Siaran Pers
Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65/66 (YPKP)

Pers Release

Acara Pemakaman kerangka diserbu FUIK

From: "Mira Wijaya Kusuma"
Date sent: Sat, 24 Mar 2001 21:02:26

Acara Upacara Doa dan Penguburan Kembali Kerangka Korban Pembunuhan Wonosobo 1966 Diserang Forum Ukuwah Islamiyah Kaloran (FUIK)

Yayasan Penilitian Korban Pembunuhan 65/66 dalam program penguburan kembali kerangka korban pembunuhan 1965/1966 di Kaloran Temanggung Jawa Tengan yang rencanannmya diadakan pada tanggal 25 Maret 2001 telah gagal. Hal ini dikarenakan pada pagi hari Sabtu 24 Maret 2001 terjadi penyerangan oleh kelompok Forum Ukuwah Islamiya Kaloran (FUIK) yang sebagian besar terdiri dari penduduk diluar Kaloran. Kerangka yang rencananya akan didoakan oleh beberapa kelompok agama (Islam, Kristen, katholik dan Budha) dan dimakamkan kembali pada hari Minggu 25 Maret 2001 akhirnya diobrak-abrik. Bapak Irawan Mangunkusuma penasehat YPKP Pusat, pada saat ini berada dilokasi yang aman dan dirahasiakan oleh aparat. Sedangkan Bapak Suharno Sekjen YPKP Pusat sampai saat ini belum bisa diketahui keberadaannya.

Kronologi

Tanggal 23 Maret 2001

Tamu-tamu dari luar propinsi: Bali, Banten, Jawa Barat, DKI, Jogyakarta datang kerumah Bpk. Irawan Mangunkusuma untuk mengikuti doa bersama pada tanggal 24 Maret 2001.

Bpk. K.H. Khozin anggota DPRD dari fraksi PKB bersama Kasad Serse dari Polres Temanggung datang kerumah Bpk. Irawan untuk bernegosiasi mengenai jalannya upacara penguburan. Mereka menganggap bahwa acara tanggal 25 Maret 2001 tersebut terlalu demonstratif dengan cara mengusung peti-peti kerangka besar-besar sebanyak 26 buah.

Dijelaskan bahwa peti kerangka yang akan dimakamkan hanya enam peti berukuran 70 cm x 30 cm bukan sebesar dan sejumlah yang mereka kirakan.

Dicapailah kesepakatan bahwa kalau tidak demonstratif Bpk. K.H. Khozin dapat menerima dan memaklumi.

Pihak panitia penyelenggara secara pribadi bersilaturohim ke Pondok Pesantren Sumur Blandung dan melakukan pendekatan kepada Bpk. Khozin pimpinan Pondok Pesantren Sumur Blandung Tegowanuh Kecamatan kaloran kabupaten Temanggung. Dalam pembicarakan itu Bpk. Khozin mengerti bahwa acara pemakaman itu dapat diterima. Namun ada untur pemuda yang tidak puas dan mengajak bernegoisasi lagi dengan Bpk. Irawan mangunkusuma pada malam harinya.

Pada malam harinya rombongan sebanyak 5 (lima) orang datang bertamu untuk membicarakan tentang pemakaman kembali tersebut. Ke empat orang dari utusan mereka dapat menerima penjelasan tersebut. Namun satu diantaranya mengancam untuk membuat aksi menentang acara penguburan kembali tersebut dengan anarkis

Pihak panitia penyelenggara bersama pimpinan pusat YPKP 65/66 berapat dan memutuskan membatalkan acara penguburan kembali kerangka tersebut MALAM ITU JUGA. Hal ini dilakukan untuk menghindari bentrokan antara pelayat dengan massa aksi demontrasi. Keputusan pembatalan tersebut pada malam itu juga (jam 00.25 tanggal 24 Maret 2001) keseluruh tamu yang berada diperjalanan serta perwakilan-perwakilan YPKP di seluruh Indonesia dan dunia.

Tanggal 24 maret 2001

Jam 06.30

Massa telah memblokir jalan masuk dan pintu masuk kerumah bapak Irawan Mangunkusuma. Tamu dari luar tidak boleh masuk dan yang sudah berada didalam tidak boleh keluar. Salah satu mobil tamu dirusak massa dan karena kesigapan aparat kepolisian berhasil diamankan. Pembakaran mobil tidak terjadi. Sedangkan saya sendiri Pringgo Widagdo dikejar-kejar provokator tanpa seragam dan berhasil balik ke kota Temanggung bersama pimpinan Pusat YPKP lainnya.

