBA menarasikan bahwa „si komunis“
adalah „yang lain“, sosok pengancam atau penghancur tatanan sosial
politik. Dunia
kehidupan "si komunis“ mesti pula dibedakan
dan dibungkam (Budiawan, When Memory Challenges History,
2000).
Lebih
jauh, di sana tak hanya terjadi pemalsuan
sejarah, namun bersarang pula "penalaran sejarah“. Penalaran itu adalah
“logika politik” yang dibangun dengan mengabaikan dimensi korban dan
tindakan politik barbar. Pembungkaman atas lawan politik dianggap
sebagai “kewajaran”. Pembunuhan atas jutaan manusia adalah wajar,
politik yang mengenyahkan lawan adalah kenormalan. Salah satu jalan
„penetralan“ atau „penormalan“ sebuah peristiwa kekejaman adalah
dengan institusionalisasi hukum, sebagai bagian tak terpisahkan dari
birokrasi. Ketetapan MPRS XXV Th. 1966 pun menjadi bukti, bahwa atas
nama hukum, penyingkiran dan pelupaan „yang lain“ menjadi
legitim.
Pada titik ini, hukum
tidak menjalankan fungsinya sebagai pendorong dan penjaga gawang
proses demokrasi, namun hukum lebih menampilkan sebagai pelayan dan
pelegitim dari kelompok kepenti-ngan. Rencana Revisi KUHP yang tetap
memper-tahankan pelarangan ideologi Komunisme dan Leninisme, pun
dapat dibaca tak sekedar sebagai ideologi dapat diadili atau tidak,
namun disana bersarang nalar „berpolitik“. Nalar yang
mengklasifikasikan antara „kami“ dan „yang lain“. Nalar yang
mengesahkan bahwa „yang lain“ wajar untuk dibungkam dan
dilenyapkan.
Semangat Rekonsiliasi
yang Menjauh.
Rekonsiliasi adalah
agenda sebuah bangsa yang punya pengalaman sejarah pahit, untuk
membangun peradaban baru. Negeri-negeri pasca-otoritarian, yang
selalu haus akan korban, menuntut bahwa peradaban yang lebih baik
hanya akan tercapai lewat jalan rekonsiliasi. Jalan ke titik
rekonsiliasi biasa melalui proses hukum dan proses kultural. Proses
hukum bertujuan untuk memperoleh keadilan bagi korban dan sanksi
bagi pelaku kekerasan. Niscaya,
proses hukum ini tak bisa berjalan tanpa adanya proses kultural.
Proses penyembuhan luka-luka batin. Pada titik inilah perlunya
pengakuan, proses "mendengar“ jeritan
luka-luka batin. Hal ini penting, sebab para korban telah kehilangan
jati-dirinya sebagai manusia akibat pembung-kaman dan
pengkambing-hitaman. Marta Minow (Between Vengeance and Forgiveness:
Facing History after Genocide and Mass Violence 1998 dalam Budiawan
2003) secara gamblang menyebut, bahwa membiarkan korban bercerita
dan memaknai cerita sebagai testimoni adalah sebuah penghargaan dan
bantuan untuk korban menemukan jati dirinya kembali.
Jika
rekonsiliasi mensyaratkan dua hal tersebut, maka pelanggengan
larangan ideologi Komunisme dan Leninisme pada rencana Revisi KUHP
jelas semakin "membisukan“ para korban.
Maka, persoalannya bukan pada ancaman bangkitnya sebuah ideologi,
namun lebih ancaman akan pembrangusan proses rekonsiliasi. Kita bisa
membayangkan, bahwa para korban tak akan mampu bersuara, sebab beban
masa lalunya tetap menjadi "tertuduh“, "kambing hitam“ dan biang
kerok "kekejaman“. Ketakutan yang tetap menjerat "dunia batin“ para korban kekerasan.
Hilangnya
empati pada korban, tentu berimplikasi pada hilangnya proses
memba-ngun demokrasi. Hal ini disebabkan karena kungkungan nalar,
bahwa "yang lain“ adalah musuh telah
menjadi kabut penghalang ke arah pencerahan-pencerahan budi.
Jauh-jauh hari Theodor Adorno (1971), seorang filsuf dan sosiolog
Yahudi yang selamat dari kekejian NAZI, telah merefleksikan bahwa
generasi baru (Jerman) mesti tidak lagi mengulangi tindakan barbar.
Belajar pada sejarah pahit kamp pembantaian Auschwitz dan “refleksi diri” adalah cara
pencapaian pencerahan untuk membangun pendidikan “kedewasaan”
(Erziehung zur Muendigkeit). Sebuah pendidikan yang menghargai
harkat kemanusia-an.
Meminjam
refleksi Adorno untuk meneropong kasus-kasus kekerasan di
Indonesia, kita menemukan
bahwa empati pada korban masih jauh dari harapan. Alih-alih
menghormat para korban, kita masih menyaksikan sebuah peristiwa
pembongkaran makam korban kekerasan 1965 pun diserang dengan makian,
kekerasan dan penolakan. Dan kini, kita pun
dikejutkan kembali oleh gagasan untuk melanggengkan pelarangan
ideologi. Maka, gagasan pelarangan itu tak lebih sebagai kontradiksi
proses demokratisasi, bahkan semakin menjauhkan diri dari proses
rekonsiliasi.
Akhirnya,
sejarah pahit, memang, mesti menjadi pelajaran berharga untuk
memba-ngun peradaban. Jika kita berdiri pada posisi “korban”, tentu
korban para kiai atau non-komunis tidak dibenarkan, demikian pula
korban terhadap orang-orang (tertu-duh) komunis ditolak untuk
dilanggengkan. Kita tidak bisa lagi berdalih bahwa proses politik
bunuh-membunuh terjadi karena dalam situasi “dibunuh atau membunuh”.
Kita
memerlukan pendidikan politik yang mencerahkan, yang menerobos
kebekuan dendam. Semuanya demi generasi baru Indonesia
sendiri.
* Penulis, staf pengajar
tetap Program Studi Sosiologi, Universitas Atma Jaya
Yogyakarta
*************** 0 0 0 0
0 0******************
Soebandrio;
Kesaksianku
tentang G30S
BAB
I:PROLOGG-30-S
KONFLIK
KUBU
Indonesia
1960-an termasuk negara yang tidak disukai
oleh blok Barat pimpinan Amerika Serikat (AS). Di era Perang Dingin
itu konflik utama dunia terjadi antara Kapitalis (dipimpin AS)
melawan Komunis (RRT dan Uni Soviet). AS sedang bersiap-siap
mengirim ratusan ribu pasukan untuk menghabisi komunis di Korea
Utara. Sementara di Indonesia Partai Komunis (PKI) merupakan partai
legal. Saat kebenci-an AS terhadap Indonesia memuncak dengan
menghentikan bantuan, Presiden Soekarno menyambutnya dengan
pernyataan keras: Go to hell with your aid.. Seba-gai pemimpin negara yang relatif baru
lahir, Presiden Soekarno menerapkan kebija-kan berani: Berdiri pada
kaki sendiri.
Dasar
sikap Soekarno itu jelas: Alam Indonesia kaya raya.
Minyak di Sumatera dan Sulawesi, hutan maha lebat di Kalimantan, emas di Irian, serta ribuan pulau
yang belum terdeteksi kandungannya. Semua itu belum mampu
dieksplorasi oleh bangsa kita. Kekayaan alam ini dilengkapi dengan
lebih dari 100 juta penduduk yang merupakan pasar potensial,
sehingga ada harapan sangat besar bahwa pada suatu saat
Indonesia akan makmur
tanpa bantuan Barat. Ini pula yang mengilhami
sikap konfrontatif Bung Karno: Ganyang Nekolim (neo-kolonialisme
& imperialisme). Bung Karno menyatakan, Indonesia hanya butuh
pemuda bersemangat untuk menjadi bangsa yang
besar.
Akibatnya, sikap AS juga
menjadi jelas: Gulingkan Presiden Soekarno. Sikap AS ini didukung
oleh komplotannya, Inggris dan Australia. Sejak AS menghentikan
bantuan-nya, mereka malah memba-ngun hubungan dengan faksi-faksi
militer Indonesia. Mereka melengkapi dan melatih para perwira dan
pasukan Indonesia. Melalui ope-rasi intelijen yang dimotori oleh
CIA, mereka menggelitik militer untuk merongrong Bung Karno. Usaha
kudeta muncul pada bulan November 1956. Deputi Kepala Staf TNI AD
Kolonel Zulkifli Lubis berusaha menguasai Jakarta dan menggulingkan
pemerintah. Namun usaha ini dipatahkan. Lantas, di Sumatera Utara
dan Sumatera Tengah militer berupaya mengambilalih kekuasaan, tetapi
juga gagal. Militer – dengan pasokan bantuan AS -seperti mendapat
angin untuk menganggu Bung Karno. Namun, Bung Karno masih mampu
menguasai keadaan, karena banyak perwira militer yang sangat loyal
pada Bung Karno, kendati usaha AS menjatuhkan Bung Karno terus
dirancang.
Sayangnya, konstelasi
politik dalam negeri Indonesia pada saat itu juga tidak stabil. Bung
Karno berupaya keras menciptakan kestabilan, namun kondisi memang
sangat rumit. Ada tiga unsur kekuatan yang mendominasi politik
Indonesia, yaitu:
1.Unsur Kekuatan
Presiden RI
2.Unsur Kekuatan TNI
AD
3.Unsur Kekuatan PKI
(Partai Komunis Indonesia).
Unsur kekuatan Presiden
RI,
yakni Presiden RI sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan,
Perdana Menteri, Pemimpin Besar Revolusi dan Presiden seumur hidup,
yakni Ir. Soekarno yang akrab dipanggil Bung Karno. Anggota Kabinet
Dwikora masuk dalam unsur kekuatan ini.
Unsur kekuatan TNI
AD ada
dua kubu: Kubu Yani (Letjen TNI Ahmad Yani) dan Kubu Nasution
(Letjen TNI Abdul Haris Nasution). Soeharto awalnya termasuk dalam
Kubu Nasution, walaupun kelak mendirikan kubu
sendiri.
Sedangkan unsur PKI
berkekuatan sekitar tiga juta
anggota. Itu didukung oleh sekitar 17 juta anggota
organisasi-organisasi onderbouw PKI seperti BTI, SOBSI dan Gerwani.
Dengan jumlah itu PKI merupakan partai komunis terbesar ketiga di
dunia setelah RRT dan Uni Soviet. Dalam Pemilu 1957 PKI menempati
urutan ke-4. Dan, sebagaimana umumnya partai besar, PKI juga
memiliki anggotanya di kabinet. Mereka adalah DN Aidit, Menko/Ketua
MPRS, Lukman sebagai Menko Wakil Ketua DPRGR dan Nyoto Menteri
Urusan Land-reform.
Sebenarnya, sejak 17
Oktober 1952 pemerintahan Soekarno sudah mulai digoyang. Kubu
Nasution membentuk Dewan Banteng dan Dewan Gajah di Sumatera
Selatan. Yang disebut dewan ini hanya penggalangan massa oleh kubu
Nasution, namun mereka terang-terangan menyebut diri sebagai
pemerintahan tandingan. Penyebab utamanya adalah karena mereka tidak
suka melihat kemesraan hubungan Soekarno-PKI.
Gerakan Kubu Nasution
tidak cukup hanya menggalang massa sipil, namun juga mempengaruhi
militer agar ikut mendukung gerakannya. Sebagai petinggi militer,
bagi Nasution, itu adalah hal mudah.
Caranya, antara lain,
Perjuangan Pembebasan Irian Barat digunakan untuk membentuk Gerakan
Front Nasional yang aktif di kegiatan politik. Inilah awal usaha
melibatkan militer ke dalam kegiatan politik yang kelak dilestarikan
oleh Orde Baru. Di sisi lain, Kubu Nasution menggalang simpati
rakyat dengan membentuk BKS yang melibatkan para pemuda, partai
politik, para petani, yang menyatu dengan militer di bawah payung
TNI AD.
Saat itu saya langsung
membuat kesimpulan: Inilah doktrin perang tingkat regional (karena
memanfaatkan Perjuangan Pembebasan Irian Barat) hingga tingkat desa
(melibatkan petani). Maka, lengkaplah suatu gerakan menentang
pemerintah yang terencana dengan rapi, cerdik dan memiliki kekuatan
cukup potensial. Berdasarkan laporan intelijen saya, CIA berada di
belakang Nasution
Presiden Soekarno
akhirnya mengetahui gerakan menentang pemerintah itu. Soekarno tahu
bahwa pemerintah sedang terancam. Ia juga tahu bahwa biang keroknya
adalah Nasution. Maka, Soekarno pun langsung menghantam ulu hati
persoalan dengan cara membatasi peranan Nasution. Jabatan Nasution
sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata tetap dipertahankan, tetapi
peranannya dibatasi. Nasution
diberi tugas oleh Soekarno dalam urusan administratif pasukan.
Nasution dilarang ikut campur urusan operasional prajurit. Itu sama
artinya Nasution dimasuk-kan ke dalam kotak.
Gerakan
Presiden itu diimbangi dengan pengangkatan Letjen A. Yani sebagai
Menpangad. Tugasnya, secara formal, jelas memimpin pasukan TNI AD,
namun di balik itu Yani mendapat misi khusus dari Presiden agar
membatasi desakan Kubu Nasution terhadap pemerintah. Ini semacam
operasi intelijen. Akibatnya, hubungan Nasution dengan Yani
memburuk.
Mulanya, konflik
Nasution-Yani tidak tampak di permukaan. Hanya kalangan elite saja
yang memahami situasi yang sebenarnya, sejak Yani diangkat. Tetapi,
bebe-rapa waktu kemudian Yani mengganti beberapa Panglima Daerah
Militer (Pangdam). Para Pangdam yang diganti kemudian diketahui
bahwa mereka adalah orang-orangnya Nasution. Karena itu, tampaklah
peta situasi yang sesungguhnya.
Itu gerakan militernya.
Sedangkan gerakan sipilnya, Presiden Soekarno bersama Wakil Perdana
Menteri I, Dr. Soebandrio (saya) memindahkan kedudukan Nasution dari
Kepala Staf Angkatan Bersenjata ke Penasihat Presiden. Itu terjadi
menjelang akhir tahun 1963. Tentu saja Nasution harus tunduk pada
perintah Presiden. Tidak ada alasan dia untuk mbalelo. Sebab, di
kalangan tentara sendiri sudah khawatir terjadi perpecahan ketika
hubungan nasution dengan A. Yani memanas, sehingga jika seandainya
Nasution melakukan tindakan membangkang, pasti tidak akan didukung
oleh pasukan di tingkat bawah. Dan, kemungkinan ini pasti sudah
dihitung secara cermat oleh Nasution. Itu sebabnya ia
tunduk.
Langkah selanjutnya bagi
Soekarno yaitu tinggal menggunduli sisa-sisa kekuatan Kubu nasution.
Antara lain, PARAN (Panitia Retooling Aparatur negara, sebuah komisi
penyelidik anti korupsi yang dibentuk Nasution) dibubarkan pada awal
tahun 1964. Sebagai gantinya, Soekarno membentuk Komando Tertinggi
Retooling Aparatur Revolusi (KOTRAR) yang dipimpin oleh orang
kepercayaan Soekarno, Dr. Soebandrio (saya). Untuk memperkuat, Yani
ditunjuk oleh Presiden menjadi Kepala Staf
KOTRAR.
Dari perpektif Soekarno,
retaknya hubungan antara Yani dan Nasution sudah merupakan
kemenangan. Apalagi, kemudian Nasution dicopot dari posisi strategis
dan dimasukkan ke dalam kotak. Dengan begitu, politik Negara dalam
Negara yang sempat diciptakan oleh Nasution berubah menjadi sangat
lemah.
Melihat kondisi
demikian, para pimpinan Angkatan Bersenjata justru cemas. Mereka
khawatir, konflik antara Nasution dan Yani itu akan merembet ke
prajurit di lapisan bawah. Kalau itu terjadi, tentu akibatnya bisa
fatal. Kekhawatiran ini lantas disampai-kan kepada Presiden. Karena
itu, Presiden Soekarno menugaskan beberapa perwira senior, termasuk
Mayjen Soeharto dan Pangdam Jawa Timur Basuki Rahmat, untuk menemui
Nasution. Tugasnya, menyarankan kepada Nasution agar menyesuaikan
diri dengan jalur yang sudah digariskan oleh Presiden Soekarno.
Jangan sampai ada pembangkangan.
Dua kubu yag berkonflik
itu pada dasarnya sama-sama anti-PKI. Meskipun Yani berada di pihak
Bung Karno, namun Yani tidak menyukai PKI akrab dengan Bung Karno.
Sementara, Soeharto yang ditugasi menjadi perantara mendamaikan
Nasution dan Yani, cenderung berpihak kepada
Nasution.
Konflik antara Nasution
dan Yani itu ternyata tidak gampang didamaikan. Suatu hari di awal
tahun 1965 ada pertemuan penting yang dihadiri 12 jenderal AD di
Mabes AD. Sebenarnya Nasution dan Yani juga diundang dalam pertemuan
itu, namun keduanya sama-sama tidak datang. Mereka diwakili oleh
penasihat masing-masing. Padahal, pertemuan itu diselenggarakan
dalam upaya mendamaikan Nasution dengan Yani. Alhasil, pertemuan
penting itu tidak mencapai tujuan utamanya, karena mereka yang
berkonflik tidak datang sendiri dan hanya
diwakili.
Pada pertengahan April
1965 ada pertemuan yang lebih besar lagi. Kali ini pertemuan
dihadiri oleh sekitar 200 perwira militer di Mabes AD. Dalam
pertemuan itu Nasution dan Yani juga tidak datang. Namun pertemuan
itu melahirkan doktrin baru yang diberi nama:Tri Ubaya Sakti.
Pencetusnya
adalah Soeharto. Intinya berisi tiga janji jujur dari jajaran AD.
Saya sudah lupa isi lengkapnya, namun substansinya demikian: TNI
berhak memberikan saran dan tugas politik tak terbatas kepada
Presiden
RI.
Doktrin
itu menimbulkan kecemasan baru di kalangn elite politik dan
masyarakat intelektual, karena dengan begitu semakin jelas bahwa AD
mempertahankan politik Negara dalam Negara yang sudah dirintis oleh
Nasution. Ini juga berarti bahwa Kubu Nasution menang terhadap Kubu
Yani yang didukung oleh Presiden Soekarno.
POLITIK
MUKA DUA
Soeharto,
salah satu perwira yang ditugasi menjadi perantara mendamaikan Yani
dan Nasution, berada di posisi yang tidak enak, karena Soeharto
memiliki memori buruk dengan Nasution maupun Yani. Penyebabnya
adalah perilaku Soeharto sendiri yang buruk. Itu terjadi saat
Soeharto masih di Divisi Diponegoro.
Ceritanya,
saat di Divisi Diponegoro Soeharto menjalin hubungan dengan
pengusaha Cina, Liem Sioe Liong (kelak mendapat perlakuan istimewa
dari Soeharto, sehingga Liem menjadi pengusaha terbesar
Indonesia). Perkawanan
antara Soeharto dan Liem ini, antara lain, menyelundupkan berbagai
barang. Soeharto pernah berdalih bahwa penyelundupan itu untuk
kepentingan Kodam Diponegoro. Berita penyelundupan itu cepat
menyebar. Semua perwira saat itu mengetahuinya. Bahkan terungkap
bahwa penyelundupan itu bukan untuk kepen-tingan Kodam, tetapi
duitnya masuk kantong Soeharto dan Liem.
Saat mengetahui ulah
Soeharto, kontan Yani marah. Pada suatu kesempatan Yani bahkan
sampai menempeleng Soeharto, karena penyelundupan itu dinilai
memalu-kan korps. AH Nasution lantas mengusulkan agar Soeharto
diadili di mahkamah militer dan segera dipecat dari AD. Namun,
Mayjen Gatot Subroto mencegah, dengan alasan bahwa perwira ini masih
bisa dibina. Gatot lantas mengusulkan kepada Presiden Soekarno agar
Soeharto diampuni dan disekolahkan di Sekolah Staf Komando Angkatan
Darat (Seskoad) di Bandung.
Presiden Soekarno setuju
saja. Karena itu, Soeharto masuk Seskoad dan diterima oleh Dan
Seskoad Brigjen Suwarto. Saat itu Seskoad tidak hanya mengajarkan
pendidikan kemiliteran, tapi juga bidang ekonomi dan pemerintahan.
Para perwira di Seskoad berfungsi sebagai guru teori Negara dalam
Negara.
Karena itulah, saat
Soeharto ditugasi menjadi perantara mendamaikan Yani dengan
Nasution, ia berada di posisi serba tidak enak. Yani pernah
menempelengnya, sedangkan Nasution pernah mengusulkan agar dia
dipecat dari AD dan diadili di Mahkamah Militer. Tetapi, toh
Soeharto memilih berpihak ke Nasution, sehingga yang kelihatan
adalah bahwa Soeharto berada di dalam Kubu
Nasution.
Namun akhirnya Soeharto
membangun kubu sendiri. Kubu Soeharto terbentuk ketika kepercayaan
AS terhadap Nasution mulai luntur. Ini disebabkan oleh fungsi
Nasution terhadap pemberontakan Permesta, kampanye pembebasan Irian
Barat dan slogan Ganyang Malaysia tidak efektif. Tiga
hal itu membuat kepentingan AS terhadap Indonesia khususnya dan
Asia Tenggara umumnya, terganggu, sehingga AS tidak lagi akrab
dengan Nasution. Keakraban AS dengan Nasution - dari
perspektif AS – awalnya perlu untuk mengimbangi kebijakan Bung Karno
yang cenderung lunak pada PKI. Di saat kepercayaan AS terhadap
Nasution luntur dan Soeharto sudah menjadi Pangkostrad, Soeharto
membangun kubu sendiri.
Awal
Januari 1965 di kantor Kedutaan Besar
RI untuk Yugoslavia di Beograd,
datang sepucuk surat yang ditujukan
kepada Dubes RI untuk Yugoslavia, Yoga Soegama
(kelak dijadikan Kepala Bakin oleh Soeharto). Pengirimnya adalah
Pangkostrad Soeharto. Isinya: Yoga ditawari pulang ke Jakarta dengan
jabatan baru: Kepala Intelijen Kostrad. Tawaran itu menarik bagi
Yoga. Karena itu, pada 5 Februari 1965 Yoga sudah tiba di Jakarta,
langsung menghadap Panglima Kostrad di rumahnya, Jalan H Agus Salim.
Mereka bermusyawarah di sana. Itulah awal terbentuknya Kubu
Soeharto.
Pemanggilan
Yoga Soegama dari Beograd oleh Soeharto itu mengandung tiga
indikasi: Pertama, Yoga kembali ke Indonesia tidak melalui
jalur normal. Seharusnya penarikan Yoga dari jabatan Duta Besar RI untuk Yugoslavia di Beograd
dilakukan oleh Menpangad Yani, sebab Yoga adalah perwira AD. Tetapi,
kenyataannya Yoga ditarik oleh surat panggilan Pangkostrad Mayjen
Soeharto. Kedua, tujuan kepula-ngan Yoga ke tanah air adalah
bersama-sama Soeharto menyabot (sabotase) politik-politik Bung
Karno. Ketiga, mereka bertujuan menghancurkan PKI. Tiga indikasi ini
bukan kesimpulan saya. Tetapi, ini diungkapkan oleh Ali Moertopo
(salah satu anggota trio Soeharto-Yoga) dengan rasa bangga dan tanpa
tedeng aling-aling (secara blak-blakan). Ali mengungkap hal itu
dengan gaya seperti orang tidak berdosa.
Bagi Soeharto, menarik
seorang pejabat dengan cara begitu adalah hal biasa. Padahal dia
sudah melangkahi garis hubungan hierarki dan komando. Dengan cara
yang melanggar aturan itu dia membentuk kubunya. Pokok-pokok masalah
yang menjadi perhatian kubunya sama sekali tidak menyangkut hal yang
berkaitan dengan Panglima AD, tetapi menyangkut politik nasional dan
internasional. Perhatian kubu itu tertuju pada Bung Karno dan
PKI.
Kubu Soeharto disebut
juga Trio Soeharto-Yoga-Ali. Untuk
selanjutnya kita sebut Kelompok Bayangan Soeharto. Mereka bersatu
dengan cara-cara tersamar. Mereka bergerak di bawah permukaan.
Awalnya teman lama dan sudah merupakan satu tim kompak ketika
sama-sama berada di Kodam Diponegoro. Kekompakan trio ini sudah
teruji saat mematahkan rencana pimpinan AD memilih Pangdam
Diponegoro. Kekompakan mereka dilanjutkan di Jakarta.
Tentang
kekompakan trio Soeharto mematahkan rencana pimpinan AD, ceritanya
demikian: Saat itu pimpinan AD mencalonkan Kolonel Bambang Supeno
menjadi Pangdam Diponegoro. Rencana pencalonan Bambang itu kemudian
diketahui oleh para perwira di sana. Soeharto yang saat itu
masih berpangkat Letnan Kolonel, juga mendengar. Hebatnya, meskipun
pangkat Soeharto lebih rendah dibanding Bambang Supeno, namun ia
berani merebut posisi Pangdam. Caranya, dengan menggunakan strategi
yang kotor namun terselubung.
Di saat rencana
pengangkatan Bambang Supeno menjadi Pangdam Diponegoro bocor, ada
sebuah rapat gelap di Kopeng, Jateng, yang dihadiri beberapa perwira
Kodam Diponegoro. Rapat itu dikoordinir oleh Soeharto melalui salah
satu anggota trionya, Yoga Soegama. Tetapi, Soeharto sendiri tidak
hadir. Intinya, rapat memutus-kan bahwa Soeharto harus tampil
sebagai Pangdam Diponegoro. Jika tidak, Yoga dan Soeharto akan
manggalang kekuatan untuk bersama-sama menolak pencalonan Bambang
Supeno. Saat itu pencalonan Bambang menjadi Pangdam belum
ditandatangani oleh Presiden, sehingga Soeharto yang berupaya
merebut jabatan itu harus berpacu dengan
waktu.
Namun, ternyata skenario
Soeharto (melalui Yoga) ini tidak didukung oleh para perwira peserta
rapat. Dari puluhan perwira yang hadir, hanya seorang perwira
kesehatan Kolonel dr.Suhardi yang menandatangani, tanda setuju atau
mendukung pernyataan sikap itu. Yang lain
tidak.
Yoga semula mengaku
bahwa pertemuan itu tidak diberitahukan lebih dulu kepada Soeharto.
Ini bisa diartikan bahwa bukan Soeharto pembuat skenario. Ketika dua
orang utusan Kodam Diponegoro hendak ke Jakarta untuk meminta tanda
tangan Presiden tentang pengangkatan Bambang Supeno, barulah rapat
gelap itu disebar-kan.
Berdasarkan memori Yoga
yang terungkap kemudian, rapat itu adalah gagasan Soeharto.
Pengakuan awal Yoga bahwa Soeharto tidak mengetahui rapat tersebut –
dikatakan Yoga – agar ridak menimbulkan kecurigaan dari Jakarta
bahwa Soeharto menggalang kekuatan, menolak pencalonan Bambang
Supeno. Tetapi, tentang hal ini tidak ada konfirmasi, apakah benar
rapat gelap itu dikoordinir Soeharto melalui Yoga atau atas
inisiatif Yoga sendiri.
Sebagai pembanding:
salah seorang anggota trio Soeharto, Ali Moertopo, menyata-kan bahwa
pada saat itu ia adalah komandan pasukan Raiders yang diminta
mem-bantu Yoga melancarkan operasi intelijen. Tidak dirinci bentuk
operasi intelijen yang dimaksud, namun tujuannya adalah mengusahakan
agar Soeharto menjadi Panglima Diponegoro. Tetapi, Ali sama sekali
tidak menjelaskan siapa yang meminta dia, Yoga atau Soeharto. Atau
mungkin kedua-duanya.
Terlepas dari apakah
Yoga berbohong atau tidak soal koordinator rapat gelap itu, tetapi
rangkaian pernyataan Yoga dan Ali Moertopo itu menunjukkan adanya
suatu komplotan Soeharto. Komplotan yang bergerak dalam operasi
intelijen. Soeharto adalah dalang yang sedang memainkan
wayang-wayangnya. Tentu, dalangnya tidak perlu terjun
langsung.
Akhirnya, nasib mujur
bagi para wayang tersebut, karena komplotan ini berhasil. Bambang
Supeno tidak jadi Pangdam, melainkan Soeharto yang tampil menjadi
Pangdam Diponegoro. Dari proses komplotan itu bekerja, bisa
digambarkan jika seandainya Soeharto tidak jadi Pangdam dan skenario
rapat gelap itu terbongkar sehingga diketahui pimpinan AD, maka
pasti Soeharto akan terhindar dari jerat hukum. Ia bisa dengan mudah
berkhianat sebab ia tidak ikut rapat gelap itu. Yang paling berat
risikonya tentu adalah Kolonel dr. Suhardi.
Saya menyimpulkan
demikian, sebab hal itu pernah dilakukan oleh Soeharto dan
komplotannya ketika ia melakukan percobaan kudeta pada 3 Juli 1946.
Namun kudeta itu gagal dan Soeharto berbalik arah mengkhianati
komplotannya sendiri. Soeharto menangkap komplotannya dan berdalih
mengamankan negara.
Soal itu, sekilas saya
ceritakan sebagai berikut: Percobaan kudeta 3 Juli 1946 dilancarkan
di bawah pimpinan Tan Malaka dari Partai Murba. Tan Malaka mengajak
kalangan militer Jawa Tengah, termasuk Soeharto. Yang akan
digulingkan adalah Perdana Menteri Sjahrir. Awalnya, 20 Juni 1946 PM
Sjahrir dan kawan-kawan diculik di Surakarta. Penculiknya adalah
kelompok militer di bawah komando Divisi III dipim-pin oleh
Sudarsono. Soeharto selaku salah seorang komandan militer Surakarta
terlibat dalam penculikan itu.
2 Juli 1946 kelompok
penculik berkumpul di markas Soeharto sebanyak dua batalyon. Pasukan
lantas dikerahkan untuk menguasai beberapa sektor strategis seperti
RRI dan Telkom. Malam itu juga mereka menyiapkan surat keputusan
pembubaran Kabinet Sjahrir dan menyusun kabinet baru yang sedianya
akan ditandatangani oleh Presiden Soekarno di Istana Negara
Yogyakarta, esok harinya.
SK dibuat dalam empat
tingkat. Keputusan
Presiden dimuat dalam maklumat nomor 1, 2 dan 3. Semua maklumat
mengarah ke kudeta. Misalnya, maklumat nomor dua berbunyi demikian:
Atas desakan rakyat dan tentara dalam tingkatan kedua terhadap Ketua
Revolusi Indonesia yag berjuang
untuk rakyat, maka kami atas nama Kepala Negara hari ini
memberhentikan seluruh kementrian negara Sutan Sjahrir. Yogya-karta, 3 Juli
1946, tertanda: Presiden RI Soekarno.
Tetapi percobaan kudeta
ini ternyata gagal. Para pelakunya ditangkap dan ditahan. Persis
pada saat itu Soeharto berbalik arah. Ia yang semula berkomplot
dengan penculik, berbalik menangkapi komplotan penculik. Ia
berdalih, keberadaannya sebagai anggota komplotan penculik merupakan
upaya Soeharto mengamankan penculik.
Itulah karakter Soeharto
dan ia bangga dengan hal itu. Soeharto tidak merasa malu berbalik
arah dari penjahat menjadi menyelamat. Malah, dalam buku
otobiografinya, Soeharto menyebut sekilas peristiwa itu, tetapi
menurut versi dia yang tentu saja faktanya dia balik sendiri. Pada
awal Indonesia merdeka itu Soeharto sudah menerapkan politik Bermuka
Dua.
EMBRIO DEWAN
JENDERAL
Pada akhir tahun 1963
saya selaku Waperdam dan Menlu berkunjung ke RRT. Ini kunjungan
kenegaraan, saya mewakili Presiden Soekarno. Di sana saya disambut
hangat. Bisa jadi sambutan itu karena Indonesia punya PKI. Saya
diterima sekaligus oleh tiga pimpinan puncak, Perdana Menteri Chou
En-Lai, Presiden Mao Tse-Tung (Liu Shao-Chi?) dan Menlu Chen Yi.
Kami tahu, mereka menaruh simpati pada Presiden Soekarno.
Kepemimpinan Bung Karno dikagumi oleh banyak pemimpin negara-negara
lain. Konferensi Asia-Afrika di Indonesia yag sukses, gerakan
negara-negara Non-Blok ide Bung Karno, membuat beliau dikagumi oleh
para pemimpin dunia, termasuk pemimpin RRT.
Inti pembicaraan kami,
pimpinan RRT menawarkan kepada Indonesia bantuan peralatan militer
untuk 40 batalyon tentara. Ini peralatan lengkap, mulai dari senjata
manual, otomatis, tank dan kendaraan lapis baja. Hebatnya, semua itu
gratis. Juga tanpa syarat.
Mendapat tawaran itu,
saya atas nama Presiden mengucapkan terima kasih. Tetapi saya belum
bisa menjawab, sebab bukan kapasitas saya untuk menerima atau
menolak. Saya harus melaporkan hal ini kepada Presiden. Dan begitu
tiba di tanah air, tawaran itu langsung saya laporkan kepada Bung
Karno. Saya lihat, tanpa banyak pikir lagi Bung Karno menyatakan:
Ya, diterima saja. Menurut pandangan saya pribadi memang seharusnya
begitu. Terlepas apa kepentingan RRT memberikan persenjataan gratis
kepada kita, asal bantuan itu tidak mengikat, mengapa tidak
diterima?
Pernyataan Presiden
Soekarno menerima bantuan RRT itu lantas saya sampaikan kepada
pimpinan RRT. Mereka gembira mendengarnya. Mereka menyatakan bahwa
akan segera menyiapkan barang tersebut. Mereka juga meminta
konfirmasi kepada kami, kapan barang bisa dikirim. Hal ini saya
sampaikan kepada Bung Karno. Namun, masalah ini macet sampai di
sini. Bung Karno tidak segera menjawab, kapan barang itu bisa
dikirim. Pihak RRT juga tidak mengirimkan barang
tersebut.
Baru sekitar awal tahun
1965 Bung Karno punya ide membentuk Angkatan Kelima. Tujuannya
adalah untuk menampung bantuan senjata dari RRT. Saat itu
persenjataan untuk empat angkatan (Angkatan Darat, Angkatan Laut,
Angkatan Udara dan Angkatan Kepolisian) dianggap sudah cukup. Karena
itu, agar bantuan senjata tersebut bisa dimanfaatkan secara
maksimal, Bung Karno punya ide membentuk Angkatan Kelima. Jika
persenjataan yang dikirim cukup untuk 40 batalyon, maka Angkatan
Kelima berkekuatan sekitar itu. Sebab tujuannya memang untuk
memanfaatkan maksimal pemberian senjata gratis
RRT.
Tetapi – ini yang sangat
penting – Bung Karno belum merinci bentuk Angkatan Kelima. Beliau
hanya mengatakan demikian: Angkatan Kelima tidak sama dengan
angkatan yang sudah ada. Ini adalah pasukan istimewa yang berdiri
sendiri, tidak terkait dengan angkatan lain. Hal ini perlu saya
tegaskan, karena kemudian beredar isu bahwa Angkatan Kelima adalah
para buruh dan petani yang dipersenjatai. PKI memang pernah
mengatakan hal ini, tetapi Bung Karno belum pernah merinci,
bagaimana bentuk Angkatan Kelima itu.
Setelah Bung Karno jatuh
dari kekuasaannya, isu ini dijadikan bahan sejarah. Bahkan masuk di
dalam buku sejarah yang dipelajari di sekolah. Tentu Bung Karno
tidak dapat membantah isu tersebut sebab sejak beberapa waktu
kemudian praktis Bung Karno menjadi tawanan Soeharto sampai beliau
meninggal dunia.
Bung Karno sudah menjadi
pihak yang terkalahkan, sehingga masyarakat tidak lagi berpikir
jernih melihat Bung Karno. Kalau masyarakat berpikir jernih, pasti
muncul analisis, hanya pimpinan bodoh yang mempersenjatai buruh dan
petani di negara yang relatif baru lahir, karena jelas hal itu akan
membuat negara dalam kondisi sangat berbahaya. Semua tahu bahwa Bung
Karno tidak bodoh. Atau, bisa jadi masyarakat saat itu ada yang
berpikiran jernih, tetapi mereka tidak berani mengungkapkan.
Bukankah pada zaman Orde Baru bicara politik – apalagi membahas
sejarah versi Orba – bisa membuat yang bersangkutan tidak lagi bisa
pulang ke rumahnya?
Meskipun saat ide
tersebut dilontarkan oleh Bung Karno belum ada embel-embel buruh dan
petani dipersenjatai, tetapi kalangan militer tidak setuju.
Menpangad Letjen A Yani sudah menyampaikan langsung kepada Presiden
bahwa ia tidak setuju dibentuk Angkatan Kelima. Para jenderal
lainnya mendukung sikap Yani. Mereka tidak setuju ada angkatan lain.
Empat angkatan dianggap sudah cukup.
Setelah Yani
menyampaikan sikapnya kepada Presiden, masalah ini kemudian menjadi
pembicaraan di kalangan elite politik. Dan
pembicaraan tentang itu menjadi berlarut-larut. Juga muncul banyak
spekulasi tentang bentuk Angkatan Kelima. Muncul pula berbagai
praduga tentang penolakan Yani terhadap ide Bung Karno itu.
Sementara, Bung Karno sendiri tetap tidak menjelaskan secara rinci
bentuk Angkatan Kelima tersebut. Saya sebagai orang yang paling
dekat dengan Bung Karno saat itu pun tidak diberitahu. Sampai
akhirnya Bung Karno memanggil Yani. Dijadwalkan, Yani akan diterima
oleh Presiden di Istana Negara pada tanggal 1 Oktober 1965 pukul
08.00 WIB. Agendanya, Yani akan ditanya lagi tentang Angkatan
Kelima.
Seorang sumber saya
mengatakan, ketika Yani menerima surat panggilan dari Presiden,
beberapa hari sebelum 1 Oktober 1965, Yani sempat mengatakan: Saya
mungkin akan dicopot dari Menpangad, sebab saya tidak setuju
Angkatan Kelima. Ucapan Yani ini juga cepat menyebar. Bahkan beredar
isu di kalangan petinggi AD bahwa pengganti Yani adalah orang kedua
di AD, yakni Gatot Subroto.
Namun Yani dibunuh
beberapa jam sebelum ia menghadap Presiden Soekarno. Jika
diperkirakan Yani dibantai sekitar pukul 04.00 WIB, berarti empat
jam kemudian mestinya ia menghadap Presiden.
BAB II: GERAKAN YANG
DIPELINTIR
BUNG KARNO MASUK
ANGIN
Ada peristiwa kecil,
namun dibesar-besarkan oleh Kelompok Bayangan Soeharto, sehingga
kemudian menjadi sangat penting dalam sejarah Indonesia. Peristiwa
itu adalah sakitnya Bung Karno pada awal Agustus
1965.
Dalam buku-buku sejarah
banyak ditulis bahwa sakitnya Bung Karno pada saat itu adalah sangat
berat. Dikabarkan, pimpinan PKI DN Aidit sampai mendatangkan dokter
dari RRT. Dokter RRT yang memeriksa Bung Karno menyatakan bahwa Bung
Karno sedang kritis. Intinya, jika tidak meninggal dunia, Bung Karno
dipastikan bakal lumpuh. Ini menggambarkan bahwa Bung Karno saat itu
benar-benar sakit parah.
Dari peristiwa itu
(seperti ditulis di berbagai buku) lantas dianalisis bahwa PKI –
yang saat itu berhubungan mesra dengan Bung Karno – merasa khawatir
pimpinan nasional bakal beralih ke tangan orang AD. PKI tentu tidak
menghendaki hal itu, mengingat PKI sudah bermusuhan dengan AD sejak
pemberontakan PKI di Madiun, 1948. Menurut analisis tersebut, begitu
PKI mengetahui bahwa Bung Karno sakit keras, mereka menyusun
kekuatan untuk merebut kekuasaan. Akhirnya meletus
G30S.
Ini alibi rekayasa
Soeharto yang mendasari tuduhan bahwa PKI adalah dalang G30S. Ini
juga ditulis di banyak buku, sebab memang hanya itu informasi yang
ada dan tidak dapat dikonfirmasi, karena pelakunya – Bung Karno, DN
Aidit dan dokter RRT – ketiga-tiganya tidak dapat memberikan
keterangan sebagai bahan perbandingan. Bung Karno ditahan sampai
meninggal. Aidit ditembak mati tanpa proses pengadilan; sedangkan
dokter RRT itu tidak jelas keberadaannya. Itulah sejarah versi
plintiran.
Tetapi ada saksi lain
selain tiga orang itu, yakni saya sendiri dan Wakil Perdana
Menteri-II, dr. Leimena. Jangan lupa, saya adalah dokter yang sekaligus dekat dengan Bung Karno.
Saya juga mengetahui secara persis peristiwa kecil itu.
Yang benar demikian:
memang Bung Karno diperiksa oleh seorang dokter Cina yang dibawa
oleh Aidit, tetapi dokternya bukan didatangkan dari RRT, melainkan
dokter Cina dari Kebayoran Baru, Jakarta, yang dibawa oleh Aidit.
Fakta lain: Bung Karno sebelum dan sesudah diperiksa dokter itu juga
saya periksa. Pemeriksaan yang saya lakukan didampingi oleh dr.
Leimena. Jadi ada tiga dokter yang memeriksa Bung
Karno.
Penyakit Bung Karno saat
itu adalah: masuk angin. Ini jelas dan dokter Cina itu juga
mengatakan kepada Bung Karno di hadapan saya dan Leimena bahwa Bung
Karno hanya masuk angin. DN Aidit juga mengetahui penyakit Bung
Karno ini. Mengenai penyebabnya, sayalah yang tahu. Beberapa malam
sebelumnya, Bung Karno jalan-jalan meninjau beberapa pasar di
Jakarta. Tujuannya adalah melihat langsung harga bahan kebutuhan
pokok. Jalan keluar-masuk pasar di malam hari tanpa pengawalan yang
memadai sering dilakukan Bung Karno. Nah, itulah penyebab masuk
angin.
Tetapi kabar yang
beredar adalah bahwa Bung Karno sakit parah. Lantas disimpul-kan
bahwa karena itu PKI kemudian menyusun kekuatan untuk mengambil-alih
kepemimpinan nasional. Akhirnya meletus G30S yang didalangi oleh
PKI.
Kabar itu sama sekali
tidak benar. DN Aidit tahu kondisi sebenarnya. Ini berarti bahwa
kelompok Soeharto sengaja menciptakan isu yang secara logika
mem-benarkan PKI berontak atau menyebar-kan kesan (image) bahwa
dengan cerita itu PKI memiliki alasan untuk melakukan
kudeta.
Ketika Kamaruzaman alias
Sjam diadili, ia memperkuat dongeng kelompok Soeharto. Sjam adalah
kepala Biro Khusus PKI sekaligus perwira intelijen AD. Sjam mengaku
bahwa ketika Bung Karno jatuh sakit, ia dipanggil oleh Aidit ke
rumahnya pada tanggal 12 Agustus 1965. Ia mengaku bahwa dirinya
diberitahu oleh Aidit mengenai seriusnya sakit Presiden dan adanya
kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan segera apabila Bung
Karno meninggal. Masih menurut Sjam, Aidit memerintahkan dia untuk
meninjau kekuatan kita dan mempersiapkan suatu gerakan. Pengakuan
Sjam ini menjadi rujukan di banyak buku.
Tidak
ada balance, tidak ada pembanding. Yang bisa memberikan balance
sebenarnya ada lima orang yaitu Bung Karno, Aidit,
dokter Cina (saya lupa nama-nya), Leimena dan saya sendiri. Tetapi
setelah meletus G30S semuanya dalam posisi lemah. Ketika diadili,
saya tidak diadili dengan tuduhan terlibat G30S, sehingga tidak
relevan saya ungkapkan.
Kini
saya katakan, semua buku yang menyajikan cerita sakitnya Bung Karno
itu tidak benar. Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya masuk
angin, sehingga tidak masuk akal jika ia memerintahkan anak buahnya,
Sjam, untuk menyiapkan suatu gerakan. Ini jika ditinjau dari logika:
PKI ingin mendahului merebut kekuasaan sebelum sakitnya Bung Karno
semakin parah dan kekuasaan akan direbut oleh AD. Logikanya, Aidit
akan tenang-tenang saja, sebab bukankah Bung Karno sudah akrab
dengan PKI? Mengapa PKI perlu menyiapkan gerakan di saat mereka
disayangi oleh Presiden Soekarno yang segar
bugar?
Intinya,
pada bulan Agustus 1965 kelompok bayangan Soeharto jelas kelihatan
ingin secepatnya memukul PKI. Caranya, mereka melontarkan
provokasi-provokasi seperti itu. Provokasi adalah cara perjuangan
yang digunakan oleh para jenderal AD kanan untuk mendorong PKI
mendahului memukul AD. Ini taktik untuk merebut legitimasi rakyat.
Jika PKI memukul AD, maka PKI ibarat dijebak masuk ladang
pembantaian (killing field). Sebab, AD akan – dengan seolah-olah
terpaksa – membalas serangan PKI. Dan, serangan AD terhadap PKI ini
malah didukung rakyat, sebab seolah-olah hanya membalas. Ini taktik
AD Kubu Soeharto untuk menggulung PKI. Jangan lupa, PKI saat itu
memiliki massa yang sangat besar, sehingga
tidak dapat ditumpas begitu saja tanpa taktik yang
canggih.
Tetapi
PKI tidak juga terpancing. Pelatuk tidak juga ditarik meskipun PKI
sudah diprovokasi sedemikian rupa. Mungkin PKI sadar bahwa mereka
sedang dijebak. Peran Aidit sangat besar, dengan tidak memberikan
instruksi kepada anggotanya. Tetapi toh akhirnya PKI dituduh
mendalangi G30S, walaupun keterlibatan langsung PKI dalam peristiwa
itu belum pernah diungkap secara jelas.
Pelaku
G30S adalah tentara dan gerakan itu didukung oleh Soeharto yang juga
tentara. Sedangkan Aidit langsung ditembak mati tanpa proses
pengadilan.
DEWAN
JENDERAL
Isu Dewan Jenderal
sebenarnya bersumber dari Angkatan Kelima. Dan seperti diungkap di
bagian terdahulu, Angkatan Kelima bersumber dari rencana sumbangan
persenjataan gratis dari RRT. Tiga hal ini berkaitan erat. Pada
bagian terdahulu diungkapkan bahwa tawaran bantuan persenjataan
gratis untuk sekitar 40 batalyon dari RRT diterima Bung Karno. Hanya
tawaran yang diterima, barangnya belum dikirim. Bung Karno lantas
punya ide membentuk Angkatan Kelima. Tapi Bung Karno belum merinci
bentuk Angkatan Kelima itu.
Ternyata Menpangad
Letjen A Yani tidak menyetujui ide mengenai Angkatan Kelima itu.
Para perwira ABRI lainnya mengikuti Yani, tidak setuju pada ide Bung
Karno itu. Empat angkatan dinilai sudah cukup. Karena itulah
berkembang isu mengenai adanya sekelompok perwira AD yang tidak puas
terhadap Presiden. Isu terus bergulir, sehingga kelompok perwira
yang tidak puas terhadap Presiden itu disebut Dewan Jenderal.
Perkembangan isu selanjutnya adalah bahwa Dewan Jenderal akan
melakukan kup terhadap Presiden.
Menjelang G30S meletus,
Presiden memanggil Yani agar menghadap ke Istana. Yani rupanya
merasa bahwa ia akan dimarahi oleh Bung Karno karena tidak
menyetujui Angkatan Kelima. Yani malah sudah siap kursinya
(Menpangad) akan diberikan kepada orang lain. Saat itu juga beredar
isu kuat bahwa kedudukan Yani sebagai Menpangad akan digantikan oleh
wakilnya, Mayjen Gatot Subroto. Presiden Soekarno memerintahkan agar
Yani menghadap ke Istana pada 1 Oktober 1965 pukul 08.00 WIB. Tetapi
hanya beberapa jam sebelumnya Yani diculik dan
dibunuh.
Yang paling serius
menanggapi isu Dewan Jenderal itu adalah Letkol Untung Samsuri.
Sebagai salah satu komandan Pasukan Kawal Istana - Cakra Birawa – ia
memang harus tanggap terhadap segala kemungkinan yang membahayakan
kese-lamatan Presiden. Untung gelisah. Lantas Untung punya rencana
mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka.
Rencana ini disampaikan Untung kepada Soeharto. Menanggapi itu
Soeharto mendukung. Malah Untung dijanjikan akan diberi bantuan
pasukan. Ini diceritakan oleh Untung kepada saya saat kami sama-sama
ditahan di LP Cimahi, Bandung (lengkapnya simak sub-bab Menjalin
Sahabat Lama).
Saya menerima laporan
mengenai isu Dewan Jenderal itu pertama kali dari wakil saya di BPI
(Badan Pusat Intelijen), tetapi sama sekali tidak lengkap. Hanya
dikatakan bahwa ada sekelompok jenderal AD yang disebut Dewan
Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden. Segera setelah
menerima laporan, langsung saya laporkan kepada Presiden. Saya
lantas berusaha mencari tahu lebih dalam. Saya bertanya langsung
kepada Letjen Ahmad Yani tentang hal itu. Jawab Yani ternyata enteng
saja, memang ada, tetapi itu Dewan yang bertugas merancang
kepangkatan di Angkatan Bersenjata dan bukan Dewan yang akan
melakukan kudeta.
Masih
tidak puas, saya bertanya kepada Brigjen Soepardjo (Pangkopur II).
Dari Soepardjo saya mendapat jawaban yang berbeda. Kata Soepardjo:
Memang benar. Sekarang Dewan Jenderal
sudah siap membentuk menteri baru.
Pada 26 September 1965
muncul informasi yang lebih jelas lagi. Informasi itu datang dari
empat orang sipil. Mereka adalah Muchlis Bratanata, Nawawi Nasution,
Sumantri dan Agus Herman Simatupang. Dua nama yang disebut terdahulu
adalah orang NU sedangkan dua nama belakangnya dri IPKI. Mereka
cerita bahwa pada tanggal 21 September 1965 diadakan rapat Dewan
Jenderal di Gedung Akademi Hukum Militer di Jakarta. Rapat itu
membicarakan antara lain: Mengesahkan kabinet versi Dewan
Jenderal.
Muchlis tidak hanya
bercerita, ia bahkan menunjukkan pita rekaman pembicaran dalam
rapat. Dalam
rekaman tersebut ada suara Letjen S. Parman (salah satu korban G30S)
yang membacakan susunan kabinet.
Susunan kabinet versi
Dewan Jenderal – menurut rekaman itu – adalah sebagai
berikut:
Letjen AH Nasution
sebagai Perdana Menteri
Letjen A Yani sebagai
Waperdam-I (berarti menggantikan saya) merangkap Menteri
Hankam,
Mayjen MT Haryono
menjadi Menteri Luar Negeri,
Mayjen Suprapto menjadi
Menteri Dalam Negeri,
Letjen S Parman sendiri
menjadi Menteri
Kehakiman,
Ibnu Sutowo (kelak
dijadikan Dirut Pertamina oleh Soeharto) menjadi menteri
Pertambangan.
Rekaman ini lantas saya
serahkan kepada Bung Karno. Jelas rencana Dewan Jenderal ini sangat
peka dan sifatnya gawat bagi kelangsungan pemerintahan Bung Karno.
Seharusnya rencana ini masuk klasifikasi sangat rahasia. Tetapi
mengapa bisa dibocorkan oleh empat orang sipil? Saya menarik
kesimpulan: tiada lain kecuali sebagai alat provokasi. Jika alat
provokasi, maka rekaman itu palsu. Tujuannya
untuk mematangkan suatu rencana besar yang semakin jelas
gambarannya. Bisa untuk mempengaruhi Untung akan semakin yakin bahwa
Dewan Jenderal - yang semula kabar angin - benar-benar
ada.
Hampir bersamaan
waktunya dengan isu Dewan Jenderal, muncul Dokumen Gilchrist.
Dokumen ini sebenarnya adalah telegram (klasifikasi sangat rahasia)
dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia di Jakarta Sir Andrew
Gilchrist kepada Kemen-trian Luar Negeri Inggris. Dokumen itu bocor
ketika hubungan Indonesia-Inggris sangat tegang akibat konfrontasi
Indonesia-Malaysia soal Borneo (sebagian wilayah Kalimantan). Saat
itu Malaysia adalah bekas koloni Inggris yang baru merdeka. Inggris
membantu Malayia mengirimkan pasukan ke
Borneo.
Saya adalah orang yang
pertama kali menerima Dokumen Gilchrist. Saya mendapati dokumen itu
sudah tergeletak di meja kerja saya. Dokumen sudah dalam keadaan
terbuka, mungkin karena sudah dibuka oleh staf saya. Menurut laporan
staf, surat itu dikirim oleh seorang kurir yang mengaku bernama
Kahar Muzakar, tanpa identitas lain, tanpa alamat. Namun berdasarkan
informasi yang saya terima, surat tersebut mulanya tersimpan di
rumah Bill Palmer, seorang Amerika yang tinggal di Jakarta dan
menjadi distributor film-film Amerika. Rumah Bill Palmer sering
dijadikan bulan-bulanan demonstrasi pemuda dari berbagai golongan.
Para pemuda itu menentang peredaran film
porno yang diduga diedarkan dari rumah Palmer.
Isi dokumen itu saya
nilai sangat gawat. Intinya: Andrew Gilchrist melaporkan kepada
atasannya di Kemlu Inggris yang mengarah pada dukungan Inggris untuk
menggulingkan Presiden Soekarno. Di sana ada pembicaraan Gilchrist
dengan seorang kolega Amerikanya tentang persiapan suatu operasi
militer di Indonesia. Saya kutip salah satu paragraf yang berbunyi
demikian: rencana ini cukup dilakukan bersama ’our local army
friends.’ Sungguh
gawat. Sebelumnya sudah beredar buku yang berisi rencana Inggris dan
AS untuk menyerang Indonesia. Apalagi,
pemerintah Inggris tidak pernah melontarkan bantahan, padahal sudah
mengetahui bahwa dokumen rahasia itu beredar di Indonesia. Saya selaku kepala BPI
mengerahkan intelijen untuk mencek otentisitas dokumen itu. Hasilnya
membuat saya yakin bahwa Dokumen Gilchrist itu
otentik.
Akhirnya dokumen
tersebut saya laporkan secara lengkap kepada Presiden Soekarno.
Reaksinya, beliau terkejut. Berkali-kali beliau bertanya keyakinan
saya terhadap keaslian dokumen itu. Dan
berkali-kali pula saya jawab yakin asli. Lantas beliau memanggil
para panglima untuk membahasnya. Dari reaksi Bung Karno saya
menyimpulkan bahwa Dokumen Gilchrist tidak saja mencemaskan, tetapi
juga mem-bakar. Bung Karno sebagai target operasi seperti merasa
terbakar. Namun sebagai negarawan ulung, beliau sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda kecemasan. Menurut penglihatan saya, tentu
Bung Karno cemas. Saya menyimpul-kan, Bung Karno sedang terbakar
oleh provokasi itu.
Terlepas dari
asli-tidaknya dokumen itu, saya menilai bahwa ini adalah alat
provokasi untuk memainkan TNI AD dalam situasi politik Indonesia
yang memang tidak stabil. Saya mengatakan provokasi jika ditinjau
dari dua hal. Pertama: isinya cukup membuat orang yang menjadi
sasaran merasa ngeri. Kedua, dokumen sengaja dibocorkan agar jatuh
ke tangan pendukung-pendukung Bung Karno dan PKI. Bagaimana mungkin
dokumen rahasia seperti itu berada di rumah Palmer yang menjadi
bulan-bulanan demo pemuda. Apakah itu bukan suatu cara
provokasi?
Saya katakan jika
Dokumen Gilchrist sebagai upaya provokasi, maka itu adalah provokasi
pertama. Sedangkan provokasi kedua adalah isu Dewan Jenderal. Jika
diukur dari kebiasaan aktivitas terbuka, maka sumber utama dua alat
provokasi itu memang cukup rumit untuk
dipastikan.
Di sisi lain, Soeharto
juga bermain dalam isu Dewan Jenderal. Beberapa waktu sebelum G30S
meletus, Yoga diutus oleh Soeharto untuk menemui Mayjen S Parman
guna menyampaikan saran agar Parman berhati-hati karena isu bakal
adanya penculikan terhadap jenderal-jenderal sudah santer beredar.
Namun tidak ada yang tahu siapa yang menyebarkan isu seperti
itu.
Parman tidak terlalu
serius menanggapi saran itu, sebab itu hanya isu. Parman bertanya
kepada Yoga: Apakah pak Yoga sudah punya bukti-bukti? Yang ditanya
menjawab: Belum, pak. Lantas Parman menyarankan agar Yoga mencari
bukti. Jangan hanya percaya isu sebelum ada bukti, kata Parman. Yoga
menyanggupi akan mencarikan bukti.
Setelah
G30S meletus, saya teringat saran Yoga kepada Parman itu. Yoga
adalah anggota Trio Soeharto. Saya kemudian berkesimpulan bahwa
informasi yang disam-paikan oleh Yoga kepada Parman itu bertujuan
untuk mengetahui reaksi Parman yang dikenal dekat dengan Yani. Info
tersebut tentu untuk memancing, apakah Parman sudah tahu. Sekaligus
– jika memungkinkan – mengungkap seberapa jauh atisipasi Parman
terhadap isu tersebut. Dan karena Parman adalah teman dekat Yani,
reaksi Parman ini bisa disimpulkan sebagai mewakili persiapan
Yani.
Dengan
reaksi Parman seperti itu, maka bisa disimpulkan bahwa Parman sama
sekali tidak mengantisipasi arah selanjutnya jika seandainya Dewan
Jenderal benar-benar ada. Parman tidak siap meghadapi kemungkinan
yang bakal terjadi selanjut-nya. Ini juga bisa disimpulkan bahwa
Yani juga tidak siap. Jika ini saya kaitkan dengan pertanyaan saya
pada Yani soal isu Dewan Jenderal, maka jelas-jelas bahwa Yani tidak
punya persiapan sama sekali.
Intinya,
info dari Yoga kepada Parman berbalas info, sehingga kelompok
Soeharto mendapatkan info bahwa kelompok Yani sama sekali belum siap
mengantisipasi kemungkinan terjadinya penculikan. Lebih jauh,
rencana Soeharto melakukan gerakan dengan memanfaatkan Kolonel
Latief dan memanipulasi kelompok Letkol Untung, belum tercium oleh
kelompok lawan: Kelompok Yani.
Jika
seandainya gerakan gagal mencapai tujuan (khususnya bila Parman
tidak berhasil dibunuh), maka peringatan Yoga akan lain maknanya.
Peringatan itu bisa berubah menjadi jasa Soeharto menyelamatkan
Parman. Maka Soeharto tetap tampil sebagai pahlawan. Jadi tindakan Soeharto
ini benar-benar strategis.
PERAN AMERIKA
SERIKAT
Apakah AS berperan
memlintir isu sakitnya Presiden dan Dewan Jenderal? Sudah jelas AS
takut Indonesia dikuasai oleh komunis. Dan karena Bung Karno
cenderung kiri, maka proyek mereka ada dua: hancurkan PKI dan
gulingkan Bung Karno.
Selain
tidak suka pada Bung Karno, AS juga punya kepentingan ekonomis di
Indonesia dan
secara umum di Asia. Sebagai
gambaran: Malaysia hanya kaya akan karet dan
timah; Brunei Darussalam hanya kaya minyak; sedangkan
Indonesia memiliki
segalanya di bidang tambang dan hasil bumi. Terlebih wilayahnya jauh
lebih luas dibandingkan dengan Malaysia dan Brunei. Secara
kongkrit bisnis minyak AS di Indonesia (Caltex) serta beberapa
perusahaan lainnya – bagi AS – harus aman. Karena itu politik Bung
Karno dianggap membahayakan kepentingan AS di Indonesia. Namun
mereka kesulitan mengubah sikap Bung Karno yang tegas. Ada upaya AS
untuk membujuk Bung Karno agar mengubah sikap politiknya tetapi
gagal. Secara politis Bung
Karno juga sangat kuat. Di dalam negeri Bung Karno didukung oleh
Angkatan Bersenjata dan PKI. Tak kalah pentingnya, rakyat sungguh
kagum dan simpati terhadapnya. Di luar negeri ia mendapat dukungan
dari negara-negara Asia Tenggara dengan politik
Non-Bloknya.
Itulah
sebabnya, secara intuitif saya yakin bahwa AS ikut main di dua isu
itu. Soal sakitnya Presiden, target mereka bukan menjebak PKI
melakukan gerakan – sehingga PKI masuk ladang pembantaian – sebab
Aidit tahu persis Presiden hanya masuk angin.
Plintiran isu tersebut
lebih untuk konsumsi publik. Jika suatu saat ada gerakan perebutan
kekuasaan, maka akan terlihat wajar bila gerakan itu dilakukan oleh
PKI. Jika Presiden sakit keras, wajar PKI merebut kekuasaan, karena
takut negara akan dikuasai oleh militer. Dan karena itu, wajar pula
jika PKI dihabisi oleh militer.
Dewan Jenderal lebih
banyak dimainkan oleh pemain lokal, meskipun AS bisa membantu dengan
isu senjata dari RRT, Angkatan Kelima dan penolakan Yani terhadap
Angkatan Kelima. Tetapi Dokumen Gilchrist jelas ada pemain
Amerikanya. Dokumen itu awalnya disimpan di rumah warga Amerika Bill
Palmer. Dokumen tersebut menurut saya otentik, namun mengapa
dibocorkan?
Itu semua secara
intiusi. Faktanya: pada pertengahan November 1965 AS mengirim
bantuan obat-obatan dalam jumlah besar ke Indonesia. Bantuan
tersebut meng-herankan saya. Indonesia tidak sedang dilanda gempa
bumi. Juga tidak ada bencana atau perang. Yang ada adalah bahwa pada
1 Oktober 1965 terjadi pembantaian enam jenderal dan seorang letnan.
Seminggu
sesudahnya, AD di bawah pimpinan Soeharto dan dibantu oleh para
pemuda membantai PKI. Pada saat obat-obatan itu dikirim kira-kira
sudah 40 ribu anggota PKI dan simpatisannya dibantai. Nah, di
sinilah pengiriman obat-obatan itu menjadi janggal. Suatu logika
yang sangat aneh jika AS membantu obat-obatan untuk
PKI.
Baru
beberapa waktu kemudian saya mendapat laporan bahwa kiriman
obat-obatan itu hanya kamuflase; hanya sebuah selubung untuk
menutupi sesuatu yang jauh lebih penting. Sebenarnya itu adalah
kiriman senjata untuk membantu tentara dan pemuda membantai PKI.
Sayangnya,
pengetahuan saya tentang hal ini sudah sangat terlambat. Bung Karno
sudah menjelang ajal politik. Paling
tidak ini menambah keyakinan saya bahwa AS ikut bermain dalam
rangkaian G30S.
Bagi
AS, menghancurkan komunis di
Indonesia sangat tinggi
nilainya untuk menja-min dominasi AS diAsia Tenggara. Di sisi lain, reputasi mereka di bidang subversif sudah
dibuktikan dengan tampilnya agen-agen CIA yang berpengalaman
meng-hancurkan musuh di berbagai negara, walaupun reputasi itu di
dalam negeri malah dikecam habis-habisan oleh rakyat AS
sendiri.
Salah
satu agen CIA yang andal adalah Marshall Green (Dubes AS untuk
Indonesia). Reputasinya
di bidang subversif tak diragukan lagi. Sebelum bertugas di
Indonesia ia adalah Kuasa
Usaha AS di Korea Selatan. Di sana ia sukses menjalan-kan misi AS
membantu pemberontakan militer oleh Jenderal Park Chung Hee yang
kemudian memimpin pemerintahan militer selama tiga dekade. Di
Indonesia ia menggantikan Howard Jones menjelang meletusnya G30S.
Jadi pemain penting asing dalam drama 1 Oktober 1965 itu adalah
Green dan Jones.
Tentu
CIA tidak dapat bekerja sendiri menghancurkan komunis di
Indonesia. Apalagi pada
Februari 1965 AS memulai pemboman pertama di Vietnam Utara. Praktis
konsentrasinya – khusus untuk penghancuran komunis – terbagi. Baik
di Indonesia maupun Vietnam Utara, mereka butuh mitra
lokal.
Di
Indonesia mereka merekrut Kamaruzaman yang lebih terkenal dengan
panggilan Sjam sebagai spion. Sjam adalah tentara sekaligus orang
PKI. Kedudukan Sjam di PKI sangat strategis yaitu sebagai Ketua Biro
Khusus PKI yang bisa berhubungan langsung dengan Ketua PKI DN Aidit.
Sebaliknya, para perwira kelompok kontra Dewan Jenderal memberi
informasi kepada saya bahwa Sjam sering memimpin rapat intern AD.
Tidak jelas benar, apakah Sjam itu tentara yang disusupkan ke dalam
tubuh PKI atau orang PKI yang disusupkan ke dalam AD. Tetapi jelas
ia adalah mitra lokal CIA. Dan CIA beruntung memiliki mitra lokal
yang berdiri di dua kubu yang berseberangan.
Tetapi permainan Sjam
sangat kasar. Ingat pernyataannya bahwa pada tanggal 12 Agustus 1965
ia mengaku dipanggil oleh Aidit untuk membahas betapa seriusnya
sakit Presiden. Juga Kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan
segera jika Presiden meninggal. Itu dikatakan setelah Aidit
dibunuh.
Di pengadilan Sjam
mengatakan bahwa perintah menembak para jenderal datang dari dia
sendiri, namun itu atas perintah Aidit yang disampaikan kepadanya.
Inilah
satu-satunya pernyataan yang memberatkan Aidit selain keberadaan
Aidit di Halim pada taggal 30 September 1965 malam. Namun Aidit
tidak sempat bicara sebab dia ditembak mati oleh Kolonel Yasir
Hadibroto (kelak dijadikan Gubernur Lampung oleh Soeharto) beberapa
hari setelah G30S di Boyolali, Jateng.
Jika Sjam itu seorang
tentara, ia ibarat martil. Keterangannya sangat menguntung-kan pihak yang
menghancurkan PKI. Namun setelah bertahun-tahun berstatus tahanan,
Sjam diadili dan dihukum mati. Keberpihakannya
kepada PKI, AD dan AS akhirnya tidak bermanfaat bagi dirinya
sendiri.
MENJALIN SAHABAT
LAMA
Ini
adalah bagian yang mengungkap keterlibatan Soeharto dalam G30S. Dia
menjalin hubungan dengan dua sahabat lama - Letkol TNI AD Untung
Samsuri dan Kolonel TNI AD Abdul Latief – beberapa waktu sebelum
meletus G30S. Untung kelak menjadi komandan pasukan yang menculik
dan membunuh 7 perwira, sedangkan Latief hanya dituduh terlibat
dalam peristiwa itu.
adalah
anak buah Soeharto ketika Soeharto masih menjabat sebagai Panglima
Divisi Diponegoro, Jateng. Untung bertubuh agak pendek namun berjiwa
pemberani. Selama beberapa bulan berkumpul dengan saya di Penjara
Cimahi, Bandung, saya tahu persis bahwa
Untung tidak menyukai politik. Ia adalah tipe tentara yang loyal
kepada atasannya, sebagaimana umumnya sikap prajurit sejati.
Kepribadiannya polos dan jujur. Ini terbukti dari fakta bahwa sampai
beberapa saat sebelum diek-sekusi, dia masih tetap percaya bahwa
vonis hukuman mati terhadap dirinya tidak mungkin dilaksanakan.
Percayalah, pak Ban, vonis buat saya itu hanya sandiwara, katanya
suatu hari pada saya. Kenapa begitu? Karena ia percaya pada Soeharto
yang mendukung tindakannya: membunuh para jenderal. Soal ini akan dibeberkan
di bagian lebih lanjut.
Sekitar akhir 1950-an
Soeharto dan Untung pisah kesatuan. Namun pada tahun 1962 mereka
berkumpul lagi. Mereka dipersatukan oleh tugas merebut Irian Barat
dari tangan Belanda. Saat itu Soeharto adalah Panglima Komando
Mandala, sedangkan Untung adalah anak buah Soeharto yang bertugas di
garis depan. Dalam tugas itulah keberanian Untung tampak menonjol:
ia memimpin kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan belantara
Kaimana. Operasi pembebasan Irian akirnya sukses. Pada tanggal 15
Oktober 1962 Belanda menyerahkan Irian kepada PBB. Lantas
pada tanggal 1 Mei 1963 Irian diserahkan oleh PBB ke pangkuan RI.
Keberanian
Untung di medan perang sampai ke telinga Presiden. Karena itu Untung
dianugerahi Bintang Penghargaan oleh Presiden Soekarno karena
keberaniannya.
itu Untung dan Soeharto
berpisah lagi dalam hubungan garis komando. Presiden Soekarno
menarik Untung menjadi salah satu komandan Batalyon Kawal Istana,
Cakra Bhirawa. Sedangkan Soeharto akhirnya menjadi Pangkostrad.
Namun tugas baru Untung itu membuat Soeharto marah. Soeharto ingin
merekrut Untung masuk ke Kostrad menjadi anak-buahnya, karena ia
tahu bahwa Untung itu pemberani. Tetapi apa mau dikata, Presiden
sudah terlanjur menarik Untung ke dalam pasukan elite kawal Istana.
Soeharto hanya bisa kecewa.
itu konflik Bung Karno
dan PKI di satu sisi dengan para pimpinn AD di sisi lain belum
terlalu tajam. Dalam perkembangannya, konflik Bung Karno dan PKI
dengan AD itu semakin memuncak. Konflik itu diikuti oleh polarisasi
kekuatan politik dan militer yang semakin meningkat, sehingga dapat
disimpulkan bahwa sewaktu-waktu konflik bisa mengarah ke suatu
kondisi yang mengkhawatirkan. Sebab Bung Karno adalah pemimpin yang
kharismatik yang didukung oleh rakyat dan sebagian besar perwira
Angkatan Bersenjata, kecuali sebagian kecil perwira AD. Di sisi
lain, PKI – seperti sudah saya sebutkan di muka – saat itu memiliki
massa dalam jumlah sangat besar. Bisa dibayangkan apa yang bakal
terjadi jika konflik ini semakin tajam.
Nah, saat konflik
meningkat itulah justru Soeharto bersyukur bahwa Untung menjadi
salah satu komandan Batalyon Kawal Istana Cakra Bhirawa. Kedudukan
Untung di sana menjadi titik strategis dipandang dari sisi Soeharto
yang menunggu momentum untuk merebut kekuasaan negara. Maka hubungan
Soeharto-Untung kembali membaik, meskipun beberapa waktu sebelumnya
Soeharto sempat marah dan membenci Untung. Bukti membaiknya hubungan
itu adalah bahwa beberapa waktu kemudian, di akhir 1964, Untung
menikah di Kebumen dan Soeharto bersama istrinya, Ny. Soehartinah
(Tien) menghadiri resepsinya di Kebumen.
Seorang komandan
menghadiri pernikahan bekas anak-buah adalah hal yang sangat wajar,
memang. Tetapi jarak antara Jakarta-Kebumen tidak dekat. Apalagi
saat itu sarana transportasi dan terutama kondisi jalan sangat tak
memadai. Jika tak benar-benar sangat penting, tidak mungkin Soeharto
bersama istrinya menghadiri perni-kahan Untung. Langkah Soeharto
mendekati Untung ini terbaca di kalangan elite politik dan militer
saat itu, tetapi mereka hanya sekadar heran pada perhatian Soeharto
terhadap Untung yang begitu besar.
Di sisi lain, Soeharto
juga membina persahabatan lama dengan Kolonel Abdul Latief yang juga
bekas anak-buahnya di Divisi Diponegoro. Latief adalah juga seorang
tentara pemberani. Ia adalah juga seorang yang saya nilai jujur.
Namun, berbeda dengan Untung, Latief mengantongi rahasia skandal
Soeharto dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogya. Dalam serangan
itu Belanda diusir dari Yogya (ketika itu ibu-kota RI) hanya dalam
waktu enam jam. Itu sebabnya serangan ini disebut juga Enam jam di
Yogya, yang dalam sejarah disebut sebagai Operasi Janur Kuning
karena saat operasi dilaksanakan semua pasukan yang berjumlah
sekitar 2000 personil (termasuk pemuda gerilyawan) diharuskan
mengenakan janur kuning (sobekan daun kelapa) di dada kiri sebagai
tanda. Yang tidak mengenakan tanda khusus ini bisa dianggap sebagai
mata-mata Belanda dan tidak salah jika ditembak
mati.
Soeharto (di kemudian
hari) mengklaim keberhasilan mengusir Belanda itu atas
keberaniannya. Serangan Oemoem 1 Maret 1949 itu katanya, adalah ide
dia. Soal ini sudah diungkap di berbagai buku, bahwa serangan
tersebut adalah ide Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Soeharto adalah
komandan pelaksana serangan. Namun bagi Latief persoalan ini terlalu
tinggi. Latief hanya merupakan salah satu komandan kompi. Hanya saja
karena dia kenal Soeharto sewaktu masih sama-sama di Kodam
Diponegoro, ia dekat dengan Soeharto. Latief
tidak bicara soal ide serangan. Ia hanya bicara soal teknis
pertempuran.