Jam 09.00

Dua mobil yang rencananya membawa peti berisi kerangka sebanyak 5 dan 2 berangkat meninggalkan rumah Bapak Irawan menuju Yogyakarta untuk dimakamkan di makam keluarga. Tiba-tiba 200 meter dari rumah mobil distop massa sebanyak kira-kira 50 orang dan digledah dengan beringas. Sopir bersama salah seorang pimpinan pusat YPKP dihajar massa. Mobil pertama dengan dua peti kerangka berhasil lolos. Peti bersama kerangka diturunkan dan kerangka disebar dijalanan. Mobil diseret ke lapangan dan seluruh ban dikempesin semua. Kunci dan STNK mobil diambil massa.

Jam 10.00

Bapak Ketua DPRD Drs. M. Bambang Soekarno datang bersama K.H. Khoyin untuk berunding dengan Panitia penyelenggara. Hasil perundingan bahwa kerangka tidak akan dimakamkan di Temanggung. YPKP sejak malam sebelumnya sudah menerima dan memutuskan membatalkan pemakaman tersebut. Kaca pintu rumah dirusak massa. Sisa kerangka bersama petinya dibawa keluar rumah dikawal aparat kepolisian dengan sopir bapak Suharno. Sampai berita ini diturunkan belum diketahui keberadaannya.

Jam 12.30

Seluruh tamu yang berada dirumah Bapak Irawan dievakuasi oleh Aparat kepolisian ke lokasi yang aman. Bapak Irawan diselamatkan oleh aparat kepolisian untuk menghindari penyerangan berikutnya kelokasi yang dirahasiakan. Namun penulis berita berhasil menemui beliau dan memastikan bahwa Bpk Irawan dalam keadaan sehat walafiat.

Seluruh pelayat akhirnya meninggalkan Temanggung kembali kedaerah masing-masing.

Sampai berita ini disiarkan masih terdengar berita bahwa rumah Bapak Irawan Mangunkusuma akan dibakar.

(Sabtu 24/3/2001-Pringgo Widagdo).

* * * * * * * * * * * *

De : Tapol [mailto:tapol@gn.apc.org]
Envoyé : samedi 24 mars 2001 02:24

Mob violence used to prevent 1965 victims from being re-buried

A plan to re-bury 26 victims of the 1965 mass killings which swept through many parts of Indonesia after Suharto came to power had to be abandoned after a group of people threatened to prevent the re-burials from going ahead.

The re-burial ceremony was organised by YPKP, the Institute to Investigate the 1965/1966 Massacre. The re-burial was planned following the exhumation last November of victims of the massacre in Wonosobo.

The ceremony was to have taken place in Kaloran Tamenggung, Central Java on 25 March after prayers had been said by Muslim, Christian and Buddhist priests, but an incident on the day before compelled the organisers to abandon the re-burial. Members of a group called Forum Ukuwah Islamiya Kaloran (FUIK) announced their intention to prevent the ceremony from taking place.

Two days before the planned re-burial, the organisers had held talks with local officials who said that care should be taken not to allow the ceremony to become 'too demonstrative'. Agreement was reached to keep the event low-key.

However, in face of threats of physical violence, Irawan Mangunkusuma, an adviser to the central board of YPKP, who was in charge of the ceremony, was forced to go into hiding after his house came under attack.

Early in the morning of Saturday, 24 March, Irawan's house where a number of YPKP members from various parts of Indonesia had gathered for the event, was surrounded by a hostile crowd and no one was allowed in or out. A vehicle standing outside the house was damaged though police prevented it from being burnt.

Later in the morning, two vehicles with the remains of 7 victims were to have left for Yogyakarta for re-burial in family graves. But before they could depart, a mob of about fifty people surrounded the vehicles and started assaulting the drivers and a member of YPKP. One of the vehicles carrying two bodies succeeded in getting through, but the five coffins on the other vehicle were dragged out, broken into, and the bodies strewn on the ground.

One hour later, an official from the local assembly arrived to hold discussions with the organisers. It was agreed that the bodies would not be buried in Temanggung. The bodies were loaded onto a vehicle and driven away under police escort.

All the people in Irawan's house who had gathered there the previous day to take part in the ceremony were taken away under police protection to an unknown destination for their own safety. Rumours were circulating that the mob threatened to burn down Irawan's house. Irawan himself is now known to be safe.

It was later reported by YPKP that the bodies of all the victims were taken into safety and properly buried elsewhere.

**********************************************************

TAPOL, the Indonesia Human Rights Campaign
111 Northwood Road, Thornton Heath, Croydon CR7 8HW, UK.
tel +44 020 8771 2904 fax +44 020 8653 0322
tapol@gn.apc.org www.gn.apc.org/tapol


____________________________________________________
[ KEMBALI KE ATAS ]
[ BERITA SEBELUMNYA ] - [ H O M E ] - [ BERITA SELANJUTNYA ]

____________________________________________________
HAK CIPTA © 1996 - 2001 -
Pengelola : Dr. Willy R. Wirantaprawira, LL.M., Ph.D.