Tentara
kita menyerbu kota dari berbagai penjuru mulai
pukul 06.00 WIB, persis saat sirene berbunyi tanda jam malam
berakhir. Diserbu mendadak oleh kekuatan yang begitu besar, Belanda
terkejut. Perlawanan mereka sama sekali tidak berarti bagi pasukan
kita. Mereka sudah kalah strategi, diserang mendadak dari berbagai
penjuru kota oleh pasukan yang jumlahnya
demikian banyak. Tangsi-tangsi Belanda banyak yang berhasil direbut
tentara kita. Namun Belanda sempat minta bantuan pasukan dari
kota
lain. Walaupun bala bantuan pasukan Belanda datang agak terlambat,
namun mereka memiliki persenjataan yang lebih baik dibanding tentara
kita. Mereka juga mengerahkan kendaraan lapis baja. Pada saat itulah
terjadi pertempuran hebat di seantero Yogyakarta.
Pada
scope lebih kecil, kelompok pasukan pimpinan Latief kocar-kacir
digempur serangan balik pasukan Belanda. Dalam kondisi seperti itu
Latief memerintahkan pasukannya mundur ke Pangkalan Kuncen sambil
tetap berupaya memberikan tembakan balasan. Setelah di garis
belakang, Latief memeriksa sisa pasukan. Ternyata tinggal 10 orang
tentara. Di saat mundur tadi sekilas diketahui 12 orang terluka dan
2 orang gugur di tempat. Mereka yang luka terpaksa ditinggal di
medan pertempuran, sehingga
kemungkinan besar juga tewas, sedangkan pemuda gerilyawan (juga di
bawah kompi Latief) yang tewas 50 orang.
Nah, saat Latief bersama
sisa pasukannya berada di garis belakang itulah mereka berjumpa
Soeharto. Apa yang sedang dilakukan Soeharto? Dia sedang santai
makan soto babat, ujar Latief. Ketika itu perang sedang berlangsung.
Ribuan tentara dan pemuda gerilyawan tengah beradu nasib menyabung
nyawa, merebut tanah yang diduduki oleh penjajah. Toh, Latief dengan
sikap tegap prajurit melapor kepada Soeharto tentang kondisi
pasukannya. Soeharto ternyata juga tidak berbasa-basi misalnya
menawari Latief dan anak-buahnya makan. Sebaliknya Soeharto langsung
memerintahkan Latief bersama sisa pasukannya untuk menggempur
belanda yang ada di sekitar Kuburan Kuncen, tidak jauh dari lokasi
mereka.
akhirnya berhasil diusir
dari Yogyakarta dalam tempo enam jam. Secara keseluruhan dalam
pertempuran itu pasukan kita menang, meskipun dalam scope kecil
pasukan pimpinan Latief kocar-kacir. Komandan dari seluruh pasukan
itu adalah Soeharto yang - boleh saja – menepuk dada membanggakan
keberaniannya. Bahkan Soeharto kemudian bertindak jauh lebih berani
lagi dengan mengakui bahwa ide serangan itu dalah idenya (yang kini
terbukti tidak benar). Namun soal Soto babat menjadi skandal
tersendiri bagi figur seorang komandan pasukan tempur di mata
Latief. Dan skandal ini diungkap oleh Latief pada saat dia diadili
di Mahkamah Militer dengan tuduhan terlibat G30S. Kendati begitu,
skandal ini tidak menyebar karena saat itu Soeharto sudah berkuasa.
Soeharto sudah menjadi pihak yang menang dan Latief menjadi pihak
yang kalah. Apa pun informasi dari pihak yang kalah sudah pasti
disalahkan oleh pihak yang menang.
Setelah Serangan Oemoem
1 Maret, Soeharto-Latief pisah kesatuan. Soeharto akhirnya menjadi
Pangkostrad, sementara Latief akhirnya menjadi Komandan Brigade
Infanteri I Jaya Sakti, Kodam Jaya. Posisi
Latief cukup strategis. Maka Soeharto kembali membina hubungan lama
dengan Latief . Jika Untung didatangi oleh
Soeharto saat menikah di Kebumen, Latief juga didatangi di rumahnya
oleh Soeharto dan istrinya saat Latief mengkhitankan anaknya. Saya
menilai, Soeharto mendekati Latief dalam upaya sedia payung sebelum
hujan, sebab suatu saat nanti Latief akan dimanfaatkan oleh
Soeharto.
cerita
lama terulang kembali. Jika dulu Soeharto membentuk trio bersama
Yoga Soegama dan Ali Moertopo, kini bersama Untung dan Latief.
Semuanya teman-teman lama Soeharto ketika masih di Jawa Tengah.
Tetapi trio kali ini (bersama Untung dan Latief) memiliki posisi
strategis yang lebih tinggi dibanding yang dulu: Untung adalah orang
dekat Presiden. Latief adalah orang
penting di Kodam Jaya yang menjaga keamanan Jakarta. Targetnya
jelas: menuju ke Istana.
Tidak ada orang yang
bisa membaca konspirasi trio tersebut saat itu karena selain trio
ini tidak meledak-ledak, mereka juga tidak berada di posisi
tertinggi di jajaran militer. Namun saya sebagai orang terdekat Bung
Karno sudah punya feeling bahwa persahabatan mereka bisa menggoyang
Istana. Paling
tidak mereka bisa memper-kuat apa yang sudah dirintis oleh Nasution,
yakni: menciptakan Negara dalam Negara. Sebab konflik antara Bung
Karno dan AD sudah semakin tajam.
Selain
membentuk trio, Soeharto juga dekat dengan Brigjen Soepardjo
(berasal dari Divisi Siliwangi yang kemudian ditarik Soeharto ke
Kostrad menjabat PangKopur II).
Pertengahan September
1965 suhu politik di Jakarta mulai panas. Karena hubungan
persahabatan – di luar jalur komando – Latief menemui Soeharto.
Inilah pertemuan pemting pertama antara Soeharto dan Latief
menjelang G30S. Saat itu isu dewan Jenderal sudah menyebar. Begitu
mereka bertemu, Latief melaporkan isu tersebut kepada Soeharto.
Ternyata Soeharto menyatakan bahwa ia sudah tahu. Beberapa hari yang
lalu saya diberitahu hal itu oleh seorang teman AD dari Yogya
bernama Soebagyo, katanya. Tidak jelas siapa Soebagyo. Namun menurut
Latief, Soebagyo adalah tentara teman mereka ketika masih sama-sama
di Divisi Diponegoro.
Pada saat yang hampir
bersamaan, pada 15 September 1965 Untung mendatangi Soeharto. Untung
juga melaporkan adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan kup.
Berbeda dengan Latief, Untung menyatakan bahwa ia punya rencana akan
mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan menangkap mereka lebih
dulu, sebelum mereka melakukan kudeta. Untung memang merupakan
pembantu setia Bung Karno. Dalam posisinya sebagai salah satu
komandan Pasukan Kawal Istana Cakra Bhirawa, sikapnya sudah
benar.
jawab Soeharto? Bagus
kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu, kata
Soeharto. Malah Soeharto menawarkan bantuan pasukan kepada Untung:
Kalau perlu bantuan pasukan, akan saya bantu, katanya. Untung
gembira mendapat dukungan. Ia menerima tawaran bantuan tersebut. Dan
Soeherto juga tidak main-main: Baik. Dalam waktu secepatnya akan
saya datangkan pasukan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah,
katanya.
dicatat: pertemuan
Soeharto dengan Latief tidak berkaitan dengan pertemuan Soeharto
dengan Untung. Saya lupa lebih dulu mana, antara Latief bertemu
Soeharto dengan Untung bertemu Soeharto. Yang pasti itu terjadi di
pertengahan bulan September 1965. Pada awalnya hubungan
Soeharto-Untung terpisah dari hubungan Soeharto-Latief dalam hal
Dewan Jenderal. Namun mereka sama-sama dari Kodam Diponegoro.
Hubungan Untung-Latief juga terjalin baik meskipun sudah berpisah
kesatuan. Akhirnya mereka tahu bahwa Soeharto mendukung gerakan
menangkap Dewan Jenderal.
Soeharto ternyata
dibuktikan. Beberapa hari sebelum 1 Oktober 1965, atas perintah
Soeharto didatangkan beberapa batalyon pasukan dari Semarang,
Surabaya dan Bandung. Perintahnya berbunyi: Pasukan harus tiba di
Jakarta dengan perlengkapan tempur Siaga-I. Lantas secara bertahap
pasukan tiba di Jakarta sejak 26 September 1965. Jelas, pasukan ini
didatangkan khusus untuk menggempur Dewan Jenderal. Dalam komposisi
pasukan penggempur Dewan Jenderal itu, dua-pertiganya adalah pasukan
Soeharto dari daerah dan Kostrad.
G30S meletus dan
Soeharto balik menggempur pelakunya, lantas ia menuduh gerakan itu
didalangi PKI. Soeharto membuat aneka cerita bohong. Soal kedatangan
pasukan dari Bandung, Semarang dan Surabaya itu dikatakan untuk
persiapan upacara Hari ABRI 5 Oktober. Dari segi logika sudah tidak
rasional. Rombongan pasukan tiba di Jakarta sejak 26 September 1965
dengan persiapan tempur Siaga-I. Ini jelas tidak masuk akal jika
dikaitkan dengan Hari ABRI. Yang terpenting: dari laporan intelijen
yang saya terima dan dikuatkan dengan cerita Untung pada saya ketika
kami sudah sama-sama dipenjara, pasukan bantuan Soeharto itu
dimaksud-kan untuk mendukung Untung yang akan menggempur Dewan
Jenderal. Ini sudah dibahas oleh Untung dan
Soeharto.
penting kedua
Soeharto-Latief terjadi dua hari menjelang 1 Oktober 1965. Pertemuan
dilakukan di rumah Soeharto di Jalan H Agus Salim. Berdasarkan
cerita Latief kepada saya pada saat kami sama-sama dipenjara, ketika
itu ia melaporkan kepada Soeharto bahwa Dewan Jenderal akan
melakukan kudeta terhadap Presiden. Dan Dewan Jenderal akan diculik
oleh Pasukan Cakra Bhirawa. Apa reaksi Soeharto? Dia tidak bereaksi.
Tapi karena saat itu ada tamu lain di rumah pak Harto, maka kami
beralih pembicaraan ke soal lain, soal rumah, kata
Latief.
Pertemuan
terakhir Soeharto-Latief terjadi persis pada tanggal 30 September
1965 malam hari pukul 23.00 WIB di RSPAD Gatot Subroto. Saat itu
Soeharto menunggu anaknya Hutomo Mandala Putera (Tommy Soeharto)
yang ketumpahan sup panas dan dirawat di sana. Kali ini
Latief melaporkan penculikan para jenderal akan dilaksanakan pukul
04.00 WIB (sekitar lima jam kemudian). Kali ini juga
tidak ditanggapi oleh Soeharto.
yang
akan melapor kepada Soeharto saat itu tiga orang, yakni Latief,
Brigjen Soepardjo dan Letkol Untung. Sebelum Latief menghadap
Soeharto, Latief lebih dulu bertemu dengan Soepardjo dan Untung.
Soepardjo dan Untung datang ke rumah saya malam itu (30 September
1965) pada pukul 21.00 WIB. Soepardjo sedang ada urusan, sedangkan
Untung kurang berani bicara pada Soeharto. Soepardjo lantas
mengatakan pada saya: Sudahlah Tif (panggilan Latief), kamu saja
yang meng-hadap. Katakan ke pak Harto, kami sedang ada urusan, kata
Latief menirukan ucapan Soepardjo.
Setelah Latief bertemu
Soeharto, ia lantas kembali menemui Soepardjo dan Untung yang
menunggu di suatu tempat. Latief dengan wajah berseri-seri
melaporkan kepada teman-temannya bahwa Soeharto berada di belakang
mereka.
Saya ulangi: Pada
sekitar pukul 01.00 WIB 1 Oktober 1965, kata Latief kepada Soepardjo
dan Untung: Soeharto berada di belakang
mereka.
Beberapa jam kemudian
pasukan bergerak mengambil para jenderal.
Ada yang menarik dari
pengakuan Soeharto soal pertemuan terakhir dirinya dengan Latief
pada tanggal 30 September 1965 malam di RSPAD Gatot Subroto itu. Ia
bercerita kepada dua pihak: Pertama kepada wartawan Amerika Serikat
bernama Brackman, pada tahun 1968. Saat itu ia ditanya oleh Brackman
mengapa Soeharto tidak termasuk dalam daftar jenderal yang akan
diculik.
Kepada Brackman
dikatakan demikian: Memang benar dua hari sebelum 1 Oktober 1965
anak lelaki saya yang berusia 3 tahun (Hutomo Mandala Putera alias
Tommy Soeharto) ketumpahan sup panas. Dia lantas dibawa ke RSPAD
Gatot Subroto. Pada 30 September 1965 banyak kawan-kawan saya
menjenguk anak saya dan saya juga berada di RSPAD. Di antara yang
datang adalah Latief yang menanyakan kondisi anak saya. Saat itu
saya sangat terharu atas keprihatinannya pada anak saya.
Tetapi
ternyata Latief adalah orang penting dalam kup yang terjadi. Jadi
jelas Latief datang ke RSPAD bukan untuk menengok anak saya, tetapi
untuk mengecek keberadaan saya. Untuk membuktikan keberadaan saya,
benarkah saya di RSPAD Gatot Subroto? Ternyata Memang begitu adanya:
saya di RSPAD Gatot Subroto hingga tengah malam, lantas pulang ke
rumah.
Pada Juni 1970 Soeharto
diwawancarai oleh wartawan Der Spiegel, Jerman. Der Spiegel juga
mengajukan pertanyaan yang sama dengan Brackman: Mengapa Soeharto
tidak termasuk dalam daftar perwira AD yang diculik pada tanggal 1
Oktober 1965?
Soeharto mengatakan
kepada Der Spiegel demikian: Latief datang ke RSPAD pukul 23.00 WIB
bersama komplotannya. Tujuannya untuk membunuh saya. Tetapi itu
tidak dilakukan, sebab ia khawatir membunuh saya di tempat
umum.
MELETUSLAH PERISTIWA
ITU
G30S meletus saya tidak
berada di Jakarta. Saya melaksanakan tugas keliling daerah yang
disebut Turba (Turun ke bawah). Pada
28 September 1965 saya berangkat ke Medan, Sumatera Utara. Beberapa
waktu sebelumnya saya keliling Jawa Timur dan Indonesia Timur. Saat
ke Medan rombongan saya berangkat
bersama rombongan Laksamana Muda Udara Sri Muljono Herlambang.
Misinya adalah mematangkan Kabinet Dwikora. Namun kemudian kami
berpisah. Rombo-ngan Sri Muljono berangkat ke Bengkulu dan Padang, rombongan saya ke Medan.
Tanggal
2 Oktober saya ditilpun langsung oleh Presiden Soekarno dan
diberitahu kejadian sehari sebelumnya. Dan hari itu juga saya
diperintahkan untuk segera ke Jakarta. Ada
pesan Presiden agar saya berhati-hati: Awas, Ban, hati-hati.
Pesawat-mu bisa ditembak jatuh, pesan Presiden. Tetapi saya tetap
kembali ke Jakarta dengan pesawat. Saya tentu
saja sempat was was, sebab yang
mengingatkan saya bukan orang sembarangan. Begitu tiba di Jakarta,
saya langsung menuju Istana Bogor menemui Presiden Soekarno.
Beberapa waktu kemudian saya mengetahui alasan kenapa Bung Karno
memperingatkan saya agar saya hati-hati. Sebabnya adalah saat Sri
Muljono menuju ke Jakarta, pesawatnya ditembaki di kawasan Tebet
sehingga pesawat berputar-putar mencari tempat landasan. Akhirnya
pesawat mendarat secara darurat di dekat
Bogor.
Saya tiba di Bogor,
suasana sudah jauh berubah dibanding sebelum saya berangkat ke
Medan. Wajah Bung Karno tampak tegang. Leimena dan Chaerul Saleh
sedang mendiskusikan berbagai hal. Saya mendapat laporan bahwa pada
saat itu Bung Karno sudah berada dalam tawanan Soeharto. Bung Karno
tidak diperbolehkan meninggalkan Istana Bogor.
Sebelumnya, peristiwa
hebat terjadi di Jakarta. Tujuh perwira AD diculik yang kemudian
dibunuh pada dini hari. Saya mendapat laporan dari para kolega dan
para intel anak buah saya di BPI. Sampai berhari-hari kemudian saya
terus mengumpul-kan informasi dari para kolega dan anak-buah saya.
Rangkaian
informasi yang saya terima tentang kejadian seputar 30 September
1965 hingga pembunuhan para jenderal itu sebagian saya catat,
sebagian tidak.
Masih
ingat hampir seluruhnya. Semua informasi yang saya terima, termasuk
berbagai gejala yang sudah saya ketahui sebelumnuya, dapat saya
ungkapkan di sini. Namun paparan saya akan terasa kurang menimbulkan
kenangan yang kuat jika tidak dibandingkan dengan sejarah versi Orde
Baru. Itu sebabnya, di beberapa bagian saya kutip sebagian cerita
versi Soeharto sebagai pembanding.
Tanggal
29 September 1965 pagi hari, Panglima AU Oemar Dhani melaporkan
kepada Presiden Soekarno tentang banyaknya pasukan yang datang dari
daerah ke Jakarta. Beberapa waktu sebelumnya, saya melaporkan kepada
Bung Karno adaya sekelompok perwira AD yang tidak puas terhadap
Presiden - yang menamakan diri Dewan Jenderal – termasuk bocoran
rencana Dewan Jenderal membentuk kabinet. Saya juga melapor
tentang Dokumen Gilchrist. Semua laporan bertumpuk menjadi satu di
benak Bung Karno. Dengan akumulasi aneka laporan yang mengarah pada
suatu peristiwa besar itu, saya yakin Bung Karno masih
bertanya-tanya, apa gerangan yang bakal
terjadi.
Pengakuan Soeharto,
menjelang dini hari 1 Oktober 1965 ia meninggalkan anaknya di RSPAD
Gatot Subroto dan pulang ke rumahnya di Jalan H Agus Salim.
Menurut-nya, saat meninggalkan RSPAD itu ia sendirian (tanpa
pengawal) dengan mengen-darai jeep Toyota. Dari RSPAD mobilnya
melewati depan Makostrad, lantas masuk ke Jalan Merdeka Timur. Ia
mengaku di sana sempat merasakan suasana yang tidak biasa. Di
sekitar Jalan Merdeka Timur berkumpul banyak pasukan, tetapi
Soeharto terus berlalu dan tidak menghiraukan puluhan pasukan yang
berkumpul di Monas.
Setelah itu Soeharto
mengaku pulang ke rumah dan tidur (ini dikatakan Soeharto di
beberapa kesempatan terbuka). Lantas pagi harinya pukul 05.30 WIB
dia mengaku dibangunkan oleh seorang tetangganya dan diberitahu
bahwa baru saja terjadi penculikan terhadap para jenderal. Setelah
itu saya langsung menuju ke markas Kostrad, kata
Soeharto.
Pengakuan Soeharto itu
luar biasa aneh:
1. di saat Jakarta dalam kondisi
sangat tegang ia menyetir mobil sendirian, tanpa pengawal. Jangankan
dalam situasi seperti itu, dalam kondisi biasa saja ia selalu
dikawal.
2. ia melewati Jalan
Merdeka Timur dan mengaku melihat puluhan prajurit berkumpul dan
merasakan sesuatu yang tidak biasa, tetapi tidak dia hiraukan.
Sebagai seorang komandan pasukan, tidakkah dia ingin tahu apa yang
akan dilakukan oleh puluhan prajurit yang berkumpul pada tengah
malam seperti itu?
3. pada pagi hari 1 Oktober 1965
pukul 05.30 WIB siapa yang bisa mengetahui bahwa baru saja terjadi
penculikan terhadap para jenderal? Saat itu belum ada berita
televisi seperti sekarang (semisal Liputan 6 Pagi SCTV) yang dengan
cepat bisa memberitakan suatu kejadian beberapa jam sebelumnya.
Radio
RRI saja baru memberitakan peristiwa itu pada pukul 07.00
WIB.
Yang
sebenarnya terjadi:
Soeharto
sudah tahu bahwa pasukan yang berkumpul di dekat Monas itu akan
bergerak mengambil para anggota Dewan Jenderal. Toh dia sendiri yang
men-datangkan sebagian besar (kira-kira dua-pertiga) pasukan
tersebut dari Surabaya, Semarang dan Bandung. Ingat: Soeharto
menawarkan bantuan pasukan yang diterima dengan senang hati oleh
Untung.
dari daerah dengan
perlengkapan tempur Siaga-I itu bergabung dengan Pasukan Kawal
Istana Cakra Bhirawa pimpinan Untung. Mereka berkumpul di dekat
Monas. Selain itu, beberapa jam sebelumnya Soeharto menerima laporan
dari Latief bahwa pasukan sudah dalam keadaan siap mengambil para
jenderal. Maka wajar saja tengah malam itu Soeharto mengendarai jeep
sendirian, meskipun Jakarta dalam kondisi sangat tegang. Malah ia
dengan tenangnya melewati tempat berkumpulnya pasukan yang beberapa
saat lagi berangkat membunuh para jenderal. Bagi Soeharto tidak ada
yang perlu ditakutkan.
Ia justru melakukan
kesalahan fatal dengan mengatakan kepada publik bahwa ia sempat
melihat sekelompok pasukan berkumpul di dekat Monas dan ia
membiarkan saja. Jika ia memposisikan diri sebagai orang yang tidak
tahu rencana pembunuhan para jenderal, mestinya ia tidak menyatakan
seperti itu dalam buku biografinya dan di berbagai kesempatan
terbuka. Dengan pernyataannya membiarkan pasukan bergerombol di
dekat Monas, bisa menyeret dirinya dalam kesulitan besar. Masak
seorang Panglima Kostrad membiarkan sekelompok pasukan bergerombol
di dekat Monas pada tengah malam, padahal dia melihatnya
sendiri.
sebenarnya terjadi
adalah bahwa tengah malam itu ia tidak pulang ke rumah seperti
ditulis dalam buku biografinya. Yang benar: setelah melewati Jalan
Merdeka Timur dan melihat persiapan sekum-pulan pasukan, ia lantas
menuju ke Markas Kostrad. Di Makostrad ia memberi pengarahan kepada
sejumlah pasukan bayangan dan operasi Kostrad yang mendukung gerakan
pengambilan para jenderal. Dengan kronologi yang sebenarnya ini,
maka seharusnya tidak perlu ada cerita Soeharto pulang ke rumah
lantas tidur.
pengakuannya itu
Soeharto rupanya ingin menunjukkan seolah-olah ia jujur dengan
mengatakan bahwa pada dini hari 1 Oktober 1965 ia memang berada di
Makostrad. Tapi prosesnya dari RSPAD, pulang dulu, lantas tidur,
dibangunkan tetangga dan diberitahu ada penculikan pukul 05.30 WIB,
baru kemudian berangkat ke Makostrad.
Kalau Soeharto
memposisikan diri sebagai orang yang tidak bersalah dalam G30S, maka
pengakuannya itu merupakan kesalahan yang sangat fatal. Sebab tidak
mungkin ada orang yang tinggal di Jalan H Agus Salim (tetangga
Soeharto) mengetahui ada penculikan para jenderal dan membangunkan
tidur Soeharto pada pukul 05.30 WIB. Padahal penculikan dan
pembunuhan para jenderal baru terjadi beberapa menit sebelumnya,
sekitar pukul 04.00 WIB.
Satu pertanyaan sangat
penting dari tragedi pagi buta 1 Oktober 1965 adalah mengapa para
jenderal itu tidak dihadapkan kepada Presiden Soekarno. Logikanya
jika anggota Dewan Jenderal diisukan akan melakukan kudeta, mestinya
dihadapkan ke Presiden Soekarno untuk diminta penjelasannya tentang
isu rencana kudeta. Masalahnya tentu bakal menjadi lain jika para
jenderal tidak dibunuh, tetapi diajukan kepada Presiden untuk
konfirmasi.
Namun G30S sebagai suatu
kekuatan sebenarnya sudah ditentukan jauh sebelum peristiwanya
meletus. Dari perspektif Soeharto, masa hidup gerakan ini tidak
ditentukan oleh kekuatannya melainkan oleh masa kegunaannya. Setelah
para jenderal dibantai, maka habislah masa kegunaan G30S. Dan sejak itu pula masa hidupnya harus diakhiri.
Meskipun Untung, Latief dan Soepardjo berupaya ingin mempertahankan
kelanggengan G30S, tetapi umurnya hanya beberapa jam saja. Setelah
itu pelakunya diburu dan dihabisi. Soeharto dengan melikuidasi G30S
menimbulkan kesan bahwa ia setia kepada atasannya, Yani dan
teman-teman jenderal yang dibunuh. Ia tampil sebagai
pahlawan.
Soal Mengapa Dewan
Jenderal diculik, bukan dihadapkan ke Presiden, ada pengakuan dari
salah satu pelaku penculikan. Menurut Serma Boengkoes (Koman-dan
Peleton Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan) yang memimpin prajurit
penjem-put Mayjen MT Haryono, di militer tidak ada perintah culik.
Yang ada adalah tangkap atau hancurkan. Perintah yang saya terima
dari Komandan Resimen Cakra Bhirawa Tawur dan Komandan Batalyon
Untung adalah tangkap para jenderal itu, kata Boengkoes setelah ia
bebas dari hukuman.
MT Haryono terpaksa
dibunuh sebab rombongan pasukan tidak diperbolehkan masuk rumah oleh
istri MT Haryono. Sang istri curiga, suaminya dipanggil Presiden kok
dini hari. Karena itu pintu rumah tersebut didobrak dan MT Haryono
tertembak. Tidak jelas apakah Haryono langsung tewas di tempat atau
dibunuh kemudian setelah semua jenderal dikumpulkan di Pondok Gede
(Lubang Buaya).
Saat dijemput oleh
sejumlah pasukan di rumahnya, Letjen A Yani terkejut. Bukan karena
penjemputnya pasukan berseragam loreng, tetapi karena pada hari itu
ia memang dijadwalkan untuk menghadap Presiden Soekarno di Istana
Merdeka, pada pukul 08.00 WIB. Presiden sedianya akan bertanya
kepada Yani soal Angkatan Kelima. Yani menolak ide Presiden tentang
Angkatan Kelima sejak beberapa waktu sebelumnya. Malah sudah beredar
isu bahwa Yani akan digantikan oleh wakilnya yaitu Gatot
Subroto.
dijemput tentara dini
hari mungkin Yani merasa pertemuan dengan Presiden Soekarno diajukan
beberapa jam. Ia dibangunkan dari tidurnya oleh istrinya dan masih
mengenakan piyama. Meskipun kedatangan tentara penjemputnya
menimbul-kan kegaduhan di keluarga Yani yang terkejut, namun Yani
menurut. Ia menyatakan kepada penjemputnya akan ganti pakaian.
Tetapi ketika tentara penjemputnya menyatakan Tidak perlu ganti
baju, jenderal, maka seketika Yani menempeleng tentara tersebut.
Perkataan prajurit seperti itu terhadap jenderal memang sudah luar
biasa tidak sopan. Lantas Yani masuk ke kamar untuk ganti pakaian.
Yani diberon-dong tembakan.
Penculikan para jenderal
yang lain mungkin cerita saya mirip dengan yang sudah banyak ditulis
di berbagai buku, baik versi Orde Baru maupun buku yang terbit
setelah Soeharto tumbang. Kurang lebih mirip seperti itu sehingga
tidak perlu saya ceritakan lagi.
Penting, peristiwa
berdarah di pagi buta pada tanggal 1 Oktober 1965 (G30S) itu sampai
kini masih ditafsirkan secara berbeda-beda, baik di dalam maupun di
luar negeri. Tetapi jelas substansi peristiwa itu tidak seperti
mitos yang dibuat AD yakni percobaan kudeta yang didalangi oleh PKI.
Versi AD ini sama sekali tidak benar. Peristiwa itu merupakan
provokasi yang didalangi oleh jenderal-jenderal fasis AD didukung
dengan baik oleh imperialisme internasional.
Peristiwa itu adalah
provokasi yang dimanipulasi secara licik dan efektif serta dikelola
secara maksimal oleh seorang fasis berbaju kehalusan feodal Jawa
yang haus kekuasaan dan harta. Dialah Panglima Kostrad Mayjen
Soeharto.
Pada sisi intern,
peristiwa itu bukan hanya merupakan puncak manifestasi konflik
antara pimpinan AD dan PKI, tetapi juga pertentangan antara pemimpin
politik konservatif dengan aspirasi kapitalisme yang pembangunannya
bergantung pada imperialisme internasional di satu fihak, melawan
PKI dengan prinsip politik anti-imperialisme dengan aspirasi negara
yang merdeka penuh dan demokrasi berkeadi-lan sosial di pihak
lain.
Peristiwa itu adalah
puncak kemunafikan para pemimpin politik konsevatif yang mengklaim
sebagai paling demokrat dari sistim demokrasi parlementer. Mereka
berhadapan dengan kemajuan-kemajuan pesat PKI yang dicapai secara
damai dalam sistim demokrasi liberal. Dari konflik tersebut para
pimpinan AD dan sekutunya lantas mencabut hak hidup PKI dengan cara
mambantai anggota dan keluarganya, lantas membubarkan
PKI.
Dari kacamata
internasional - terutama disebarkan oleh mantan Dubes AS untuk
Indonesia Howard Jones – peristiwa itu adalah spontan kekejian
rakyat yakni penyembelihan rakyat yang dilakukan PKI. Sebaliknya ini
adalah bagian dari intrik berdarah yang direncanakan secara seksama
di Mabes Kostrad pimpinan Soeharto.
DARI DETIK KE
DETIK
1 Oktober 1965 Bung
Karno berada di Halim. Malam harinya ia menginap di rumah istri Dewi
Soekarno di Slipi (Wisma Yaso). Pagi-pagi setelah mendapat kabar
mengenai penculikan para jenderal, ia berangkat bersama ajudan Parto
menuju Istana negara, namun menjelang sampai Istana, jalanan
diblokade oleh tentara. Menurut ajudan, pasukan tersebut tidak
dikenal, karena memang tidak ada jadwal blokade jalan menuju
Istana.
Waktu cepat Parto
mengambil inisiatif dengan tidak meneruskan perjalanan ke Istana.
Mungkin ia menangkap firasat bahaya jika Presiden ke Istana. Lantas
Parto mengusulkan „Sebaiknya
ke Halim saja, pak. Kalau ada apa-apa dari Halim akan dengan cepat
terbang ke tempat lain“, katanya. Bung Karno menurut saja. Dalam
protokoler pengamanan presiden, jika pasukan pengaman merasa
presiden dalam bahaya, maka tujuan utama adalah lapangan terbang.
Dengan begitu presiden bisa diterbangkan ke mana saja secara
cepat.
Asal-muasal presiden
berada di Halim. Mungkin Parto (juga Bung Karno) tidak tahu bahwa
para jenderal diculik dan dibawa ke Halim. Sesampainya ke Halim pun
Bung Karno belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Baru setelah
beberapa saat di Halim, beliau diberitahu oleh para pengawal.
Beberapa saat kemudian ia menerima laporan dari Brigjen
Soepardjo.
Pagi itu juga berada di
Halim. Inilah keanehannya: para tokoh sangat penting berkumpul di
Halim. Kalau Oemar Dhani berada di sana, itu masih wajar karena ia
adalah pimpinan AURI. Tetapi keberadaan Aidit di sana sungguh
mengherankan. Bung Karno dan Oemar Dhani berada di satu tempat,
sedangkan Aidit berada di tempat lain sekitar Halim. Setelah Bung
karno terbang ke Istana Bogor (prosesnya dirinci di bagian lebih
lanjut), Aidit terbang ke Jawa Tengah.
Beberapa hari kemudian
Aidit ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto di Brebes, Jawa
Tengah. Menurut kabar resmi Aidit ditembak karena saat ditangkap ia
mela-wan. Tetapi menurut laporan intelijen kami Aidit sama sekali
tidak melawan. Soeharto memang memerintahkan tentara untuk
menghabisi Aidit, katanya. Dengan begitu Aidit tidak dapat bicara
yang sebenarnya.
Saya lebih percaya pada
laporan intelijen kami, sebab istri Aidit kemudian cerita bahwa pada
tanggal 30 September 1965 malam hari ia kedatangan tamu beberapa
orang tentara. Para
tamu itu memaksa Aidit meninggalkan rumah. Suami saya diculik
tentara, ujarnya. Setelah itu Aidit tidak pernah pulang lagi sampai
ia ditembak mati di Brebes.
Hanya
beberapa jam setelah para jenderal dibunuh sekitar pukul 11.00 WIB,
1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dari pangkalan udara Halim
mengeluarkan instruksi yang disampaikan melalui radiogram ke markas
Besar ABRI. Saat itu Bung Karno
hanya menerima informasi bahwa beberapa jenderal baru saja diculik.
Belum ada informasi mengenai nasib para jenderal, meskipun
sebenarnya para jenderal sudah dibunuh.
Inti instruksi Bung
Karno adalah bahwa semua pihak diminta tenang. Semua
pasukan harap stand-by di posisinya masing-masing. Semua pasukan
hanya boleh bergerak atas perintah saya selaku Presiden dan Panglima
Tertinggi ABRI. Semua persoalan akan diselesaikan
pemerintah/Presiden. Hindari pertumpahan darah.
Demikian
antara lain isi instruksi
Presiden.
Instruksi
itu ditafsirkan Soeharto bahwa Untung dan kawan-kawan sudah kalah,
karena gerakan menculik dan membunuh para jenderal tidak didukung
oleh Presiden. Instruksi lantas disambut Soeharto dengan
memerintahkan anak-buahnya menangkap Untung dan
kawan-kawan.
Jelas
ini membingungkan Untung. Ia sudah melapor ke Soeharto soal Dewan
Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden Soekarno. Untung
juga mengutarakan niatnya untuk mendahului gerakan Dewan Jenderal
dengan cara menangkap mereka lebih dulu. Semua ini didukung oleh
Soeharto. Bahkan Soeharto malah memberi bantuan pasukan. Setelah
anggota dewan Jenderal dibunuh, Soeharto malah menyuruh Untung
ditangkap.
Soal
ini saya ingat cerita Untung kepada saya saat kami sama-sama
dipenjara di Cimahi. Untung dengan yakin mengatakan bahwa ia tidak
akan dieksekusi meskipun pengadilan sudah menjatuhkan hukuman mati.
Sebab Soeharto yang mendukung saya menghantam Dewan Jenderal. Malah
kami didukung pasukan Soeharto yang didatangkan dari daerah,
katanya. Teman-teman sesama
narapidana politik juga tahu bahwa Untung adalah anak emas Soeharto.
Tapi akhirnya Untung dihukum mati dan benar-benar
dieksekusi.
Bersamaan dengan
keluarnya instruksi Presiden -–mungkin hanya selisih beberapa menit
kemudian – Soeharto memanggil ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko
yang berada di Halim agar menghadap Soeharto di Makostrad. Ini
mungkin hampir bersamaan waktunya dengan perintah Soeharto agar
Untung dan kawan-kawan ditangkap. Di Makostrad Bambang Widjanarko
diberitahu Soeharto agar Presiden Soekarno dibawa pergi dari
Pangkalan Halim sebab pasukan dari Kostrad di bawah pimpinan Sarwo
Edhi Wibowo sudah disiapkan untuk menyerbu
Halim.
Bambang menyampaikan
pesan Soeharto itu, Bung Karno geram sekaligus bingung. Instruksi
agar semua pasukan stand-by di tempat masing-masing tidak ditaati
Soeharto. Sebaliknya Soeharto malah memerintahkan agar Bung karno
menyingkir dari Halim. Jika Bung Karno bertahan
di Halim, tentu akan sangat berisiko. Sebaliknya kalau Bung Karno
meninggalkan Halim, berarti ia patuh pada perintah
Soeharto.
Bung Karno lantas minta
nasihat para pembantu militernya. Brigjen Soepardjo mengusulkan agar
Bung Karno terbang ke Bali. Sedangkan Menteri Panglima Angkatan
Udara Oemar Dhani mengusulkan agar Bung Karno pergi ke Madiun, Jawa
Timur. Wakil Perdana Menteri-II Leimena mengatakan Bung Karno harus
berhati-hati. Dan langkah paling hati-hati
adalah jika Bung Karno berangkat ke Istana
Bogor.
Dari berbagai nasihat
itu Bung Karno menyimpulkan bahwa kondisi memang gawat dan ia harus
meninggalkan Halim. Akhirnya Bung Karno memutuskan untuk menuju ke
istana Bogor - menuruti nasihat Leimena - dengan jalan darat.
Menjelang petang rombongan Bung Karno tiba di Istana
Bogor.
Ternyata benar. Gempuran
pasukan Kostrad ke Halim dilaksanakan menjelang fajar. Penggempuran
itu saya nilai sudah tidak tertuju kepada pelaku G30S, sebab –
seperti saya sebutkan terdahulu – sekitar dua-pertiga pasukan
pelaksanaan G30S adalah orang-orangnya Soeharto. Jadi penggempuran
itu hanya merupakan tekanan psikologis terhadap Bung Karno yang saat
itu benar-benar bingung. Seumur hidupnya belum pernah Bung karno
ditekan tentara seperti saat itu.
Pukul 14.00 WIB - masih
pada 1 Oktober 1965 – kepada Kapten Kuntjoro (ajudan Komandan Cakra
bhirawa Letkol Marokeh) Soeharto menyatakan bahwa ia adalah anggota
Dewan Jenderal. Saat itu pembunuhan terhadap para jenderal sudah
selesai. Nasution yang lolos dari target penculikan sedang diamankan
di Markas Kostrad. Saya berkesimpulan Soeharto berani mengatakan
bahwa dirinya adalah anggota Dewan Jenderal setelah ia yakin bahwa
posisinya aman, sehingga tidak perlu lagi menutupi wajahnya. Kepada
Kapten Kuntjoro Soeharto mengatakan: Dewan Jenderal memang ada. Saya
termasuk anggotanya. Tapi itu dewan untuk mengurus kepangkatan,
bukan untuk kudeta.
Soeharto ini menunjukkan
betapa Soeharto berdiri di dua sisi. Ketika Untung menyatakan akan
menghabisi Dewan Jenderal, Soeharto mendukung, bahkan membantu
pasukan. Setelah Dewan Jenderal dihabisi ia menyatakan bahwa ia
adalah anggota Dewan Jenderal. Pernyataan tersebut mengingatkan saya
pada tindakan Soeharto ikut dalam kudeta 3 Juli 1946. Soeharto
berdiri di dua sisi.
Hanya saja kudeta 3 Juli
1946 adalah kudeta yang gagal, sedangkan G30S adalah awal suatu
kudeta merangkak yang berhasil. Dalam kudeta yang disebut terakhir
ini, Soeharto memperoleh dua manfaat: ia tampil sebagai pahlawan dan
akhirnya merebut kepemimpinan nasional. Dalam kudeta 3 Juli 1946
Soeharto hanya menda-pat predikat pahlawan karena menggempur
komplotan penculik Perdana Menteri Sjahrir.
Namun pada hari itu
(Jumat 1 Oktober 1965) kondisi negara benar-benar tidak menentu.
Berbagai pihak saling memanfaatkan situasi. Pengumuman pertama
tentang penculikan para jenderal melalui RRI disiarkan oleh Untung.
Intinya diumum-kan bahwa kelompok Dewan Jenderal yang akan melakukan
kudeta sudah digagal-kan. Anggota Dewan Jenderal sudah diculik dan
Presiden Soekarno dalam keadaan aman. Untuk sementara pemerintahan
dikendalikan oleh Dewan Revolusi. Maka diumumkan anggota Dewan
Revolusi. Di sana tidak ada nama Soekarno.
Pengumuman demi
pengumuman terus berkumandang di radio. Setelah Untung beberapa kali
menyampaikan pengumuman, lalu disusul oleh Oemar Dhani. Masya-rakat
bingung. Sekitar pukul 21.00 WIB Soeharto berpidato di radio dan
mengumum-kan bahwa pagi hari itu telah terjadi penculikan terhadap
sejumlah perwira tinggi oleh kelompok pimpinan Untung. Tindakan
tersebut adalah kudeta kontra-revolusioner melawan Presiden
Soekarno. Juga diumumkan bahwa Soeharto mengambil kendali AD
(Menpangad) karena Menpangad A Yani diculik.
Demi perubahan dalam
sehari itu benar-benar membingungkan Bung Karno. Ia tidak tahu apa
yang sesungguhnya terjadi. Ia tidak tahu siapa sedang berperang
melawan siapa, karena ia tidak tahu rencana penculikan Dewan
Jenderal. Bung Karno juga heran dengan pengumuman Soeharto
mengambil-alih kendali AD. Padahal bebe-rapa jam sebelumnya (siang
hari) Bung Karno sudah memutuskan untuk mengambil-alih fungsi dan
tugas-tugas Menpangad serta menunjuk Mayjen Pranoto Rekso sebagai
pelaksana sehari-hari (care-taker) Menpangad.
2 Oktober 1965 Soeharto
didampingi oleh Yoga Soegama dan anggota kelompok bayangannya
mendatangi Bung Karno di Istana Bogor. Soeharto bersama rombo-ngan
mengenakan pakaian loreng dan bersenjata masuk Istana. Dalam
kondisi biasa, hanya pasukan pengawal presiden yang boleh membawa
senjata masuk ke dalam Istana. Namun barangkali karena
kondisi saat itu berbeda dengan kondisi biasa, mereka diperbolehkan
masuk dengan bersenjata. Kedatangan Soeharto ini tidak pernah
disebut dalam buku-buku sejarah atau buku kesaksian pelaku
sejarah.
Karno menerima mereka.
Intinya, Soeharto menyatakan tidak setuju terhadap pengangkatan
Mayjen Pranoto untuk memegang pelaksana komando AD. Selain protes,
Soeharto juga meminta agar Bung Karno memberikan kuasa kepada
Soeharto untuk memulihkan keamanan. Juga meminta Presiden mengambil
tindakan terhadap pimpinan AU yang diduga terlibat dalam
G30S.
Karena persoalan cukup
rumit Bung Karno menunda pembicaraan dan memanggil para panglima AU,
AL, Kepolisian, Mayjen Pranoto dan Mayjen Mursid. Setelah mereka
berkumpul baru diadakan rapat bersama Soeharto untuk membahas semua
tuntutan Soeharto itu. Rapat berlangsung alot sekitar lima jam.
Akhirnya Bung Karno memberi surat kuasa kepada Soeharto untuk
memulihkan keamanan (sebagai Panglima Pemulihan
Keamanan).
Awal Soeharto memetik
kemenangan dari rangkaian proses kudeta merangkak itu. Surat kuasa
yang diterima oleh Soeharto saat itu juga merupakan surat kuasa
pertama. Namun ini tidak pernah disebut dalam sejarah. Mungin kalau
disebut dalam sejarah akan terasa aneh. Presiden adalah Panglima
Tertinggi ABRI yang pegang kendali militer. Pembunuhan para jenderal
baru terjadi sehari sebelumnya. Itu pun beberapa jam kemudian
Presiden sudah mengeluarkan instruksi untuk ABRI. Ini menunjukkan
bahwa Presiden masih memegang kendali militer. Bahkan Presiden sudah
mengambil-alih tugas Menpangad karena Menpangad Yani diculik. Maka
kedatangan Soeharto minta surat kuasa untuk memulihkan keamanan, apa
namanya kalau bukan memotong kewenangan
Presiden?
Toh
akhirnya surat kuasa dikeluarkan oleh
Presiden. Menurut memori Yoga, proses
keluarnya surat kuasa itu sangat alot. Dalam
rapat Soeharto menekan Soekarno. Tetapi kalau kita kembali mengingat
bahwa sehari sbelumnya Soeharto melalui RRI sudah menyatakan
mengambil-alih pimpinan AD, maka wajar bahwa surat kuasa
itu dikeluarkan. Sebelum surat kuasa dikeluarkan saja
Soeharto sudah berani mengambil-alih pimpinan
AD.
Soeharto
dan kelompok bayangannya meninggalkan Istana Bogor, Soeharto
menyatakan agar Presiden tidak meninggalkan Istana Bogor demi
keamanan. Sejak itu Presiden Soekarno sudah menjadi tawanan
Soeharto.
Setelah
para pembantu dekat Bung Karno sadar bahwa Bung Karno menjadi
tawanan Soeharto, para pembantu jadi teringat bahwa saran menuju
Istana Bogor itu datang dari Leimena.
Bukankah brigjen Soepardjo menyarankan Bung Karno untuk pergi ke
Bali? Menpangau Oemar Dhani
menyarankan ke Madiun, Jawa Timur? Leimena menyarankan – yang paling
hati-hati – ke Istana Bogor. Di kalangan orang dekat Bung Karno
muncul pembicaraan, seandainya Bung Karno menuruti saran Soepardjo
atau Oemar Dhani, tentu akan lain ceritanya.
Sangat yakin Leimena
benar-benar tidak punya maksud tertentu, apalagi menjeru-muskan Bung
Karno. Beliau adalah orang yang loyal terhadap Bung Karno. Saran-nya
ke Istana Bogor memang langkah hati-hati. Selain karena jaraknya
lebih dekat (dibanding Bali atau Madiun) istana bogor memang
tempatnya presiden atau termasuk simbol negara. Siapa sangka
Soeharto berani mendatangi Bung Karno, bahkan menawan Bung Karno di
sana?
Karena pembicaraan
beredar menyesalkan saran Leimena, esok harinya Leimena mendatangi
Soeharto di Makostrad. Tujuannya mengingatkan Soeharto agar jangan
bersikap begitu keras terhadap Presiden. Leimena berkata kepada
Soeharto: jangan begitu, dong. Tetapi apa jawaban Soeharto? Pak
Leimena jangan ikut campur. Pak Leimena urusi tugasnya sendiri. Saya
yang kuasa sekarang. Mendengar itu Leimena
mundur.
Tidak berapa lama
kemudian (masih hari itu juga) ganti Waperdam-III Chaerul Saleh
mendatangi Soeharto. Maksudnya juga sama dengan Leimena. Jawaban
Soeharto juga sama seperti yang tadi: Saya yang kuasa sekarang. Pak
Chaerul Saleh jangan ikut campur, kata
Soeharto.
Hebatnya, beberapa waktu
kemudian Soeharto membantah menerima surat kuasa dari Presiden. Dia
menyatakan kurang lebih demikian: Dalam kehidupan militer tidak
mungkin ada dua panglima (dia dan Mayjen Pranoto yang sudah ditunjuk
oleh Presiden menjadi caretaker Menpangad) yang ditunjuk dalam waktu
bersamaan. Maka praktis pengangkatan terhadap mayjen Pranoto sebagai
caretaker Menpangad tidak berjalan sama sekali. Sebaliknya Soeharto
sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban terus bertindak,
sehingga pergolakan di kalangan elite politik pun tidak dapat
dicegah.
Inilah awal kudeta
terselubung itu. Sejak itu sebenarnya Bung Karno sudah tidak lagi
memiliki power untuk memimpin negara.
Pembantaian
terhadap anggota PKI dan keluarganya dimulai. PKI dituduh menjadi
dalang G30S. Sejak itu Indonesia banjir darah. Yang digempur bukan
hanya tokoh-tokoh PKI, tetapi semua yang berbau PKI dibantai tanpa
proses hukum. Di kota, desa, dusun, di berbagai sudut negeri
dilakukan pembantaian besar-besaran, suatu tindakan yang sangat
mengerikan.
PKI dimulai beberapa
saat setelah Presiden Soekarno mengumumkan (3 Oktober 1965)
Pangkostrad Mayjen Soeharto dipercaya sebagai pelaksana Komando
Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Tidak
disangka jika lembaga yudisial ini kelak menjadi sangat ditakuti
rakyat. Hanya dengan menyebut Kopkamtib saja orang sudah ngeri.
Beberapa tahun berikutnya namanya diganti menjadi Bakorstanas, namun
tetap saja nama yang menakutkan bagi masyarakat. Semua tindakan
masyarakat yang tidak sesuai dengan keinginan Soeharto pasti
ditumpas oleh Kopkamtib yang kemudian berubah nama menjadi
Bakorstanas atau Bakorstanasda di daerah. Lembaga ini menjadi
senjata Soeharto untuk menumpas orang-orang yang tidak setuju pada
keinginannya. Perkembangan ini tentu di luar dugaan Bung Karno
selaku pemberi kuasa.
Tanggal 16 Oktober 1965
Presiden Soekarno mengangkat Soeharto menjadi Menpangad,
menggantikan A Yani. Lantas pada akhir Oktober 1965 di rumah Menteri
Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Brigjen Syarif Thayeb, atas
perintah Soeharto dibentuklah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia
(KAMI). Inilah embrio gerakan mahasiswa yang didukung oleh tentara.
KAMI lantas sering berdemo dengan didukung oleh pasukan RPKAD dan
Kostrad.
Beberapa buku sejarah
G30S banyak pertanyaan, mengapa Presiden Soekarno tidak mendukung
G30S. Logikanya, jika Dewan Jenderal berniat melakukan kup, lantas
dewan Jenderal dibunuh oleh pasukan Cakra Bhirawa dibantu pasukan
Soeharto, mestinya Bung Karno langsung mendukung G30S begitu
mendengar para jenderal diculik. Tapi mengapa Bung Karno malah
menghentikan gerakan itu?
Jawabnya adalah karena
Bung Karno tidak tahu rencana penculikan para jenderal itu. Ini
sekaligus menjawab pertanyaan mengapa nama Bung Karno tidak
tercantum dalam Dewan Revolusi yang diumumkan oleh Untung beberapa
jam setelah pembunuhan para jenderal. Dewan Revolusi ini adalah
buatan Untung sendiri tanpa konsultasi dengan
Presiden.
Drama 1 Oktober 1965
dalam sekali pukul menghasilkan keuntungan bagi
Soeharto:
1. kenyataan adanya
komplotan Dewan Jenderal, di mana Soeharto merupa-kan salah satu
anggotanya, menjadi semacam fiksi belaka.
2. mengubah fiksi menjadi
nyata bahwa yang sungguh-sungguh melakukan kudeta bukanlah Dewan
Jenderal, melainkan G30S pimpinan Untung (yang sebenarnya disokong
oleh Soeharto).
3. Melikuidasi kelompok
Yani sebagai rival potensial Soeharto.
4.
Membuka
peluang Soeharto tampil sebagai pahlawan yang akhirnya benar-benar
terwujud.
NASIBAH
NASUTION
Meninggal
dunia menjelang buku ini naik cetak, 6 September 2000. Dia
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta,
dengan upacara militer. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT,
Amin.
Dialah
perwira yang paling tinggi pangkatnya setelah Yani tiada. Saat itu
dia sudah menyandang bintang empat, sedangkan Soeharto masih bintang
tiga. Di saat TNI AD terpecah (secara tidak transparan) dalam
kubu-kubu di tahun 1960-an, Kubu Nasution ditakuti oleh kubu Yani
dan Kubu Soeharto. Banyak politikus saat
itu yang mengatakan bahwa Letjen TNI AH Nasution paling pantas
menggantikan Presiden Soekarno. Dia terkenal anti-PKI, memiliki
dedikasi yang tinggi dan termasuk jenderal yang diculik pelaku G30S
(dia lolos, tapi anaknya tewas) sehingga wajar menyan-dang gelar
pahlawan.
Sangat berpengalaman di
bidang militer, Nasution juga matang berpolitik. Dialah pencetus ide
Dwi Fungsi ABRI melalui jalan tengah tentara. Ia berpengalaman
melakukan manuver-manuver politik yang dikoordinasi dengan
menggunakan kekuatan militer, agar tentara bisa masuk ke dalam
lembaga-lembaga negara secara efektif di pusat dan
daerah.
Tidak banyak diketahui
orang adalah bahwa dari sekian perwira senior yang paling ditakuti
Presiden Soekarno saat itu adalah Nasution. Presiden
Soekarno menjuluki Nasution sebagai pencetus gaga-san Negara dalam
Negara. Itu
berarti ia berani menentang kebijakan Bung Karno (lihat Bab II). Di
saat Yani masih ada pun, spekulasi yang berkembang adalah bahwa jika
Bung Karno meninggal atau sudah tidak lagi mampu memimpin Indonesia,
maka pengganti yang paling cocok adalah: Yani atau Nasution. Kans
mereka menjadi presiden sama besarnya.
Tetapi Nasution dilipat
oleh Soeharto. Ia – seperti halnya Yani – tidak mewaspadai isu Dewan Jenderal. Dia
benar-benar tidak awas soal berbagai kemungkinan yang bakal terjadi
akibat isu tersebut. Dia benar-benar tidak tahu – bahkan tidak
menduga – bahwa Soeharto yang pangkatnya lebih rendah berhasil
menggosok Letkol Untung untuk menghantam Dewan Jenderal. Akibatnya
nyaris merenggut nyawa Nasution, tapi meleset sehingga Ade Irma
Suryani Nasution gugur sebagai Bunga Bangsa.
Pertanyaannya
adalah: mengapa Soeharto dalam mengambil tindakan-tindakan penting
AD tidak melibatkan Nasution? Jawabnya: Soeharto memang menggunakan
Nasution sebagai umpan untuk menarik kekuatan-kekuatan anti-komunis,
baik militer maupun sipil yang berada di bawah pengaruh Nasution.
Pada sisi lain Nasution digunakan oleh
Soeharto menjadi momok bagi Bung Karno sebab ia tahu Nasution adalah
orang yang paling berani menentang gagasan Bung
Karno.
Mengatakan
Soeharto mengambil tindakan-tindakan penting tanpa melibatkan
Nasution, tentu ada contohnya. Salah satunya - berdasarkan informasi
akurat yang saya terima - adalah sebagai berikut: Setelah lolos dari
penculikan, sekitar pukul 09.00 WIB Nasution bertemu dengan
Soeharto. Pada waktu hampir bersamaan pagi itu – 1 Oktober 1965 –
Soeharto memerintahkan para petinggi AD berkumpul dan rapat di
Makostrad. Tetapi Soeharto minta bantuan Kodam Jaya untuk
menyem-bunyikan Nasution. Tujuannya seolah-olah untuk mengamankan
Nasution yang mungkin saja masih dikejar oleh pelaku G30S, sehingga
rapat di Makostrad itu tidak dihadiri oleh
Nasution.
Memori
Yoga, dalam rapat langsung ditegaskan oleh Soeharto bahwa penculikan
para jenderal yang baru saja terjadi itu didalangi oleh PKI.
Soeharto juga berhasil mengajak Komandan RPKAD Sarwo Edhi Wibowo
agar menyatukan pasukannya di bawah pasukan Kostrad untuk menggempur
pelaku G30S dan PKI. Dibahas pula instruksi Presiden ke Mabes ABRI
agar semua pasukan tidak bergerak selain diperintah oleh Presiden
(baca Dari Detik ke Detik).
Akhirnya sepakat menolak
perintah Presiden. Alasannya: Nasib para jenderal yang diculik belum
diketahui dengan pasti. Operasi pengejaran terhadap para penculik
sudah disiapkan di Makostrad. Bila Menpangad tiada (Menpangad A Yani
diculik) maka yang menggantikan adalah Pangkostrad. Artinya Soeharto
menunjuk dirinya sendiri. (Pada bagian terdahulu disebutkan:
Malamnya Soeharto mengumumkan di RRI bahwa ia mengambil-alih kendali
AD). Maka rapat memutuskan bahwa instruksi Presiden tidak perlu
dipatuhi. Selain itu secara otomatis disepakati bahwa keputusan
Presiden mengambil-alih kendali militer dan menunjuk Mayjen Pranoto
sebagai pelaksana sehari-hari (caretaker) Menpangad tidak perlu
dipatuhi.
Rapat memutuskan banyak
hal penting, Soeharto lantas memerintahkan anak-buahnya untuk
mengambil Nasution keluar dari persembunyiannya dan membawa-nya ke
Makostrad. Nasution tiba di Makostrad dalam kondisi masih stres
berat (karena baru saja lolos dari pembunuhan) dan langsung
dimasukkan ke dalam ruang rapat. Peserta
rapat masih berkumpul lengkap, tetapi sore itu rapat sudah hampir
selesai. Keputusan-keputusan sudah diambil beberapa jam sebelumnya.
Nasution hanya diberitahu bahwa rapat sudah berlangsung sejak pagi
dan sudah hampir selesai.
Dengan
cara seperti itu Soeharto sudah menang setengah hari dari Nasution.
Dalam kondisi biasa setengah hari mungkin tidak ada artinya, tetapi
pada kasus itu menjadi sangat penting. Rapat itu menentukan kondisi
negara Indonesia pasca G30S.
Nasution ternyata tidak marah bahwa dirinya tidak dilibatkan dalam
rapat. Karena, pertama, dengan
dimasukkan ke Makostrad berarti dia harus menghormati Pangkos-trad
Soeharto. Dari cara Nasution disembunyikan Soeharto, lantas Nasution
dibawa ke Makostrad, bisa jadi membuat ia merasa seolah-olah menjadi
tawanan Soeharto. Apalagi ia masih stres berat setelah lolos dari
rentetan tembakan. Kedua,
rapat toh sudah hampir selesai dan ia tidak tahu apa
isinya.
Peristiwa
itu tampak kecerdikan Soeharto memasukkan Nasution dalam ruang
rapat. Dengan begitu seolah-olah Nasution ikut menyetujui
keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat. Selain itu, tindakan
itu juga menimbulkan kesan umum bahwa Nasution pun dibawa ke
Makostrad dan diamankan oleh Soeharto. Itu bisa menim-bulkan
kesan: Soeharto berada di atas Nasution. Juga menguatkan asumsi
bahwa G30S didalangi PKI karena Nasution dikenal anti-komunis. Ini
sekaligus untuk menarik kekuatan-kekuatan anti-komunis – baik dari
militer maupun sipil – ke pihak Soeharto. Yang paling vital,
kehadiran Nasution di Makostrad saat itu dijadikan momok oleh
Soeharto untuk menakut-nakuti Presiden
Soekarno.
Satu kalimat Nasution
yang ditujukan kepada Soeharto sesaat sebelum rapat selesai.
Bunyinya demikian: Sebaiknya Mayjen Soeharto secepatnya memulihkan
keamanan agar masyarakat tenang. Pernyataan ini terlontar secara
spontan saja. Ia menginginkan agar secepatnya diambil tindakan untuk
menenangkan masyarakat (atau mungkin untuk menenangkan diri Nasution
sendiri). Tetapi bagi Soeharto kalimat itu ibarat Pucuk dicinta,
ulam tiba. Soeharto memang sedang menunggu orang yang bisa memberi
dia kuasa. Saran Nasution itu merupakan kuasa yang bisa dia
kembangkan kepada Presiden Soekarno. Tidak perlu menunggu lama,
esoknya dia bersama Yoga dan kelompok bayangannya beragkat ke Istana
Bogor untuk menemui Presiden Soekarno. Di sana Soeharto memaksa Bung
Karno minta kuasa. Akhirnya Soeharto benar-benar mendapatkannya:
Pangkopkamtib
BAB IIIA: KUASA BERPINDAH
PERAN
MAHASISWA
Masa di mana Indonesia
lowong kepemimpinan: sejak awal Oktober 1965 sampai Maret 1966 atau
selama sekitar enam bulan. Bung Karno masih sebagai presiden, tetapi
sudah tidak punya kuasa lagi. Beliau dilarang meninggalkan Istana
Bogor atau lebih tepat menjadi tawanan Soeharto. Sepanjang masa itu
juga tidak ada keputusan penting yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Soeharto lebih banyak menentukan kebijakan negara, namun secara
formal dia adalah Menpangad.
Karno pada tenggang
waktu itu belum benar-benar sampai pada ajal politik. Beliau masih
punya pengaruh, baik di Angkatan Bersenjata maupun di kalangan
Parpol-Parpol besar dan kecil. Para pimpinan Parpol umumnya
mendukung Angkatan Darat untuk membasmi PKI, namun mereka juga
mendukung Bung Karno yang berupaya memulihkan wibawa, walaupun Bung
Karno akrab dengan PKI.
Tampak ada dualisme
sikap para pimpinan Parpol. Di satu sisi anti-PKI, di sisi lain
mendukung Bung Karno. Sedangkan di kalangan Angkatan Bersenjata
umumnya juga menentang PKI, namun sebagian mendukung Bung Karno.
Sebagaimana umumnya menghadapi masa transisi, sebagian perwira
merasa khawatir tentang posisi mereka. Mereka tidak tahu apa yang
akan terjadi jika Soeharto menjadi pemimpin
kelak.
Di sisi lain, proses
kudeta merangkak belum berakhir. Manuver Soeharto merebut kekuasaan
tertinggi ada empat tahap:
1. menyingkirkan saingan
beratnya sesama perwira tertinggi.
2. Menghabisi PKI, partai
besar yang akrab dengan Bung Karno
3. Melumpuhkan para
menteri pembantu presiden
4. Melumpuhkan Bung
Karno.
Mengapa harus empat
tahap? Jawabnya adalah bahwa sebelum G30S Soeharto bukan perwira
yang diperhitungkan. Karena selain pangkatnya masih Mayjen, ia juga
pernah memiliki cacat saat menyelundupkan barang di Jateng sehingga
untuk mencapai pimpinan puncak ia harus melewati proses panjang.
Sampai di sini sudah dua tahap tercapai: para jenderal saingannya
sudah dihabisi dan PKI sudah digempur. Kendati demikian, Bung Karno
masih juga punya pengaruh. Selain itu para menteri juga masih ada
walaupun sudah tidak berfungsi.
Mengimbangi – lebih
tepat melumpuhkan – sisa-sisa kekuatan Bung Karno, Soeharto
mengerahkan mahasiswa. Seperti disebut di bagian terdahulu, pada
akhir Oktober 1965 di rumah Brigjen Sjarif Thajeb, atas perintah
Soeharto dibentuk KAMI. Nah, sejak itu demo mahasiswa didukung oleh
tentara terus bergerak mengkritik Presiden Soekarno. Saat
itulah muncul slogan Tritura (tri atau tiga tuntutan
rakyat):
1. bubarkan
PKI
2. bersihkan anggota
kabinet dari unsur-unsur PKI
3. urunkan harga kebutuhan
pokok.
Bung Karno - yang masih
menjabat sebagai presiden -lantas membubarkan KAMI. Tetapi setelah
KAMI bubar muncul kelompok sejenis berganti nama menjadi KAPPI
(Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia). Tujuannya tetap sama:
berdemo mengkritik Presiden Soekarno. Dan karena demo itu didukung
oleh tentara tentu saja para pemuda dan mahasiswa berani. Ini yang
kemudian disebut kelompok pemuda Angkatan ’66, kelompok yang
diprakarsai oleh Soeharto.
Sementara
itu harga kebutuhan pokok rakyat memang melambung tinggi. Saya tahu
persis melonjaknya harga itu terjadi karena rekayasa Soeharto.
Tepatnya Soeharto dibantu oleh dua pengusaha Cina: Liem Sioe Liong
(dulu bekerjasama menye-lundupkan barang) dan Bob Hasan (juga teman
Soeharto sewaktu di Jawa Tengah).
Itu dilakukan di
tenggang waktu antara Oktober 1965 sampai Maret 1966. Akibat
selanjutnya: inflasi melambung sampai 600%, defisit anggaran belanja
negara semakin parah sampai 300%. Rakyat tercekik. Untuk membeli
beras, gula dan minyak orang harus antri. Inilah operasi intelijen
yang sukses melumpuhkan ekonomi negara.
Tentang hubungan bisnis
Soeharto dengan Liem Sioe Liong dan Bob Hasan di Jateng yang paling
tahu adalah Mayjen Pranoto. Saat
Soeharto sebagai Panglima Divisi Diponegoro, Pranoto adalah kepala
stafnya. Pranoto sudah sangat jengkel pada Soeharto perihal bisnis
memanfaatkan jabatan yang dilakukan Soeharto, dibantu Liem Sioe
Liong dan Bob Hasan.
Mungkin
ulah Soeharto dan Liem menyelundupkan barang dulu dibongkar oleh
Pranoto sehingga akhirnya diketahui Menpangad Yani, sampai-sampai
Yani menempeleng Soeharto. Jadi tindakan Soeharto menjegal Pranoto
yang diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi caretaker Menpangad (1
Oktober 1965) bukan semata-mata perebutan jabatan (dengan cara
kotor) tetapi juga ada faktor dendam
pribadinya.
Gerakan
mahasiswa menuntut pemerintah semakin gencar. Tritura terus
diteriakkan hampir setiap hari. Soeharto merekayasa agar harga
kebutuhan pokok melambung. Dia pula yang mengerahkan mahasiswa
berdemo menuntut penurunan harga. Sedangkan rakyat jelas mendukung
gerakan mahasiswa karena tuntutan mereka sejalan dengan keinginan
rakyatpun yang menjadi presiden saat itu pasti tidak dapat berbuat
banyak. Apalagi Presiden Soekarno dilarang meninggalkan Istana
Bogor. Di sini semakin jelas kelicikan Soeharto. Cara Soeharto
menjatuhkan Soekarno benar-benar efektif walaupun di mata rakyat
saat itu tidak kelihatan.
Menilai
hanya sebagian mahasiswa yang berdemo dengan motivasi tercekik oleh
harga bahan kebutuhan pokok sebab mereka bukan orang awam, mereka
bukan anak kecil. Sebagian dari mereka pasti tahu bahwa harga
kebutuhan pokok melejit akibat rekayasa Soeharto. Mereka adalah kaum
intelektuil yang mengikuti perkembangan negara mereka. Tetapi
gerakan mereka didukung oleh tentara dan rakyat – dua kekuatan utama
bangsa ini – sehingga sebagian yang sadar akan kondisi yang
sebenarnya tidak berani menentang arus. Semua pasti mencari
selamat bagi diri sendiri. Mereka terpaksa terbawa arus, ikut
menentang pemerintah.
Pada tanggal 10 Januari
1966 ribuanmahasiswa berkumpul di Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia di Salemba. Mereka meneriakkan Tritura. Komandan RPKAD
(kelak diganti menjadi Kopas-sus) Sarwo Edhi berpidato di tengah
ribuan mahasiswa untuk mengobarkan semangat mahasiswa berdemo. Usai
Sarwo Edhi berpidato ribuan mahasiswa bergerak turun ke jalan menuju
kantor P&K untuk menyampaikan tuntutan tersebut. Di P&K
mereka bertemu dengan Wakil Perdana Menteri-III Chaerul Saleh.
Mahasiswa menyampaikan tuntutan mereka kepada Chaerul Saleh.
Tuntutan ditang-gapi Chaerul sambil lalu.
Mahasiswa melanjutkan
demo turun ke jalan. Pendapat umum yang dibentuk melalui surat kabar
menyebutkan bahwa tuntutan mahasiswa itu murni. Ini jelas
menyesat-kan masyarakat. Bahan kebutuhan pokok sengaja dimusnahkan
oleh Soeharto. Di sisi lain, mahasiswa bergerak didukung oleh
tentara yang dipimpin Soeharto. Jadi mana bisa tuntutan mereka
dikatakan murni? Satu-satunya tuntutan mahasiswa yang murni –
menurut saya – adalah: bubarkan PKI.
Sebagai
gambaran: kelak setelah Soeharto berkuasa dan kepentingan politiknya
sudah tercapai, ia memberangus mahasiswa. Caranya dengan
memerintahkan menteri P&K mengeluarkan peraturan NKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus) dan BKK (Badan Koordinasi
Kemahasiswaan). Itu terjadi di pertengahan 1970-an. Intinya:
mahasiswa dilarang berdemo. Saya di dalam penjara mengikuti berita
itu dan mengamati bahwa ternyata Soeharto ngeri dengan bekas salah
satu senjatanya, mahasiswa. Akhirnya ia juga jatuh tersungkur antara
lain akibat tekanan ribuan mahasiswa yang menduduki Gedung DPR/MPR
pertengahan Mei 1998.
Tidak
pernah menyesal pada sikap pemuda dan mahasiswa Angkatan-66.
Kondisi dan
situasi negara saat itu memungkinkan mereka bersikap begitu.
Generasi muda di mana pun di dunia ini cenderung berpihak pada
pembaharuan. Karakteristik ini dimanfaatkan dengan baik oleh orang
yang haus kuasa. Apalagi
secara de facto pemimpin Indonesia sejak 1 Oktober
1965 adalah Soeharto, walau secara de jure ia adalah
Menpangad.
Karno
memang masih sebagai Presiden RI dan pemerintah masih berdiri,
tetapi kondisi negara tak terkendali, baik oleh penggempuran
besar-besaran tentara terhadap rakyat untuk membersihkan PKI maupun
oleh kondisi perekonomian yang rusak berat. Orang tidak perlu
susah-susah mencari tahu apakah ini hasil rekayasa atau murni
ketidak-mampuan pemerintah, sehingga rakyat secara jelas menyaksikan
drama kejatuhan Bung Karno dari tampuk
kekuasaannya.
Gerakan mahasiswa
ternyata ditanggapi Bung Karno. Pada 15 Januari 1966 dalam Sidang
Kabinet Presiden Soekarno berpidato menjawab Tritura yang dikobarkan
oleh mahasiswa. Menurut Presiden Soekarno Tritura adalah hasil
rekayasa TNI AD. Dengarkan cuplikan pidato Soekarno yang sebagian
sempat saya catat. Bunyinya demikian: Saya tidak akan mundur
sejengkalpun. Saya tetap Pemimpin Besar Revolusi. Maka saya tidak
dapat bicara lain. Ayo….Siapa yang membutuhkan Soekarno, setuju
dengan Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi, maka satukan
seluruh kekuatanmu. Pertahankan Soekarno. Berdirilah di belakang
Soekarno. Tunggu komando …
Inilah pernyataan Bung
Karno di depan publik yang paling keras. Dengan pidato Bung Karno
yang berapi-api, semua pihak menjadi cemas. Bung Karno masih punya
pendukung, termasuk dari Angkatan Bersenjata. Para menterinya masih
lengkap. Jabatannya masih Presiden RI. Maka semua pihak khawatir
Indonesia bakal me-masuki pergolakan sangat hebat dalam waktu dekat
dan bakal terjadi pertumpahan darah yang jauh lebih besar dari
G30S.
Setelah itu - pada malam
hari berikutnya – saya selaku Wakil Perdana Menteri-I membentuk
Barisan Soekarno. Anggotanya semua menteri. Tujuannya tentu untuk
membela Presiden. Front Nasional yang sudah ada sebelumnya harus
masuk ke Barisan Soekarno.
Tanggal 20 Januari 1966
para menteri berkumpul di Istana. Mereka menyatakan sepakat menjadi
bagian paling depan dari pendukung Soekarno. Itu merupakan bagian
dari upaya pendukung Soekarno untuk come back, walaupun secara
formal Soekarno masih Presiden-RI, pun secara formal pendukung
terdepan masih Menteri Negara.
Bung Karno tidak
melakukan follow-up, tidak ada tindak-lanjut dari pidatonya yang
keras itu. Tidak
ada perintah apa pun meski ia tahu pendukungnya sudah siap membela.
Para pendukungnya pun tidak
bergerak sebab dalam pidatonya Bung Karno antara lain menyerukan: tunggu komando…Seruan ini
ditaati para pendukung-nya. Dan komando ternyata tidak juga kunjung
datang. Seandainya komando benar-benar diserukan, saya tidak bisa
membayangkan bagaimana jadinya Indonesia.
SUPER
SEMAR
Sebuah
sumber saya mengatakan bahwa pada tanggal 10 Maret 1966 Soeharto
mengadakan pertemuan di rumahnya di Jalan H Agus Salim. Pertemuan
dihadiri oleh Pangdam Jaya Mayjen Amir Machmud, Pangdam Jatim Mayjen
Basuki Rahmat dan Mayjen M Yusuf. Inti pembicaraan: Soeharto selaku
Menpangad minta duku-ngan untuk mendapatkan suatu mandat penuh dari
Presiden RI Soekarno. Tujuan-nya adalah agar dapat mengatasi
kesulitan-kesulitan yang dihadapi negara, di samping untuk
menciptakan suasana aman dan politik yang stabil. Tiga jenderal yang
menghadap akhirnya sepakat dengan ide
Menpangad.
Soeharto
menyampaikan pidato penting. Pidatonya berapi-api mengkritik kondisi
negara yang tidak menentu, sedangkan para menteri tidak dapat
menyelesaikan persoalan bangsa. Merka hanya bicara di sidang-sidang,
tidak melakukan tindakan kongkrit. Ia menyerukan: para mahasiswa
dari Jakarta, Bandung dan Bogor untuk boleh saja berdemo di
saat Sidang Kabinet yang akan diselenggarakan esok harinya (11 Maret
1966) di Istana Merdeka.
Akibatnya
luar biasa: Pagi-pagi sekali sebelum sidang dibuka ribuan mahasiswa
datang berbondong-bondong menuju Istana. Mereka mendesak masuk ke
halaman Istana. Pasukan Kawal Presiden Cakra Bhirawa berupaya
menahan mereka di pagar Istana. Petugas sampai terpaksa meletuskan
tembakan peringatan ke udara.
Keadaan
ternyata tidak mudah dikendalikan oleh Pasukan Kawal Presiden.
Soeharto tidak hanya menggerakkan mahasiswa, namun juga memberi
dukungan kepada mereka dengan mengerahkan tentara (belakangan saya
ketahui tiga kompi RPKAD didukung oleh pasukan Kostrad pimpinan
Kemal Idris). Tujuan mereka antara lain
menangkap saya. Soeharto juga sudah setuju.
Mengenakan
seragam loreng, bersenjata lengkap namun tanpa tanda pengenal.
Mereka bersama mahasiswa menyebar di jalanan yang akan dilewati oleh
mobil menteri peserta sidang. Begitu melihat mobil
menteri mereka langsung mencegat. Ban mobil digembosi. Istana pun
dikepung sedemikian rupa. Pasukan tanpa tanda pengenal itu
herhadap-hadapan dengan Pasukan Cakra Bhirawa dalam jarak
dekat.
Berkesimpulan bahwa
Soeharto mengharapkan dengan begitu Soekarno akan menyerah tanpa
syarat. Keadaan benar-benar gawat, sebab bisa timbul korban yang
sangat besar. Saya menilai Soeharto adalah pembunuh berdarah dingin,
dia tega membunuh siapa saja demi terwujud ambisi politiknya. Coba
bayangkan kalau Pasukan Cakra Bhirawa saat itu bertindak keras
menghalau mahasiswa, tentu bakal terjadi pertumpahan darah yang luar
biasa. Sebab mahasiswa akan bertahan mati-matian karena merasa
mendapat angin dan didukung oleh tentara. Juga bisa terjadi perang
kota antara pasukan Cakra Bhirawa melawan pasukan tanpa
identitas.
Hebatnya, dalam Sidang
Kabinet itu Soeharto tidak datang dengan alasan sakit batuk.
Informasi sakitnya Soeharto ini disampaikan oleh Amir Machmud
beberapa waktu kemudian. Menurut pengakuan Amir Machmud - seusai
mengikuti Sidang Kabinet – ia bersama Basuki Rachmat dan M Yusuf
mendatangi rumah Soeharto. Soeharto sakit tenggorokan sehingga tidak
dapat bicara keras. Saat kami datang ke rumahnya dia masih
mengenakan piyama dengan leher dibalut, kata Amir Machmud. Tetapi
seorang intelijen saya melaporkan bahwa pada sore harinya Soeharto
memimpin rapat di Makostrad. Di sini semakin jelas bahwa Soeharto
adalah pembohong besar.
Jika seandainya dalam
Sidang Kabinet Soeharto ikut (sebagai Menteri Panglima Angkatan
Darat seharusnya dia ikut) maka ada 3 risiko yang bakal dihadapi
oleh Soeharto:
1.
dalam keadaan Istana
dikepung oleh mahasiswa dan tentara tentu dalam sidang Bung Karno
akan bertanya kepada Soeharto: Harto, engkau yang telah kuangkat
menjadi Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, ayo bergerak.
Bereskan pengacau-pengacau itu. Maka perintah Presiden itu bakal
ibarat buah simalakama bagi Soeharto: dimakan ibu mati, tak dimakan
bapak tewas.
2.
Jika Soeharto
melaksanakan perintah, maka namanya bakal merosot di mata para
demonstran yang ia gerakkan sendiri. Ini berarti peluang bagus bagi
Nasution untuk tampil sebagai presiden.
3.
Jika Soeharto menolak
perintah di depan Sidang Kabinet, maka bisa berakibat fatal bagi
Soeharto. Tentu Bung Karno bisa segera memerintah-kan Pasukan Cakra
Bhirawa untuk menangkap Soeharto seketika itu
juga.
Akhirnya cara terbaik
bagi Soeharto untuk menghindari semua kemungkinan buruk itu adalah
nyakit (pura-pura sakit). Bukankah ini membuktikan bahwa Soeharto
licin dan pembunuh berdarah dingin? Ia tidak peduli bahwa
tindakannya mengerahkan ribuan mahasiswa dan tentara bisa
menimbulkan konflik besar yang menghasilkan banjir darah bangsanya
sendiri.
Sidang Kabinet 11 maret
1966 dibuka oleh Presiden Soekarno. Di beberapa buku juga disebutkan
bahwa setelah Presiden Soekarno membuka sidang, beberapa saat
kemudian pengawal presiden, Brigjen Sabur, menyodorkan secarik
kertas ke meja presiden. Isinya singkat: Di luar banyak pasukan tak
dikenal. Beberapa saat kemudian Presiden keluar meninggalkan ruang
sidang. Pimpinan sidang diserahkan kepada Leimena. Saya lantas
menyusul keluar. Banyak ditulis saat keluar sepatu saya copot karena
terburu-buru.
Benar. Dulu saat sidang
kabinet biasanya para menteri mencopot sepatu - mungkin karena
kegerahan duduk lama bersepatu - tetapi sepatu yang dicopot itu
tidak kelihatan oleh peserta sidang karena tertutup meja. Saya juga
biasa melakukan hal itu. Nah, saat kondisi genting sehingga Presiden
meninggalkan ruang sidang secara mendadak, saya keluar terburu-buru
sehingga tidak sempat lagi memakai sepatu.
Begitu keluar dari ruang
sidang – ini yang tidak ada di dalam buku-buku sejarah – saya sempat
bingung, akan ke mana? Saya mendapat informasi, pasukan tak dikenal
itu sebenarnya mengincar keselamatan saya. Padahal begitu keluar
ruangan saya tidak melihat Bung Karno yang keluar ruangan lebih
dulu. Dalam keadaan bingung saya lihat sebuah sepeda, entah milik
siapa. Maka tanpa banyak pikir lagi saya naiki sepeda itu. Toh mobil
saya – dan mobil semua menteri – sudah digembosi oleh para
demonstran.
Kondisi hiruk-pikuk di
sekitar Istana saya keluar naik sepeda. Ternyata tidak ada yang tahu
bahwa saya adalah Soebandrio yang sedang diincar tentara. Padahal
saya naik sepeda melewati ribuan mahasiswa dan tentara yang
meneriakkan yel-yel Tritura dan segala macam kecaman terhadap Bung
Karno. Memang, saat menggenjot sepeda saya selalu menunduk, tetapi
kalau ada yang teliti pasti saya ketahuan.
Sepeda
saya terus meluncur ke selatan. Tujuan saya pulang. Sampai di
Bundaran Air Mancur (perempatan Bank Indonesia) saya melihat
begitu banyak mahasiswa dan tentara. Mereka tidak hanya berada di
sekitar Istana tetapi juga menyemut di Jalan Thamrin. Sampai di sini
perasaan saya jadi tidak enak. Memang sejauh ini saya sudah lolos.
Tetapi bisakah melewati ribuan mahasiswa yang menyemut itu? Maka
seketika itu juga saya memutuskan untuk kembali, berbalik arah. Saya
kembali ke Istana. Hebatnya, saya sampai di Istana lagi tanpa
diketahui oleh para demonstran.
Di
dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa begitu keluar dari ruang
sidang, saya langsung memburu Bung Karno naik
helikopter.
Yang
sebenarnya terjadi seperti saya sebutkan ini: Begitu tiba kembali di
Istana, saya lihat ada helikopter. Saya tidak ahu apakah sejak tadi
heli itu sudah ada atau baru datang. Atau mungkin karena saya panik,
saya tadi tidak melihat heli yang ada di sana sejak
tadi. Namun yang melegakan adalah bahwa beberapa saat kemudian saya
melihat Bung Karno didampingi oleh para ajudan berjalan menuju
heli.
Karena itu sepeda saya
geletakkan dan saya berlari menuju heli. Mungkin saat itulah –
ketika berlari menuju heli tanpa sepatu – saya dilihat banyak orang
sehingga ditulis di koran-koran: Dr. Soebandrio berlari menyusul
Bung Karno menuju heli tanpa sepatu. Akhirnya saya bisa masuk ke
dalam heli dan terbang bersama Bung Karno menuju Istana
Bogor.
Sebenarnya begitu
meninggalkan ruang sidang Bung Karno tidak langsung menuju heli,
tetapi ada tenggang waktu cukup lama. Saya sudah menggenjot sepeda
dari Istana ke Bundaran Air Mancur dan kembali lagi. Mungkin setelah
meninggalkan ruang sidang Bung Karno masih mengadakan pertemuan
dengan para ajudan dan penasihat militer untuk membahas situasi,
sehingga hal itu menguntungkan saya. Seandainya tidak bertemu Bung
Karno, entah bagaimana nasib saya.
Setelah peristiwa itu
saya merenung. Untungnya saat itu saya dan Leimena lolos dari target
penangkapan mereka. Seandainya saya tertangkap atau dihabisi, maka
bakal terjadi bentrokan hebat. Bung Karno dan pasukannya yang masih
setia tidak akan tinggal diam. Akibatnya bisa banjir darah. Kalau
itu terjadi pasti Soeharto akan berbalik mengkhianati teman-temannya
yang semula dia tugaskan untuk mengerah-kan pasukan mengepung
Istana. Percobaan kudeta 3 Juli 1946 yang gagal menjadi dasarnya.
Juga bantuan pasukan Soeharto kepada Letkol Untung untuk membantai
para jenderal menjadi buktinya.
Petang Istana Bogor
didatangi oleh tiga jenderal (Basuki Rachmat, Amir Machmud dan M
Yusuf). Ketika itu tiga Waperdam (saya, Leimena dan Chaerul Saleh)
sudah di sana. Leimena dan Chaerul menyusul kami ke Istana Bogor
melalui jalan darat. Kami bertiga sempat istirahat di paviliun.
Ketika tiga jenderal datang Bung Karno meine-rima mereka di gedung
utama. Mereka berbicara cukup lama. Para Waperdam hanya siaga di
paviliun. Beberapa jam kemudian saya, Chaerul dan Leimena dipanggil
oleh Bung Karno masuk ke ruang pertemuan. Di sana ada tiga jenderal
itu. Namun saat kami masuk sudah ada kesepakatan antara mereka dan
Bung Karno.
Saya
masuk ruang pertemuan. Bung Karno sedang membaca surat. Basuki
Rachmat, Amir Machmud dan M Yusuf duduk di depannya. Lantas saya
disodori surat yang dibaca oleh Bung Karno,
sedangkan Chaerul Saleh duduk di sebelah saya. Isi persisnya saya
sudah lupa tetapi intinya ada empat hal. Presiden Soekarno memberi
mandat kepada Soeharto untuk:
1.
mengamankan wilayah
Jakarta dan sekitarnya. Untuk itu harus dijalin kerjasama dengan
unsur-unsur kekuatan lainnya.
2. Penerima mandat wajib
melaporkan kepada Presiden atas semua tindakan yang akan
dilaksanakan
3. Penerima mandat wajib
mengamankan Presiden serta seluruh keluarganya
4. mandat wajib
melestarikan ajaran Bung Karno.
Soal urutannya mungkin
terbalik-balik namun intinya berisi seperti
itu.
Bagaimana Ban, kau
setuju?
Tanya Bung Karno. Beberapa saat saya diam. Saya pikir, Bung Karno
sebenarnya hanya mengharapkan saya menyatakan setuju, padahal dalam
hati saya tidak setuju. Bukankah Presiden adalah Panglima Tertinggi
ABRI dan seharusnya kendali keamanan negara berada di tangan
Presiden? Saya merasa Bung Karno sudah ditekan. Terbukti ada kalimat
Mengamankan pribadi Presiden dan keluarganya, artinya keselamatan
Presiden terancam oleh pihak yang menekan agar surat tersebut
dikeluarkan. Tetapi kalimat unik ini tidak ada dalam sejarah versi
Orde Baru. Bahkan lebih hebat lagi, naskah Supersemar yang mem-buat
Soeharto ditunjuk sebagai pengemban Supersemar (menjadi presiden
tanpa melalui proses pemilu dan dipilih MPR) kini sudah tiada. Tidak
jelas keberadaan surat yang begitu penting.
„Ban, setuju?“
Tanya
Bung Karno lagi.
„Ya”, bagaimana, bisa
berbuat apa saya? Bung Karno sudah berunding tanpa kami jawab saya.
Lantas dipotong oleh Bung Karno: „Tapi kau
setuju?“
„Kalau bisa, perintah
lisan saja“, kata saya memberanikan diri.
Saya
lirik, tiga jenderal itu melotot ke arah saya tetapi saya tidak
takut. Mereka pasti geram men-dengar kalimat saya yang terakhir itu.
Tetapi saya tahu mereka tidak bisa berbuat banyak. Suasana saat itu
terasa tegang.
Lantas
Amir Machmud menyela: “Bapak Presiden tanda tangan saja.
Bismillah saja, pak”..
Bung Karno rupanya sudah
ditekan tiga jenderal itu saat berunding tadi. Raut wajahnya
terlihat ragu-ragu, tetapi seperti mengharapkan dukungan kami agar
setuju.
Akhirnya saya setuju.
Chaerul dan Leimena juga menyatakan setuju. Bung Karno lantas teken
(tanda tangan). Tiga jenderal langsung berangkat kembali ke Jakarta
menemui Soeharto yang mengutus mereka. Bahkan mereka menolak ketika
ditawari Bung Karno untuk makan malam bersama. Maaf, pak. Karena
hari sudah malam, ujar salah seorang dari mereka. Dengan wajah
berseri mereka membawa surat bersejarah yang kemudian dinamakan
Supersemar.
Esoknya, 12 Maret 1966,
Soeharto langsung mengumumkan pembubaran PKI. Uniknya,
pembubaran PKI itu menggunakan surat keputusan Presiden nomor 113
tahun 1966. Saat diumumkan juga dibacakan ditandatangani oleh
Presiden Soekarno. Enam hari kemudian 15 menteri yang masih aktif
ditangkapi. Tentu saja Soeharto tidak melapor lebih dahulu kepada
Presiden. Untuk pembubaran PKI, surat malah baru sampai ke tangan
Soeharto tengah malam dan esok siangnya ia langsung mengambil
kebijakan itu. Untuk penangkapan 15 menteri, alasannya adalah agar
para menteri itu jangan sampai menjadi korban sasaran kemarahan
rakyat yang tidak terkendali. Tetapi ia juga menyampaikan alasan
yang kontradiktif yakni: para menteri hanyalah pembantu presiden,
bukan bentuk kolektif pemerinta-han. Jadi bisa saja
ditangkap. Yang jelas, begitu ditangkap para menteri langsung
ditahan. Tuduhannya gampang: terlibat G30S/PKI – tuduhan yang sangat
ditakuti seluruh rakyat Indonesia sepanjang Soeharto berkuasa.
Mengkritik kebijaksanaan pemerintahan Soeharto bisa dituduh
PKI.
Surat Perintah 11 Maret
1966 sudah diselewengkan. Soeharto menafsirkannya sebagai: Bung
Karno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto, bukan perintah
memulihkan keamanan Ibukota. Sebagai orang yang tahu persis kondisi
saat itu, saya sangat yakin tujuan Soeharto membubarkan PKI dan
menangkapi 15 menteri adalah rangkaian strategi untuk meraih puncak
kekuasaan. Seperti disebut di muka, strategi Soeharto ada empat
tahap:
- habisi para jenderal
saingan
- hancurkan
PKI
- copoti para
menteri
- jatuhkan Bung
Karno.
Kini
yang dicapai Soeharto sudah tiga tahap. Tinggal tahap
terakhir.
Bung Karno pun bereaksi.
Tidak benar jika Bung Karno diam saja. Beliau meme-rintahkan Leimena
menemui Soeharto menanyakan hal itu: Bagaimana ini? Surat perintah
hanya untuk mengamankan Jakarta, bukan untuk pembubaran PKI. Kok
malah main tangkap, kata Leimena kepada
Soeharto.
Tetapi Soeharto tidak
menggubris. Seperti terjadi pada tanggal 3 Oktober 1965 - saat
Leimena protes pada Soeharto karena Bung Karno ditawan di Istana
Bogor - Soeharto menyatakan: Pak Leimena jangan ikut campur.
Sekarang saya yang kuasa.
Kembali ke Istana Bogor
melaporkan reaksi Soeharto. Dan Bung Karno terdiam, tetapi dari
wajahnya kelihatan jelas bahwa beliau sedang marah. Dari laporan
Leimena kami tahu bahwa saat itu situasi Jakarta sangat tegang: tank
dan kendaraan lapis baja bersiaga di setiap ujung jalan, tentara ada
di mana-mana. Mereka dikenali sebagai pasukan Kostrad dan Brigade
Para 3 Yon Siliwangi. Kali ini untuk menakut-nakuti anggota PKI yang
jumlahnya masih sangat besar saat itu. Mungkin pula ditujukan untuk
memberikan tekanan psikologis terhadap Bung Karno yang sudah
kehilangan kuasa agar tidak menghalang-halangi pembubaran PKI atau
mungkin juga ditujukan untuk kedua-duanya.
15 menteri yang
ditangkapi adalah:
1. (Waperdam-I merangkap
Menlu, merangkap Kepala BPI)
2. Waperdam-II Chaerul
Saleh
3. Menteri Tenaga Listrik
S. Reksoprojo
4. Menteri Pendidikan
Dasar dan Kebudayaan Sumardjo
5. Menteri Keuangan Oei
Tjoe Tat
6. Menteri Bank Sentral
dan Gubernur BI Yusuf Muda Dalam
7. Menteri Pertambangan
Armunanto
8. Menteri Irigasi dan
Pembangunan Desa Ir. Surahman
9. Menteri Perburuhan
Sutomo Martoprojo
10. Menteri Kehakiman
Andjarwinata
11.
Menteri
Penerangan Asmuadi
12. Menteri Urusan Keamanan
Letkol Imam Syafi'i
13. Menteri Sekretaris Front
Nasional Ir. Tualaka
14. Menteri Transmigrasi dan
Koperasi Ahmadi
15.
Menteri Dalam Negeri
merangkap Gubernur Jakarta Raya: Sumarno
Sastrowidjojo
Meskipun sudah menangkap
15 menteri yang masih aktif menjalankan tugas, namun Soeharto tanpa
rasa malu sedikit pun menyatakan bahwa kekuasaannya diperoleh secara
konstitusional. Padahal ketika menangkap kami (para menteri)
perintah Soeharto kepada tentara yang melaksanakan berbunyi
demikian: Tangkap dulu mereka, alasannya cari
kemudian.
Itulah filsafat Soeharto
dalam logika kekerasannya. Persis seperti dilakukan Soeharto pada
tragedi 1 Oktober 1965. Beberapa jam setelah para jenderal dibunuh,
kelompok bayangan Soeharto langsung mengumumkan: G30S didalangi PKI.
Lantas Soeharto memerintahkan: Basmi dulu partai itu (PKI),
bukti-bukti cari kemudian. Apakah ini konstitusional seperti yang
sangat sering dikatakan Soeharto ketika dia
memerintah?
MELENGGANG KE
ISTANA
Kini sudah tinggal
setengah tahap lagi dari bagian tahap terakhir: jatuhkan Bung Karno.
Setelah Supersemar – ketika Soeharto membubarkan PKI dan menangkapi
para menteri setia – Bung Karno sebenarnya sudah setengah jatuh.
Beliau sudah tidak berdaya dan para menterinya yang masih aktif
ditangkapi. Maka ajal politik tinggal tunggu
waktu.
PKI resmi dibubarkan,
tiga tokoh pimpinan PKI – yaitu DN Aidit, Njoto dan Lukman –
ditangkap hidup-hidup. Presiden Soekarno yang sudah kehilangan
powernya menolak memerintahkan mengadili mereka (entah mengapa).
Persoalan ini lantas diambil-alih oleh Soeharto. Para pimpinan PKI
itu diadili dengan cara tersendiri. Soeharto memerintahkan tentara
menembak mati ketiganya. Dan ketiganya
memang didor tanpa melalui proses hukum yang
berlaku.
Perlakuan Soeharto
seperti itu sangat wajar jika saya katakan bahwa Soeharto tidak
ingin kedoknya (memanipulir G30S) terbongkar di pengadilan jika tiga
pimpinan PKI itu diadili. Sedangkan saya yang mengalami semua
kejadian ini jelas yakin bahwa Soeharto terlibat
G30S.
Supersemar, Soeharto
membongkar-pasang keanggotaan DPRGR yang merupakan bagian dari MPRS.
Caranya dengan merampas kursi yang semula diduduki oleh anggota PKI
dan menggantinya dengan orang-orang Soeharto sendiri. Kemudian
Soeharto menyuruh MPRS (yang sebagian besar sudah diisi
orang-orangnya) bersidang. Inti sidang adalah mengukuhkan Supersemar
secara konstitusional.
Dengan
itu pembantaian besar-besaran terhadap anggota PKI sudah dilegalkan.
Keluarga anggota PKI, teman-teman mereka, bahkan ada juga rakyat
yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan PKI ikut terbunuh.
Darah orang
PKI, keluarga dan teman mereka halal bila ditumpahkan. Inilah
pembantaian terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Tidak ada yang
tahu persis berapa jumlah rakyat yang terbunuh. Ada yang mengatakan
800.000, ada yang mengatakan 1.000.000. Yang paling tinggi adalah
pernyataan Sarwo Edhi Wibowo yang katanya mencapai 3.000.000
manusia.
Dalam sidang MPRS Juni
1966 Soeharto menetapkan RI kembali ke UUD 1945 secara murni dan
konsekuen. Juga memerintahkan mencabut Ketetapan MPRS tahun 1963
yang mengangkat Bung Karno sebagai presiden seumur hidup. Juga
menyatakan pemberian gelar Pemimpin Besar Revolusi terhadap Bung
Karno tidak memiliki kekuatan hukum. Asal diketahui, pengangkatan
Bung Karno sebagai presiden seumur hidup bukan datang dari Bung
Karno. Juga bukan dari pendukung setia Bung Karno (PKI).
Pengangkatan itu atas usulan perwira AD sendiri, yakni Brigjen
Suhardiman.
Pada awal Juli 1966
Soeharto menyetujui Nasution menjadi ketua MPRS. Beberapa hari
kemudian – 5 Juli 1966 – MPRS mengeluarkan ketetapan: Soeharto
selaku Pengemban Supersemar diberi wewenang membentuk kabinet. Maka
dibentuklah Kabinet Ampera menggantikan Kabinet Dwikora. Kabinet
baru ini tidak lagi berada di bawah kekuasaan Presiden Soekarno,
namun sudah di bawah Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet. Sejak
itu secara formal berakhirlah pemerintahan Presiden
Soekarno.
Nasution yang baru
terpilih menjadi ketua MPRS segera menyanyikan lagu gubahan Kelompok
Bayangan Soeharto. Tap MPRS yang lahir sebelum Nasution tampil, yang
meminta Presiden Soekarno melengkapi pertanggung-jawaban kepada MPRS
tentang sebab-sebab G30S kemudian dinyatakan ditutup begitu saja.
Pada Desember 1966 Panglima AU Oemar Dhani ditangkap, menyusul
kemudian para perwira pendukung Bung Karno lainnya. Mereka semua
dihukum bertahun-tahun tanpa kesalahan yang
jelas.
Proses selanjutnya:
praktis Soeharto memimpin Indonesia. Perlahan namun pasti Soeharto
melenggang menuju kantor di Istana Negara. Soekarno (yang katanya
akan dikudeta oleh PKI) secara politis sama sekali sudah tidak
berdaya. Melalui UU nr. 10 tahun 1966, DPRGR dan MPRS meminta
pertanggung-jawaban Presiden atas peristiwa berdarah G30S.
Menanggapi itu Bung Karno menolak, sebab menurut Bung Karno,
berdasarkan UUD 1945 yang harus dipertanggung-jawabkan mandata-ris
MPRS hanya persoalan yang ada dalam GBHN. Sedangkan peristiwa G30S
ada di luar GBHN yang berarti Presiden tidak dapat dimintai
pertanggung-jawaban.
Sejak itu Bung Karno
(secara formal) dilarang mengeluarkan ketetapan-ketetapan atau
peraturan. Secara non-formal Bung Karno sudah ditahan di Istana
Bogor sejak 2 Oktober 1965. AD yang diprakarsai oleh Soeharto dan
didukung oleh Nasution menyokong keputusan Soeharto untuk kembali ke
UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Saat itu pula Soeharto
memerintahkan Ketua MPRS untuk meninjau kembali semua ketetapan MPRS
yang dibuat antara tahun 1960 hingga 1963.
Sidang Kabinet pada
bulan Juni 1966 Bung Karno masih boleh hadir dalam kapasitas tetap
sebagai Presiden RI. Namun dalam sidang itu Bung Karno diharuskan
oleh Soeharto agar bicara yang intinya mengutuk G30S dan harus
mengakui bahwa Bung Karno terlibat di dalamnya. Juga harus
membenarkan pembantaian massal PKI dan antek-anteknya. Di luar
dugaan, ternyata Bung Karno sudah menyiapkan pidato yang diberi
judul Nawaksara. Inti pidato tersebut sama sekali menyimpang dari
yang diperintahkan oleh Soeharto. Pidato Bung Karno itu intinya juga
tidak mengandung penyesalan akibat proses pengambil-alihan
kekuasaan. Tetapi pidato ini ditentang oleh para opsir dan para
ulama.
Tanggal 17 maret 1967
MPRS menyelenggarakan Sidang Istimewa. Intinya: dikeluarkan Tap MPRS
yang menurunkan Presiden Soekarno dan secara resmi menyerahkan
kepemimpinan nasional kepada Soeharto sebagai Pejabat Presiden
sampai terpilih presiden oleh MPRS hasil pemilu yang akan datang.
Dengan begitu Soeharto sudah benar-benar menggantikan Soekarno. Saat
itulah Soeharto menegaskan bahwa tentara memiliki peran sosial
politik yang tidak terbatas (kelak hal ini diterjemahkan menjadi
Dwifungsi ABRI) DALAM NEGARA. Saat itu pula ditetapkan bahwa
Pancasila sebagai azas tunggal negara. Soeharto saat itu mulai
menyusun kekuatan agar kekuasaan berada di satu tangan: tangan dia
sendiri.
Sebaliknya, terhadap
Presiden Soekarno, MPRS mengeluarkan keputusan sebagai
berikut:
- Presiden
Soekarno dinilai tidak dapat memenuhi tanggung-jawab
konstitusio-nalnya
- Presiden
Soekarno dinilai tidak dapat menjalankan Haluan Negara. Karena itu
MPRS memutuskan melarang Presiden Soekarno melakukan kegiatan
politik sejak saat itu sampai dengan Pemilu yang akan
datang
- Juga
menarik mandat MPRS terhadap presiden yang diatur dalam UUD 1945 dan
mengangkat pengemban MPRS nr. 9 sebagai Pejabat Sementara (Pjs)
Presiden Soeharto hingga terpilihnya presiden hasil
Pemilu.
- Pjs Presiden
tunduk dan bertanggung-jawab terhadap MPRS.
- Persoalan hukum
yang menyangkut Presiden Soekarno ditentukan sesuai hukum yang
berlaku dan pelaksanaannya diserahkan kepada Pjs
Presiden.
Secara
garis besar tindakan Soeharto sejak sebelum G30S sampai pembubaran
kabinet bentukan Bung Karno disebut pegamat asing sebagai creeping
coup (kudeta merangkak). Proses kudetanya tidak langsung menghantam
dan musuhnya jatuh, melainkan kudeta yang dilakukan secara
mengendap-endap. Kata mereka itu kudeta khas Indonesia. Coba saja,
setelah kekuasaan beralih Bung Karno masih berstatus sebagai
Presiden
RI.
Saat itu – bahkan sampai
sekarang – saya melihat proses peralihan kekuasaan tersebut sangat
unik. Selain unik, juga sangat membahayakan Soeharto sendiri
seandainya perkembangan situasi mengalami pembalikan. Tetapi rupanya
Soeharto sudah memperhitungkan semua dengan sangat matang. Terbukti,
sama sekali tidak ada bahaya. Malah, setelah itu Soeharto
memperkukuh kekuasaannya dengan memreteli semua keputusan MPRS yang
dirasa memberi kewibawaan kepada Bung Karno.
Kudeta merangkak bukan
pilihan Soeharto. Jika prosesnya bergerak secara merang-kak, itu
karena terpaksa. Soeharto tidak bisa begitu saja tampil ke puncak
pimpinan nasional. Ia harus melewati para jenderal senior dan
berhadapan dengan Bung Karno yang saat itu begitu
kuat.
AKHIR HAYAT
UNTUNG
Ditangkap saya langsung
ditahan. Saya diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa dengan tuduhan
subversi dan dijatuhi hukuman mati. Jalur hukum di atas vonis
pengadilan – seperti naik banding dan kasasi – sengaja ditutup
sehingga mau tidak mau saya harus menerima vonis hukuman mati itu.
Jelas saya sangat terpukul pada saat itu. Dari posisi orang nomor
dua di Republik ini, saya mendadak sontak diadili sebagai penjahat
dan dihukum mati.
Menjalani hukuman awal
di Penjara Cimahi Bandung. Di sana berkumpul orang-orang yang
senasib dengan saya (dituduh sebagai penjahat yang terlibat G30S).
Di antaranya adalah Letkol Untung yang memang komandan G30S. Selama
beberapa bulan kami berkumpul di penjara walaupun berbeda ruangan.
Saya dan Untung sudah sama-sama divonis hukuman mati. Baik saya
maupun Untung tidak diberi hak untuk menempuh jalur hukum yang lebih
tinggi yakni naik banding, apalagi kasasi.
Suatu hari di akhir 1966
Untung dijemput dari selnya oleh beberapa sipir. Diberitahu-kan
bahwa Untung akan dieksekusi. Itulah saat-saat terakhir Untung
menjalani hidupnya. Saya dan Untung yang sudah akrab selama berada
dalam satu penjara benar-benar terhanyut dalam suasana haru. Saya
bukan hanya terharu tetapi juga bingung, sedih, bahkan panik. Sebab
Ahmad Durmawel (oditur militer yang mengadili saya) saat itu
memberitahukan bahwa saya akan mendapat giliran (dieksekusi) empat
hari kemudian. Saya ingat saat itu hari Selasa. Berarti saya akan
dieksekusi pada hari Sabtu.
Untung dijemput untuk
dibawa keluar penjara, saya sempat menemui Untung. Saat itu ia sudah
ditanya tentang permintaan terakhir, seperti lazimnya orang yang
akan dieksekusi. Mungkin karena Untung sedang panik, ia tidak minta
apa-apa. Untung juga sudah tahu bahwa saya akan dieksekusi hari
Sabtu. Maka pertemuan saya dan Untung benar-benar luar biasa. Kami
memang hanya berhadap-hadapan dengan pakaian seragam narapidana,
namun hati kami tidak karuan. Untung segera akan ditembak, sedangkan
saya empat hari lagi.
itu ada kalimat
perpisahan Untung yang saya ingat hingga sekarang. Bahkan saya ingat
suasana hening saat Untung menyampaikan kata perpisahannya pada
saya. Para sipir dan tentara berwajah angker yang selalu siaga
menjaga Untung, mengawasi kami dari jarak agak jauh. Mereka seperti
maklum dan memberi kesem-patan terakhir bagi Untung untuk berpesan
kepada saya.
Untung mengatakan
demikian: Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih. Empat hari lagi
kita ketemu lagi di sana katanya sambil menunjuk ke atas. Untung
mengucapkan kata perpisahan dengan suara bergetar. Matanya kelihatan
berkaca-kaca. Tentara yang gagah berani itu tidak menangis, tetapi
saya tahu ia dalam kondisi sangat panik. Ia benar-benar tidak
menyangka bakal dikhianati oleh Soeharto.
Jika menengok hari-hari
sebelumnya, Untung begitu sering mengatakan kepada saya bahwa tidak
mungkin Soeharto akan mengkhianati dia. Sebab dia adalah sahabat
Soeharto dan ia mengatakan bahwa Soeharto mengetahui rencana G30S,
bahkan memberi bantuan pasukan. Karena itu dia sangat yakin bahwa
dia tidak akan dikhianati oleh Soeharto. Tetapi toh kenyataannya
berakhir demikian. Menanggapi perkataan Untung, saya tidak bisa
bicara apa-apa. Saya hanya mengangguk-angguk. Para sipir dan tentara
yang menjaga kami menyaksikan semua adegan singkat tapi mengharukan
ini.
Menjelang senja, Untung
dengan pengawalan ekstra ketat berjalan menuju pintu gerbang untuk
meninggalkan Penjara Cimahi. Saya mengamati keberangkatan Untung
dari penjara. Ia berjalan tegap. Mungkin ia segera bisa menguasai
perasaan-nya yang begitu gundah. Tetapi mungkin pula ia sudah pasrah
kepada takdir Allah bahwa memang sampai di situlah perjalanan
hidupnya. Saya kemudian mendengar bahwa Untung dieksekusi di sebuah
desa di luar kota Bandung. Saya sudah tidak sempat sedih lagi
memikirkan nasib Untung, hidup saya sendiri akan berakhir sebentar
lagi. Bila mengingat hari-hari itu, saya membayangkan Untung kecele
(salah duga) dengan kata perpisahannya kepada saya sesaat sebelum
meninggal-kan penjara karena ternyata dia tidak menjumpai saya di
alam sana.
Terus terang, setelah
Untung dieksekusi, saya benar-benar gelisah. Manusia
mana yang tidak takut jika hari kematiannya sudah ditentukan. Tetapi
– inilah keajaiban – Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson dan
Ratu Inggris Elizabeth, di luar sepengetahuan saya, mengirimkan
surat kawat kepada Soeharto. Saya
mengetahui ini dari seorang sumber beberapa hari kemudian. Isi
surat dua petinggi negara adidaya
itu – ini juga ajaib – hampir sama.
Intinya
berbunyi demikian: Soebandrio jangan ditembak. Saya tahu, dalam G30S
dia tidak terlibat. Soal, apakah ini merupakan intervensi asing atau
bukan, bagi saya tidak perlu dipikirkan lagi. Sejak dulu pun
Indonesia selalu
diintervensi oleh negara lain. Yang penting bagi saya, mereka sudah
membantu saya dalam kondisi sangat panik. Dan ternyata kawat singkat
itu ampuh luar biasa. Akhirnya saya tidak jadi ditembak
mati.
Tentang
mengapa dua orang pimpinan negara Barat membantu saya, sungguh tidak
saya ketahui. Yang tahu persis hanya mereka berdua. Saya tidak
pernah meminta bantuan mereka. Logikanya, tidak ada waktu bagi saya
untuk minta bantuan kepada orang lain, apalagi pimpinan negara lain.
Hitung saja, saya diberitahu tentang hari eksekusi saya sekitar
lima
hari sebelumnya. Selama menunggu, saya hanya panik dan
panik.
Lagipula,
bagaimana caranya saya minta bantuan kepada mereka? Saya berada di
dalam penjara dan dalam pengawasan ekstra ketat, terutama pada
hari-hari menje-lang eksekusi. Namun jangan lupa, saya
dulu adalah Menteri Luar Negeri. Saya akrab dengan mereka berdua.
Ketika perundingan tentang pembebasan Irian Barat, saya banyak
melobi pejabat di dua negara itu. Juga dalam tugas-tugas yang
lain.
Tetapi bagaimana pun
saya juga tetap tidak tahu bagaimana mereka begitu yakin bahwa saya
tidak terlibat G30S sampai-sampai mereka dengan keputusan yang luar
biasa berani mengirimkan kawat ke Jakarta. Akibat kawat itu pula
hukuman saya diubah dari hukuman mati menjadi hukuman seumur
hidup.
KARIR
SAYA
Jika ada yang bertanya:
lantas mengapa PKI dituduh sebagai dalang G30S? Maka saya akan balik
bertanya: siapa yang menuduh begitu? Jika
PKI mendalangi G30S atas inisiatif Aidit, maka Indonesia bakal menjadi
lautan darah. Bukan hanya banjir darah seperti yang sudah terjadi.
Betapa ngeri membayangkan PKI dengan 3 juta anggota didukung 17 juta
anggota organisasi onderbouwnya berperang melawan tentara yang hanya
ratusan ribu. Bila genderang perang
benar-benar ditabuh, alang-kah hebat pertempuran yang
terjadi.
Namun seperti kita
saksikan, PKI tidak melakukan perlawanan berarti pada saat dibantai.
Itu karena tidak ada instruksi melawan. Aidit malah lari dan lantas
ditembak mati. Bung Karno - yang juga bisa menjadi panutan PKI –
tidak memerintahkan apa-apa.
Lantas
saya dituduh PKI. Tuduhan atau stigma terlibat PKI bukan hanya saya
terima sendirian. Banyak tokoh yang tidak disukai oleh Soeharto
dituduh PKI. Ini bertujuan politis, agar kekuasaan Soeharto
langgeng. Bagi saya tuduhan itu lebih keji lagi. Saya tidak hanya
dituduh PKI, tapi juga dilontarkan julukan yang menyakitkan hati.
Saya dijuluki Durno.
Target
penghancuran diri saya oleh kelompok Soeharto sebenarnya hanya
sasaran antara. Tujuan utamanya adalah menjatuhkan Bung Karno.
Seperti sudah saya sebut, skenario Soeharto merebut kekuasaan
tertinggi ada 4 tahap:
1. menyingkirkan para
perwira yang menjadi saingan beratnya, seperti A Yani dan Nasution
(ini terwujud di G30S)
2. PKI, partai besar yang
saat itu akrab dengan Bung Karno (ini terlaksana setelah PKI dituduh
mendalangi G30S).
3. memisahkan Bung Karno dari para pengikutnya (ini
tercapai saat menangkapi 15 menteri - termasuk saya – sekitar
sepekan setelah keluar surat perintah 11 Maret
1966).
4. Setelah 3 tahap itu
tercapai, Bung Karno dengan mudah dijatuhkan dengan cara seolah-olah
konstitusionil melalui ketetapan MPRS.
Nah,
saya termasuk sasaran antara tahap ke-3. Saya bersama 14 menteri
ditangkap tanpa alasan jelas. Mula-mula saya ditangkap dengan cara
sopan oleh tentara: Maaf, pak, kami diperintahkan agar mengamankan
Bapak dari kemungkinan amukan rakyat, kata tentara yang menangkap
saya. Lantas, kami 15 menteri dikumpulkan di suatu ruangan sekitar
Senayan.
Beberapa hari kemudian
baru kami menyadari bahwa kami bukan diamankan tapi ditangkap. Para
tentara itu mulai bertindak kasar. Akhirnya kami dipenjarakan. Untuk
menghancurkan nama baik kami, Soeharto menuduh kami teribat PKI.
Bahkan menambahi saya dengan julukan Durno. Kami dihinakan dan
tersiksa lahir dan batin di penjara demi tujuan Soeharto meraih
kekuasaan.
Saya memang pernah aktif
dalam organisasi politik tapi di PSI (Partai Sosialis Indonesia).
Kalau di PKI, saya sama sekalibukan anggota atau simpatisan,
walaupun pada saat saya masih di puncak kekuasaan dengan merangkap
tiga jabatan sangat penting, orang-orang PKI banyak mendekati saya.
PKI juga mendekati Bung Karno. Malah, anggota dan pimpinan PKI ada
yang menjadi anggota kabinet, bahkan anggota
ABRI.
BAB IIIB: BIO-DATA &
KUASA
BERPINDAH
Agar lebih jelas, saya
paparkan sekilas biografi saya. Saya lahir di Kepanjen (selatan
Malang), Jatim, 15 September 1914. Ayah saya, Kusadi, adalah Wedono
Kepanjen. Ibu saya, Sapirah, adalah ibu rumah tangga biasa. Saya
adalah anak kedua dari enam bersaudara.
Saya dibesarkan dalam
keluarga Islam yang taat. Untuk ukuran posisi ayah di desa kecil
Kepanjen saat itu, keluarga kami cukup terhormat. Masa kanak-kanak
saya habiskan di Kepanjen. Saya sekolah di SR (Sekolah Rakyat
setingkat SD) di sana.
Lulus SR, saya masuk
MULO (setingkat SMP) di Malang. Sebab, saat itu di Kepanjen belum
ada sekolah MULO. Lulus MULO saya lanjutkan ke AMS tahun 1928. Saya
masuk sekolah terlalu dini, sehingga pada usia 14 tahun saya sudah
tamat AMS.
Tamat AMS, saya memilih
melanjutkan ke sekolah kedokteran di Jakarta. Tempat-nya di Jalan
Salemba yang kemudian berubah menjadi Universitas Indonesia. Saat
itu saya memang ingin menjadi dokter – sebuah keinginan yang bisa
dibilang muluk untuk ukuran rakyat Indonesia saat itu. Anak-anak
rakyat biasa saat itu paling tinggi hanya sekolah SR. Saya bisa ke
sekolah lanjutan, sebab ayah saya merupakan petinggi, walaupun hanya
petinggi desa.
Tetapi, dari lima
saudara saya, hanya saya yang paling menonjol di sekolah, sehingga
bisa melanjutkan sampai ke sekolah kedokteran. Semasa sekolah
kedokte-ran, saya banyak kenal dengan para pemuda pejuang, termasuk
Bung Karno. Saya sering ikut diskusi-diskusi mereka. Dari sana saya
juga dikenal para pemuda pejuang itu. Saya sendiri menjadi tertarik
bergaul dengan mereka.
Saya menyelesaikan
sekolah dokter sesuai jadwal, yakni tujuh tahun. Tercapailah
keinginan saya menjadi dokter. Lantas saya mengambil brevet dengan
spesialisasi bedah perut. Saya selesaikan ini dalam tiga tahun, juga
sesuai jadwal. Maka, pada tahun 1938 saya sudah mengantongi gelar
dokter ahli bedah. Ketika itu jumlah dokter
umum masih sangat jarang, apalagi dokter spesialis. Kalau tidak
salah, dokter ahli bedah hanya ada lima orang. Tiga dari Jakarta,
termasuk saya, dua dari Surabaya (Universitas
Airlangga).
Sebelum lulus, tahun
1936 saya menikah dengan Hurustiati, seorang mahasiswi tapi beda
fakultas dengan saya. Ketika saya sudah lulus, ia masih kuliah. Usia
kami hanya berbeda beberapa tahun. Saya sedikit lebih
tua.
Begitu lulus, saya
langsung ditarik pemeritah kolonial menjadi dokter di Semarang
(sekarang RS Dr. Karjadi). Hanya beberapa bulan kemudian saya
dipindahkan ke Jakarta (sekarang RS Dr. Cipto Mangunkusumo).
Ahli
bedah di sana saat itu hanya dua orang,
termasuk saya. Untuk menyalurkan hobi berdiskusi saat mahasiswa,
saya masuk PSI. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, pada 1940
saya sudah menjadi wakil ketua PSI.
Akhirnya
saya mundur dari rumah sakit. Saya juga tidak praktek pribadi.
Sepanjang hidup saya juga tidak pernah praktek dokter pribadi. Karir
saya di kedokteran selesai sampai di situ, sebab saya jenuh dengan
pekerjaan yang menurut saya monoton. Saya lebih tertarik
berorganisasi. Sampai akhirnya proklamasi kemerdekaan dikumandangkan
oleh Bung Karno.
Sekitar
tahun 1946 saya ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi wakil
pemerintah Indonesia di Inggris, berkedudukan di London.
Penunjukan itu tiba-tiba saja. Tidak melalui proses, misalnya,
menjadi pegawai negeri dulu. Mungkin karena saat itu jumlah manusia
tidak sebanyak sekarang. Dan, penunjukan Presiden Soekarno langsung
saya terima. Istri saya juga setuju.
Ini
sebenarnya jabatan duta besar, tetapi kemerdekaan
Indonesia belum diakui
PBB. Sehingga saya tidak dipanggil duta besar, baik di
Indonesia maupun di
Inggris. Bung Karno hanya menyebut jabatan saya: Wakil Pemerintah
Indonesia di Inggris.
Sebelum
berangkat ke London, saya was-was. Tetapi
setelah di Inggris, keberadaan saya ternyata diterima oleh
Pemerintah Inggris. Memang tidak ada penyambutan saat saya datang.
Saya juga tidak membayangkan akan disambut. Lantas saya membuka
kantor di London. Inilah embrio Kedutaan
Besar RI untuk Inggris. Dan, itulah awal
saya meniti karir di pemerintahan. Jika banyak orang menempati
jabatan Dubes sebagai pos buangan, saya malah memulai karir dari pos
itu.
Tahun
1950 baru saya disebut Duta Besar
RI untuk Inggris berkedudukan di
London. Bagi saya sebenarnya tidak
ada perubahan. Hanya sebutannya saja yang berubah. Namun, kemudian
reaksi pemerintah Inggris terhadap keberadaan saya di sana secara
bertahap berubah ke arah positif. Saya sering diundang ke
acara-acara kerajaan, sebagaimana diperlakukan terhadap para duta
besar dari negara-negara merdeka lainnya.
Dari seringnya
menghadiri undangan acara kerajaan itu saya sering berdekatan dengan
Ratu Elizabeth. Saat itu tidak terbayangkan oleh saya bahwa
berdekatan dengan Ratu Elizabeth kelak bisa menyelamatkan nyawa saya
dari eksekusi hukuman mati yang tinggal menunggu hari (soal ini
sudah diungkap di muka). Saya
hanya menjalankan tugas negara. Dan, dalam menjalankan tugas, antara
lain, harus menghadiri acara-acara seremonial
tersebut.
Pada
tahun 1954 Presiden Soekarno menarik saya dari London, dan
memindahkan saya ke Moskow. Resminya jabatan baru saya adalah Duta
Besar RI untuk Uni Soviet di Moskow. Dua
tahun di sana, lantas saya
diperintahkan pulang ke Jakarta. Tiba di tanah air saya
ditunjuk oleh Presiden menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar
negeri, menggantikan Roeslan Abdoelgani. Sedangkan Roeslan menjadi
Menlu menggantikan Ali Sastroamidjojo. Yang unik adalah bahwa Ali
turun jabatan menjadi Dubes RI untuk AS di
Washington.
Setahun kemudian saya
dipanggil oleh Bung Karno. Setelah menghadap, Bung Karno berkata
demikian: Bandrio, kamu saya tunjuk menjadi Perdana Menteri. Saya
kaget. Itu merupakan suatu loncatan jabatan yang luar biasa – dari
Sekjen Deplu menjadi Perdana Menteri. Menanggapi ini saya
mengatakan, minta waktu berpikir.
Sesungguhnya saya
menolak tawaran itu. Saya
merasa tidak enak dengan para senior saya. Memang, saya merasa Bung
Karno menaruh simpati pada saya. Tolok ukurnya adalah bahwa Bung
Karno sering menugaskan saya membuat naskah pidatonya. Bahkan, pada suatu hari
Bung Karno berpidato di Markas PBB. Sebelum tampil Bung Karno
meminta saya membuatkan naskah pidato, padahal saya di Jakarta.
Namun, tugas itu tetap saya laksanakan. Walaupun saya jarang
bertatap muka dengan Bung Karno, terasa sekali dia bersimpati pada
saya. Tapi, saya merasa belum mampu menjadi Perdana Menteri. Apalagi
saya belum lama pulang ke tanah air, sehingga saya kurang memahami
perkembangan situasi terakhir.
Menolak tawaran Bung
Karno juga tidak enak. Lantas jalan keluarnya adalah bahwa saya
bicara dengan Ketua PNI Suwito. Saya
minta tolong Suwito menghadap Bung Karno, untuk menyampaikan
keberatan saya. Sambil menyampaikan ini ia mengusulkan nama Djuanda.
Ternyata Bung Karno setuju. Jadilah Djuanda Perdana Menteri. Untuk
menjalankan tugasnya dia dibantu oleh presidium yang disebut Wakil
Perdana Menteri (Waperdam). Ada dua Waperdam, yakni Waperdam-I
Idham Khalid dan Waperdam-II Hardi. Selanjutnya saya menjadi Menlu
menggantikan Roeslan.
Setelah
Djuanda meninggal dunia, tiga menteri dipanggil oleh Bung Karno –
saya sendiri, Menteri Pangan Leimena, dan Menteri Pemuda Chaerul
Saleh. Tujuannya adalah untuk mencari pengganti Djuanda dari tiga
menteri ini. Proses pemilihannya unik sekali, sehingga tidak saya
lupakan.
Bung
Karno memberi kami masing-masing tiga batang korek api. Semula kami bingung.
Bung Karno menyatakan bahwa ini pemilihan yang adil dan demokratis.
Masing-masing diberi sebatang korek utuh, setengah batang tanpa
pentolan (karena sudah dipatahkan oleh Bung Karno), dan setengah
batang dengan pentolan (juga sudah dipatahkan sebelumnya). Bung
Karno meletakkan sebuah kantong di meja.
Cara permainannya,
batang korek utuh merupakan simbol saya, setengah batang tanpa
pentolan menjadi simbol Leimena, dan setengah batang dengan pentolan
mewakili Chaerul. Bung Karno minta, masing-masing memilih satu saja
untuk dimasukkan ke dalam kantong. Saat memasukkan korek ke kantong,
tangan harus menggenggam supaya tidak diketahui yang lain. Pemilihan
pun dimulai.
Saya memasukkan setengah
batang korek tanpa pentolan. Artinya,
saya memilih Leimena. Lantas disusul Leimena dan Chaerul. Meskipun
bentuknya sangat seder-hana, tetapi inilah pemilihan Perdana Menteri
Indonesia. Suasana
hening. Bung Karno memandang masing-masing menteri yang memasukkan
korek ke sebuah kantong. Sampai semuanya menggunakan hak pilihnya.
Apa
yang terjadi berikutnya? Bung Karno menumpahkan isi kantong itu
secara blak-blakan. Yang tampak: sebatang korek utuh, setengah
batang tanpa pentolan, dan setengah batang dengan pentolan.
Lengkap.
Bung Karno geleng-geleng kepala. Hasil suara seimbang untuk tiga
kandidat. Pemilihan
macet. Kami saling meman-dang satu sama lain. Lantas kami saling
terbuka. Saya pilih Leimena, sebaliknya Leimena pilih saya, Chaerul
pilih dirinya sendiri.
Leimena
kemudian bicara. Sebaiknya Soebandrio menjadi Perdana Menteri.
Alasannya,
Indonesia butuh perhatian
penuh di bidang luar negeri. Terutama menyangkut
Irian Barat yang statusnya belum jelas. Untuk itu perlu diplomasi
internasional. Orang yang tepat adalah Soebandrio, ujarnya. Bung
Karno ternyata setuju dan memanggil ajudannya Brigjen Sabur untuk
menuliskan keputusan di kertas kop kenegaraan.
Sebelum
terlaksana, saya minta bicara. Saya katakan, tidak
perlu merombak kabinet. Sebaiknya Bung Karno selain Presiden juga
Perdana Menteri didampingi oleh para Waperdam. Nah, Waperdamnya
adalah kami bertiga. Bung Karno juga setuju. Lalu Leimena main
tunjuk, saya Waperdam-I, Leimena Waperdam-II, Chaerul Waperdam-III.
Hebatnya, tanpa banyak bicara lagi semuanya
sepakat.
Tidak lama kemudian saya
dibebani satu tugas lagi sebagai Kepala BPI. Maka,
saya merangkap tiga jabatan. Semakin jelas bahwa Presiden
mempercayai saya. Walaupun cukup berat, namun saya laksanakan
tugas-tugas yang diberikan. Saya masih sempat melaksanakan ibadah
haji.
Sebagai
imbalan, selain digaji, saya juga diberi rumah cukup di Jalan Imam
Bonjol 16, Menteng, Jakarta Pusat. Untuk ukuran saat itu rumah
tersebut sudah cukup mewah. Di rumah itu pula saya memiliki
perpustakaan. Kelak perpustakaan saya ini dihancurkan oleh penguasa
Orde baru.
Tahun
1958 anak saya yang pertama lahir, dan kami beri nama Budojo.
Ternyata hanya itu anak saya, sebab dia tidak punya adik
lagi.
Saat
saya menjadi pejabat tinggi negara, ada yang unik. Saya menjadi tukang
khitan beberapa anak pejabat. Ceritanya, para pejabat itu tahu bahwa
saya adalah dokter ahli bedah. Saat itu sudah banyak dokter ahli
bedah. Tapi, entah mengapa mereka minta tolong saya untuk
mengkhitankan anak mereka. Ada beberapa anak pejabat yang sudah saya
khitan. Saya hanya menolong mereka dengan
ikhlas.
Sejak mengundurkan diri
dari RS, saya tidak pernah praktek dokter pribadi. Beberapa teman
menyayangkan bahwa saya tidak buka praktek. Sebab, saat itu jumlah
dokter masih sedikit. Tetapi, karena sudah menjadi niat saya untuk
terjun ke dalam kancah politik, saya tinggalkan bidang pekerjaan
yang sebenarnya sesuai dengan bidang pendidikan saya itu. Ya, saya
harus memilih, dan saya sudah menentukan. Jadinya, saya hanya
menjadi tukang khitan anak pejabat.
Sepanjang saya menjadi
pejabat tinggi negara, memang ada beberapa tokoh PKI yang akrab
dengan saya. Sebagai
pejabat tentu saya akrab dengan pimpinan PKI, DN Aidit. Juga dengan
beberapa tokoh PKI lainnya. Tetapi, saya tidak masuk ke dalam
keanggotaan partai itu. Saya juga tidak aktif di PSI, sejak menjadi
pejabat negara. PKI saat itu adalah partai besar. Mereka tentu
memiliki ambisi politik tertentu, sehingga mereka tidak hanya
mendekati saya, tetapi juga pejabat tinggi negara lainnya, termasuk
Bung Karno. Bahkan, beberapa tokoh
PKI masuk ke dalam jajaran kabinet. Banyak juga di ABRI. Sebab, PKI
saat itu memang partai besar dan legal. Jadi, wajar kalau tokohnya
duduk di kabinet dan ABRI.
Sebagai gambaran, salah
satu partai besar saat ini (tidak perlu saya menyebut namanya)
menempatkan tokohnya di jajaran kabinet. Bahkan, ada yang masuk ke
jajaran ABRI. Bukankah itu hal yang wajar? Dan, kalau para pimpinan
partai itu mendekati pimpinan puncak, presiden dan orang-orang
terdekatnya, juga wajar. Kondisinya berubah menjadi tidak wajar
setelah partai tersebut dinyatakan sebagai partai terlarang.
Itulah
PKI.
Saat
G30S meletus - seperti sudah saya sebutkan di muka - saya sedang
bertugas di Medan. Kami keliling daerah untuk
memantapkan program-program pemerintah. Begitu saya diberitahu oleh
Presiden Soekarno, saya langsung pulang, dan tiba di istana
Bogor bergabung dengan Presiden
Soekarno pada 3 Oktober 1965. Setelah itu kondisi negara tidak
menentu. Presiden Soekarno sudah menjadi tawanan Soeharto di Istana
Bogor sejak 2 Oktober
1965.
Sejak
itu pula kelompok Bayangan Soeharto menyebarkan propaganda bahwa
G30S didalangi oleh PKI. Ketua PKI, DN Aidit, ditembak mati di Jawa
Tengah. Namun muncul pengakuan tertulis Aidit – yang sangat mungkin
merupakan rekayasa – bahwa ia yang mendalangi G30S. beberapa tokoh PKI lainnya juga ditembak mati,
tanpa proses pengadilan. Semua ini adalah cara untuk membungkam PKI,
agar tidak bicara. Memang, pada 1 Oktober
1965 Aidit berada di Halim, pusat pasukan G30S berkumpul. Namun,
saya dengar istri Aidit mengatakan bahwa pada tanggal 30 September
1965, malam hari, Aidit diculik dan dibawa ke Halim. Aidit terbang
ke Yogyakarta, beberapa saat setelah Bung Karno meninggalkan
Halim.
Saya
sangat yakin bahwa dalang G30S bukan Aidit. Saya ingat saat saya dan
Aidit sama-sama menjenguk Bung Karno yang sedang sakit. Setelah saya
periksa, Bung Karno ternyata hanya masuk angin. Tetapi, disebarkan
isu bahwa Bung Karno sedang sakit berat, paling tidak bisa lumpuh.
Isu tersebut merupakan propaganda yang ditujukan untuk konsumsi
publik di luar PKI. Sebab, PKI pasti
mengetahui, karena Aidit bersama saya menjenguk Bung Karno.
Propaganda itu bertujuan untuk memberi alasan keterlibatan PKI dalam
G30S. Propaganda itu akan membangun opini publik bahwa PKI bergerak
merebut kekuasaan sebelum didahului oleh pihak lain, mengingat sakit
kerasnya Bung Karno.
Yang mengetahui rahasia
ini hanya Bung Karno, Aidit, dokter RRC yang didatangkan oleh Aidit
dari Kebayoran-Baru, Jakarta, Dokter Leimena, dan saya sendiri.
Tanpa berniat membela Aidit, saya yakin bahwa bukan Aidit yang
mendalangi PKI, sebab saya tahu persis. Kalau Aidit mendukung
pembunuhan anggota Dewan Jenderal, memang ya. Dalam suatu
kesempatan, saya dengar Aidit mendukung gerakan membunuh anggota
Dewan Jenderal yang dikabarkan akan melakukan kudeta terhadap
Presiden. Sebab, kalau sampai Presiden terguling oleh kelompok
militer, maka nasib PKI selanjutnya bakal sulit. Tetapi, Aidit hanya
sekadar mendukung dalam bentuk ucapan saja.
Tetapi akhirnya
propaganda Soeharto melalui media massa sukses. Kesan bahwa PKI
mendalangi G30S melekat di benak publik. Malah diperkaya dengan
cerita pembantaian para jenderal di Lubang Buaya oleh kelompok
Gerwani yang menari-nari sambil menyiksa para jenderal. Dikabarkan
bahwa mata para jenderal dicungkil, kemaluannya dipotong, tubuhnya
disayat-sayat. Penyiksaan keji ini diberi nama Upacara Harum Bunga –
suatu nama yang sangat kontras dengan kekejiannya. Sungguh suatu
cerita yang mengerikan.
Cerita ini diperkuat
dengan pengakuan seorang wanita bernama Jamilah dan kawan-kawan yang
mengaku sebagai orang Gerwani. Saya tidak tahu, siapa Jamilah itu.
Tetapi cerita ini dipublikasikan oleh pers yang sudah dikuasai
Soeharto. Dalam sekejap kemarahan rakyat terhadap PKI
tersulut.
Padahal, cerita yang
disebarkan Soeharto itu semua bohong. Terbukti, setelah Soeharto
tumbang, para dokter yang membedah mayat para jenderal dulu bicara
di televisi: mayat para jenderal itu utuh, Sama sekali tidak ada
tanda-tanda penyiksaan. Memang kulit mayat terkelupas, tetapi
berdasarkan penelitian, itu karena mayat tersebut terendam di dalam
air (sumur) selama beberapa hari.
Saya bukan PKI. Memang,
saya pernah menyerukan penghentian pembantaian terhadap pimpinan dan
anggota PKI oleh AD pada pertengahan Oktober 1965. Itu saat-saat
awal PKI dibantai. Seruan saya ini atas perintah Presiden Soekarno
yang tidak menghendaki pertumpahan darah. Bung Karno saat itu masih
memegang kendali. Beberapa jam setelah G30S meletus, ia
memerintahkan agar semua pasukan bersiap di tempatnya. Jangan ada
yang bergerak di luar perintah Presiden. Sebab, pada dasarnya Bung
Karno tidak menghendaki pertumpahan darah. Namun perintah Presiden
tidak digubris. Seruan saya juga tidak dihiraukan. Pambantaian PKI
terus berlangsung.
Malah,
sejak itu saya dicap sebagai pro-PKI. Apalagi saya pernah ditugaskan
di Moskow. Saya juga pernah ditugaskan berkunjung (sebagai Menlu) ke
Beijing, RRC dan diberi tawaran
bantuan senjata gratis oleh pimpinan RRC. Sedangkan Moskow dan
Beijing adalah poros utama komunis.
Dari rangkaian tugas-tugas kenegaraan saya itu lantas saya dicap
pro-PKI. Saya sebagai pejabat tinggi negara saat itu tidak dapat
berbuat banyak menanggapi cap tersebut. Sebab, bukankah semua itu
karena saya menjalankan tugas negara?
Saya
merasa cap PKI menjadi mengerikan bagi saya, setelah PKI dibantai
habis-habisan. Pada Sidang Kabinet 11 Maret 1966 di Istana Negara
saya menjadi incaran pembunuhan tentara, meskipun saat itu saya
masih pejabat tinggi negara. Ketika Istana Negara dikepung oleh
pasukan Kostrad pimpinan Kemal Idris dibantu oleh pasukan RPKAD
(kelak berubah menjadi Kopassus) pimpinan Sarwo Edhie, jelas saya
diincar. Dari laporan intelijen, saya diberitahu bahwa Kemal Idris
bersama pasukannya akan membunuh saya. Itu juga atas persetujuan
Soeharto. Tetapi akhirnya saya lolos.
Beberapa
hari setelah itu baru 15 menteri ditangkap, termasuk saya. Jika
sebelumnya cap pro-PKI terhadap diri saya tidak terbuka, sejak saya
ditangkap cap itu semakin menyebar secara luas. Malah, Soeharto
menambahi julukan baru bagi saya: Durno. Sebagai orang Jawa, tentu
saya sangat sakit hati diberi julukan itu. Sebab, Durno adalah tokoh
culas dalam pewayangan. Durno suka mengadu-domba. Soal julukan ini
saya tidak tahu bagaimana asal-usulnya. Yang tahu tentu hanya
Soeharto. Tetapi, ini memang bagian dari penghancuran diri saya
sebagai pengikut setia Bung Karno. Dan, julukan Durno bagi saya baru
muncul setelah saya ditahan, setelah Bung karno mendekati ajal
politiknya.
Di
dalam penjara, saya sama sekali tidak disiksa secara fisik.
Kalau
disiksa mental, sudah jelas. Interogasi tak habis-habisnya hanya
untuk tujuan menjatuhkan mental. Sebagai mantan pejabat tinggi
negara, saat itu mental saya sudah jatuh. Dari pemegang kekuasaan
negara berubah menjadi orang tahanan. Mungkin saya mengalami
depresi. Istri saya tentu mengalami hal yang sama. Anak saya
satu-satunya masih kecil.
Saya diadili di Mahmilti
tidak lama kemudian. Tetapi, anehnya dakwaan buat saya bukan sebagai
PKI atau terlibat G30S. Sama sekali tidak menyinggung dua hal pokok
itu. Padahal, saya sudah dicap pro-PKI. Saya sudah dijuluki
Durno.
Saya diadili karena
ucapan saya bisa menimbulkan kekacauan saat saya berkata: Kalau ada
teror, tentu bakal muncul kontra-teror. Beberapa setelah G30S
meletus, para pemuda yang dimanfaatkan AD mendesak agar Bung Karno
diadili. Mereka didukung oleh AD untuk melakukan demonstrasi dan
melancarkan teror bagi Bung Karno serta para pendukungnya. Suatu
saat saya mengatakan, jika ada teror (dari para pemuda) maka bakal
muncul kontra-teror (entah dari mana).
Nah,
ucapan saya ini dinilai bisa memancing kekacauan. Saya dituduh
melakukan subversi. Sidang berlangsung singkat, lantas saya dijatuhi
hukuman mati. Benar-benar pengadilan sandiwara. Mereka gagal
membunuh saya secara terang-terangan di Sidang Kabinet 11 Maret
1966, toh mereka bisa membunuh saya secara ’konstitusional’ di
pengadilan sandiwara ini. Naik banding dan kasasi
saya tempuh sekadar semacam reflek menghindari kematian. Namun upaya
hukum itu percuma. Sebab, pengadilannya saja sudah
sandiwara.
Dan, pengadilan
sandiwara di banyak kasus seputar G30S dan PKI di awal kepemimpinan
Soeharto, kemudian berdampak sangat buruk bagi Indonesia. Sejak itu
sampai sekarang, pengadilan sandiwara merupakan hal lumrah.
Pengadilan sandiwara kasus seputar G30S merupakan semacam
yurisprudensi (rujukan) bagi serentetan amat panjang pengadilan
sandiwara berikutnya. Moral aparat hukum rusak berat. Pengadilan
berbagai kasus di-subversi-kan berikutnya: Tanjung Priok, Lampung,
demonstrasi mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru,
diadili dengan pengadilan sandiwara merujuk G30S. Bahkan juga
kasus-kasus korupsi. Salah menjadi benar, benar menjadi
salah.
Ini sama sekali bukan
pelampiasan dendam saya terhadap Soeharto. Tak kurang Presiden KH
Abdurrahman Wahid (tidak ada hubungannya dengan saya) sampai
melontarkan pernyataan bahwa seluruh hakim Jakarta akan diganti
dengan hakim impor.
Di
dalam penjara, awalnya saya mengalami depresi. Kesalahan saya
satu-satunya adalah menjadi pengikut setia Bung Karno. Namun
kemudian saya tidak menyesal menjadi pengikut setia Bung Karno,
sebab itu sudah menjadi tekad saya. Dan, ini merupakan
risiko bagi semua orang yang berkecimpung di bidang
politik.
Saya masuk sel isolasi,
terpisah dengan napi lain. Meskipun saya tidak disiksa fisik, namun
direkayasa sedemikian rupa sehingga batin saya benar-benar tersiksa.
Kondisi penjara yang sangat buruk, suatu saat membuat perut saya
terluka dan mengalami infeksi. Saya tahu, itu obatnya sederhana
saja. Tetapi, pemerintah tidak menyediakan. Luka saya dibiarkan
membusuk digerogoti bakteri. Ketika luka saya sudah benar-benar
parah (berulat), baru diberi obat. Rupanya pemberian obat yang
terlambat itu memang disengaja. Akibatnya, luka memang sembuh. Namun
sampai kini sering kambuh, rasa nyeri luar
biasa.
Di dalam, saya dilarang
menulis, membaca berita, dijenguk keluarga atau teman (baru beberapa
tahun kemudian dibolehkan). Satu-satunya bacaan saya adalah ayat
suci Al-Qur’an. Tetapi, bacaan ini seperti mengembalikan saya pada
suasana masa kanak-kanak yang agamis. Saya malah mendapatkan
ketenangan jiwa yang tidak saya rasakan ketika saya menjadi pejabat
tinggi negara.
Akhirnya saya lolos dari
hukuman mati karena kawat dari dua petinggi negara adidaya, AS dan
Inggris. Hukuman saya diubah menjadi seumur hidup. Tetapi saya tetap
ditempatkan di sel isolasi mulai dari Salemba (Rutan Salemba), LP
Cimahi, sampai LP Cipinang.
Pada tahun 1978 anak
saya Budojo meninggal dunia karena serangan jantung. Ibunya
benar-benar mengalami depresi berat. Sejak saya dihukum, hanya
Budojo yang membuat ibunya tabah menghadapi cobaan. Saya bisa
membayangkan, betapa isteri saya hidup nelangsa. Dari seorang istri
pejabat tinggi negara, menda-dak berubah menjadi ’istri Durno’,
disusul anak satu-satunya pun meninggal dunia. Maka, beberapa bulan
kemudian istri saya menyusul Budojo, berpulang ke rahmatullah.
Tinggallah saya sendiri. Tetap kesepian di penjara. Tidak ada lagi
yang menjenguk.
Tetapi, diam-diam ada
seorang wanita yang bersimpati pada saya. Dia adalah mantan isteri
Kolonel Bambang Supeno. Bambang adalah perwira tinggi AD yang ikut
mendukung G30S atas instruksi Soeharto. Namun, seperti nasib perwira
pelaku G30S lainnya, Bambang dihukum dan akhirnya meninggal dunia.
Istrinya, Sri Koesdijantinah, janda dengan dua anak, lantas
bersimpati pada saya. Kami akhirnya menikah di LP Cipinang pada
tahun 1990. Saya sangat kagum pada Sri yang rela menikah dengan
narapidana. Sangat jarang ada wanita setulus
dia.
Kini
hidup saya tidak sendiri lagi. Meskipun saya tetap meringkuk di sel
khusus, tetapi setiap pekan ada lagi orang yang menjenguk, setelah
bertahun-tahun kosong. Sri muncul di saat semangat hidup saya nyaris
padam. Setiap pekan dia membawa-kan saya nasi rawon kesukaan saya.
Juga dua orang anak Sri sangat perhatian. kepada saya. Sebagai sesama korban Soeharto, kami
menjadi bersatu. Saya lantas menjadi sadar bahwa bukan hanya saya
korban kekejaman Soeharto. Ada banyak korban lain yang jauh lebih sengsara dibanding saya. Sri
benar-benar membuat hidup saya bersinar
kembali.
Pada
tanggal 16 Agustus 1995 saya dibebaskan. Saya pulang bersama Sri
dan anak-anak. Kami menempati rumah besar di Jalan Imam Bonjol 16
yang dulu saya tinggalkan. Saya seperti bangun tidur di pagi hari.
Saya seperti baru saja bermimpi, 30 tahun dalam kegelapan di
penjara. Saya seperti menemukan hari baru yang cerah. Saya bersujud
syukur alhamdulillah, masih diberi kesempatan menghirup udara
bebas.
Setahun menempati rumah
itu, kami merasa kewalahan. Biaya perawatannya sangat mahal. Sebagai
seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, honor Sri tidak
seberapa. Apalagi saya, penganggur tanpa penghasilan. Tiga jabatan
sangat penting saya di zaman Presiden Soekarno tidak dihargai sama
sekali. Saya tidak diberi uang pensiun. Akhirnya kami menjual rumah
besar itu. Sebagai gantinya, kami membeli rumah lebih kecil di
Jakarta Selatan.
Setelah
Soeharto tumbang, banyak orang datang kepada saya, menganjurkan saya
membuat memoar. Saya sesungguhnya tidak tertarik. Selain tidak
memiliki persiapan yang matang, juga tidak ada gunanya bagi saya
mengungkap masa lalu. Biarlah itu berlalu. Toh saya sudah menjalani
hukuman 30 tahun. Toh saya sudah menerima hinaan disebut Durno, PKI,
dan sebagainya. Saya sudah ikhlas menerimanya. Saya sudah legowo.
Usia saya sudah senja. Tinggal meningkatkan amal soleh dan ibadah,
sebagai bekal menghadap Sang Khalik, suatu saat nanti. Apalagi
Soeharto akhirnya tumbang juga. Kalau saya mengungkap masa lalu,
saya bisa larut dalam emosi. Maka, anjuran itu tidak saya
turuti.
Namun,
teman-teman sezaman, baik dari dalam maupun luar negeri terus
menghu-bungi saya, baik melalui telepon maupun bertemu langsung.
Mereka mengatakan, sejarah G30S sudah dibengkokkan. Kata mereka,
saya harus mengatakan yang sebenarnya untuk meluruskan sejarah. Ini
bukan untuk anda, tapi penting bagi generasi muda agar tidak tertipu
oleh sejarah yang dimanipulir, kata salah seorang dari
mereka.
Diinformasikan
bahwa salah satu pelaku sejarah G30S yang amat penting, Kolonel
Abdul Latief juga membuat buku berisi pledoinya dulu. Tetapi ada
dugaan bahwa Latief tidak mengungkap total misteri G30S. Sebab,
Mingguan terbitan Hongkong, Far Eastern Economic Review edisi 2
Agustus 1990 memberitakan bahwa memoar Latief yang lengkap disimpan
di sebuah bank di luar Indonesia dengan pesan, boleh dipublikasikan
jika Latief dibunuh. Itu berarti G30S masih
misteri.
Saya
sempat bimbang. Keinginan saya mengubur masa lalu seperti digoyang
begitu kuat. Apalagi banyak penulis kenamaan datang kepada saya,
siap menuliskan memoar saya. Dalam kebimbangan itu saya ingat pada
seorang wartawan muda yang paling sering mewawancarai saya, Djono W.
Oesman. Dia saya hubungi dan saya minta menuliskan cerita saya,
sebab saya percaya padanya. Dia pun setuju. Dialah penyunting buku
ini. Hanya saya dan dia yang menyusun potongan-potongan peristiwa
yang saya alami dan saya ingat.
Saya
menyadari bahwa mungkin banyak kekurangan di dalam buku ini. Maklum,
G30S adalah masalah internal AD, dan saya bukan dari AD. Tetapi saya
dalah pelaku sejarah G30S yang mengalami semua kejadian sebelum,
saat meletus, sampai dampak peristiwa itu. Mungkin, inilah sumbangan
saya, bagian dari amal ibadah untuk bekal kehidupan saya di akhirat
kelak. Semoga ada manfaatnya. Amin.
KOMENTAR
Teror,
teror, dan teror. Tidak henti-hentinya. Saling susul-menyusul.
Seolah tiada yang mampu menghentikan teror mental dan fisik yang
dimulai sejak 1965, dilanjutkan pada Pemilu 1972. Gembar-gembor bahaya
laten PKI terus didengung-dengungkan, untuk memperkuat rezim
Soeharto. Teorinya, penguasa Orde Baru selalu menciptakan musuh semu
bagi rakyat. Rakyat diberi musuh semu berupa momok bahaya laten PKI.
Inilah teror mental. Sedangkan bagi mereka yang kritis, seperti para
mahasiswa, dikenakan teror mental dan fisik.
Soeharto yang pada 1966
menggerakkan mahasiswa, dalam perjalanan kekuasaan-nya malah meneror
mahasiswa. Terhadap mereka yang kritis dan suka berdemo, dilakukan
penangkapan, interogasi, bahkan disiksa. Pada pertengahan 1970-an
sudah beredar anekdot yang mengkritik keserakahan keluarga Soeharto.
Misalnya, kalangan mahasiswa memberi julukan istri Soeharto, Siti
Suhartinah (biasa dipanggil ibu Tien) dengan julukan Ibu Tien
Persen. Artinya Ibu Sepuluh Persen. Menurut pembicaraan di kalangan
mereka, ibu Tien sering minta komisi 10% jika ada investor asing
masuk ke Indonesia.
Teror yang disebar oleh
rezim Orde Baru seolah-olah merupakan unjuk kekuatan setelah
membantai jutaan kaum komunis, keluarga, dan simpatisannya. Seolah
diumumkan, jangan macam-macam dengan penguasa. Jangan coba-coba
melawan penguasa. Dan, kritik dari generasi
muda juga diartikan sebagai melawan penguasa. Maka, harus
dihabisi.
Bukti dari kesimpulan
ini sudah kita saksikan bersama, bagaimana perjalanan rezim Orde
baru membunuh kritik dari masyarakat. Mulai dari teror Pemilu 1972,
dilanjut-kan dengan teror, penangkapan serta penyiksaan terhadap
mahasiswa yang berdemo pada 5 Januari 1974 (yang dikenal dengan
Malari, yang merupakan singkatan dari Lima
Januari).
Lantas
dilanjutkan tindakan represif tentara kepada mahasiswa yang berdemo
pada tahun 1978. Demo damai umat Islam di tahun 1984 menghasilkan
pembantaian Tanjung Priok. Kekerasan demi kekerasan dialami rakyat.
Setelah saya bebas, kemudian Soeharto jatuh dari kursi kekuasaannya,
kekerasan menjadi warisan buruk kepada masyarakat. Perkelahian
massal di Sambas, Kalimantan Barat yang saya baca di media massa,
memamerkan pembantaian yang mengerikan.
Di
koran dipasang foto kepala manusia tergeletak di pinggir jalan. Isu
dukun santet di Jatim malah lebih gila lagi. Kepala manusia yang
sudah terpenggal, ditusuk dengan bambu runcing dan diarak keliling
kota. Di Malang, tidak jauh dari
kota kelahiran saya, kepala manusia
yang sudah terpenggal diikat lantas diseret dengan sepeda motor yang
melaju keliling kota. Peristiwa-peristiwa yang saya
sebutkan belakangan ini sudah bukan dilakukan oleh tentara lagi,
tetapi oleh rakyat terhadap rakyat. Tetapi, ini semua adalah warisan
dari pembantaian kaum komunis yang sangat brutal di masa lalu –
pelajaran buruk yang diwariskan ke generasi
berikutnya.
Kudeta merangkak itu
bergelimangan darah. Pertama, darah para jenderal yang dibantai pada
tanggal 1 Oktober 1965. Kedua, darah Untung dan Soepardjo yang
dimanipulasi. Ketiga, darah Sjam Kamaruzzaman yang dikhianati.
Keempat darah jutaan kaum komunis, keluarga, simpatisan komunis,
keluarga mereka, kaum buruh, dan para petani.
Pembaca yang budiman,
mengetahui kejahatan kemanusiaan dan tidak mencegah saja sudah
merupakan kejahatan terhadap manusia. Lantas, di mana tempat
Soeharto yang luput dari hukum hingga buku ini ditulis? Saya berada
di rumah sakit (RSPAD Gatot Subroto) sampai menjelang tengah malam,
lantas pulang ke rumah, kata Soeharto.
Sekali pun kita mencoba
melupakan sejenak bahwa ucapan Soeharto itu dusta, namun pulang ke
rumah dan tidur pulas setelah mengetahui pasti bahwa beberapa jam
lagi rekan-rekan jenderal akan bertemu maut, betapa pun adalah
kejahatan. Kualifikasi yang bagaimana yang semestinya diberikan
terhadap kejahatan Soeharto yang telah membunuh jutaan manusia dan
membuat sebagian lain merana di penjara? Ya, kualifikasi
apa?
Penghancuran PKI yang
diikuti dengan pembunuhan jutaan manusia mendapat dukungan kekuatan
imperialisme internasional, terutama Amerika Serikatyang mengklaim
diri sebagai negara demokrasi. Ini bentuk penghancuran struktur di
suatu negara (Indonesia) yang sangat besar sejak Perang Dunia-II.
Kekejamannya tidak pernah dibayangkan sebelumnya, oleh siapa pun,
termasuk oleh kita sendiri, juga termasuk saya yang menyaksikan
langsung semua peristiwa di tingkat elite politik Indonesia saat
itu.
Peristiwa
ini bukan hanya peristiwa intern Indonesia, tetapi Indonesia dan dunia. Ini
merupakan letupan konflik yang sebenarnya sudah lama ada antara
mahakuasa imperialisme internasional dengan hak menentukan nasib
sendiri bangsa Indonesia di pihak lain.
Indonesia hanyalah tempat
peristiwa. Sedangkan karakternya bersifat dunia. Ini sebuah tragedi
yang secara moral merupakan kejahatan peradaban umat manusia.
Sebagai
konsekuensi logis dari peristiwa ini adalah memfasiskan kehidu-pan
negara, bertentangan dengan harapan ahli-ahli teori
modernisasi.
Hasil dari semua itu
adalah penyebaran kapitalisme, termasuk ke Indonesia. Tetapi di
Indonesia, penyebaran kapitalisme tidak diikuti dengan lahirnya
negara borjuis demokrasi liberal, seperti di AS atau Eropa Barat.
Itu tidak tercipta di sini. Sebagai gantinya, ternyata, perkembangan
kapitalisme di sini melahirkan negara birokrasi militer. Pada
perkembangan berikutnya melahirkan berbagai persoalan bangsa yang
sulit diatasi oleh generasi penerus.
Di sisi lain,
kebungkaman terhadap kejahatan manusia dan kemanusaiaan harus segera
diakhiri. Atas nama kawan-kawannya, keluarga dan kerabat saya, atas
nama semua anak bangsa yang dibunuh, atas nama anak yang kehilangan
orangtua mereka, atas nama anak-anak yang selama bertahun-tahun ikut
ibu di penjara, atas nama golongan mana pun yang sudah dianiaya dan
disembelih oleh rezim Soeharto, saya serukan, akhiri kebungkaman
ini. Kepada mereka yang merasa sebagai demokrat, baik di dalam
maupun di luar negeri, pecahkan kebungkaman ini. Hari sudah tidak
lagi terlalu pagi. Matahari sudah di atas
ubun-ubun.
Eksistensi rezim
kriminal Soeharto ditegakkan oleh segelintir elite Indonesia, para
jenderal fasis, pendukung sipil dan teknokratnya, serta kaum
konglomerat yang kemudian terbukti serakah dan rakus. Mereka
mengembangkan model kapitalisme abad ke-18 yang tak manusiawi dalam
memacu kapitalisme di Indonesia selama lebih dari tiga
dekade.
Hari ini tidak lagi
terlalu pagi kita memasuki titik awal. Saya bangga, karena titik
awal ini dimulai oleh generasi muda Indonesia yang tidak ragu
menghadapi kekuatan kriminal dan uang hasil korupsi rezim Orde baru.
Luruskanlah sejarah yang telah mereka bengkokkan selama tiga dekade
ini. Pecahkan kebungkaman!
Dr. H Soebandrio,
Kesaksianku tentang G30S, KOMENTAR (18-9-2000)
*************** 0 0 0 0
0 0******************
Tentang Matinya Para
Jendral
Ben
Anderson
Orang sering menjadi
terkesima ketika membongkar-bongkar gudang yang bertimbun dan
berdebu. Sementara iseng membolak-balik ratusan halaman fotokopi
rekaman stenografis dari sidang pengadilan Letkol AURI Atmodjo di
depan Mahmilub, saya temukan dokumen-dokumen yang saya terjemahkan
di bawah ini, yang aslinya merupakan lampiran-lampiran pada berkas
sidang pengadilan itu. Dokumen itu adalah laporan yang disusun oleh
sebuah tim terdiri dari lima orang ahli kedokteran forensik, yang
telah memeriksa mayat-mayat enam orang jendral (Yani, Suprapto,
Parman, Sutojo, Harjono, dan Pandjaitan), dan seorang letnan muda
(Tendean) yang terbunuh pada pagi-pagi buta tanggal 1 Oktober 1965.
Laporan mereka yang lugas merupakan lukisan paling obyektif dan
tepat yang pernah kita miliki, tentang bagaimana tujuh orang itu
mati. Mengingat kontroversi yang telah lama tentang masalah ini, dan
berita-berita yang disajikan oleh suratkabar dan majalah umum
berlain-lainan, maka saya memandang perlu menerjemahkan
dokumen-dokumen tersebut sepenuhnya untuk kepentingan kalangan
ilmiah.
Bagian atas setiap visum
et repertum (otopsi) menunjukkan bahwa tim tersebut bekerja pada
hari Senin tanggal 4 Oktober, atas perintah Mayjen Suharto selaku
Komandan KOSTRAD ketika itu, kepada kepala Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat (RSPAD). Tim terdiri dari dua orang dokter tentara
(termasuk Brigjen Roebono Kertopati yang terkenal itu), dan tiga
orang sipil ahli kedokteran forensik pada Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Di antara ketiga orang ini yang paling senior
ialah Dr. Sutomo Tjokronegoro, ketika itu ahli paling terkemuka
dalam kedokteran forensik di Indonesia. Tim bekerja sama selama 8
jam, yaitu dari pukul 4.30 sore tanggal 4 Oktober sampai 12.30 lewat
tengah malam tanggal 5 Oktober, bertempat di Kamar Bedah RSPAD.
Jelas mereka harus bekerja cepat, oleh karena dari berita-berita
pers kita ketahui mayat-mayat itu baru bisa diangkat dari lubang
sumur di Lubang Buaya (di mana para pembunuh telah melemparkannya)
menjelang siang tanggal 4 Oktober, lebih 75 jam setelah pembunuhan
terjadi. Dalam jangka waktu itu, dalam iklim tropis bisa
diperkirakan mayat sudah sangat membusuk. Dan sesudah hari siang,
Selasa tanggal 5 Oktober, mayat-mayat itu dimakamkan dengan upacara
militer di Taman Pahlawan Kalibata. Satu hal yang pasti patut
diperhatikan. Mengingat bahwa otopsi itu dilakukan atas perintah
langsung Mayjen Suharto, maka kiranya tidak akan mungkin jika
laporan para dokter tersebut tidak segera disampaikan kepadanya,
segera setelah tugas dilaksanakan.
Tujuh
buah laporan itu masing-masing disusun menurut bentuk yang
sama:
1.
pernyataan adanya
perintah Mayjen Suharto kepada lima orang ahli
itu;
2.
identifikasi atas
mayat;
3.
eskripsi tubuh,
termasuk pakaian atau hiasan-hiasan badan;
4.
raian rinci tentang
luka-luka;
5.
kesimpulan tentang
waktu dan penyebab kematian;
6. pernyataan di bawah sumpah
dari kelima ahli itu,
7. bahwa pemeriksaan telah
dilaksanakan sepenuh-penuhnya dan sebagai-mana
mestinya.
Karena gambaran umum
tentang matinya tujuh tokok itu, kita, sebagaimana halnya masyarakat
pembaca di Indonesia tahun 1965, harus banyak bersandar pada apa
yang diberitakan oleh dua suratkabar tentara, yaitu Angkatan
Bersenjata dan Berita Yudha, serta dinas informasi ABRI yang memasok
suratkabar-suratkabar tersebut. Walaupun ada beberapa suratkabar
non-militer yang tetap terbit, namun pers kiri telah ditindas pada
petang hari tanggal 1 Oktober, sedangkan radio dan televisi yang
dikuasai negara, dan telah ada di tangan militer sepenuhnya
menjelang 1 Oktober, tidak mengudara. Karena itu perlu
diperbandingkan berita-berita yang disajikan oleh
suratkabar-suratkabar tentara tersebut, dengan ini laporan dari para
ahli kedokteran yang ditunjuk militer yang selesai tersusun pada
hari Selasa tanggal 5 Oktober, yang bisa kita simpulkan dari
dokumen-dokumen lampiran itu.
Mengingat bahwasanya dua
suratkabar tersebut adalah harian-harian pagi, sehingga edisi 5
Oktober mereka mungkin sudah "ditidurkan" sementara para dokter
masih menyelesaikan pekerjaannya, maka tidak aneh bila pemberitaan
mereka tentang hari itu barangkali tergesa-gesa, tanpa memanfaatkan
informasi yang panjang lebar itu. Angkatan Bersenjata memuat
beberapa buah foto kabur mayat-mayat yang telah membusuk, dan
menggambarkan pembunuhan tersebut sebagai "perbuatan biadab berupa
penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusiaan". Berita
Yudha yang selalu lebih garang, mengatakan bahwa mayat-mayat itu
penuh dengan bekas-bekas penyiksaan. "Bekas-bekas luka di sekujur
tubuh akibat siksaan sebelum ditembak masih membalut tubuh-tubuh
pahlawan kita." Mayjen Suharto sendiri dikutip menyatakan, "jelaslah
bagi kita yang menyaksikan dengan mata kepala (jenazah-jenazah itu),
betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang
biadab dari apa yang dinamakan 'Gerakan 30 September'". Suratkabar
itu meneruskan dengan menggambarkan saat-saat terakhir kehidupan
Jendral Yani, mengatakan bahwa sesudah ditembak rubuh di rumahnya,
ia dilemparkan hidup-hidup ke dalam sebuah truk dan terus menerus
disiksa sampai "penyiksaan terakhirnya di Lubang Buaya." Bukti-bukti
tentang penyiksaan ini ditunjukkan dengan adanya luka-luka pada
leher dan mukanya, dan kenyataan bahwa "anggota-anggota tubuhnya
tidak sempurna lagi". Apa yang dimaksud oleh kata-kata yang agak
kabur itu menjadi lebih jelas pada hari- hari berikut. Pada hari
Kamis tanggal 7 Oktober, Angkatan Bersenjata menyatakan bahwa
"matanya (Yani) dicungkil". Berita ini dikuatkan dua hari kemudian
oleh Berita Yudha dengan menambahkan bahwa muka mayat itu ditemukan
terbungkus dalam sehelai kain hitam.
Pada tanggal 7 Oktober
itu juga Angkatan Bersenjata melukiskan lebih lanjut, tentang
bagaimana Jendral Harjono dan Jendral Pandjaitan tewas oleh
berondongan tembakan senjata api di rumah masing-masing, lalu mayat
mereka dilempar ke dalam sebuah truk yang menghilang dalam kegelapan
malam dengan "deru mesin-nya yang seperti harimau haus darah".
Sementara itu Berita Yudha memberitakan tentang bekas-bekas siksaan
pada kedua tangan Harjono.
Pada tanggal 9 Oktober
Berita Yudha memberitakan, bahwa meskipun muka dan kepala Jendral
Suprapto telah dihancurkan oleh "penteror-penteror biadab", namun
ciri-cirinya masih bisa dikenali. Pada Letnan Tendean terdapat
luka-luka pisau pada dada kiri dan perut, lehernya digorok, dan
kedua bola matanya "dicungkil". Harian ini pada hari berikutnya
mengutip saksi mata pengangkat mayat bulan Oktober itu, yang
mengatakan bahwa di antara kurban beberapa ada yang matanya keluar,
dan beberapa lainnya "ada yang dipotong kelaminnya dan banyak
hal-hal lain yang sama sekali mengerikan dan di luar
perikemanusiaan." Pada tanggal 11 Oktober Angkatan Bersenjata
menulis panjang lebar tentang matinya Tendean, dengan menyatakan
bahwa ia mengalami siksaan luar biasa di Lubang Buaya, sesudah
diserahkan kepada para anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).
Ia dijadikan benda "permainan jahat" perempuan- perempuan ini,
digunakan sebagai "bulan-bulanan sasaran latihan menembak sukwati
Gerwani."
Begitu
suratkabar-suratkabar tentara memulai, maka yang lain pun segera
serta merta mengikuti. Misalnya Api Pantjasila, orang partai IPKI
yang bernaung di bawah militer, pada tanggal 20 Oktober
memberitakan, bahwa "alat pencungkil" yang digunakan untuk
jendral-jendral itu telah ditemukan oleh pemuda-pemuda anti komunis,
ketika mereka menyerbu gedung-gedung Partai Komunis, di desa
Haru-panggang di luar kota Garut. Walaupun tanpa diterangkan,
mengapa partai tersebut memandang desa itu cocok untuk menyimpannya.
Pada tanggal 25 Oktober suratkabar ini juga memuat pengakuan
seseorang bernama Djamin, anggota organisasi pemuda Partai Komunis,
Pemuda Rakyat, yang mengatakan telah menyaksikan bagaimana Jendral
Suprapto telah disiksa "di luar batas kesusilaan" oleh
anggota-anggota Gerwani. Pengakuan-pengakuan serupa itu dimuat
berturut-turut, dan memuncak pada cerita menarik tentang Nyonya
Djamilah, disiarkan pada tanggal 6 Oktober oleh Dinas Penerangan
ABRI kepada seluruh kalangan pers. Nyonya Djamilah diceritakan
sebagai hamil tiga bulan, pimpinan Gerwani dari Pacitan berumur lima
belas tahun, mengaku bahwa ia dan kawan-kawannya di Lubang Buaya
telah menerima pembagian pisau kecil serta silet dari
anggota-anggota pasukan Gerakan 30 September. Lalu mereka, yang
seluruhnya berjumlah seratus orang itu, mengikuti perintah orang-
orang itu pula, mulai memotong dan menyayat-sayat kemaluan
jendral-jendral yang telah mereka tangkap itu. ("Dibagi-bagikan
pisau kecil dan pisau silet... menusuk-nusuk pisau pada kemaluan
orang-orang itu. Api Pantjasila, 6 November 1965). Malahan tidak
berhenti di situ saja. Antara yang telah dikuasai militer itu, pada
tanggal 30 November melukiskan bagaimana orang-orang Gerwani itu
dengan mudahnya telah menyerahkan tubuh mereka kepada para personel
AURI yang ikut serta dalam Gerakan 30 September. Sementara itu pada
tanggal 13 Desember Angkatan Bersenjata melukiskan mereka
bertelanjang menarikan "Tarian Bunga Harum" di bawah pimpinan Ketua
Partai Komunis Dipa Nusantara Aidit, sebelum terjun dalam pesta pora
massal bersama para anggota Pemuda Rakyat.
Di dalam cerita-cerita
yang memenuhi suratkabar selama bulan- bulan Oktober, November dan
Desember ini -- sementara itu pembantaian besar-besaran terhadap
orang-orang yang berhubungan dengan Partai Komunis terus berjalan --
terkandung dua hal yang sangat menarik diperhatikan. Pertama,
ditiup-tiupkan bahwa tujuh kurban itu mengalami siksaan yang
mengerikan -- khususnya dicungkil mata dan dipotong kemaluan mereka;
kedua, ditonjolkan bahwa pelaku-pelaku kejahatan adalah orang-orang
sipil dari organisasi yang berafiliasi dengan
komunis.
Apakah yang diberitakan
kepada kita oleh laporan para ahli forensik pada tanggal 5 Oktober
itu? Pertama, dan terutama, bahwa tidak ada satu biji mata pun dari
para kurban yang telah dicungkil, dan bahwa semua kemaluan mereka
pun masih utuh. Kepada kita bahkan diberitakan bahwa empat berkhitan
dan tiga tidak berkhitan.
Kecuali itu, barangkali
perlu kurban-kurban itu dibagi ke dalam dua golongan: mereka yang
dengan sebagian besar bukti non-forensik menunjukkan telah dibunuh
dengan ditembak selagi masih di rumah oleh para penculik mereka,
yaitu Jendral Yani, Jendral Pandjaitan, dan Jendral Harjono; dan
mereka yang dibunuh sesudah dibawa ke Lubang Buaya, yaitu Jendral
Parman, Jendral Suprapto, dan Jendral Sutojo, serta Letnan
Tendean.
Golongan I. Berita
paling lengkap tentang kematian mereka terbit jauh sesudah peristiwa
terjadi: tentang Yani dalam Berita Yudha tanggal 5 Desember;
Pandjaitan dalam Kompas tanggal 25 Oktober; Berita Yudha Minggu
tanggal 21 November, dan Berita Yudha tanggal 13 Desember; dan
Harjono dalam Berita Yudha Minggu tanggal 28 November. Semua
pemberitaan menunjukkan, bahwa jendral-jendral itu telah dibunuh
dengan mendadak dan seketika di rumah dengan berondongan tembakan
yang dilakukan oleh anggota-anggota Resimen Kawal Cakrabirawa, di
bawah pimpinan operasi Lettu Doel Arief. Gambaran demikian hanya
sebagian saja dibenarkan oleh laporan forensil. Para ahli forensik
itu menyatakan bahwa luka-luka pada tubuh Yani sajalah yang
merupakan sepuluh luka tembuk masuk dan tiga tembus. Pandjaitan
mengalami tiga luka tembak pada kepala, serta luka robek kecil di
tangan. Pada luka-luka yang dialami Harjono timbul tanda tanya,
karena tidak disebut-sebut sebagai akibat tembakan. Penyebab
kematiannya rupanya adalah torehan panjang dan dalam pada bagian
perut, luka yang lebih mungkin disebabkan oleh bayonet ketimbang
pisau lipat atau silet. Sebuah luka serupa yang tak mematikan
terdapat pada punggung korban. Cedera lain
satu-satunya digambarkan "pada tangan dan pergelangan tangan kiri,
luka-luka disebabkan oleh barang tumpul." Tak ada cara lain yang
lebih tepat untuk menafsirkan luka-luka ini kecuali harus
mengatakan, bahwa luka-luka tesebut tidak mungkin karena siksaan --
jarang penyiksa memilih pergelangan kiri dalam melakukan pekerjaan
mereka -- dan luka itu barangkali karena mayat itu dilempar ke dalam
sumur di Lubang Buaya yang 36 kaki dalamnya.
Golongan
II. Cerita lengkap tentang matinya korban-korban ini terdapat dalam
suratkabar-suratkabar berikut: Parman, Berita Yudha, 17 Oktober dan
juga Berita Yudha serta Angkatan Bersenjata tanggal 2 Desember;
Soeprapto, Berita Yudha Minggu tanggal 5 Desember; Sutojo, Berita
Yudha Minggu tanggal 21 November. Terhadap empat orang inilah
berita-berita tentang siksaan biadab dan seksual paling banyak
diberikan. Apa yang diungkapkan oleh laporan forensik adalah sebagai
berikut:
1.
S.
Parman mengalami lima luka tembak, termasuk dua yang mematikan pada
kepala; dan, di samping itu, "robek dan patah tulang pada kepala,
rahang, dan kaki kiri bawah, semuanya sebagai akibat benda tumpul
dan keras -- popor bedil atau dinding dan lantai sumur -- tetapi
jelas bukan luka-luka "siksaan", juga tidak sebagai akibat silet
atau pisau lipat.
2.
Soeprapto
mati oleh karena sebelas luka tembak pada berbagai bagian tubuhnya.
Luka-luka lain berupa enam luka robek dan patah tulang sebagai
akibat dari benda tumpul pada kepala dan muka; satu disebabkan oleh
benda keras tumpul pada betis kanan; luka- luka dan patah tulang itu
"akibat benda tumpul" yang sangat keras pada bagian pinggul dan pada
paha kanan atas"; dan tiga sayatan yang, melihat pada ukuran dan
kedalamannya, mungkin disebabkan oleh bayonet. Sekali lagi "benda
tumpul" mempertunjukkan terjadinya benturan dengan benda-benda keras
yang besar dan berbentuk tak menentu (popor bedil dan batu-batu
sumur), dan bukannya silet atau pisau,
3.
Sutojo
mengalami tiga luka tembak (termasuk satu yang fatal pada kepala),
sedang "tangan kanan dan tempurung kepala retak sebagai akibat benda
tumpul keras". Sekali lagi kombinasi ganjil antara tangan kanan,
tulang tengkorak, dan benda pejal berat yang memberikan kesan popor
bedil atau batu-batu sumur.
4.
Tendean mati akibat
empat luka tembak. Kecuali itu para ahli tersebut menemukan luka
gores pada dahi dan tangan kiri, demikian juga "tiga luka akibat
trauma pejal pada kepala."
Tak
terdapat sepatah kata pun di laporan-laporan ini tentang adanya
siksaan yang tak tersangkal, dan tak ada juga bekas silet atau pisau
kecil apapun. Bukan saja karena hampir semua luka-luka bukan tembak
itu dilukiskan sebagai akibat dari benda pejal dan keras, tetapi
karena pembagiannya secara jasmaniah pun "perge-langan kaki, tulang
kering, pergelangan tangan, paha, pelipis dan lain-lain -- pada
umumnya tampak sembarangan. Adalah sangat menarik, bahwa sasaran
para penyiksa yang lazim yaitu pelir, dubur, mata, kuku, telinga,
dan lidah tidak disebut-sebut. Maka dengan cukup meyakinkan bisa
dikatakan bahwa enam orang dari korban-korban itu mati oleh tembakan
senjata api (perihal Harjono yang mati di dalam rumahnya tetap
membingungkan); dan jika tubuh mereka mengalami tindak kekerasan
lain adalah akibat pemukulan dengan gagang bedil yang mematahkan
peluru-peluru mematikan itu, atau cedera yang mungkin diakibatkan
karena jatuh dari ketinggian 36 kaki -- yaitu kira-kira tiga tingkat
lantai -- ke dalam sumur yang berdinding batu.
Perlu
juga dikemukakan, bahwa dalam pidatonya tanggal 12 Desember 1965
kepada Kantor Berita Indonesia Antara, Presiden Soekarno mengutuk
para wartawan yang telah membesar-besarkan pernyataan mereka, dan
menegaskan bahwa dokter-dokter yang telah memeriksa mayat para
kurban menyatakan, tentang tidak adanya perusakan mengerikan pada
mata dan alat kelamin sepeti telah diberitakan dalam pers (Lihat
Suara Islam, 13 Desember 1965, dan FBIS, 13 Desember
1965).
Sumber:
Edi Cahyono
***********
0 0 0 0 0 **********
Orde
Baru Sebagai Boneka International Gangster
Capitalism
Apakah
orde baru adalah pemerintahan boneka buatan Amerika? Inilah
pertanyaan yang muncul di benak saya ketika membaca buku yang
ditulis oleh Geoff Simons berjudul Indonesia: The Long
Oppression. (London: MacMillan/N.Y.:
St. Martin, July
2000).
Sebagian
besar dari uraian Simon tentang kekejaman regim militer dalam masa
pemerintahan otoriter orde baru dalam buku setebal 304 halaman itu,
bukanlah hal baru bagi masyarakat kita, yang secara dekat mengamati
dan mengalami kekejaman system pemerintahan orde
baru.
Sebagaimana
terungkap dengan sangat jelas pada judul buku itu, uraian Simons membangkitkan kesadaran dunia
internasional pada umumnya dan warga Indonesia pada khusunya
akan sebuah bangsa yang membangun sejarahnya lewat suatu opresi yang
sangat panjang. Sejarah nasional mencatat bahwa sejak Portugis
mendarat di bumi pertiwi pada abad ke 16 hingga kejatuhan Soeharto
pada akhir abad ke 20 ini, masyarakat kita hidup dalam situasi
terjajah dari kekuatan opresif yang satu ke kekuatan opresif yang
lain, dari kesadisan kolonialisme asing ke kesadisan kediktatoran
penguasa bangsa sendiri (orde baru).
Orde baru memulai
kekuasaannya dengan darah, menerapkan system kediktatoran-nya dengan
darah, dan mengakhiri kekuasaannya juga dengan darah. Sampai pada
akhirnya, orde baru menghantar kita pada babak baru sejarah yang
Asvi Warman Adam (sejarahwan LIPI) sebut sebagai “sejarah korban”
(Suara Pembaharuan, 3/11/2000).
Dibentengi oleh kekuatan
penguasa asing, khususnya Amerika, Inggris, Australia dan Jepang,
kelompok negara yang Simons sebut sebagai international gangster
capitalism, penguasa orde baru terus menerapkan system opresi yang
tak berperi-kemanusiaan atas rakyat bangsanya sendiri, demi interest
imperialisme kooperatif gaya baru, yang beraksi atas nama agung
“globalization”.
Menghadapi berbagai aksi
opresi tak berperikemanusiaan selama masa pemerin-tahan orde baru,
kelompok negara yang tergabung dalam international gangster
capitalism itu berusaha untuk menghadirkan diri sebagai pahlawan
yang ingin menyelamatkan bangsa Indonesia melalui kritikan serta
berbagai ancaman embargo dan lain sebagainya. Tapi siapa harus
mengeritik siapa?
Simons melukiskan bahwa
Amerika, Inggris, Australia dan Jepang memainkan peran sentral dalam
melahirkan figure yang tampil sebagai penguasa yang kejam selama
masa pemerintahan orde baru. Lewat coup d’etat, Amerika telah
menghantar Soeharto ke pucuk pimpinan orde baru. Amerika juga telah
membesarkan ABRI yang setelah kejatuhan Soeharto dituduh sebagai
kambing hitam atas semua aksi pemerkosaan nilai kemanusiaan di
negara ini.
Simons menampilkan
perspektif baru penemuan sejarah hasil penelitiannya sendiri untuk
melengkapi sekaligus mempertegas kemiripan berbagai warna sejarah
yang muncul sebelum dan sesudah kejatuhan orde baru. Sebelum
kejatuhan Soeharto, transparansi sejarah orde baru sudah diungkapkan
oleh beberapa ilmuwan asing.
Dalan
artikel berjudul Lessons of the 1965 Indonesian Coup (1991), Terry
Cavanagh melukiskan penemuan historis serupa. Cavanagh menulis,
Kudeta berdarah di Indonesia merupakan hasil dari niat
imperialisme AS untuk mendapatkan kontrol mutlak atas kekayaan alam
dan sumber-sumber strategis dari kepulauan yang sering dinamakan
'Permata Asia' (jewel of Asia).
Amerika yang sejak awal abad ke 20 telah menguasai eksploitasi
minyak bumi (Caltex di Sumatera) dan karet di negeri ini, pasti
tidak mau kehilangan interest ekonominya ketika PKI berhasil
menguasai massa dan kaum buruh untuk berjuang melawan eksploitasi
kaum borjuis asing (termasuk Amerika) yang pada waktu itu menguasai
sebagian besar kekayaan alam di negari ini.
Amerika
menyadari bahwa ancaman kekuatan massa terhadap interest ekonomi dan
politiknya di bumi pertiwi ini hanya bisa dipatahkan dan dikuasai
lewat pembentukan pemeritahan dictator yang dipimpin oleh kaum
militer. Untuk itu bantuan finansial, penyediaan perlengkapan perang
dan latihan bagi kaum militer Indonesia merupakan
langkah konkrit Amerika untuk mempersiapkan apa yang kita kenal
sebagai peristiwa penganyangan PKI. Cavanagh menulis, Kudeta di
Indonesia tanggal 1-2 Oktober 1965 adalah hasil dari sebuah operasi
yang sudah lama direncanakan secara hati-hati oleh CIA dan
komandan-komandan militer TNI yang dilatih oleh
AS.
Tentu
saja keberhasilan Soeharto dan pasukannya menjalankan amanat CIA
untuk melaksanakan holocaust pada tahun 1965, serta memulai babak
baru pemerintahan dictator orde baru merupakan kemenangan bagi
Amerika untuk menguasai eksploitasi kekayaan alam di negari ini.
Cavanagh membenarkan kenyataan ini dengan melukiskan bahwa setelah
kudeta 1965, kegunaan kediktatoran Soeharto bagi kepentingan
imperialisme AS telah tergaris bawahi dalam laporan Departemen Luar
Negeri AS ke Konggres AS pada tahun 1975.
Sementara
itu, berdasarkan dokumen CIA dan wawancara langsung dengan para
diplomat Amerika, khususnya Marshal Green, duta besar Amerika yang
sangat berpengaruh selama masa penganyangan PKI, Mike Head, dalam
artikelnya berjudul US Orchestrated Suharto 1965-66 Slaughter in
Indonesia , - artikel yang dibagi atas tiga bagian dan
dipublikasikan oleh World Socialist Web Site (WSWS edisi 19, 20 da
21 July 1999), - secara tranparant melukiskan keterlibatan diplomat
Amerika dan CIA (agen rahasia Amerika), dalam keseluruhan proses
penganyangan PKI and perencanaan pembentukan pemerintahan militer
dibawah komando Soeharto.
Warna
baru penulisan sejarah dari para ilmuwan sejarah asing ini tentu
saja bukanlah sesuatu yang begitu mudah untuk segera dipercaya oleh
nurani polos anak bangsa yang selama 32 tahun diindroktinasikan oleh
kebenaran sejarah ala orde baru. Selama 32 tahun, kita telah
diyakinkan bahwa penguasa orde baru adalah pahlawan yang telah
menyelamatkan bangsa ini dari pengaruh
komunis.
Tapi situasi politik
setelah kejatuhan orde baru menunjukkan indikasi yang sangat
kontras. Kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa fugur-figur yang
sekian lama dianggap sebagai pahlawan dan penyelamat bangsa, kini
tidak lebih dari cuma seorang pengkianat bangsa. Penyembahan atas
kesakralannya berubah menjadi caci-maki atas
pengkianatannya.
Dengan meragukan sejarah
nasional versi orde baru dan mengungkapkan trans-paransi sejarah
versi baru, Simons, Mike dan Cavanangh menantang kita untuk secara
kritis meninjau kembali kebenaran sejarah nasional dan melihat siapa
melakukan apa kepada siapa dalam sejarah bangsa kita. Karena sebuah
bangsa yang kuat dan reformasi yang sesungguhnya tidak akan bertahan
kalau dibangun di atas kepalsuan sejarah.
Karena itu, kebenaran
sejarah nasional harus ditulis kembali oleh anak-anak negeri ini.
Karena mengungkapkan kebenaran sejarah adalah bagian utama dari
proses reformasi itu sendiri. Kalau kebenaran sejarah tidak
diungkapkan, maka selalu ada kemungkinan bahwa kita akan kembali ke
tapak sejarah yang sama. Berpedoman pada sejarah nasional yang
kabur, seorang pengkianatpun bisa dimitoskan sebagai seorang
pahlawan.
Tentu saja, usaha untuk
mengungkapkan kebenaran sejarah yang sesungguhnya bukan hal yang
sangat mudah. Tapi harus disadari bahwa pemalsuan sejarah oleh
penguasa yang otoriter bukanlah pengalaman historis yang secara
eksklusif hanya terjadi dalam sejarah bangsa kita. Kalau kita mau
memberikan sebuah contoh, sejarah Jepang di bawah Kaisar Showa bisa
diangkat sebagai suatu perbandingan.
Di bawah kaisar Showa
Jepang juga mengalami situasi represif yang mirip dengan situasi
opresif seperti yang kita alami di bawah pemerintah orde baru.
Selama Kaiser Showa masih menduduki kursi kekaiseran di Jepang,
tidak ada orang yang berani mengungkapkan kebenaran sejarah sekitar
tragedy perang yang diprakarsai oleh kaisar Showa selama perang
dunia II di Asia dari tahun 1931 sampai tahun 1945. Malah setelah
kematian kaisar Showa, Jepang membutuhkan 11 tahun lamanya untuk
mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya dari aksi kesadisan
sejarah dan mental kolonial Kaisar Showa terhadap bangsa-bangsa di
Asia.
Di tengah krisis masa
transisi, dimana bangsa berjalan di atas hukum yang borok dan
dikomando oleh pemimpin yang membingungkan dan lemah
kredibilitasnya, agak sulit bagi kita untuk menentukan secara pasti
berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis kembali kebenaran
sejarah bangsa ini. Tapi kesadaran bahwa sejarah ala orde baru
adalah sejarah yang rapuh, palsu dan eksploitatif, harus menjadi
awal yang memotivasi kita untuk segera menulis kembali sejarah
bangsa dan membangun konstruksi sejarah yang benar dan kukuh bagi
generasi menda-tang.
Karena itu, warna baru
dari transparansi sejarah orde baru yang kini ramai diungkapkan baik
oleh sejarahwan dalam negeri maupun luar negeri, sebenarnya harus
ditanggapi sebagai suara-suara kritis yang mengundang setiap manusia
di negeri ini untuk membebaskan diri dari sikap terpaku pada
kebanggaan hampa dan kekaguman murah atas kesadisan drama politik
yang diperagakan oleh international gangster capitalism,yang telah
mengunakan kediktatoran orde baru untuk mengem-bangkan imperialisme
kooperatif gaya baru dan mengeksploitasi kekayaan alam di bumi
berlabel Jewel of Asia ini. Suara ingin merdeka yang terus
diperdengarkan hingga saat ini di Aceh and Irian jaya mungkin harus
dipahami sebagai reaksi ingin merdeka dari penerapan sistem
imperialisme kooperatif yang memeras rakyat dan mengeksloitasi
kekayaan alam di daerah itu.
Dalam konteks
kedasadaran ini, reformasi, khususnya reformasi historis, harus
menjadi awal dari usaha kita untuk membuktikan kepada dunia
internasional bahwa bangsa kita bukan cuma boneka berlabel permata
Asia (jewel of Asia). Inilah PR yang harus kita jinjing bersama
untuk mengarungi arus dasyat globalisasi abad ke
21.
(Steven
Mere, Mahasiswa Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang)
1
******************************
TIGA
FAKTOR PENYEBAB G30S
oleh:
A. Karim DP
KEJADIAN
terpenting di tanahair kita dewasa ini ialah terpilihnya Gus Dur dan
Mbak Mega menjadi presiden dan wakil presiden RI yang baru, yang
menandai tumbangnya rezim otoriter yang memasung rakyat selama 34
tahun. Saya mengu-capkan selamat!
Sekarang,
apa yang kita harapkan dari Gus Dur dan Mbak Mega? Yalah
dikembalikannya kedaulatan ke tangan rakyat, dan diberdayakan untuk
mengakhiri ketertindasannya selama 34 tahun. Kemudian, dalam
hubungannya dengan sara-sehan kita hari ini, perkenankanlah saya
mengingatkan tentang status sosial politik Bung Karno, ayahandanya
Mbak Mega, yang telah memproklamasikan kemerdeka-an Indonesia pada
tanggal 17 Agustus 1945 itu. Mengutip keterangan seorang kawan saya
yang sarjana hukum, Bung Karno sampai saat itu sesungguhnya masih
dalam status sebagai tapol Belanda. Alasannya, masih menurut kawan
saya itu, karena beliau ditinggalkan begitu saja di Padang oleh
serdadu-serdadu Belanda yang mengawalnya dari Bengkulu (tempat
pembuangannya yang terakhir), tanpa diberi Surat Pembebasan atau
diberitahukan bahwa beliau sekarang dibebaskan. Itu berarti, bahwa
Bung Karno telah membebaskan dirinya sendiri sebagai tawanan
pemerintah Hindia Belanda. Kemudian, sesudah Hindia Belanda takluk
kepada Jepang, pemerintah militer Jepang pun tidak pernah
membebaskannya.
Problem
ini saya kemukakan di sini, mungkin dengan demikian kita nanti akan
mendapat penjelasan dari pakar hukum tata negara, yaitu Prof. Loebby
Luqman SH dan Pieter Kasenda. Beliau berdua yang hadir di sini, juga
akan tampil ke mimbar sesudah saya.
Bagi Pakorba kejelasan
ini penting untuk penulisan ulang sejarah. Karena sesudah Jenderal
Suharto menggulingkan Bung Karno, kembali Bung Karno dijadikannya
tapol. Malah status Bung Karno sebagai tapol Orba itu disandangnya
terus, sampai beliau meninggal di dalam tahanan tanpa pernah
dibuktikan kesalahannya. Saya pikir, beliau sangat patut kita angkat
menjadi anggota Pakorba anumerta.
Saya ingin mengingat
kembali tentang dua tokoh Presiden RI itu. Ketika Bung Karno
berjuang hidup-mati untuk kemerdekaan Tanahairnya, Jendral Suharto
yang telah menapolkan Panglima Tertingginya itu, adalah Kopral KNIL
dari Tentara Kerajaan Belanda. Ia menerima latihan kemiliterannya di
Gombong, dan kemudian dipindah ke Malang setelah pangkatnya
dinaikkan menjadi Sersan. Semua kita mengerti bahwa tugas pokok
serdadu KNIL yalah menghancurkan gerakan kemerdekaan. Bukan
berperang melawan musuh dari luar!
Dalam otobiografinya
yang ditulis oleh G.Dwipayana dan Ramadan K.H, Suharto mengatakan
bahwa ia menemukan kesenangan dan tertarik untuk benar-benar bisa
hidup dari pekerjaannya sebagai kopral KNIL. Apalagi lima tahun
kemudian, setelah pangkatnya naik menjadi
sersan.
Sesudah Jenderal Suharto
berhasil menggulingkan Presiden Sukarno pada tahun 1966 dengan
menuduhnya sebagai dalang G30S-PKI, beliau lalu dijadikannya sebagai
tapol sampai meninggal di dalam tahanan. Seperti sudah saya
kemukakan di atas, tanpa bisa dan tanpa pernah dibuktikan
kesalahannya. Sesudah Bung Karno meninggal, barulah Jenderal Suharto
mengatakan: “ Kecurigaan bahwa beliau terlibat dalam G30S-PKI sudah
bisa dikesampingkan, karena hal itu belum bisa dibuktikan.” (
Suharto, Otobiografi, halaman 245).
Jadi, TAP MPRS
no.XXXIII/1967 yang direkayasa oleh Ketua MPRS Jenderal A.H.
Nasution untuk menggulingkan Presiden Sukarno, sepenuhnya
berlandaskan kepalsuan semata-mata. Karena ternyata setelah
meninggalnya, Bung Karno diakui tidak terbukti terlibat G30S-PKI.
Mula-mula dikatakan G30S adalah gerakan yang hendak mengkudeta
Presiden Sukarno. Setelah tindakan kudeta ternyata tidak ada,
kasusnya dibalik dengan mengatakan Bung Karno adalah G30S-PKI Agung.
Gestapu Agung, kata mereka.
Seminggu sebelum Bung
Karno meninggal, yaitu tanggal 15 Juni 1970, Bung Hatta menulis
surat kepada Jenderal Suharto yang menyesali sikapnya, karena
setelah tiga tahun “mengusut kasus Bung Karno”, belum juga
menghadapkan yang bersang-kutan ke pengadilan. Di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, kata Bung Hatta dalam suratnya, banyak orang percaya
bahwa Sukarno tidak bersalah, dan bahwa peristiwa G30S-PKI hanya
dipergunakan untuk menjatuhkan Sukarno. Bung Hatta menambah-kan,
bila Sukarno meninggal tanpa dibawa ke pengadilan, ia khawatir para
pengikutnya bisa menuduh pemerintah “sengaja membunuh dia”. Baca:
Moh, Hatta, Otobiografi Politik, hal.
701-702).
Bukankah Bung Karno
memang telah dengan sengaja dibunuh, seperti yang dikhawatirkan Bung
Hatta itu?
Bung Karno telah gugur
bersama tiga juta rakyat Indonesia yang dibantai oleh rezim Suharto,
seperti diakui oleh Jenderal Sarwo Edhie Wibowo (sebelum ia
meninggal) kepada Bapak Permadi SH, yang juga anggota pengurus
Pakorba dan anggota DPR/MPR Fraksi PDI-Perjuangan. Sebetulnya Bapak
Permadi SH hanya ingin me-nanyakan, apakah benar orang-orang G30S
yang terbunuh berjumlah dua juta orang seperti yang dikatakan oleh
Ibu Ratnasari Dewi, istri Bung Karno yang orang Jepang itu. Sarwo
Edhie menjawab, bukan dua juta tapi tiga juta.
Jika angka yang disebut
Jenderal Sarwo Edhie dianggap terlalu banyak, ada angka lain yang
lebih sedikit. Yaitu angka dari Panitia Amnesti Internasional yang
berpusat di London, yang menurutnya hanya satu juta saja. Ada lagi
angka lain yang menarik, yaitu dari K.H. Abdurahman Wahid alias Gus
Dur yang sekarang Presiden kita. Dalam
wawancaranya dengan wartawan mingguan “Editor” (No. 49, Th. VI, 4
Sep 1993), Gus Dur menegaskan bahwa “orang Islam membantai 500.000
eks PKI. Tentu masih ada lagi yang dibunuh oleh mereka yang tidak
termasuk orang Islam”, kata Gus Dur.
Pembantaian
besar-besaran inilah yang dikenal di dunia sebagai tindakan
pemus-nahan umat manusia yang dibenarkan. Apa sebab dikatakan
sebagai pemusnahan umat manusia yang dibenarkan? Sebab, sesudah 34
tahun peristiwa itu berlalu, belum pernah ada komisi resmi yang
meneliti kejadian ini. Seolah-olah masalahnya dianggap telah liwat
begitu saja, tanpa perlu pertanggungjawaban dari para
pelakunya.
Tetapi
saya dengar sekarang di Eropa, Amerika Serikat dan Amerika Latin
sudah ada gerakan-gerakan yang bekerja untuk menghimpun data dari
kejahatan penumpasan G30S di Indonesia. Malah saya baca dalam
notulen rapat pengurus Pakorba tanggal 30 Sep 1999 yang lalu, adanya
ajakan kerjasama dari satu kelompok di Perancis yang dipimpin oleh
istri bekas Presiden Perancis. Mereka ini ternyata malah sudah
mempunyai data-data kejahatan Suharto, yang bisa dijadikan dasar
untuk menggugatnya di muka tribunal
internasional.
“Pembantaian
yang dilakukan oleh massa anti-PKI di
Indonesia,
merupakan salah satu yang terburuk dalam jajaran pembantaian
massa dari abad XX”, tulis Helen
Louise Hunter, seorang peneliti dari CIA. Atau perhatikanlah angka
perbandingan yang dikemukakan oleh Bertrand Russel. Ia mengatakan
bahwa dalam empat bulan pembantaian di Indonesia, jumlah orang yang mati
sudah sebanyak lima kali lebih besar
dibanding dengan jumlah korban mati selama tahun peperangan di
Vietnam.
Apakah
G30S itu?
Bung
Karno dalam sidang Kabinet Dwikora di Istana Bogor 6 Okt
1965, yang dihadiri juga oleh Nyoto, seorang anggota Politbiro dan
Wakil Ketua PKI yang menjabat Menteri Negara diperbantukan pada
Sekretariat Negara, mengatakan bahwa G30S terjadi karena adanya tiga
faktor. Penilaiannya ini diulangi lagi dalam pidato Peleng-kap
Nawaksara di depan Sidang MPRS pada 19 Jan
1967.
Ketiga
faktor dimaksud yalah:
1.
Keblingernya
pemimpin-pemimpin PKI.
2.
Lihainya
Nekolim.
3.
Adanya oknum yang
tidak beres dalam tubuh kita sendiri.
Sebelum
menguraikan tiga faktor yang disebutkan Bung Karno di atas,
sebaiknya kita ketahui dulu penilaian Jenderal Suharto dengan Orde
Baru-nya mengenai G30S. Menurut Suharto, dipandang dari sudut mana
pun, G30S sama dengan PKI. Itulah sebabnya di belakang nama G30S
ditambahkan “PKI”, sehingga menjadi G30S-PKI. Tentang hal ini
diuraikannya panjang lebar di dalam Buku Putih “Gerakan 30 September
Pemberontakan Partai Komunis Indonesia”, yang
diterbitkan oleh Sekre-tariat Negara pada tanggal 1 Okt 1994. Yang
mengherankan, Buku Putih ini sulit sekali diperoleh, entah
disembunyikan di mana. Jangan-jangan karena mutunya di-anggap oleh
Suharto sama saja dengan film G30S-PKI, yang tadinya harus
ditayangkan di semua TV setiap tahun, tapi kemudian ditarik dari
peredaran, karena banyak kepalsuan di
dalamnya.
Ketika
membaca Buku Putih yang tebalnya tiga ratus halaman itu, saya
benar-benar dapat menikmatinya seperti membaca sebuah buku komik
yang mengasyikkan. Apa lagi nama saya, A.Karim DP, ikut
diserempet-serempet di dalamnya.
Saya
ditahan empat belas tahun dua belas hari di penjara Salemba.
Dan di
situlah saya bertemu dengan para pelaku Gerakan 30 September. Saya
bertemu dengan Letnan Kolonel Untung Samsuri, Kolonel Latief, Nyono
(tokoh pertama PKI Jakarta Raya). Noorsuhud (anggota CC-PKI), semua
komandan regu dan anggota-anggota-nya yang mengambil enam jenderal,
yang kemudian menjadi “Pahlawan Revolusi” di Lubang Buaya. Saya bisa
bertemu dan bergaul dengan mereka karena saya diklasifikasikan sama
seperti mereka. Jadi saya dimasukkan sel tahanan yang paling berat
sama dengan mereka. Konsinyesnya kami tidak boleh berbicara satu
sama lain, dikunci di selnya sendiri-sendiri. Tapi dalam
kenyataannya, selama empat tahun saya berada satu blok dengan
mereka, yaitu di Blok “N” yang juga dikenal sebagai Blok Neraka.
Saya berhasil mewawancarai semua mereka, dan rekaman hasil wawancara
itu sampai sekarang masih tersimpan dengan baik dalam ingatan
saya.
Untuk ilustrasi, baik
saya gambarkan sedikit lokasi Blok “N” yang mengerikan itu. Untuk
sampai ke sel kami harus melewati delapan pintu yang semuanya
dikunci. Petugas yang memanggil kami jika akan diperiksa, harus
membawa serenteng kunci untuk membukai pintu-pintu besi, dan
mengeluarkan kami dari sel yang kemudian segera menguncinya kembali.
Karena itu sampai ada sesama tapol yang berseloroh mengatakan:
Makhluk setingkat iblis dan setan pun tidak akan mampu menembus
delapan pintu besi yang selalu terkunci dan menggoda kami. Itulah
sebabnya, kami semua aman dari gangguan setan dan iblis. Tema dari
sarasehan kita sekarang ini ialah untuk menjernihkan sejarah yang
selama ini telah dibikin keruh oleh film G30S-PKI dan Buku Putih
Sekretariat Negara. Dalam hubungan ini ada kejadian yang menarik
ingin saya tuturkan.
Pada tanggal 9 November
1998, di Universitas Indonesia Depok, diselenggarakan Seminar dengan
tema “Meluruskan Sejarah”. Kebetulan saya mendampingi Bapak Manai
Sophiaan yang telah berusia 84 tahun dan fisiknya sudah lemah, yang
diminta menyampaikan makalah. Makalah itu tebalnya 17 halaman,
dengan judul “G30S sebuah holokaus yang diterima sesudah Perang
Dunia II”. Bapak
Manai Sophiaan menyebutkan arti holokaus, menurut kamus Inggeris,
ialah “a complete desruction of human lives”. Mengerikan
sekali!
Waktu
moderator membuka kesempatan kepada floor untuk mengajukan
tanggapan, seorang peserta bertanya: “Siapa sebetulnya yang membuat
G30S itu”? Bapak Manai Sophiaan menjawab dengan lantang: “Jenderal
Suharto!”
Alasannya
sudah disebutkan dalam makalah. Tanggal 21 September 1965 Jenderal
Suharto selaku Panglima KOSTRAD, dengan radiogram no. Rdg. T
293/9/1965 memerintahkan kepada Batalyon 454/Diponegoro,
530/Brawijaya, 328/Siliwangi dan Kesatuan Artileri dari Cimahi
supaya datang ke Jakarta selambat-lambatnya 23 September 1965,
dengan membawa perlengkapan tempur GARIS SATU. Bapak Manai Sophiaan
juga mengutip keterangan Kol. Latief di muka sidang MAHMILTI II Jawa
Bagian Barat (tidak disebutkan tanggalnya) yang mengatakan, bahwa
Jenderal Suharto bermuka dua, dengan sebelah kakinya ada di Dewan
Jenderal dan sebelah yang lain ada di G30S. Kolonel Latief
memastikan bahwa keterlibatan Suharto dalam gerak ini sudah sejak
permulaan sekali. Dua minggu sebelum meletusnya peristiwa G30S, Kol.
Latief menghadap Jenderal Suharto mempersoal-kan adanya kegiatan
Dewan Jenderal yang merencanakan coup d’etat terhadap Presiden
Sukarno. Dua hari sebelum operasi pengambilan enam Jenderal, ia
menemui Suharto lagi. Pertemuan Latief terakhir dengan Suharto
terjadi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat “Gatot Subroto”, 30
September 1965 pukul 23:00 selama 30 menit. Suharto berada di RSPAD
Gatot Subroto, menunggui anaknya Tomy yang sedang dirawat karena
tersiram sup panas.
Oleh
karena itu untuk menyingkap kabut 1 Oktober 1965 seperti yang
dimaksud oleh tema sarasehan ini, saya mencoba bertolak dari
penilaian Bung Karno seperti yang saya kutip di atas tadi. Berikut
ini pengalaman dan pengetahuan saya mencermati tiga faktor yang
disebut oleh Bung Karno sebagai penyebab terjadinya G30S.
1.
Keblingernya pemimpin-pemimpin PKI
Pada
tanggal 23 Juni 1965 delegasi Indonesia Ke Konperensi Asia-Afrika II
di Aljazair, yang dipimpin sendiri oleh Presiden Sukarno, berangkat
dari Jakarta. Seperti biasa, anggota delegasi diperkuat dengan ikut
sertanya wakil-wakil NASA-KOM. Wakil PKI adalah D.N. Aidit sendiri.
Saya ikut dalam rombongan ini sebagai
wartawan.
Konperensi
gagal diselenggarakan karena gedung konperensi yang dibangun oleh
Uni Soviet, telah diledakkan oleh satu komplotan yang tidak jelas
waktu itu. Delegasi Bung Karno berhenti di Kairo. Di sini
diselenggarakan KTT Kecil empat negara, yaitu: Indonesia, Mesir, Pakistan, dan RRT, yang
memutuskan menunda konperensi enam bulan, dan tetap akan diadakan di
Aljazair.
Sesudah itu Bung Karno
dan rombongan meneruskan perjalanan ke Paris. Di sini para Duta
Besar kita di Eropa Barat, Eropa Timur dan Amerika Serikat
dikumpulkan untuk mendapat penjelasan dari Bung Karno mengenai
penundaan KAA II tersebut.
Aidit juga ikut ke
Paris, tapi dari sana ia meneruskan perjalanannya sendiri ke Moskow.
Kesempatan selama berada di Paris, ia gunakan untuk mengadakan
pembicaraan dengan para pemimpin Partai Komunis Perancis. Kebetulan
ketika itu juga sedang berada di sana enam kamerad mereka dari
Aljazair, yang melarikan diri dari negeri mereka karena takut
ditangkap oleh Kolonel Boumedienne, yang telah berhasil
menggulingkan dan merebut kekuasaan Presiden Ben
Bella.
Sekembali Aidit dari
pertemuan tersebut, yang katanya diselenggarakan di kantor organ
Partai Komunis Perancis L’Humanite, saya mencegatnya di hotel
tempatnya menginap. Saya tanyakan kepadanya mengenai hasil
pertemuannya dengan kamerad-kameradnya itu. Pertama-tama
dikatakannya, bahwa ia sudah minta kepada enam kameradnya dari
Aljazair supaya mereka segera kembali ke negeri mereka, dan
memberikan dukungan kepada Boumedienne. Dalam diskusi yang mereka
lakukan, kata Aidit, berdasarkan bahan-bahan yang disampaikan oleh
kamerad-kamerad dari Aljazair, karakter coup d’etat Boumediene dapat
dikategori-kan sebagai coup d’etat yang progresif. Oleh karenanya
patut didukung oleh rakyat. Jika 30% dari rakyat mendukungnya, maka
coup d’etat itu bisa diubah sifatnya menjadi revolusi rakyat yang
akan menguntungkan perjuangan rakyat Aljazair. Begitu kata Aidit. Ia
menjanjikan akan menjelaskan teorinya ini nanti di tanahair, karena
waktu itu ia terburu-buru harus segera berangkat ke lapangan terbang
untuk meneruskan perjalanannya ke Moskow.
Aidit mengatakan kepada
saya, bahwa di Indonesia sudah diketahui adanya rencana coup d’etat
yang akan dilancarkan oleh Dewan Jenderal untuk menggulingkan
Presiden Sukarno. Coup d’etat yang hendak dilancarkan Dewan Jenderal
itu, adalah coup d’etat yang reaksioner, berbeda dengan yang telah
terjadi di Aljazair.
Saya mendengar dari
seorang kader PKI yang ikut bergerak pada tanggal 1 Oktober 1965,
Aidit memerintahkan kepada Ketua Biro Khusus PKI Syam Kamaruzzaman,
supaya bergabung dengan perwira-perwira maju yang akan menggagalkan
coup d’etat Dewan Jenderal. Selama di dalam tahanan kebetulan saya
juga bertemu dengan beberapa anggota perwira yang disebut sebagai
maju. Mereka mencerita-kan, bahwa rapat-rapat persiapan gerakan yang
tempatnya berpindah-pindah itu selalu dipimpin oleh Kamaruzzaman.
Adit
atau tokoh-tokoh PKI lainnya tidak pernah hadir dalam rapat-rapat
ini. Kamaruzzaman mula
pertama dibawa oleh Untung, dan diperkenalkan sebagai intelnya
pribadi.
Banyak tokoh-tokoh PKI
yang ditahan di Salemba menolak jika dikatakan PKI terlibat dalam
G30S. Kamaruzzaman tidak bisa dikatakan mewakili PKI, karena oleh
PKI sendiri kemudian tokoh ini dianggap misterius. Ia bahkan diduga
agen CIA yang ber-hasil diselundupkan ke dalam tubuh PKI dan
berhasil pula mengibuli Aidit.
Nyono sebagai Sekretaris
PKI Komite Daerah Besar Jakarta Raya yang dihadapkan ke sidang
Mahmilub, tidak berhasil menghindarkan tuduhan keterlibatan PKI.
Sehingga oleh karenanya ia dijatuhi hukuman
mati.
Belum sampai coup d’etat
Dewan Jenderal menjadi kenyataan, sudah didahului oleh Gerakan 30
September yang secara tidak profesional membuat pernyataan
men-demisionerkan Kabinet Dwikora. Tetapi pendemisioneran itu sama
sekali tidak efektif. Bahkan para anggota Dewan Revolusi, yang
ditugasi mengambil alih kekuasaan, tidak seorang pun berfungsi.
Karena mereka semua hanya diumumkan begitu saja, tanpa persetujuan
atau dikonsultasikan dengan yang bersangkutan. Saya sendiri mereka
angkat sebagai anggota Dewan Revolusi nomor 45. Tapi begitu
diumumkan, langsung saya keluarkan pernyataan penolakan saya
terhadap pengkatan itu, yang segera pula disiarkan oleh KB “Antara”
dan RRI. Menurut keterangan rekan-rekan di KB “Antara”, saya adalah
orang pertama yang menyatakan menolak pengangkatan Dewan Revolusi.
Lain-lainnya seperti Jenderal Amir Mahmud, Jenderal Umar
Wirahadikusumah, KSAL Laksamana Martadinata dll, baru mengeluarkan
pernyataan menolak dua atau tiga hari kemudian. Dari PNI ada enam
nama yang dimasukkan sebagai anggota Dewan Revolusi, antara lain
saya dan Ibu Supeni.
Walhasil, G30S yang
dipimpin oleh Untung Samsuri, hasilnya hanya membunuh enam jenderal.
Dan sesudah itu seluruhnya dihancurkan oleh Suharto pada tanggal 1
Oktober 1965 malam.
II. Lihainya
Nekolim
Menjelang meletusnya
G30S Bung Karno sangat mencurigai seorang diplomat AS, Marshall
Green, yang dicalonkan oleh State Department untuk menggantikan
Howard Jones sebagai Dubes AS di Jakarta. Karena diplomat itu,
diketahui oleh Bung Karno, selalu membuat keonaran dengan mencampuri
urusan dalam negeri negara-negara di mana dia
ditempatkan.
Oleh karenanya, pada
suatu hari sesudah sidang kabinet inti, Presiden memanggil saya
menghadap dan memerintahkan supaya mengadakan kampanye nasional
menolak Marshall Green. Saya diperintahkan saat itu juga mempelajari
konduite Marshal Green yang ada di dalam bundel Menlu Dr. Subandrio.
Bersama Subandrio saya menuju ke kantornya. Di sana salah seorang
pegawainya memberikan kepada saya sebuah map yang berisi dokumen
mengenai Marshall Green.
Rupanya ada
ketidaksengajaan dari petugas yang memberikan map kepada saya itu.
Dalam map itu terdapat juga konsep Surat Persetujuan dari Pemerintah
RI mengenai penempatan Marshall Green di Indonesia yang sudah dalam
keadaan terketik. Tentu saja saya terkejut setelah membacanya.
Karena untuk apa mengadakan kampanye nasional menolak Green, jika
Surat Persetujuan-nya sudah disiapkan? Saya pura-pura tidak tahu
tentang konsep surat ini. Dan setelah membaca semua isi map, saya
mengembalikannya lagi kepada petugas yang telah menyerahkannya
kepada saya itu.
Sesudah saya katakan
kepada Subandrio bahwa konduite Green sudah saya pelajari, ia lalu
bertanya: Jadi, sekarang apa yang akan engkau kerjakan? Saja jawab:
Melaksanakan perintah Presiden. Yaitu segera mengeluarkan instruksi
kepada semua penerbitan pers di seluruh Indonesia untuk melakukan
kampanye menolak Green.
Tiba-tiba Subandrio
mengatakan: Apakah engkau bersedia bertanggung jawab jika, sebagai
akibat dari kampanye nasional itu, Armada VII AS memasuki Teluk
Jakarta dan mengancam kita?
Dr. Subandrio tidak
setuju diadakan kampanye menolak Green. Karena itu saya katakan
kepadanya, segera akan menemui Bung Karno lagi dan menyampaikan
sikap Menlu. Subandrio mencegah saya pergi ke istana menemui Bung
Karno dan mengatakan, ia sendiri yang akan menyelesaikannya dengan
Presiden. Beberapa hari kemudian muncullah berita di surat-surat
kabar, bahwa Marshall Green segera akan menduduki posnya yang baru
di Jakarta.
Tanggal
26 Juni 1965 Dubes AS Green menyerahkan surat
kepercayaannya kepada Presiden Sukarno di Istana Merdeka. Agaknya
Bung Karno tidak bisa menahan emosinya. Dalam pidato jawaban setelah
menerima surat kepercayaan itu, Bung Karno
menyerang kebijaksanaan luar negeri AS. Green menulis dalam
memoarnya, bahwa hampir saja ia meninggalkan ruangan upacara setelah
mendengar serangan Bung Karno. Tapi, katanya, tidak ada pilihan lain
kecuali tetap berdiri sampai acara selesai. Kalau ia meninggalkan
acara, ia khawatir akan menyebabkan Sukarno lebih marah dan
mempersona-non-gratakannya. Green tentu tak mau diusir dari
Indonesia oleh sikapnya
melanggar tatacara protokol, karena ia sangat berkepentingan
men-jalankan misinya, yaitu membantu mencetuskan
G30S.
Marshall
Green berhasil sepenuhnya, di mana AS|membantu Jenderal Suharto
meng-gulingkan Sukarno.
Pada
Mei 1990 Nona Kathy Kadane dari Universitas Columbia di AS,
menyiarkan tulisannya mengenai Indonesia yang dimuat dalam berbagai
media cetak. Dalam tulisannya itu ia mengemukakan, bahwa “pemerintah
AS memainkan peranan penting dalam satu usaha pembantaian terburuk
di abad ini, dengan menyediakan nama-nama ribuan pemimpin dan kader
PKI kepada tentara untuk dibunuh atau
ditangkap.”
Kathy
Kadane mengatakan, ada enam orang eksper pada Biro Intelijen dan
Riset Departemen Luar Negeri AS, yang beroperasi di Jakarta,
dikepalai oleh Dubes Marshall Green.
Catatan
di atas salah satu contoh saja dari sekian banyak bentuk kerja
nekolim di Indonesia.
III.
Ketidakberesan dalam tubuh kita sendiri
Sebelum
berangkat ke KAA II di Aljazair, sementara Kolonel Boumedienne baru
saja melakukan coup d’etat terhadap Presiden Ben Bella, seperti
diuraikan di atas, di Jakarta sudah beredar desas-desus tentang
adanya Dewan Jenderal yang akan merombak personalia Kabinet Dwikora.
Menurutnya personalia itu akan mem-prioritaskan para jenderal dan
tokoh-tokoh sipil yang antikomunis sebagai
menteri.
Sebagai
wartawan saya berusaha mencari kejelasan mengenai desas-desus ini.
Pertama-tama saya bertanya kepada Kepala Pusat Penerangan AD Brigjen
Ibnu Subroto, yang saya kenal baik. Pada suatu malam saya
diundangnya makan malam di rumahnya di kawasan Banteng. Sambil makan malam ia
menjelaskan versi AD mengenai Dewan Jenderal kepada
saya.
Ia meyakinkan saya,
bahwa Dewan Jenderal yang dimaksud hanyalah dewan kepangkatan yang
memproses kenaikan pangkat para jenderal. Dibantahnya dengan keras
desas-desus bahwa Dewan Jenderal hendak melakukan coup
d’etat.
Tapi karena makin lama
desas-desus makin keras gaungnya, saya pun berusaha menanyakannya
kepada Kepala Staf Biro Pusat Intelijen (BPI), Jenderal (Pol)
Sutarto. Dia membenarkan berita itu, tapi minta kepada saya agar
jangan diumumkan. Belakangan saya mendapat keterangan lagi dari
Jaksa Agung Muda Brigjen Sunario dengan penjelasan yang
sama.
Menjelang meletusnya
G30S, di PWI masuk laporan tentang rencana susunan Kabinet Dewan
Jenderal tapi belum lengkap. Dalam susunan itu terdapat nama Dr.
Ruslan Abdulgani. Karena Ruslan Abdulgani adalah salah satu Ketua
DPP PNI, sedang saya anggota Badan Pekerja Kongres PNI, maka
buru-buru berita ini saya sampaikan kepada Pak Ruslan di rumahnya.
Tapi dengan tegas Pak Ruslan mem-bantahnya, dan minta kepada saya
untuk melaporkan lagi jika ada berita baru menyangkut perkembangan
tersebut. Hal ini saya tanyakan juga kepada Wakil PM III Dr Chaerul
Saleh, karena namanya pun disebut-sebut. Pak Chaerul membantah
dengan keras. Waktu itu ia sedang bersiap-siap hendak berangkat ke
Beijing, memimpin delegasi MPRS yang diundang RRT untuk menghadiri
peringatan ulang tahun berdirinya RRT, tanggal 1 Oktober. Agak
mengejutkan saya karena, meskipun saya termasuk juga sebagai anggota
MPRS, namun nama saya tidak terdapat dalam susunan delegasi.
Ia
sebagai Ketua MPRS minta supaya saya ikut bersamanya dalam delegasi.
Waktu masih ada untuk mengurusnya, katanya.
Tapi
saya minta maaf, bahwa saya tidak bisa ikut. Alasan saya, karena
baru saja kembali dari luar negeri, dan memang banyak pekerjaan yang
harus saya selesai-kan.
Meskipun tentang susunan
Kabinet Dewan Jenderal masih sangat saya ragukan. Berita ini telah
dibantah juga oleh Menpangad Jenderal A.Yani, ketika ia ditanya oleh
Presiden. Tapi lama-kelamaan desas-desus ini menjadi fakta politik
yang beredar di kalangan masyarakat terbatas.
Baru sesudah sidang
Mahmilub dibuka, Letkol Untung membeberkan susunan Kabinet Dewan
Jenderal yang menyebabkan kelompok perwira-perwira maju melancarkan
operasi menangkap para calon menteri Kabinet Dewan
Jenderal.
Mereka itu
ialah:
1. Perdana Menteri: Jenderal
A.H. Nasution
2. WPM/Hankam/Kasab: Jenderal
A.Yani
3.
WPM/Pembina Jiwa
Revolusi/Penerangan: Jenderal (Tit.) Dr. Ruslan
Abdulgani
4. Menteri Dalam Negeri:
Jenderal Suprapto
5. Menteri Luar Negeri: Jenderal
Haryono
6. Menteri Kehakiman: Jenderal
Sutoyo
7. Menteri Jaksa Agung: Jenderal
Suparman
Menteri-Menteri lainnya
tidak disebutkan.
Susunan Kabinet Dewan
Jenderal ini diungkapkan oleh Nyono, yang diadili kemudian. Dia
katakan bahwa susunan tersebut telah disahkan oleh rapat pleno Dewan
Jenderal tanggal 21 September 1965 di Gedung Akademi Hukum Militer,
Jalan Dr. Abdulrahman Saleh, di mana disebut-sebut bahwa anggota
Dewan Jenderal seluruhnya berjumlah 40 orang. Tapi yang aktif 25
orang, dengan tokoh utamanya tujuh orang, yaitu: A.H. Nasution,
A.Yani, Suparman, Haryono, Suprapto, Sutoyo dan Sukendro. Rapat
pleno yang mengesahkan susunan Kabinet Dewan Jenderal itu, kata
Nyono, dipimpin oleh Suparman dan Haryono karena A.H. Nasution dan
A. Yani berhalangan hadir.
Rapat ini juga
memutuskan akan melaksanakan coup d’etat tanggal 5 Oktober 1965,
bertepatan dengan peringatan Hari Angkatan Perang (baca: G30S di
Hadapan Mahmilub - perkara Nyono - diterbitkan Pusat Pendidikan
Kehakiman AD, hal. 276).
Juga Buku Putih “Gerakan
30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia”, penerbitan
Sekretariat Negara (1994), pada hal. 63 menulis, bahwa pada awal
September 1965, PKI melancarkan isu Dewan Jenderal yang akan merebut
kekuasaan pada 5 Oktober 1965. Susunan Kabinet Dewan Jenderal yang
dicatat dalam Buku Putih itu hampir sama dengan yang diungkapkan
Untung dan Nyono, kecuali mengenai tiga portofolio. Yaitu untuk
Dalam Negeri disebutkan akan dipegang oleh Hadisubeno, Luar Negeri
oleh Dr. Ruslan Abdulgani, dan Hubungan Dagang Luar Negeri dipegang
oleh Brigjen Sukendro.
Cerita tentang Dewan
Jenderal tetap gelap sampai sekarang. Saya harap penelitian Pakorba
akan berhasil mengungkapkannya. Komponen Orde Baru dan seluruh
jajarannya tetap tidak mengakui.
Bukankah Bung Karno
mengatakan, ada ketidakberesan dalam tubuh kita
sendiri?
Jakarta, 25 Oktober
1999.
CATATAN
REDAKSI*:
Artikel di bawah ini
ditulis dan dibaca oleh A. Karim DP, mantan wartawan senior dan
Ketua PWI, di depan Seminar Satu Hari PAKORBA (Paguyuban Korban Orde
Baru), 25 Oktober lalu. Seminar yang dihadiri tak kurang dari dua
ratus pengunjung mantan-tapol Orba dari segala aliran politik ini
diselenggarakan di gedung YTKI Jalan Gatot Subroto
Jakarta.
Karena sesuatu hal, artikel
yang dikirim dari Negeri Belanda ini baru bisa diperbaiki file-nya
dua hari lalu. Redaksi memutuskan untuk memuatnya secara utuh.
Meskipun sudah agak terlambat, tetapi sebagai tambahan bahan studi
tentang apa yang sebenarnya terjadi pada saat Letnan Kolonel Untung
dari Pasukan Pengawal Presiden (Men Cakrabirawa) melaksanakan
operasi militer yang sangat mengejutkan, Gerakan 30 September 1965,
yang oleh Orde Baru disebut sebagai G30S/PKI dan Bung Karno
menyebutnya Gestok, Gerakan 1 Oktober.
Redaksi
*************** 0 0 0 0
0 0******************
Hak Masyarakat Dapat
Informasi Peristiwa G-30-S secara Benar
Kesalahan Orang Yang
Terlibat G-30-S Jangan Sampai Ditanggung Anak dan Cucu
JAKARTA - Seluruh
dokumen dan literatur sejarah yang berkaitan dengan kebe-naran
sejarah nasional, baik positif maupun negatif pada hakikatnya harus
diberi tahukan kepada masyarakat. Tugas pemerintahlah untuk
mengumumkannya, untuk itu informasi sejarah mengenai peristiwa
G-30-S perlu dibuka kepada masyarakat secara transparan dan
jujur.
Hal itu dikatakan Guru
Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia
(FISIP UI), Prof Dr Harsono Suwardi MA kepada Pembaruan di Jakarta,
Sabtu (28/9).
Menurut Harsono,
seseorang yang diperlakukan tidak adil di masa lalu harus diingat
masa depan mereka terutama keluarganya karena mereka yang tidak
bersalah akan ikut menanggung beban itu.
"Bila memang ia tidak
bersalah, beritahukanlah itu kepada masyarakat. Masyarakat itu
termasuk salah satu pengadil, sehingga mereka juga menjatuhkan
hukuman pada seseorang yang dianggap bersalah," kata Harsono.
Harsono mengingatkan
kesalahan seseorang jangan sampai ditanggung oleh anak dan cucunya.
Selama ini begitulah yang terjadi.
Harsono
melihat bahwa rehabilitasi pemerintah terhadap eks tahanan politik
G-30-S PKI berjalan lambat. Sudah empat tahun kita
reformasi, tetapi sosialisasi tentang hal itu belum ada.
Ia juga berharap ada tim
khusus yang menyosialisasikannya karena kalau tidak hasilnya tidak
maksimal.
Hal yang sama juga
dikatakan mantan Dekan FISIP UI Prof Dr Juwono Sudarsono pada
Pembaruan, di Jakarta, Sabtu (28/9). Menurut Juwono, temuan-temuan
baru harus segera diungkapkan ke masyarakat.
"Saat bertemu dengan tim
revisi sejarah dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan
Masyarakat Sejarah Indonesia, saya sudah mengatakan untuk
mengumumkan temuan-temuan baru. Dibuat kerangka lebih berimbang
tentang kejadian itu, sehingga yang ditulis tahun 70-an bisa
diimbangi dengan temuan baru itu," kata Juwono.
Dikatakan, hal itu
hendaknya sepenuhnya dibuat oleh para ahli sejarah dan tidak ada
kejadian yang dihapus untuk kepentingan pemerintah yang sedang
berkuasa. "Jangan sampai kejadian tahun 70-an berulang, semua masa
Sukarno salah. Sekarang jangan semua masa Suharto disalahkan," katanya.
Kini hasil revisi sudah
ada di Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional untuk dirumuskan dalam buku-buku pelajaran siswa
sekolah dasar hingga sekolah menengah umum.
Menurut Juwono, sejarah
itu penting diberikan untuk mendidik siswa tentang masalah-masalah
kesadaran berbangsa.
Karena itulah, sejarah
harus berimbang, toleran, dan sebenci-bencinya pada masa lampau,
harus tetap berimbang.
Juwono
mengatakan semua itu bisa dilakukan, bila pengajaran sejarah disusun
berdasarkan tingkatan pendidikan. Juwono juga menyatakan
keyakinannya, bila pemerintah saat ini bisa mendudukkan sejarah
secara berimbang. (AS/L-2)
Sumber:
gigihnusantaraid
gigihnusantaraid at yahoo dot com
Fri
Oct 4 07:24:09 2002
*************** 0 0 0 0
0 0******************
|